
Di ibu kota kerajaan Earshied yang tengah mengadakan festival perayaan peringatan hari berdirinya kerajaan. Namun, saat tengah hari tiba-tiba sebuah awan hitam muncul dan terlihat 15 iblis yang hendak menyerang kota.
Seorang pria dengan rambut hitam berhasil mengalahkan satu iblis dan hendak melawan semua iblis itu seorang diri di gerbang masuk kota.
"Tch! Apa kau pikir bisa melawan kami seorang diri?!" decak Iblis saat melihat Pria yang memenggal salah satu dari mereka dengan cepat.
"Sendiri? Ah, benar juga. Messenger of Death : Summon Undead Dragon!" saut Satoru sembari memanggil sebuah naga zombie.
Para iblis terkejut saat melihat seekor naga zombie yang muncul dan terbang kearah mereka. Mencoba untuk menghindar namun,salah satu dari mereka berhasil dimakan oleh naga tersebut.
"Gyaah!!" teriak Iblis yang dimakan.
"Bagaimana bisa dia memanggil undead tingkat tinggi begini? Bukannya dia itu pendekar pedang?" gumam Iblis pedang dengan kebingungan.
Iblis itu menatap kearah Satoru dengan waspada. Ia turun kepermukaan dan tampak lebih waspada lagi.
"Akhirnya turun juga, apa kita bisa melanjutkan urusan kita yang sebelumnya?" tanya Satoru dengan senyum sinis.
"Hahaha, baiklah jika memang itu maumu Manusia!" teriak iblis itu lalu bergerak dengan cepat menyerang Satoru.
Wush!
Satoru menahan serangan iblis itu mengenakan pedang penetral sihir miliknya. Namun, Satoru bisa mengatasinya dengan mudah, berbeda dari sebelumnya. Serangan iblis itu terasa lebih enteng, sedangkan serangan Satoru terasa sangat berat bagi sang iblis.
"Hmmm, sepertinya kau menjadi lebih lemah dari sebelumnya, tuan iblis," cibir Satoru saat hendak menebas lengan iblis itu.
"Gyaa!!" teriak iblis itu menggeram kesakitan saat lengan kanannya tertebas.
Iblis itu mundur dan membuat jarak mencoba untuk memulihkan tangannya yang terputus. Namun, tidak bisa akibat Satoru yang memutuskan energi sihir dari lengannya.
"Kenapa aku tak bisa meregenerasi tang-?!" teriak iblis itu kebingungan.
"Itu karena aku memutuskan aliran sihir di tanganmu," sela Satoru.
"A-apa? Ba-."
"Yah, ini sudah berakhir." Satoru bergerak dengan begitu cepat dan memenggal kepala iblis itu.
Sisa iblis yang lain juga sudah dikalahkan oleh naga zombie yang panggil olehnya. Secara perlahan naga itu mulai menghilang menjadi partikel kecil berwarna ungu gelap.
__ADS_1
"Apa yang terjadi disini!?" Seseorang berteriak dari kota sembari berlari menuju gerbang.
"I-iblis?" ucap yang lain sembari menutup mulutnya seolah tak percaya dengan apa yang Ia lihat.
Satoru menoleh ke sumber suara. "Ah, para Pahlawan," sapa Satoru saat melihat rombongan yang datang.
Di gerbang terlihat party para pahlawan dan kelompok kesatria kerajaan yang sudah siap untuk bertempur.
"A-apa kau yang mengalahkan mereka semua?" tanya Serge sang komandan kesatria.
"Ya, begitulah. Tolong urus sisanya, aku ingin makan siang dulu," jawab Satoru sembari menunjuk mayat para iblis.
Pada saat itu tiba-tiba tanah bergetar dengan kuat hingga membuat semua orang tersentak.
"Apa yang terjadi?!" teriak semua orang dengan panik.
Dari kejauhan terlihat ribuan monster tengah berjalan mendekat ke ibu kota. Selain itu terlihat sebuah sosok yang terbang di atas mereka. Sosok itu memiliki rambut berwarna hitam dengan sayap putih kehitaman.
Saat melihat sosok itu Satoru terdiam membisu dan tak bergerak sama sekali. Ia memandangi sosok itu dengan tatapan kosong.
"Ba-bagaimana bisa ada ribuan monster yang mengarah kesini?"
"Komandan Serge, kita harus mengungsikan para warga dengan segera!"
Di saat semua orang panik dan mencoba untuk mencari cara melawan ribuan monster itu, Satoru masih diam berdiri dengan tatapan kosong.
"Hei Satoru! Hei!" teriak Serge.
Namun, teriakan itu tak mencapai telinga Satoru, Ia masih tetap berdiri diam memandangi sosok yang terbang di atas lautan monster itu.
Saat jarak para monster dengan dinding benteng sekitar 40 meter, sosok itu turun kepermukaan tepat di depan semua monster.
"Lama tak bertemu," ucapnya.
Saat itu Satoru merasakan perasaan yang cukup aneh dan familiar. "K-ka-kau ... ," ucapnya terbata-bata saat melihat sosok itu.
Sosok itu terlihat tersenyum kecil. "Sepertinya Kakak tak mengingatku, yah," ucapnya dengan sedikit kecewa.
Pada saat itu Sabine dan Madosi berubah ke wujud manusianya. Mereka berdua berdiri di depan Satoru seolah mencoba untuk melindunginya.
__ADS_1
"Jangan mendekat!" teriak mereka berdua.
Melihat kedua anak itu sosok itu tampak cukup terkejut. "Hoo~ tak kusangka jika sudah ada 2 kepingan yang terkumpul," ujarnya saat melihat 2 anak kecil yang mencoba untuk melindungi Satoru.
"Kenapa Paman melakukan hal ini?!" tanya Sabine kepada sosok itu.
Sosok itu terdiam sejenak, lalu tertawa. "Hahaha! Kenapa kau bilang? Tentu saja untuk mengacaukan dunia ini! Aku juga perlu membuat ke-7 bajingan itu merasakan rasa sakit yang pernah kurasakan dulu!" jawab sosok itu.
"Tapi mereka melakukan itu karena Paman hendak menghancurkan dunia!" teriak Madosi.
"Hmmm, apa kau lupa? Mereka lah yang pertama membuat kita menderita, memandang kita dengan sebelah mata, bahkan hendak membuang kita," ujar sosok itu.
"T-tapi ... ."
Sabine dan Madosi tak bisa berkata-kata lagi, apa yang diucapkan oleh sosok itu memang benar apa adanya.
"Kau juga setuju bukan?" tanya sosok itu sembari melihat Satoru.
Saat itu Satoru menggelengkan kepalanya seraya mencoba untuk menyadarkan dirinya.
Sadarlah! Sekarang bukan waktunya untuk terpaku diam, kenapa Dia memanggilku kakak? Aku tak pernah ingat jika punya seorang adik.
Saat itu sebuah ingatan samar muncul dalam kepala Satoru. Disana terlihat sesosok anak kecil yang tengah bermain dengan kedua orang tuanya namun, saat anak itu menghampiri Satoru. Wajah kedua orang tua yang bersamanya terlihat menatap Satoru dengan sinis, berbeda dengan tatapan anak kecil yang tersenyum lebar melihat Satoru.
"Ayah!"
Satoru terbangun dari lamunannya saat Sabine dan Madosi memanggilnya. "Maaf, aku sedikit melamun tadi," ucap Satoru.
"Hei, Kakak. Apa kau bisa menyingkir? Aku ingin meratakan kerajaan ini terlebih dahulu," ujar sosok itu.
Satoru tetap berdiri di tempat dan tak bergerak sedikitpun. Melihat hal itu sosok itu menghela nafasnya. "Baiklah, untuk saat ini aku akan menarik semua monster ini. Tapi, jika Kakak sudah mengingatnya, kuharap Kakak tak akan menggangu penyeranganku lagi," ujar sosok itu sembari mengangkat tangan kanannya.
Semua monster tiba-tiba menghilang dalam sekejap tanpa jejak. "Kalau begitu sampai jumpa lagi, Kakak," pamit sosok itu yang secara perlahan berubah menjadi serpihan cahaya hitam.
"Tunggu!" teriak Satoru seraya mencoba untuk menggapai sosok itu.
Namun, semuanya sudah berakhir. Bencana ribuan monster yang hampir membuat satu kota hancur menghilang begitu saja. Semua orang bersyukur akan hal itu, berbeda dengan Satoru yang menjadi makin kebingungan dan penasaran dengan masa lalunya.
Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa dia? Aku ini siapa? Siapa yang membuangku?
__ADS_1
Didalam pikirannya terdapat banyak sekali pertanyaan namun, satu hal yang pasti hanyalah membuat sebuah tujuan yang jelas. Satoru membulatkan tekadnya untuk melakukan sebuah perjalanan demi memulihkan ingatannya.
Aku tak bisa diam saja di kota ini, Aku harus pergi ke berbagai tempat. Benar juga! Dia bilang kalau baru terkumpul 2, yang artinya aku harus mencari 10 artifak yang lain untuk mengungkapkan diriku yang sebenarnya.