Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia

Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia
Chapter 42 : Apa Benar Dia Pahlawan?


__ADS_3

Keesokan harinya Satoru pergi menuju istana kerajaan memenuhi undangan dari Reina. Perlakuan semua orang yang ada di istana tampak berbeda dengan saat pertama kali Satoru datang kesana. Semua orang tampak begitu memperlakukan Satoru dengan begitu hormat dan sopan.


Apa ini? Kenapa mereka terlihat begitu menghormati ku? Padahal terakhir kali mereka melihatku layaknya sampah tanpa sihir.


Saat tiba di ruangan tahta, terlihat raja dan ratu sedang duduk di singgasananya. Seorang gadis tengah duduk berlutut memberi hormat pada mereka.


Charlotte-san? Kenapa dia juga ada disini?


Satoru tampak heran saat melihat Charlotte berada disana. Ia datang menghampiri sang raja, tapi Satoru tak menundukkan kepalanya, ia masih berdiri tegap dan menyapa sang raja.


"Selamat pagi, si putri memintaku datang jadi dia ada dimana?" Tanya Satoru dengan nada sedikit jengkel.


"Haft~ Kau benar-benar seperti yang diceritakan oleh ayahku" Ucap sang raja sembari menghela nafas. "Yah, walaupun aku sudah tau saat kedatangan mu waktu itu"


"Kalau sudah tau, kenapa dia masih mengajakku datang ke istana?"


"Pelayan, tolong antarkan dia menuju kamar Reina" Ujar sang raja.


"Baik! Yang mulia. Silahkan ikuti saya, tuan" Ucap pelayan itu menghantarkan Satoru menuju ruangan Reina.


Satoru berjalan mengikuti maid itu hingga sampai di depan pintu sebuah ruangan.


"Permisi tuan putri, saya membawa seseorang yang ingin bertemu dengan anda" Ucap maid itu.


Pintu itu terbuka "Oh, Satoru-sama!" Ujar seorang gadis tampak terkejut setelah membuka pintu.


"Iya, apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Tanya Satoru tampak gelisah.


"Masuklah, kita akan membicarakannya di dalam" Ujar gadis itu sembari menarik tangan Satoru.


"T- Tuan putri!?" Pelayan itu tampak kawatir saat melihat sang putri membawa seorang laki-laki ke kamarnya.


"Tenang saja, dia tak akan berani macam-macam padaku" Ucap Reina dengan senyum simpul di wajahnya, lalu menutup pintu kamar.


Di ruangan kamar mereka berdua duduk saling berhadapan, dibatasi oleh sebuah meja bundar kecil yang di atasnya terdapat kue dan teh. Tampak senyum kecil di wajah Reina yang sedari tadi memandangi wajah laki-laki yang ada di hadapannya.


"Apa? Apa kau bisa bicara sekarang? Aku punya urusan lain" Satoru tampak gusar dan gelisah ketika berada di dalam kamar itu.


"Hehe~ baiklah" Reina tertawa kecil, lalu raut mukanya tiba-tiba menjadi serius. "Apa benar nama kakekmu Shin Ryuha?"


"Iya"


"Apa kau juga seorang pahlawan?"

__ADS_1


"Tidak, aku bukan seorang pahlawan"


.


"Kenapa kau sangat benci pada bangsawan? Apa pernah terjadi sesuatu di masa lalu?"


"Huft~ Aku bukannya membenci kalian para bangsawan, hanya saja ada suatu perasaan yang tak bisa kupahami saat berada di dekat kalian. Apa masih ada pertanyaan lain?"


Di sana Reina terus-terusan bertanya kepada Satoru, disisi lain.


Charlotte yang sudah selesai berbicara dengan raja pergi menuju lapangan latihan para kesatria untuk melihat pahlawan yang dirumorkan telah mengalahkan iblis. Namun, saat ia melihat para pahlawan itu, raut mukanya tampak kecewa.


"Apa benar mereka para pahlawan?" Ujarnya tak percaya.


"Iya, mereka adalah para pahlawan yang dipanggil oleh kerajaan Earshied. Touya (hero), Sena (wizard), Sarah (priest) dan Akari (archer)" Jawab pelayan yang membimbing Charlotte.


Charlotte masih memperhatikan gerakan para pahlawan itu dengan muka yang kecewa.


Apa benar mereka pahlawan yang mengalahkan iblis? Bukannya mereka terlihat seperti para pemula?


Karena tak percaya, Charlotte berjalan mendekati mereka "Hei, apa kalian mau latih tanding denganku?" Ujarnya dengan tersenyum simpul.


Para pahlawan terlihat saling menatap satu sama lain dengan heran. Mereka tak tau siapa yang mengajak mereka latih tanding, namun mereka juga pernah melihat gadis yang ada di hadapan mereka saat di akademi.


Charlotte menggelengkan kepalanya pelan "Tidak, kalian semua majulah secara bersamaan. Latih tanding satu lawan empat"


Mereka berempat terlihat kebingungan sekaligus merasa sedikit kesal karena dianggap remeh.


"Sepertinya kami diremehkan..." Gumam Touya.


"Baiklah, kami menerimanya!" Teriak Touya dengan lantang menerima latih tanding itu.


Semua kesatria menyingkir dari lapangan dan menonton dari pinggir. Pertandingan anatar para pahlawan melawan satu orang kesatria wanita, sekaligus murid terbaik dari akademi kesatria sihir.


Seorang kesatria mengangkat tangannya keatas lalu mengayunkannya kebawah "Mulai!' Teriaknya memberikan aba-aba.


Wosh~


Charlotte dengan cepat langsung menyerang para pahlawan, Touya yang seharusnya pahlawan pengguna pedang suci dibuat kewalahan, bahkan ketiga pahlawan yang lain kesulitan untuk menyerang.


"Wahai bumi, penuhila panggilanku, jadilah keras dan berubah menjadi tombak yang menghancurkan musuh : Rock Spear!" Sena melancarkan sebuah sihir tanah berupak tombak batu yang melesat dengan cepat.


Namun, Charlotte dengan mudahnya menghindari semua serangan itu, bahkan bisa melakukan serangan balik. "Fire magic : Fire Arrow!" Menembakkan beberapa panah api yang berhasil membuat Sena terpundur.

__ADS_1


"Jangan lupa kalau aku juga ada disini! Wind Magic : Tornado Arrow!" Akari menembakkan sebuah panah yang dilapisi oleh sihir angin, membentuk sebuah pusaran angin yang bisa menghancurkan apapun.


Bukannya menghindari serangan itu, Charlotte berlari masuk kedalam pusaran angin. Mengikuti arah pusaran layaknya sedang berjalan santai, Charlotte tiba-tiba keluar dan berhasil mengalahkan Akari.


"Dua..." Gumamnya melirik Sarah yang merupakan seorang priest.


Charlotte langsung berlari menyerangnya, namun Touya datang dan menahan serangan itu.


"Cih! Jangan kira aku akan membiarkanmu menyakitinya!"


Charlotte meloncat mundur dan membuat sebuah jarak dari mereka. Para pahlawan yang sudah kalah, disembuhkan oleh Sarah sehingga bisa bertarung kembali.


"Merepotkan... Seharusnya aku mengalahkan priest itu terlebih dahulu" Gumam Charlotte.


Di saat mereka berkumpul, Touya membisikkan sesuatu pada teman-temannya.


"Apa!? Apa kau serius ingin menggunakan itu!"


"Itu benar, serangan itu terlalu berbahaya Touya!"


"Tapi, jika kita tak menggunakannya, kita tak akan bisa mengalahkan gadis itu" Ujar Touya dengan pesimis.


"Baiklah, kami akan memberikanmu waktu" Ujar Akari berpisah dan menembaki Charlotte dengan anak panah.


Charlotte dengan santainya menangkis semua anak panah dengan sebilah pedang yang ia gunakan. Disisi satunya ada banyak tembakan sihir juga yang mengarah padanya.


"Hmm, ini semakin bagus" Gumamnya dengan sebuah senyum kecil. Charlotte langsing berlari mendekati si pemanah dengan sebuah anak panah sihir tepat di belakangnya.


Berbelok secara tiba-tiba saat berada tepat di hadapan si pemanah, sihir yang mengikutinya meledak dan mengenai si pemanah.


"Akari-chan!" Teriak Sena yang menembakkan sihir itu.


"Seharusnya kau mengendalikan sihirmu, nona pahlawan" Ucap Charlotte yang sudah berada di belakang penyihir itu.


"Sekarang, sisa kalian berdua lagi" Ucapnya menoleh ke arah Touya yang memegang pedangnya.


Pedang itu mulai bersinar terang dan diselimuti oleh energi sihir yang besar. "Terima ini!! Light of Justice!!"


Saat itu Charlotte tak sempat untuk menghindari serangan area berupa cahaya yang bisa melenyapkan apapun itu.


Swofh~


Serangan cahaya itu terbelah menjadi dua "Apa yang kau lakukan tuan pahlawan? Menggunakan serangan sekuat ini dalam latih tanding?" Ucap seseorang yang tiba-tiba masuk kelapangan dan membelah serangan itu.

__ADS_1


__ADS_2