Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia

Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia
Chapter 56 : Utusan Meiske


__ADS_3

Di siang hari yang cerah Satoru pergi ke koloseum untuk menonton pertandingan ditemani oleh Yukino, Pricilia, dan para artifak. Saat itu Satoru merasakan sengatan di kepalanya.


"A-akh, ini...?"


Terlihat sebuah bayangan anak kecil dengan telinga kucing sedang berhadapan dengan pria bersayap abu-abu di dalam kepala Satoru.


"Ayah, ada apa?" tanya Madosi dengan kawatir saat melihat wajah Satoru yang sedikit pucat.


"Tak apa, aku hanya melihat Fu-Fuyuko," jawab Satoru, tanpa sadar dia mengatakan nama itu.


Yuna dan Madosi terlihat terkejut berbeda dengan Sabine yang terlihat biasa saja. "Yah, aku sudah merasakan kehadiran beberapa saat yang lalu. Namun, sekarang kehadirannya menjadi lebih lemah, pasti karena dia kehabisan energi sihir dan tak bisa mempertahankan wujud manusianya," ucap Sabine.


"Eh, Sabine bisa merasakan kehadiran yang lain?" tanya Satoru.


"Tentu, lagi pula Sabine adalah anak tertua. Sabine memiliki kemampuan untuk merasakan kehadiran yang lainnya jika dalam jangkauan," jawab Sabine dengan tersenyum.


Pricillia masih belum paham dengan apa yang bicarakan oleh Sabine. "Etto, sebenarnya apa yang kalian bicarakan?"


"Ah, maaf aku belum memberi tahu mu. Sabine dan yang lainnya merupakan artifak. Saat ini mereka berubah kebentuk manusianya agar lebih mudah untuk berinteraksi," jelas Satoru.


"Sabine adalah Swordbirth, Madosi adalah Messenger of Death, Yuna adalah Sky Piercing Bow, Eiji adalah Ring of Magic, dan Fuyuko adalah Beast Soul Necklace. Masih ada yabg lain, tapi saat ini Sabine tak bisa merasakan keberadaan mereka," sambung Sabine.


"Be-begitu yah, kalau tak salah ada 12 jenis artifak, kan?" ucap Pricilia sembari bertanya.


"Benar, dari 12 itu kami semua dibagi menjadi 3 jenis. Pertama artifak tipe penciptaan, seperti diriku (Swordbirth) yang bisa menciptakan berbagai macam pedang. Kedua artifak tipe pemanggilan, seperti Madosi (Messenger of Death) yang bisa memanggil segala jenis undead. Ketiga artifak tipe kehidupan, mereka berbentuk seperti pulau terbang yang memiliki segala jenis kebutuhan hidup," jawab Sabine.


Setelah mendengar itu Yukino dan Pricilia hanya bisa diam saja, selama ini mereka hanya tau jika artifak itu berupa benda sihir yang bisa digunakan oleh orang yang terpilih. Namun, setelah bertemu dengan Satoru dan pada artifak (dalam bentuk manusia) mereka paham jika bukan sembarang orang yang bisa menggunakan mereka. Terlebih lagi para artifak memanggil Satoru dengan sebutan ayah, berarti mereka memiliki hubungan yang begitu dalam.


Mereka menyaksikan pertandingan di koloseum hingga sore hari.


"Baiklah pertandingan hari ini sudah selesai, ayo kita pulang," ujar Satoru bangun dari kursi penonton.


Yang lainnya mengangguk dan ikut berjalan menuju kembali kerumah. Saat keluar dari koloseum mereka melihat sebuah kereta kuda dengan lambang kerajaan lain lewat, berjalan menuju ke istana. Sabine dan Satoru merasakan sensasi yang familiar dari dalam kereta.

__ADS_1


"Ayah," ucap Sabine.


Satoru mengangguk, "Iya, aku juga merasakannya."


"Ayah ikuti kereta itu bersama dengan Yuna, soalnya Fuyuko sangat dekat dengannya," pinta Sabine.


Satoru mengangguk dan pergi mengikuti kereta kuda itu bersama dengan Yuna. Saat sampai di depan gerbang istana, tiba-tiba sesuatu yang begitu cepat keluar dari dalan kereta dan menyerang para kesatria. Sosok itu merupakan gadis bertelinga kucing dengan rambut putih kebiruan, serangannya buka berupak serangan fisik, melainkan memanggil segerombolan seriga.


"Yuna berubahlah menjadi busur, Sky Pierching Bow : Light Arrow!" teriak Satoru menembakkan sebuah anak panah cahaya yang bergerak dengan begitu cepat dan menembus semua serigala itu.


"Cukup sampai disana Fuyuko!" teriak Satoru.


Gadis kucing itu tersentak dan terdiam saat melihat Satoru, air matanya mulai bergelimang keluar, tubuhnya mulai gemeteran. Gadis itu langsung berlari dan memeluk Satoru dengan erat sembari menangis kencang.


Satoru membalas pelukan itu dan mengusap dada belakang Fuyuko dengan lembut. "Maaf karena ak-."


"Tidak! Papa tidak salah!" teriak Fuyuko membantah ucapan Satoru. "Ji-jika bukan karena perbuatan Paman... ," sambungnya.


"Sudahlah, tak apa-apa Fuyuko," ucap Satoru dengan lembut.


"Permisi... Tapi, gadis itu adalah milik kerajaan Meiske," ujar Viana.


"Hah!? Apa kau pikir aku mau mengikuti kehendak kalian!?" teriak Fuyuko sembari mengaktifkan sihir pemanggilan.


"Sudah cukup Fuyuko! Jangan membuat Papa kerepotan lagi!" sela Yuna sembari berubah ke bentuk manusianya.


"Eh? Yu-Yuna? Jadi kau sudah bersama dengan Papa, yah."


"Haft, apa kau tak sadar saat anak panah dari ku yang membunuh semua monster yang kau panggil?" tanya Yuna dengan heran.


"Ahahah, maaf, saat itu aku terlalu terbawa emosi sampai tak sadar," jawab Fuyuko dengan tertawa canggung.


Satoru hanya tersenyum dan meminta agar Fuyuko mendekat ke tempat Yuna, sedangkan dia berjalan mendekati utusan dari Meiske. Tampak semua orang dari Meiske waspada kepada Satoru, berbeda dengan para kesatria kerajaan Earshied yang sudah memahami siatuasinya.

__ADS_1


Karena keributan yang terjadi di gerbang istana para pahlawan datang kesana dengan tergesa-gesa. "Apa yang terjadi? Kami mendapatkan laporan kalau ada segerombolan monster yang muncul!" teriak Touya.


"Tenanglah Touya-sama, monster itu sudah tidak ada," ujar Serge sembari menunjuk Satoru.


"Apa kau yang mengurusnya, Satoru-san?" tanya Touya.


"Huft, untuk seorang pahlawan kau benar-benar selalu datang terlambat yah, Touya-kun," jawab Satoru.


Saat mendengar hal itu Viana langsung melihat ke arah Touya. "Apa mungkin anda pahlawan yang dipanggil oleh kerajaan Earshied?" tanya Viana.


"I-iya? Dan anda?" jawab Touya dengan kebingungan.


"Ah, maaf atas ketidak sopananku, perkenalkan saya adalah putri kedua dari kerajaan Meiske, Viana von Meiske, senang bertemu dengan anda tuan pahlawan," ujar Viana dengan sopan.


"Pu-putri!? Maafkan saya, perkenalkan nama saya Touya dan mereka bertiga Akari, Sarah, dan Sena," balas Touya dengan gelagapan.


"Kalau begitu Touya-sama, apakah anda bisa menggunakan artifak dari negara kami?" ujar Viana sembari menunjuk kearah Fuyuko.


"Artifak?" ucap Touya dengan heran saat melihat Fuyuko.


"Hah? Mana mungkin aku mau digunakan olehnya, untuk seorang pahlawan kau terlalu lemah, payah dan selalu terlambat," ujar Fuyuko dengan tatapan sinis.


"Ugh! Aw, ahaha... ." Touya hanya bisa tertawa canggung menerima ucapan itu.


"Seperti biasanya, kata-katamu selalu saja menusuk yah, Fuyuko," sela Yuna.


"Hmph! Mana mungkin aku mau digunakan oleh orang lain," saut Fuyuko sembari memalingkan mukanya.


Viana menjadi kebingungan, jika buka pahlawan yang dipilih oleh artifak lantas siapa. Ia juga kebingungan saat melihat artifak yang ia bawa begitu dekat dengan seorang pria bermabut hitam yang membawa seorang anak dengan rambut silver, yang terlihat seperti seorang elf.


"A-apa mungkin orang yang dipilih itu anda?" ujar Viana sembari menunjuk Satoru.


"Dipilih?" saut Satoru dengan heran.

__ADS_1


"Hmph! Bukannya dipilih, tapi sumber kekuatan kami para artifak memang berasal dari Papa!" sela Fuyuko.


__ADS_2