Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia

Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia
Chapter 53 : Serangan Di Malam Hari


__ADS_3

Di malam hari Yukino sedang duduk di teras rumah sembari menatap langit malam. Perasaaanya cukup campur aduk karena menjadi seorang istri secara tiba-tiba, bahkan mempunyai 3 orang anak.


Huft~ aku tau ini memang akan terjadi tapi, tetap saja ini mengejutkan bagiku. Satoru, dia memang laki-laki yang cukup baik dan kuat. Namun, ada satu hal yang tak ku mengerti, kenapa para artifak sangat dekat dengannya? Hingga memanggilnya seorang ayah. Padahal selama ini tak ada satupun orang yang bisa menggunakan artifak-artifak itu.


Saat itu Satoru membawakan secangkir teh dan duduk di kursi tepat disamping Yukino. "Ada apa?" tanyanya dengan lembut.


"Ah, tidak. Aku hanya sedikit terkejut dengan apa yang terjadi hari ini," jawab Yukino.


"Begitu yah, maaf karena mereka membuatmu cukup kesulitan," ucap Satoru dengan perasaan tak enak. Ia menyuguhkan secangkir teh pada Yukino.


"Tak apa, dan terima kasih untuk tehnya Satoru," ungkapnya dengan senyum hangat di wajahnya.


"Sama-sama Yukino-san."


"Yukino! Jangan tambahkan -san," sela Yukino sembari menatap Satoru.


Satoru cukup tersentak, lalu tersenyum kecil. "Baiklah, Yukino," ucapnya dengan senyuman.


"I-iya ... ," jawab Yukino dengan wajah memerah.


Di balik pintu rumah, Sabine, Madosi dan Yuna sedang mengintip kedua orang yang tengah duduk bersama di teras rumah.


"Bagus, teruskan Ayah, buat Ibu jatuh cinta padamu," ungkap Madosi dengan bersemangat.


"Seperti yang diharapkan dari Papa, Mama sampai dibuat malu seperti itu," ujar Yuna.


Satoru yang mengetahui kalau ketiga anak itu tengah mengintip menoleh secara perlahan. "Hei, bukankah sebaiknya kalian masuk kedalam kamar dan tidur," ujarnya dengan senyum simpul.


"Ahahaha, ba-baik ... ," jawab mereka bertiga dengan rasa bersalah.


Ketiga anak itu masuk kedalam kamar dan tidur, sedangkan Satoru dan Yukino masih duduk berdua di teras sembari memandangi langit malam.


Saat itu Satoru merasakan sebuah firasat buruk, beranjak dari kursi dan melihat bulan di langit yang secara perlahan berubah menjadi merah.


Apa yang terjadi?


Di tengah-tengah bulan merah, terlihat sosok bayangan bersayap yang terbang dengan begitu cepat mengarah ke istana kerajaan.


"Yukino tetap lah disini, Aku punya urusan mendadak!" teriak Satoru yang langsung berlari dengan cepat menuju ke istana.


"Muncullah Barbiel!" ujar Satoru mengsummon sebuah kuda undead untuk ia tunggangi.

__ADS_1


"Ada apa Ayah?" tanya Madosi.


"Maaf karena membangunkanmu, ada sesuatu yang buruk sedang terjadi," jelas Satoru.


Bamm!!


Terdengar suara ledakan yang besar dari arah istana, sebuah asap hitam yang tebal terlihat dengan jelas dari kejauhan. Satoru bergegas menuju kesana dan saat sampai hanya terlihat orang-orang yang tergeletak terluka parah dan Touya yang berdiri tak sadarkan diri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa saat yang lalu ...


Di ruangan makan para pahlawan dan keluarga kerajaan tengah makan bersama dengan tenang. Hingga Reina merasakan energi besar yang sedang mengarah tepat kearah mereka.


Bam!!


"Hahahah! Seperti yang diberitahukan oleh-Nya penjagaan kerajaan ini sedang lemah karena festival," ujar seseorang yang menerobos masuk kedalam istana.


"Siapa kau?!" teriak Touya dengan sikap siap bertarung.


"Hah? Begitu yah, jadi kau si Pahlawan itu. Nah, matilah," ucap sosok itu sembari menembakkan sebuah laser berwarna merah darah yang mengarah ke jantung Touya.


"Light Magic : Light Shield!" teriak Sarah menggunakan sebuah sihir untuk menahan serangan itu.


"Aku tak apa, terima kasih Sarah," ucap Touya.


Sosok yang menyerang itu memiliki sebuah sayap berwarna hitam dan berbentuk seperti sayap kelelawar. Memiliki rambut silver dengan mata merah menyala.


"Dia ... Iblis tingkat tinggi, vampir!" ujar Reina setelah memastikan sosok yang ada dihadapannya.


Vampir itu langsung bergerak dengan cepat menyerang Touya dengan sebuah pedang darah ditangannya. "Heh, seperti yang diharapkan dari pahlawan. Tapi, kau benar-benar bodoh yah," ucap vampir itu dengan angkuh.


Sebuah tombak darah muncul dan menusuk paha kanan Touya.


"Aaakkh!!" teriak Touya menggerang kesakitan.


Ting!


"Cepat sembuhkan Touya, Aku akan mengurusnya," ujar kakek Reina.


Pertarungan itu terlihat cukup seimbang hingga sang vampir kelihatan mulai jengkel. "Cih, dasar Kakek tua menyebalkan!" teriaknya sembari meledakkan energi sihir yang cukup untuk membuat musuhnya terpental jauh.

__ADS_1


"Kakek!" teriak Reina dengan kawatir.


Vampir itu tampak terbang secara perlahan dengan tangan kanan yang mengangkat keatas layaknya menahan sebuah benda yang berat. Secara perlahan sebuah bola berwarna merah mulai membesar dan memberikan tekanan yang begitu besar.


"Matilah!" teriak vampir itu sembari melemparkan bola merah besar.


Saat itu Touya langsung berlari dan mencoba menahan serangan itu dengan pedang suci miliknya.


"Aaarggghhh!!!" teriaknya menahan serangan besar itu.


Saat itu tubuh Touya diselimuti oleh cahaya keemasan dan serangan yang ditahan olehnya lenyap seketika. Pergerakannya menjadi lebih cepat dan bisa mengimbangi vampir itu.


"A-apa yang terjadi?" gumam vampir itu dengan heran.


Kekuatan, pergerakan, ketahanan, semua itu menjadi lebih kuat berkat cahaya itu. Touya bisa melawan vampir itu dengan lebih mudah hingga memojokkannya. Karena merasa tak sanggup bertarung lagi, vampir itu melarikan diri setelah menemukan sebuah celah.


Pada saat itu Touya juga kehilangan kesadarannya dan pingsan sambil berdiri. Disaat yang bersamaan, Satoru juga baru sampai disana dengan nafas yang terengah-engah.


"Apa yang terjadi?" tanya Satoru sembari mengatur nafasnya.


Melihat situasinya Satoru mengurungkan niatnya untuk bertanya dan membantu semua orang yang terluka terlebih dahulu. Setelah merawat semua orang yang terluka, diruangan tamu ada Raja, Ratu, Reina dan Kakeknya.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Satoru dengan penasaran.


"Tadi, ada seorang iblis tingkat tinggi yang menyerang," jawab Raja.


"Terus? Apa iblis itu berhasil dikalahkan?"


Sang Raja menggelengkan kepalanya. "Tidak, dia berhasil melarikan diri. Semuanya berkat Touya-kun, jika tidak semua orang yang ada disini mungkin sudah mati."


"Touya? Maksudmu pahlawan itu?"


"Iya, saat keadaan menjadi gawat tiba-tiba tubuhnya bersinar dan bisa bertarung melawan iblis itu dengan lebih leluasa, bahkan berhasil menyudutkannya."


"Baiklah, aku sudah paham situasinya. Aku akan pulang," ujar Satoru beranjak dari kursi dan pergi keluar dari ruangan.


Jadi yang terbang itu seorang iblis yah. Iblis macam apa yang bisa membuat master dan semua orang disana sampai kewalahan melawannya.


Satoru berjalan pulan sembari memikirkan iblis yang menyerang sebelumnya. Namun, saat melewati sebuah gang, ia melihat seorang gadis terjatuh pingsan.


"Oi, apa kau baik-baik saja?" ujar Satoru sembari menggoyangkan tubuh gadis itu.

__ADS_1


"Huft, yasudahlah. Angkut dulu bawa kerumah."


Kejadian yang terjadi di istana sebelumnya, jika bukan karena plot armor dari si pahlawan itu aktif, mungkin semua yang ada diruangan itu akan mati, yah.


__ADS_2