Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia

Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia
Chapter 57 : Pertunangan


__ADS_3

Di depan gerbang istana terdapat banyak orang berkumpul akibat sebuah keributan yang dibuat oleh salah satu artifak, kini keadaan sudah kembali tenang saat Satoru datang. Artifak itu merupakan aryifak tipe pemanggilan yang menguasai setiap monster buas yang ada.


Fuyuko atau Beast Soul Necklace adalah sebuah artifak yang berbentuk sebuah kalung dengan cakar hewan buas. Memiliki kemampuan pemanggilan monster dan bisa mengendalikannya, serta meminjam kemampuan dari para monster. Fuyuko memiliki sifat yang cukup dingin terhadap orang lain dan suka terbawa emosi dengan mudah. Namun, ia sangat dekat dengan Yuna dari semua saudaranya yang lain.


"Dengar yah, jangan buat masalah lagi yang bisa menyusahkan Papa," tegas Yuna.


"Ba-baik... ," jawab Fuyuko dengan menyesal.


"Papa, Yuna akan menghantarkan Fuyuko kembali kerumah," ujar Yuna.


"Iya," saut Satoru.


Viana hanya bisa diam saat melihat artifak yang ia bawa pergi begitu saja dengan seorang anak yang terlihat seumuran dengannya. Pikirannya dilanda oleh kebingungan akan situasi yang sedang terjadi, "Bukan dipilih tapi asal kekuatan mereka adalah lelaki berambut hitam yang bernama Satoru?" gumamnya.


"Aku tau kau sedang kebingungan, begitu pula dengan kalian semua, kan?" ujar Satoru.


Setelah itu semua utusan dari kerajaan Meiske masuk kedalam istana bersama dengan Satoru untuk menyelesaikan masalah soal artifak. Di ruangan singgasana raja Viana memberi hormat kepada raja Earshied dan memberikan sebuah surat yang berasal dari ayahnya raja Meiske. Surat itu berupa permintaan untuk merawat putrinya selama di kerajaan Earshied, mengingat kerajaan mereka merupakan sekutu yang sudah saling mengenal sejak lama dan soal artifak.


"Hmmm, aku sudah paham soal situasinya," ujar sang raja setelah membaca surat itu. "Kalau begitu Satoru-dono apa anda bisa menjelaskannya?"


"Huft~ tak perlu diminta aku juga akan menjelaskannya, lagipula itulah alasanku mau datang kesini," saut Satoru.


Satoru menjelaskan kepada semua orang yang berada di dalam ruangan kalau dia bisa menggunakan semua artifak yang ada. Para artifak merupakan anak-anak yang sudah ia kenal dan merupakan bagian dari keluarganya. Karena alasan itulah para artifak memanggil Satoru sebagai ayah mereka, karena memang itulah ikatan keluarga mereka. Semua artifak memiliki wujud mereka masing-masing, seperti Sabine dan Madosi yang seperti manusia biasa, Yuna seorang elf dan Fuyuko seorang gadis kucing.


"Kalian berempat apa bisa datang kesini?" ujar Satoru menggunakan telepati kepada keempat artifak yang ada bersama dengannya sekarang.


Semuanya menjawab iya dan muncul dihadapan Satoru dalam wujud manusia mereka.


"Apa sekarang kita akan menghancurkan mereka semua, Papa?" ujar Fuyuko dengan bersemangat.

__ADS_1


"Tidak, tolong tenanglah Fuyuko," saut Satoru dengan senyum canggung.


"Fuyuko, jangan bikin masalah lagi," sambung Yuna.


"Ahahah, sudah-sudah. Sabine paham dengan perasaannya Fuyuko, tapi kita semua memanglah sebuah senjata. Jadi sudah wajar bagi mereka berfikir untuk menggunakan kita, mereka semua tak pernah tau asal usul dari kita semua itu saja," ucap Sabine menenangkan Fuyuko.


"Apa kalian bisa berubah ke bentuk artifak?" ujar Satoru.


Mereka berempat berubah kedalam bentuk artifak mereka. Sebuah pedang tanpa bilah Swordbirth, gulungan hitam Messenger of Death, Busur panah putih dan biru langit Sky Pierching Bow, dan kalung berbentuk cakar Beast Soul Necklace.


Semua orang yang menyaksikan itu tak bisa berkata apa-apa, mereka semua terkejut karena bisa melihat ke empat artifak yang selama ini tak bisa digunakan oleh siapapun berkumpul dan bisa digunakan oleh seseorang.


"Anuu, maaf menyela. Tapi, sebelumnya Fuyuko-san pernah bilang kalau asal kekuatan mereka berasal darimu, itu maksudnya apa?" tanya Viana.


Satoru tampak kebingungan untuk menjawab pertanyaan itu. "Maaf, tapi ingatanku masih belum pulih sepenuhnya. Jadi aku tak bisa menjawab pertanyaanmu," jawab Satoru.


"Maaf, tapi aku tak bisa," tolak Satoru.


"Kalau begitu, aku siap untuk menjadi tunanganmu. Jika kau mau pergi ke Meiske bersamaku... ," ujar Viana dengan muka memerah.


Reina yang mendengar hal itu tersentak dan mengangkat suaranya. "Tunggu sebentar! Apa maksudnya dengan tunangan?!" teriak Reina tak terima.


Reina langsung berlari dan memeluk Satoru. "Karena aku juga akan bertunangan dengannya!" tegas Reina.


Semua orang yang didalam ruangan terkejut atas pernyataan Reina, begitu pula dengan raja dan ratu kerajaan Earshied.


"A-apa yang kau katakan Reina-san?" tanya Satoru yang kaget.


"Sudah kukatakan aku ingin bertunangan denganmu! Aku sudah jatuh cinta padamu saat pertama kali kita bertemu, dimana saat itu kau menyelamatkanku dari serangan para bandit!" jawab Reina.

__ADS_1


"Yah, Sabine sudah tau ini akan terjadi. Lagian Ayah selalu mesra-mesraan dengan semua wanita yang Ayah temui," ujar Sabine ketika menyaksikan hal itu.


"Aku tidak ada mesra-mesraan!" bantah Satoru.


"Eeee~ jelas-jelas begitu, bukannya sudah ada 5 wanita yang jatuh cinta pada Ayah. Ah, tidak, sepertinya akan menjadi 7 jika gadis half vampir dan putri rubah itu masuk juga," ujar Sabine.


Mendengar pernyataan Sabine, Fuyuko langsung memanggil seekor Bloody Bear dan hendak menyerang Viana. Namun, Madosi memanggil Death Knight yang kekuatannya setara untuk menghentikan serangan beruang itu.


"Tenanglah Fuyuko! Jangan membuat masalah yang tidak perlu," tegas Madosi menatap Fuyuko dengan dingin.


"Berisik! Bangkai bau sepertimu diam saja!" tolak Fuyuko.


Pertarungan beruang dan perajurit kematian membuat sebuah kerusakan yang cukup parah hingga membuat semua orang menjauh. Sabine menghela nafasnya saat melihat hak itu, ia sudah tau hal ini akan terjadi ketika Madosi dan Fuyuko bertemu.


"Huft, dua orang ini selalu saja bertengkar," Gumam Sabine.


Sabine mengeluarkan tekanan aura yang begitu besar hingga Fuyuko dan Madosi merasakannya. Mereka merasa tertekan dan gemetaran saat merasakan aura tersebut. Dari semua artifak Sabine adalah artifak pertama sekaligus yang paling kuat diantara mereka, kemampuannya dalam menciptakan pedang dengan banyak kemampuan sudah melebihi kemampuan semua artifak. Itu sudah seperti artifak yang menciptakan artifak bertipe pedang.


"Apa kalian berdua bisa berhenti bertengkar?" ujar Sabine dengan senyum yang menyeramkan.


Fuyuko dan Madosi pun berhenti bertengkar dan menarik monster yang mereka panggil. Situasi menjadi hening, tak hanya itu ada beberapa kesatria yang pingsan akibat merasakan tekanan yang Sabine keluarkan. Bahkan Serge dan para pahlawan juga terlihat gemeteran karena merasakan tekanan itu.


Satoru meminta maaf atas masalah yang dibuat oleh para artifak dan memberikan sejumlah uang yang cukup banyak untuk membayar semua kerusakan yang ada. Tapi, raja tak ingin menerima uang tersebut, mengingat Satoru sudah menyelamatkan kerajaan ini dari serangan para iblis dan serbuan monster yang sebelumnya tidak terjadi.


Soal pertunangan itu raja dan ratu sangat setuju. Mereka ingin agar Satoru menerima Reina sebagai tunangannya dan akan menikahinya kelak. Pada awalnya Satoru hendak menolak tetapi Sabine meminta agar Satoru menerimanya, mengingat poligami di dunia itu diperbolehkan.


"Hehe, Sabine rasa yang lainnya tak akan terima jika hanya Reina-san saja yang jadi tunangan," ujar Sabine dengan senyum usil.


Satoru merasakan perasaan yang tidak enak setelah melihat wajah Sabine yang tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2