
Setelah satu minggu perjalanan Satoru akhirnya sampai di sebuah kota pelabuhan bernama Seishi di wilayah kerajaan Buerne. Kota ini dihuni oleh manusia dan seiren, ras yang hidup di daerah perairan seperti putri duyung. Kota ini sangat terkenal dengan industri makanan lautnya.
"Dengar pokoknya kita harus menjauhkan Satoru-san dari setiap wanita di kota ini," bisik-bisik pada gadis di dalam kereta.
Satoru yang mendengar hal itu hanya bisa tertawa canggung. Setelah memasuki kota, mereka mencari sebuah penginapan yang cukup besar. Memesan sebuah kamar yang bisa menampung 10 orang, Satoru langsung keluar dari penginapan bersama dengan Yukino untuk mencari informasi di guild petualang. Sedangkan Airi dan Haruna mencari informasi di guild pedagang.
"Hei, apa benar kamu gak ingat soal masa lalumu?" tanya Yukino penasaran.
"Iya. Tapi, seiring berjalannya waktu dan bertemu dengan mereka (artifak) aku mulai mengingat beberapa kepingan ingatanku," jawab Satoru.
"Begitu yah," gumam Yukino.
"Ya, seperti semalam," saut Satoru.
Satoru pun menceritakan soal ingatan yang ia lihat satu malam sebelumnya.
Di sebuah taman yang luas terlihat 2 orang anak yang sedang bermain kejar-kejaran. Kemudian salah satu dari mereka terjatuh, air mata dari anak itu terlihat ingin keluar. Namun, anak satunya lagi mengulurkan tangannya sembari berkata.
"Ayo berdiri, jangan menangis ya?"
Anak yang terjatuh itu mengangguk dan menerima uluran tangan itu dengan senyum kecil. Saat itu Satoru keluar dari mansion menuju ke sebuah taman, kedua anak itu langsung berlari menghampirinya dengan senyuman yang lebar.
"Papa, Fuyuko sudah bisa mengendalikan harimau besar!" ujar Fuyuko dengan penuh semangat.
"Benarkah? Hebat!" saut Satoru dengan bangga melihat kemampuan Fuyuko yang meningkat.
Satoru mengelus kepala Fuyuko dengan lembut, begitu pula dengan Yuna. Fuyuko memang tak terlalu akrab dengan saudaranya yang lain karena sikapnya yang terlalu serius. Namun, Yuna bisa berteman dekat dengannya karena Yuna memiliki sifat yang lembut dan bisa menasehati Fuyuko hingga dia mengerti.
__ADS_1
Di taman itu mereka bertiga bermain kejar-kejaran dengan Fuyuko yang menggunakan kemampuan dari salah satu monster untuk memperkuat dirinya. Kejar-kejaran itu bukan sekedar permainan biasa, melainkan latihan agar Fuyuko bisa mengendalikan kekuatannya. Perwujudan Fuyuko yang berupa manusia setengah kucing berpengaruh karena kekuatan yang ia miliki.
Begitu pula dengan Yuna yang memiliki wujud seperti elf, karena kemampuan yang ia miliki adalah panahan. Ras yang tergolong ahli dalam memanah adalah ras elf. Kemampuan Yuna sudah sangat baik, dia bisa menembak dengan akuransi yang sangat tinggi, bahkan jika targetnya jauh sekalipun.
Setelah cukup lama berlarian di taman, ada 2 orang anak yang datang menghampiri mereka yakni Sabine dan Madosi. Saat itu Fuyuko mengeluarkan aura yang begitu dingin saat melihat Madosi datang menghampirinya.
"Apa yang bangkai bau sepertimu inginkan?" ucap Fuyuko dengan sinis.
"Hmm? Ini sudah waktunya makan siang, ah, aku lupa. Binatang liar sepertimu tak akan mengerti soal itu, bukan?" balas Madosi.
Mereka berdua saling menatap dengan tajam seolah-olah ingin bertarung dengan kekuatan penuh. Melihat tingkah mereka berdua Sabine langsung angkat suara dan menghentikan pertengkaran mereka. Di sebuah mansion yang begitu megah, mereka pergi ke sebuah ruangan makan, dimana sudah ada 8 orang yang duduk di kursi makan. Para pelayan yang bekerja di mansion berjalan menghantarkan makan siang untuk semuanya.
Satoru saat itu merasa kebingungan karena melihat penampilan semua pelayan itu hampir sama persih. Memiliki rambut berwarna hitam sepanjang pundak, memakai seragam maid.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hanya sampai disana, setelah itu aku terbangun dari tidurku," ujar Satoru.
"Mungkin," jawab Satoru tak yakin.
Mereka berdua akhirnya tiba di depan pintu guild petualang di kota Seishi. Petualang di guild itu kebanyakan seorang manusia dan seiren, dikarenakan banyak quest yang mengarah ke pembasmian monster laut. Biasanya pergerakan para monster tak terlalu banyak namun, belakangan ini banyak sekali serangan monster. Sehingga membuat para nelayan kesulitan untuk bekerja.
Terdapat sebuah rumor kalau seorang dewa sedang marah dan membuat banyak sekali monster mengamuk untuk mengacaukan dunia. Seseorang pernah berkata kalau dia melihat sosok bersayap yang terbang di atas lautan dan membuat sebuah lingkaran sihir yang sangat besar. Keesokan harinya serangan monster menjadi meluap tanpa diketahui sebabnya.
Seorang dewi yang memiliki sebuah kuil di dekat kota Seishi mencoba untuk mengeceknya dan tak bisa mengetahui apa yang terjadi. Ia tak bisa merasakan energi sihir sama sekali di lautan dan para monster yang menyerang. Tapi, hanya ada satu bukti yang mereka dapatkan. Satu helai bulu berwarna abu-abu yang terapung di lautan.
Satoru yang mendengar gosip para petualang di dalam guild langsung menghampiri mereka.
__ADS_1
"Permisi, apa cerita yang kalian katakan itu benar adanya?" tanya Satoru dengan wajah yang penasaran.
"A-ah, iya. Itulah rumor yang beredar di kota ini," jawab mereka.
Setelah berterima kasih kepada para petualang yang menceritakan soal rumor itu, Satoru dan Yukino mengambil sebuah quest pembasmian monster rank-D Blue Lizard. Sebuah kadal yang memiliki kemampuan sihir elemen air dan bisa bergerak dengan cepat ketika berada di perairan.
"Setelah menyelesaikan quest ini, aku ingin menemui orang yang di sebut dewi ini," ujar Satoru saat berjalan menuju lokasi quest.
"Aku akan ikut," saut Yukino dengan tersenyum.
Aku tak tau apa benar dia dewi. Namun, ada kemungkinan jika dia merupakan Clarisa sang artifak yang sedang kami cari. Aku akan mencari penyebab amukan monster ini, tapi jika memang amukan monster ini ada kaitannya dengan pria itu maka...
Saat itu wajah Satoru terlihat sangat serius matanya yang berwarna biru langit mulai menyala berubah menjadi merah dan berubah menjadi ungu secara bergantian. Yukino yang melihat hal itu merasakan tekanan aura yang besar hingga membuatnya berkeringat dingin karena takut.
Satoru yang sadar kalau pergerakan Yukino melambat, menghentikan langkahnya. "Ada apa Yukino?" tanya Satoru dengan kawatir.
Wajah Yukino terlihat pucat dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia menggelengkan kepalanya mencoba untuk membuat agar Satoru tidak merasa kawatir.
"Aku hanya kurang enak badan saja, aku akan kembali ke penginapan. Maaf karena tak bisa menemanimu," ujar Yukino dengan lemas.
Satoru langsung mengangkat tubuh Yukino, berlari membawanya secepat mungkin ke penginapan agar bisa di obati oleh Haruna. Setelah itu Satoru langsung meninggalkan penginapan untuk mengerjakan quest yang ia ambil dari guild petualang. Sebuah kawasan yang berada di pinggir pantai dekat dengan hutan, tempat itu cukup jauh dari pemukiman. Di sore hari itu terdengar suara nyanyian seseorang yang membuat hati orang yang mendengarnya merasakan ketenangan.
Lagu? Siapa yang bernyanyi?
Satoru yang mendengar nyanyian itu secara perlahan mulai kehilangan kesadarannya. Namun, Sabine dengan cepat memperingatkannya.
"Ayah!"
__ADS_1
"Muncullah Metsuma No Tsurugi!" Satoru langsung berteriak dan menciptakan pedang anti sihir.
Pedang itu langsung ia tancapkan di tanah tempatnya berdiri hingga membuat sebuah penghalang yang bisa menetralkan segala jenis sihir.