Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia

Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia
Chapter 66 : Kembali Ke Tempat Yang Dikenal


__ADS_3

Satoru terbang menggunakan sayapnya dan sampai disebuah desa kecil untuk beristirahat. Chiyo berubah ke wujud manusianya dan berjalan disamping Satoru sembari bergandeng tangan. Saat di penginapan Satoru memesan makanan serta kamar untuk menginap.


"Kalian Ayah Anak dalam perjalanan kemana?" tanya pemilik penginapan.


"Kami ingin pergi ke ibu kota Earshied," jawab Satoru dengan polos.


Saat itu semua orang yang sedang makan berhenti makan, yang mengobrol menjadi diam, yang sedang tertidur langsung terbangun. Mereka semua menatap kearah Satoru dengan tak percaya serta kebingungan.


"Hei, apa yang ingin kau lakukan di tempat mengerikan itu?!" tanya pemilik penginapan dengan serius.


"Huh?" Satoru tak paham dengan apa yang dikatakan oleh pemilik penginapan. "Tidak, tidak, itu kota yang cukup indah bukan?" bantah Satoru.


"Iya, tapi itu sudah 1 setengah tahun yang lalu," jawab pemilik penginapan.


Saat mendengar hal itu Satoru menghela nafas panjang dan menundukkan kepalanya. Chiyo tampak kawatir dengan Satoru dan bertanya. "Ada apa Ayahanda? Kenapa Ayahanda membuat wajah yang terlihat kesal begitu?"


"Ah, tidak apa," jawab Satoru dengan senyum simpul.


Bagaimana aku bisa lupa soal garis waktunya, jika aku berada dibumi selama 4 tahun, dunia ini sudah berlalu 100 tahun. Aku ada disana selama 2 minggu lebih yang artinya, disini sudah berlalu 1 tahun setengah.


Satoru tersadar dengan apa yang terjadi, ia beranjak dari tempat makan dan berjalan menuju kamarnya bersama Chiyo. Merebahkan tubuhnya di atas kasur, Satoru menenangkan dirinya dan tertidur dengan lelap karena kelelahan. Memakai begitu banyak kekuatan untuk membuka sobekan dimensi, terlebih lagi saat ini kekuatannya menurun karena artifak yang dikumpulkannya menghilang.


Walaupun masih memiliki kemampuan fisik yang cukup kuat untuk melawan monster rank-B, tetap saja Satoru masih cukup kesulitan. Saat ini dia hanya memiliki kemampuan untuk mengendalikan roh, dengan kata lain kemampuan fisiknya tak sekuat sebelumnya.


Malam berlalu dan matahari pun kembali menyinari dunia, Satoru melanjutkan perjalanannya menuju ke ibu kota kerajaan Earshied. Saat sampai disana, ia melihat puing-puing bangunan dan semua rumah-rumah yang rusak parah. Bahkan ada banyak sekali monster yang berkeliaran disana, bukan hanya monster kelas teri tetapi juga tingkat tinggi. Satoru langsung terbang menuju ke rumah yang ia tinggali.

__ADS_1


"Ternyata rumahnya juga hancur yah," gumamnya saat berada di depan pintu rumah.


Menghela nafasnya, Satoru langsung terbang menuju ke kota dimana Charlotte tinggal. Karena itu adalah kota terdekat dimana ada seseorang yang ia kenal. Saat sampai disana, kotanya masih terlihat baik dan ada banyak orang. Satoru masuk kedalam kota dan pergi menuju guild petualang untuk mengumpulkan informasi.


Ia melihat ada beberapa petualang yang sedang duduk berkumpul, lalu mendekati mereka. "Selamat siang, apa kalian punya waktu?" sapa Satoru.


"Huh? Apa yang kau inginkan bocah?!" balas pria yang disapa dengan tak senang.


"Apa kalian tau soal kejadian yang membuat ibu kota Earshied hancur?" tanya Satoru.


"Apa, hanya bertanya hal itu. Kota itu hancur karena diserbu oleh ribuan monster, tapi ada hal yang cukup aneh," jawab petualang itu.


"Aneh?"


"Iya, tak ada satupun korban dari serangan itu, semua monster itu terlihat sedang mencari sesuatu dan hanya menghancurkan bangunan-bangunan saja," jelasnya.


Ia langsung keluar dari guild petualang dan berjalan menuju mansion tempat penguasa kota tinggal. Tapi, para penjaga menghadang Satoru.


"Apa Charlotte ada dirumahnya?" tanya Satoru pada para penjaga.


Para penjaga itu terlihat kebingungan dan menatap satu sama lain. "Charlotte? Siapa itu?" ucap mereka berdua dengan wajah penuh akan kebingungan.


"Eh? Bu-bukannya dia anak dari penguasa kota disini?" ucap Satoru dengan wajah yang tampak tak percaya.


"Huh? Penguasa kota ini tak punya anak kau tau?" jawab para penjaga.

__ADS_1


"..."


Satoru terbalik badan dan memunculkan sayapnya lalu terbang begitu saja. Kedua penjaga itu terkejut bahkan sampai terjatuh kelantai. Mereka berpikir akan mati saat melihat sosok bersayap itu, mengingat kejadian yang menimpa ibu kota kerajaan Earshied.


Satoru masih belum mengetahui apa yang terjadi selama ia menghilang 1 setengah tahun. Walaupun sebenarnya dia hanya berada di bumi 2 minggu lebih. Tetapi karena perbedaan garis waktu membuat semuanya menjadi kacau. Semua yang ia kenal di dunia ini menjadi berbeda, kota tempat dimana ia tinggal hancur, kenalannya hilang semua.


Kalian ada dimana? Ah, benar juga aku harus kesana!


Satoru mengingat kota terakhir sebelum ia dipindahkan ke bumi. Kota pelabuhan yang ada di wilayah kerajaan Buerne, kota Seishi. Satoru terbang dengan kecepatan tinggi hingga sampai dikota itu, ia turun di luar kota agar tak menimbulkan kegaduhan. Memasuki kota itu dari gerbang dan pergi menuju penginapan tempat dimana ia menginap sebelumnya.


Ia tak menemui mereka, dengan cepat Satoru bergerak ke pantai dimana ia diserang. Saat sampai disana ia melihat seorang gadis dengan rambut magenta sedang menatap laut dengan pandangan kosong. Tak tau mengapa, Satoru masuk kedalam mode waspada dan siap bertarung saat melihat gadis itu.


Gadis itu menoleh ke arahnya dengan tatapan yang begitu kosong. Angin berhembus kencang dan muncul 3 ekor iblis di hadapan gadis itu.


"Pemanggilan Roh : Serigala Petir!"


Satoru memanggil salah satu roh petir tingkat tinggi untuk melawan ketiga iblis tersebut. Serigala itu langsung berlari menerkam ketiga iblis itu, pertarungan terlihat tidak seimbang. Dan para iblis itu berhasil dikalahkan dengan mudah. Gadis itu tetap diam dengan tatapan kosong layaknya ikan mati. Satoru menghampirinya untuk memeriksa gadis tersebut.


"Ini!?" Saat melihat kalung yang digunakan oleh gadis itu, Satoru merasakan aura kutukan yang begitu besar terpancar dari kristal yang ada di kalung.


"Pemanggilan roh : Holy Deer!"


Satoru memanggil seekor roh yang berbentuk rusa dengan kemampuan suci untuk menghilangkan kutukan itu. Walaupun memakan waktu cukup lama, kristal yang ada di kalung itupun hancur dan kutukannya menghilang. Mata gadis itu tampak kembali cerah kembali, lalu ia pingsan akibat kehabisan tenaga.


"Mungkin aku harus menunggu sampai dia bangun dulu," gumam Satoru mengangkat gadis itu dan membawanya ke penginapan.

__ADS_1


Satoru membaringkan gadis itu di atas kasur dan memanggil seekor roh yang bisa menyembuhkan untuk merawat gadi itu. Sedangkan Satoru duduk diatas kursi sembari memandangi lautan dari jendela penginapan. Ia juga berusaha untuk mencari keberadaan kepingan kekuatannya di lautan seperti yang ia cari sebelumnya.


__ADS_2