Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia

Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia
Chapter 63 : Memungut Gadis


__ADS_3

Di lapangan pinggir sungai, Satoru berhasil mengalahkan salah satu pemburu iblis dari keluarga besar dalam sebuah duel. Karena kalah, Sena menjelaskan soal para pemburu iblis dan memberikan informasi yang diminta oleh Satoru. Mereka berdua masih curiga kalau Satoru merupakan pemburu iblis yang tak terikat atau bisa dibilang pengembara.


Tapi hal itu terbantah mengingat kalau Ren sudah mengenal Satoru semenjak bangku SMP. Tapi tetap saja itu aneh, Satoru yang terlihat selalu baik terhadap wanita dan tak mau menyakiti mereka. Saat ini dia menghajar Sena tanpa ragu. "A-apa dia benar-benar Satoru yang kukenal?" gumam Ren dengan ragu.


Mereka bertiga pergi kesekolah dan melewati hari yang normal seperti tak ada yang terjadi. Saat pulang dari sekolah, Satoru tidak bersama dengan Ren. Ia pergi ke sebuah bukit yang ada di belakang sekolah seorang diri untuk mencari angin dan mencoba untuk merasakan energi dari sebagian kekuatannya. "Sudah kuduga, ternyata dia ada di dunia ini," gumam Satoru.


Menuruni bukit, hari mulai gelap. Satoru berjalan kembali menuju rumahnya, saat melewati sebuah gang ia melihat seorang gadis duduk di pinggir jalan seorang diri dengan payung di sampingnya. Melihat ke kiri dan ke kanan, karena tak ada seorangpun Satoru mendekati gadis itu dan bertanya kenapa dia sendirian dimalam hari. Wajah gadis itu tampak murung dan tak menjawab pertanyaan Satoru.


Mengulurkan tangannya, terlihat senyum hangat di wajah Satoru. "Apa kau mau menginap dirumahku? Lebih baik dari pada sendirian di jalan dan kedinginan, bukan?" ucapnya.


Gadis itu secara perlahan mengangkat wajahnya dan melihat kearah seorang pria yang mengulurkan tangan padanya dengan senyuman yang hangat. "A-apa boleh ... ?" jawab gadis itu dengan tak percaya.


"Tentu saja."


"Ka-kau tak memintaku memberikan tubuhku sebagai imbalan, kan ... ?" ujar gadis itu dengan waspada.


"Tidak, jika kau tak mau juga tak apa. Aku tak memaksamu untuk ikut denganku," jawab Satoru sembari berjalan pergi meninggalkan gadis itu.


Saat melihat pria yang mengulurkan tangan padanya pergi begitu saja, gadis itu awalnya ragu untuk mempercayainya. Namun, ia tetap bangun berdiri dan mengikuti pria itu dengan waspada. Saat sampai di tempat tinggal pria itu, ia terdiam sejenak karena tak tau kalau pria yang mengulurkan tangan padanya merupakan orang yang tinggal di sebuah kediaman bela diri yang cukup terkenal. Walaupun sekarang sudah mulai menurun karena meninggalnya sang guru.


Sebuah rumah yang sangat luas, memiliki taman, dojo, bahkan ada lapangan yang luas. Satoru tinggal sendirian tanpa adanya orang lain yang bisa disebut keluarga. Gadis yang mengikutinya tampak melihat kesana kemari dengan tak percaya.


"Ada apa? Apa kau tak ingin masuk?" ujar Satoru dari dalam rumah.

__ADS_1


"Pe-permisi ... ," ucap gadis itu dengan pelan saat memasuki rumah.


"Ada kamar kosong di lantai dua sebelah kamarku, kau bisa pakai kamar itu. Aku akan memasak makan malam, nanti aku akan memanggilmu," ucap Satoru sembari berjalan menuju dapur.


"A-anu! A-apa boleh aku saja yang memasak?" ujar gadis itu menghentikan langkah Satoru yang berjalan menuju dapur.


"Kau istirahat saja dulu, mandi dan gantilah pakaian. Yang kau gunakan saat ini basah bukan? Apa kau habis disiram orang atau kehujanan? Nanti kau bisa demam, jika kau mah masak lakukan saat pagi saja nanti," balas Satoru.


"I-iya." Gadis itu tak bisa menjawab ucapan Satoru karena benar apa adanya, saat ini ia juga sudah merasakan kedinginan akibat pakaiannya yang basah. Walaupun masih merasa tak percaya, ia bisa merasakan kalau pria yang menolongnya adalah orang baik. Gadis itu berjalan menuju kamar mandi untuk membasuk tubuhnya dengan air hangat.


Satoru mengambil pakaian piyama miliknya dan menaruhnya di luar kamar mandi. "Aku sudah meletakkan pakaiannya, selesai mandi datanglah ke ruang makan," ucapnya memberi tahu gadis yang tengah mandi.


Di dalam kamar mandi gadis itu berendam dan memikirkan masalah yang terjadi padanya sebelum bertemu dengan Satoru. Ia juga terheran-heran dengan pria yang menolongnya tanpa mengharapkan imbalan. "Kenapa dia mau menolongku? Padahal biasanya orang tak akan mau membantu tanpa adanya imbalan, bahkan saat serangan di waktu itupun, tak ada satupun orang yang mau membantu karena tak adanya imbalan," gumam gadis itu di bak mandi.


Ia menggelengkan kepalanya. "Tidak! Dia pasti menginginkan sesuatu dariku, tetap waspada!"


"Ouh sudah selesai mandinya yah. Maaf ya, aku gak punya pakaian wanita," ujar Satoru merasa tak enak.


"Ti-tidak apa-apa, ini sudah cukup. Maaf karena aku merepotkanmu," balas gadis itu.


Mereka berdua duduk untuk menyantap makanan, namun gadis itu terlihat ragu untuk memakan makanan yang ada di atas meja. "Apa mungkin makanan ini sudah di campurkan dengan obat perangsang?" gumam gadis itu dalam batinnya.


"Ada apa?" tanya Satoru dengan heran.

__ADS_1


"Ti-tidak ... ," jawab gadis itu dengan canggung.


Satoru melihatnya dengan heran. "Tak apa, tidak ada racunnya kok," ucap Satoru sembari memakan makanan yang ada di piring gadis itu. "Lihat," sambungnya ketika menelan makanan.


Gadis itu memakan makanan yang dimasak oleh Satoru dengan lahap karena enak. Saat setelah makan ia membantu Satoru mencuci piring, padahal sudah dilarang oleh Satoru. Tapi ia merasa tak enak jika tak melakukan apapun.


"Kau pergilah kekamar dan istirahat," ujar Satoru.


"Mi-Miya ... ," saut gadis itu.


"Huh?"


"Namaku Miya," ulang Miya memperkenalkan dirinya.


"Tak ada nama keluarga?" tanya Satoru.


"Kurasa itu tak perlu, lagi pula aku sudah dibuang..." jawab Miya dengan raut muka murung.


"Ah, begitu. Shin Satoru, kau boleh memanggilku Satoru," balas Satoru yang terlihat tak peduli dengan masalah Miya.


Miya naik kelantai dua begitu pula dengan Satoru. Mereka masuk kekamar masing-masing, Miya terlihat masih waspada dan tetap melihat pintu kamarnya dengan waspada. Sedangkan Satoru sudah tertiur di kasur nya dengan pulas, untuk melepaskan semua rasa lelah yang ia alami seharian. Sampai tengah malam, karena tak ada tanda-tanda kalau Satoru ingin memasuki kamar Miya. Kewaspadaan gadis itu mulai menurun dan mulai memejamkan matanya untuk beristirahat.


Keesokan paginya tercium aroma harum dari dapur, seorang gadis dengan rambut coklat kemerahan sedang memasak sarapan. Membuat sebuah kopi untuk diminum oleh Satoru serta sarapan pagi yang terlihat enak.

__ADS_1


"Kau cukup pintar memasak yah," ucap Satoru saat sampai di ruang makan.


"Terima kasih, hanya ini yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikanmu," jawab Miya. Ia juga membuat sebuah bekal makan siang untuk Satoru.


__ADS_2