Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia

Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia
Chapter 48 : Sejak Kapan Kau Punya Anak!?


__ADS_3

Satoru yang baru terbangun dari pingsannya langsung keluar dari kamar dengan begitu gelisah. Di dalam kepalanya terdengar suara 12 anak yang memanggilnya dengan sebutan ayah secara berulang-ulang.


"Ugh~ Kalian ada dimana!?" Teriak Satoru saat berada di depan pintu kamarnya dengan begitu panik.


Semua orang yang ada di ruangan tamu mendengar teriakan itu dan langsung berlarian naik ke lantai dua.


"Satoru!? Ada apa?" Tanya sang master dengan begitu kawatir.


"Anak-anak itu! Mereka ada dimana!?" Ujar Satoru yang terlihat begitu gelisah.


"Anak-anak...?" Mereka semua tampak begitu heran dengan ucapan Satoru.


Saat itu Satoru masih bisa mendengar dua suara dari anak kecil yang selalu bersama dengannya.


"Ayah... Kami ada disini..."


"Itu benar ayah, kami ada didekatmu"


Satoru yang mendengar hal itu mulai melihat ke segala arah "Dimana!? Kalian berdua ada dimana!?" Teriaknya dengan begitu gelisah.


Satoru merasakan keberadaan dua anak itu dari dalam kamarnya, ia langsung berbalik dan membuka pintu kamar itu dengan kuat.


Disana terlihat dua anak kecil berumur 10 tahun tengah berdiri dengan raut muka yang begitu sedih serta ketakutan.


Satoru langsung berlari dan memeluk mereka berdua dengan erat.


"A- Ayah... Tak akan membuang kami lagi, kan?" Ujar mereka berdua dengan air mata berlinang.


"Tidak! Kenapa kalian berpikir begitu!?" Ujar Satoru dengan begitu kawatir sekaligus lega karena bisa melihat dua anak itu.


"Ka- karena ayah pergi sangat lama..." Ujar mereka berdua denga terbata-bata.


"Dimana saudara kalian yang lain?" Tanya Satoru.


Mereka berdua menggelengkan kepalanya "Kami tak tau... Tapi ada dua yang sedang bergerak ke arah sini sekarang" Jawab Sabine yang merasakan dua aura dari saudara mereka.


"Begitu yah, apa kalian lapar? Ayah akan memasakkan makanan" Ujar Satoru dengan lembut dan penuh dengan kasih sayang.


Mereka berdua mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


Di sisi lain, Airi, Charlotte, Haruna dan Reina merasa kebingungan melihat Satoru yang berbicara dengan kedua anak kecil yang muncul entah dari mana. Terlebih lagi mereka memanggil Satoru dengan sebutan ayah, membuat mereka semua bertanya-tanya.


"Hei, Satoru-san... Apa kau mengenal kedua anak itu?" Tanya Airi dengan penasaran.


Saat itu Sabine menyela pembicaraan Airi "Ayah, siapa mereka?" Tanyanya pada Satoru.


"Itu teman-teman ayah, ayo kita ke ruang makan" Jawab Satoru sembari bangun berdiri menggandeng kedua anak itu menuju ruang makan.


"Kalian juga ayo, kita makan bersama" Ucap Satoru mengajak yang lainnya untuk ikut makan bersama.


Mereka semua terlihat begitu kebingungan dan memiliki banyak sekali pertanyaan soal dua anak yang memanggil Satoru dengan sebutan ayah. Namun, mereka menahannya sampai waktu yang tepat.


Di ruang makan sudah terjajar banyak sekali makanan yang dimasak oleh Satoru, mereka semua memakan itu dengan penuh senyuman. Begitu pula dengan Satoru yang memandangi dua anak kecil itu dengan penuh bahagia.


"Ahem! Jadi, Satoru siapa kedua anak ini?" Tanya sang master.


"Kami anaknya ayah!" Kedua anak itu turun dari kursi dan berlari kecil lalu memeluk Satoru dengan erat seakan tak ingin melepaskannya.


"Seperti yang master dengar, mereka anak-anakku" Ujar Satoru sembari mengelus lembut kepala kedua anak itu.


Keempat perempuan yang mendengar hal itu secara bersamaan berteriak dengan begitu terkejut "S- Sejak kapan kau punya anak!!?"


Karena itu Satoru terlihat begitu kesakitan sembari memegang kepalanya. "Ayah!? Apa ayah tak apa-apa?" Kedua anak itu terlihat begitu kawatir saat melihat Satoru menahan rasa sakit kepalanya.


Satoru menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum sembari menahan rasa sakitnya "Tak apa, ayah hanya sedikit pusing" Ucapnya pelan sembari mengelus kepala kedua anak itu dengan lembut.


"Kalian kembalilah kekamar, ayah mau membicarakan sesuatu dengan mereka" Ucap Satoru melirik teman-temannya.


Kedua anak itu mulai berlari kecil menuju kamar, saat menaiki tangga mereka berteriak "Ayah! Sebentar lagi Yuna akan datang bersama mama!" Ucap mereka berdua dengan tersenyum kecil.


"Ma... Ma?!" Keempat gadis yang mendengar hal itu seketika diam membatu.


Satoru yang mendengar hal itu pun ikut diam membisu saking terkejutnya. Ia memikirkan hal itu, mencoba untuk mengingatnya. Namun, sia-sia saja, ia tak bisa mengingat apapun.


"Hei Sabine..." Saat hendak memanggil, kedua anak itu sudah masuk ke dalam kamar. Satoru pun menahan pertanyaannya dan merasakan hawa dingin yang mencekam dari sisi lain.


Ia menoleh secara perlahan dan sudah melihat keempat gadis yang berada disana menatapnya dengan tajam. "A- A- Ada apa semuanya?" Tanya Satoru dengan canggung.


"Hei, Satoru-san... Apa benar kau sudah menikah dan mempunyai anak?" Tanya mereka dengan senyum yang menyeramkan.

__ADS_1


"Ehmm... A- Aku tak ingat soal itu... Ingatanku baru saja kembali beberapa saat lalu..." Jawab Satoru dengan canggung.


"Jadi apa benar mereka anakmu!?"


"Hmm... Aku tak tau pasti. Tapi, aku merasakan perasaan yang begitu familiar layaknya seorang keluarga saat bersama dengan mereka" Jawab Satoru pelan dan terlihat senyum kecil di wajahnya.


Mendengar jawaban itu mereka semua hanya bisa menerima keadaan dengan terpaksa. Walaupun tak tahu akan kebenarannya, saat melihat Satoru yang tersenyum bahagia ketika bermain dengan kedua anak itu membuat mereka tak bisa berkata apa-apa.


"Baiklah, kami akan menahannya untuk saat ini" Ujar Airi sembari mengajak yang lain pergi keluar dari rumah.


"Ya, hati-hati di jalan" Ujar Satoru mengantarkan mereka keluar.


Setelah semua orang keluar, sang master berhenti sejenak dan berbalik. "Satoru, soal penjagaan di festival..."


"Aku akan tetap melakukannya master, tak perlu kawatir" Ucap Satoru dengan tersenyum.


"I- Iya... Jangan memaksakan dirimu oke?"


"Iya, master tak perlu kawatir. Tubuhku sudah sepenuhnya membaik"


Sang master mengangguk dan melanjutkan perjalanannya. Satoru kembali masuk kedalam rumah, lalu masuk kedalam kamarnya dimana Sabine dan Madosi sudah berguling-guling di atas kasur menunggu ayahnya kembali.


"Hei, Sabine, Madosi... Ayah ingin menanyakan sesuatu" Ujar Satoru saat memasuki ruangan kamar.


"Ayah mau tanya apa?" Ujar mereka berdua dengan tampang kebingungan.


"Siapa yang kalian sebut mama?"


"Hmm?" Mereka berdua saling menatap satu sama lain saat mendengar pertanyaan itu.


"Tentu saja istrinya ayah nanti" Ucap mereka berdua dengan penuh semangat.


Saat mendengar hal itu Satoru menjadi begitu kebingungan.


Istri ku nanti? Siapa? Aku tak pernah tahu soal ini, bahkan mengingatnya.


Satoru mencoba menanyakannya lagi, namun, Sabine dan Madosi sudah tertidur di atas kasur dengan begitu pulas.


"Pasti kalian kecapean yah... Yasudah, aku akan menanyakannya lagi nanti. Lagi pula ini sudah malam" Gumam Satoru.

__ADS_1


__ADS_2