
Di pagi hari, Satoru di datangi oleh beberapa kesatria. "Apa yang kalian inginkan?" Tanya Satoru dengan nada tak senang saat melihat para kesatria istana berada di depan rumahnya.
"Anda di panggil untuk menghadap raja" Ujar kesatria itu.
Satoru baru ingat kalau tuan putri menyuruh nya untuk pergi ke istana. Ia mengikuti para kesatria itu menuju ke istana dengan berat hati. Saat sampai di istana semua orang menatap nya dengan sinis karena tak memiliki energi sihir sama sekali.
Apa yang di pikirkan oleh tuan putri itu?
Di ruang tahta Satoru menghadap raja dan berlutut. Ia tak berbicara apapun ataupun menyapa sang raja. Sedari dulu Satoru memang tak terlalu suka dengan orang-orang yang memiliki status tinggi. Alasannya bukan karena benci atau apapun, itu karena Satoru memang tak terlalu suka saja karena perilaku mereka yang suka menginjak yang berada di bawah mereka.
"Hei! mana hormat mu kepada Yang Mulia!" Salah seorang kesatria berteriak dengan ketus melihat Satoru yang hanya diam saja.
Satoru bangun berdiri "Kenapa pula aku harus menyapanya? aku datang kesini juga bukan karena ingin, jadi apa yang kau inginkan dengan ku yang tak punya sihir ini?" Ujar Satoru dengan serius menatap mata sang raja.
"Untuk seseorang yang tak punya energi sihir sama sekali seperti mu, berani sekali bertindak tidak sopan di hadapan Yang Mulia!" Seorang kesatria menarik pedangnya dan mengarahkannya pada Satoru.
Saat itu Serge datang dan menghentikan kesatria itu karena melihat lengan kiri Satoru mulai bergerak dan hendak melepaskan kunci katanannya. "Hentikan! apa yang kau lakukan? dia adalah tamu disini!"
"Tapi, Serge-sama?" Ujar kesatria itu tak terima.
"Jika kau bertarung dengannya, ku pasti kan kau akan mati dalam hitungan detik" Ujar Serge dengan tatapan serius.
Mendengar hal itu, sang raja tampak terkejut melihat kesatria terkuat di kerajaan begitu menghormati orang yang berada di hadapannya. "Apa kau pernah bertarung melawan pemuda ini, Serge?" Tanya sang raja.
"Iya, Yang Mulia! saat itu saya menjadi pengujinya di ujian masuk akademi. Kemampuan yang dia miliki sangat hebat walau tak memiliki sihir" Jawab Serge tanpa sedikitpun merendahkan Satoru.
Sang raja tampak kagum ketika melihat seorang kesatria terkuat kerajaan memuji seorang pemuda yang ada di hadapannya. "Hei, kenapa kamu begitu membenci para bangsawan? apa ada hal yang terjadi di antara kau dan para bangsawan?" Tanya sang raja.
"Tidak juga..." Jawab Satoru seolah tak peduli "Jika tak ada yang mau di bicarakan lagi, aku akan pergi sekarang, aku masih punya urusan yang lebih penting" Ujar Satoru membalikkan badannya.
"Seperti mengurus pemahaman tentang kemampuan mu?" Ujar sang raja.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Satoru berhenti sejenak "Hmm? apa yang kau bicarakan? aku tak memiliki skill ataupun sihir kau tau. Yang kumiliki hanya murni kemampuan berpedang, jika kau tak percaya tanyakan saja ke guild petualang" Ujar Satoru pergi meninggalkan ruangan.
"Anak itu benar-benar mirip dengan mereka" Gumam sang raja saat melihat Satoru keluar dari ruangan.
"Dia? siapa yang ayah bicarakan?" Tanya sang putri dengan penasaran.
"Seseorang yang pernah menyelamatkan kerajaan ini" Jawab sang raja sembari mengingat hal itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tengah kota, Satoru duduk sembari menghela nafas panjang. "Haaa... aku benar-benar melakukannya. Entah kenapa aku memang tak terlalu suka dengan orang-orang yang memiliki status tinggi" Gumamnya di kursi dekat air mancur.
Kalau ku ingat-ingat aku memang tak pernah bicara dengan baik saat bersama dengan orang-orang seperti mereka. Sebenarnya apa yang kurasakan saat itu?
Ahh, percuma saja, aku tak bisa mengingatnya.
Satoru mencoba memikirkan dan mengingat alasan kenapa dia bisa tidak suka dengan orang-orang seperti mereka. Walaupun begitu, ingatan Satoru di bawah umur 10 tahun tidak ada dan dia juga tak bisa mengingatnya.
Pulang ah...
"Ahh... kelembutan nya memang benar-benar membuat hati tenang" Gumamnya sembari mengusap-usap mukanya ke tubuh Round Rabbit yang berbentuk seperti bola bulu.
Aku akan meminta agar bisa mengerjakan semua ujian dalam satu hari.
Keesokan harinya, ujian di mulai. Sebelum hal itu dilakukan Satoru datang ke kantor kepala sekolah. "Permisi..." Ucapnya setelah memasuki ruangan.
"Ada apa Satoru-kun?" Tanya kepala sekolah dengan heran.
"Kepala sekolah, apa saya bisa mengerjakan semua ujian dalam satu hari?" Ujar Satoru dengan serius.
"Hmm? apa yang kau inginkan?"
__ADS_1
"Seperti yang kubilang, aku ingin mengerjakan semuanya dalam waktu satu hari. Aku ingin pergi ke suatu tempat, karena itulah aku ingin mengerjakan semuanya secepatnya" Jelas Satoru.
"Baiklah, aku akan mengatur hal itu. Tapi, aku memiliki sebuah syarat" Ujar kepala sekolah mengangkat kedua jarinya.
"Apa syaratnya?"
"Pertama aku akan menjadi penguji kemampuan sihirmu dan kedua jangan mencoba untuk menyembunyikan kekuatanmu di hadapanku" Ujar kepala sekolah.
"Baiklah" Jawab Satoru dengan serius dan pergi meninggalkan ruangan.
Saat itu sekretaris kepala sekolah menanyakan sesuatu "Kepala sekolah, apa yang anda katakan soal menguji sihir? dia tak punya energi sihir sama sekali kan?"
"Itu benar, tapi dia bisa menciptakan sebuah sihir melalui pedangnya" Ujar kepala sekolah dengan senyum kecil di wajahnya.
"Lewat pedang? maksud anda seperti pedang sihir?"
"Yah, semacam itulah. Kalau tidak, bagaimana mungkin dia bisa mengalahkan iblis seorang diri?"
"Eh? bukannya para pahlawan yang mengalahkan iblis itu?" Ujar sekretaris.
Mendengar hal itu kepala sekolah tampak cukup kesal "Haaa?! kau pikir para pemula itu bisa mengalahkan seekor iblis? mau sebagus apapun skill yang dimiliki oleh mereka ataupun punya senjata suci sekalipun, kalau kemampuan mereka rendah, mereka pasti akan mati saat berhadapan dengan seekor iblis" Ujar kepala sekolah.
"Jangan pernah percaya dengan sebuah rumor dengan mudah jika kau tak melihatnya dengan sendiri" Ujar kepala sekolah.
"Kalau begitu, apa anda melihat nya?" Tanya sekretaris.
"Apa kau ingat saat seorang petualang datang ke sini untuk mencari Satoru-kun?"
"Iya, setelah itu kita dapat kabar jika Satoru-san sakit"
"Apa benar begitu? keesokan harinya kita di kejutkan dengan seekor mayat iblis di parade pahlawan. Tapi apa kau tau? mayat itu sudah tak memiliki kristal sihir di tubuhnya. Lantas kemana kristal itu?" Ujar kepala sekolah.
__ADS_1
"Ah!? maksud anda kristal iblis yang di jual satu minggu sesudah acara itu di perusahaan Star Santuary?"
"Itu benar, dan saat aku melihat Satoru pergi kesana, para pekerja di perusahaan begitu menyambutnya dengan baik" Ucap kepala sekolah. "Yah, kita lihat saja nanti. Sekuat apa pemuda itu"