
Saat sampai di kota Seishi Satoru menolong seorang gadis yang terlihat terkena kutukan. Gadis itu sedang dirawat oleh roh yang dipanggil oleh Satoru di kamarnya. Setelah cukup lama dan hari pun menjadi malam. Gadis itu mulai membuka matanya dan bangun secara perlahan.
"Kau sudah sadar?" ucap Satoru melihat gadis itu dengan wajah datar.
"I-iya..." Gadis itu menjawabnya, lalu melihat sekitar dengan kebingungan. Tapi ada satu hal yang membuatnya begitu terkejut. "Aaa! Kenapa aku tak mengenakan pakaian?! Jangan bilang!" gadis itu terlihat panik dan melihat Satoru dengan takut.
"Jangan salah paham oke? Aku tak melakukan apapun padamu, kenapa kau tak memakai pakaian karena itu hal yang harus kulakukan agar roh bisa mengobati tubuhmu yang terkena kutukan," jelas Satoru.
"Kutukan ... ?"
"Iya, semua pakaianmu sudah terkena kutukan, itulah kenapa aku membuangnya dan memurnikannya. Pakaianmu sedang dijemur disana," tunjuk Satoru ke arah pakaian gadis itu yang tergantung di dekat lemari.
"A-apa kau benar-benar tak melakukan apapun pada tubuhku?" tanya gadis itu dengan ragu dan sedikit takut. "Soalnya tak mungkin ada laki-laki yang diam saja saat satu kamar dengan seorang gadis tanpa busana."
"Huft~ apa kau benar-benar mau aku melakukan sesuatu padamu?" tanya Satoru sembari menatap gadis itu dengan wajah lesu.
Wajah gadis itu memerah, ia berteriak dan menutupi semua tubuhnya dengan selimut. "Tentu saja tidak!! Mana mungkin aku mau!"
"Kalau begitu aku akan pergi sekarang, pakaiamu juga sudah kering jadi kau bisa memakainya," ucap Satoru berjalan keluar dari kamar.
Dengan ekspresi yang datar, Satoru keluar dari penginapan menuju ke pinggir pantai. Ia memanggil sebuah roh air yang bisa membantunya untuk bernafas di dalan air. Satoru berjalan kebawah laut seperti berjalan biasa di daratan. Ia terus berjalan menuju ke sumber kekuatan yang terpancar dari dasar lautan.
Sebuah goa terlihat, Satoru memasukinya dengan meningkatkan kewaspadaannya. Setelah memasuki goa itu, ia berpindah ke sebuah altar kosong.
"Kurasa disini," gumam Satoru mencari sebuah tombol di lantai altar.
Saat menekan tombol itu, ia langsung berpindah ke atas awan. Sebuah tanah yang luas dengan satu mansion yang megah. Kepala Satoru merasakan sengatan, yang mengembalikan ingatan miliknya tentang mansion tersebut. Pintu mansion itu terbuka secara perlahan dan seorang gadis dengan rambut pirang berjalan keluar.
__ADS_1
"Selamat datang, Papa!" sambut gadis itu.
"Aku pulang, Clarisa," saut Satoru dengan senyuman hangat.
"Clarisa-chan, aku rindu padamu!" Chiyo berubah menjadi wujud manusia dan berlari memeluk Clarisa.
Sebuah tanah yang melayang dengan lapangan luas dan sebuah mansion yang megah. Heaven Hold, itulah nama pulau terbang tersebut. Bukan hanya mansion saja, tetapi ada juga berbagai macam bangunan yang lain. Namun, pulau terbang itu terpecah belah akibat para artifak tersebar ke berbagai tempat. Karena pulau itu juga merupakan artifak, dan masih tersisa 4 pulau lagi dari bagian heaven hold.
Clarisa, salah satu artifak yang merupakan pengawas dan pengurus dari pulau terbang. Kemampuannya tidak tertuju pada pertempuran tetapi lebih ke arah support. Ia memberikan dukungan lewat sihir dan juga makanan sehat, serta kenyamanan saat tinggal di mansion.
Satoru masuk kedalam mansion dan dihantarkan menuju ke kamarnya. Sebuah kamar yang luas dengan kasur yang empuk, semua perbotan terlihat mewah dan juga bersih. Tak ada satupun debu, karena selalu dirawat oleh para maid. Mereka bukan manusia melainkan android.
"Tuan, selamat datang kembali," sambut para maid dengan hormat.
"Tuan, silahkan lewat sini. Kita akan pergi menuju ke ruang makan," ujar ketua pelayan.
"Bagaimana rasanya, Papa?" tanya Clarisa.
"Enak, terima kasih karena sudah menjaga mansion ini dengan baik," jawab Satoru dengab senyum hangat.
Satoru menikmati makanannya dengan tenang, hingga ia melihat tingkah Clarisa yang terlihat gelisah. Satoru bertanya kepadanya, Clarisa menjelaskan apa yang membuatnya gelisah.
Pulau terpecah menjadi 5 bagian dan tersebar, makanan yang dimakan oleh Satoru berasal dari pulau lain. Saat ini di dalak mansion hanya memiliki sedikit saja bahan makanan. Jadi, Clarisa meminta agar Satoru mencari pulau yang lain. Untuk sementara waktu Satoru bisa membeli bahan makanan dari kota-kota yang akan dia singgahi.
Setelah makan, Satoru kembali kekamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Melihat atap dengan raut muka yang serius, Satoru memikirkan dimana orang-orang yang ia kenal pergi. Serta ke-4 artifak yang telah ia kumpulkan. Sekarang, kekuatan tempurnya hanya ada pada Chiyo, dengan kemampuan memanggil roh.
"Huft~ ngomong-ngomong soal orang yang ku kenal. Bagaimana dengan keadaan Ren di bumi? Apa sobekan dimensi itu sudah tertutup?" gumam Satoru saat mengingat soal sobekan dimensi yang ia buat.
__ADS_1
Selang beberapa menit kemudian, Satoru tertidur dengan lelap.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain, bumi. Para pemburu iblis masih diam di markas mereka melihat sobekan dimensi. Para petinggi mencoba untuk membuat sebuah penghalang agar orang biasa tak bisa melihat sobekan dimensi itu.
Ren berjalab mendekati sobekan dimensi itu, orang-orang dari keluarganya melarangnya. Namun, Ren tak mendengarkan dan tetap berjalan mendekati sobekan dimensi itu.
"Apa yang kau ingin lakukan?!"
"Aku akan pergi ke sisi lain dari dimensi ini," jawab Ren melihat ke sobekan dimensi.
Sena berjalan mendekati Ren. "Kalau kau pergi, aku juga akan pergi," ucap Sena.
"Se-Sena? Baiklah! Aku akan menjagamu!" saut Ren dengan bersemangat dan serius.
Keluarga Akatsuki juga mencoba melarang Sena. Namun, tekad kedua orang itu sudah bulat, mereka tak mendengarkan apapun yang diucapkan oleh orang lain. Saat itu Miya juga berjalab mendekati mereka.
"Aku juga akan ikut, dia (Satoru) merupakan penyelamatku. Aku ingin bertemu dengannya lagi," ucap Miya.
Mereka bertiga meloncat memasuki sobekan itu, dan tak lama kemudian sobekan itu tertutup rapat. Ketiga orang itu terbangun di sebuah padang rumput luas, tempat dimana Satoru terbangun sebelumnya.
"I-ini? Dunia dibalik sobekan dimensi itu?" gumam Ren.
"Sepertinya begitu, energi roh didunia ini sangat melimpah. Berbeda dengan yang ada dibumi," ujar Miya.
"Kau benar," sambung Sena saat merasakannya juga.
__ADS_1
Mereka bertiga pergi berjalan untuk mencari tempat pemukiman, kota ataupun desa. Mereka berniat untuk mencari Satoru sembari berpetualang melihat dunia baru dimana mereka akan tinggal. Sebuah dunia yang dipenuhi oleh kekuatan sihir, roh, dan berbagai jenis ras. Pertarungab melawan monster, bagi mereka bertiga yang merupakan pemburu iblis yang cukup ahli. Monster tingkat rendah tak akan ada apa-apanya saat melawan mereka.