
Di pinggiran pantai Satoru diserang oleh semacam sihir berupa nyanyian. Menggunakan pedang yang diciptakan dari swordbirth untuk menetralkan sihir itu, Satoru saat ini sedang dalam mode bertahan sembari mencari sumber dari sihir tersebut. Namun, karena kepekaan Satoru terhadap sihir sangat kecil, ia kesulitan untuk mencarinya.
Dimana?
Melihat ke segala arah Satoru tetap tak bisa menemukan seorangpun di dekat pantai ataupun hutan. Kala itu sebuah sihir yang berupa pedang air melesat dengan begitu cepat.
Splash!
Karena efek penetral dari pedang yang digunakan oleh Satoru, serangan sihir itu tertahan dan pecah hingga membasahi pasir yang berada di dekat tapak kaki Satoru. Karena tau asal dari tembakan sihir itu, Satoru langsung berlari dengan cepat mendekatinya.
Slash!
Menebas rerumputan dan pohon hingga tumbang, tak terlihat satupun orang yang berada di tempat itu. Satoru kebingungan dan masih dalam keadaan waspada dengan sekelilingnya. Sebuah kabut tipis mulai menyelimuti area sekita hingga menebal secara perlahan. Mencoba menebas kabut itu dengan pedang penetral namun, tak terjadi apapun. Kabutnya tidak hilang dan terus menebal hingga area sekitar tak terlihat kembali.
Stab!
"Ughhhwahh!!"
Sesuatu yang begitu tahan menusuk ke arah jantung milik Satoru hingga ia memuntahkan darah yang cukup banyak. Dadanya terasa begitu panas, nafasnya menjadi terengah-engah dan berat, sekujur tubuhnya mulai melemah dan mati rasa, dan hingga pada akhirnya ia tak sanggup berdiri lagi.
"Huh... huf... ap-a ini? Siapa yang menyerangku?" gumam Satoru melihat ke arah ujung pedang yang menembus dadanya sembari menahan rasa sakit.
Terlutut tak berdaya, Satoru melihat sebuah bayangan di kabut yang tebal itu berjalan mendekat ke arahnya. Sosok itu tak lain dan tak bukan adalah pria yang memiliki sayap abu-abu.
"Maafkan aku Kakak. Tapi, sebaiknya Kakak tetap tinggal di dunia lain. Aku tak ingin lagi melihat wajah Kakak yang sedih dan marah," ucapnya dengan nada merasa bersalah.
Secara perlahan tubuh Satoru terjatuh ketanah, sebuah lingkaran sihir yang berada di bawahnya memancarkan kekuatan yang begitu besar dan pada akhirnya melenyapkan semua tubuh Satoru hingga tak bersisa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kring! Kring! Kring!
"Hmmm?"
Di sebuah kamar terlihat seorang pemuda yang tertidur di kasurnya dengan sebuah alarm yang berbunyi. Tangannya bergerak secara perlahan mencari sumber suara dan mengambilnya.
__ADS_1
"Hmm? Jam 6 pagi?" gumamnya saat melihat layar handphonenya.
Dengan keadaan yang masih lemas, ia beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka.
Eh? Aku ada dimana? Bukannya aku berada di pantai?
Satoru yang teringat akan hal itu melihat sekelilingnya dan tersadar kalau dia berada di rumahnya saat di bumi. Ia berlari kesana kemari ke setiap ruangan yang ada dirumahnya. Hingga pada akhirnya kembali ke kamarnya dan melihat komputer miliknya menyala. Di layar komputer itu terlihat sebuah game mmorpg dengan karakter di dalam game itu mati saat melawan bos.
Ah, benar juga. Setelah kakek meninggal aku selalu mengurung diri di kamar sambil memainkan game itu.
Satoru menggelengkan kepalanya mencoba untuk menenangkan pikirannya.
"Ah, pasti karena itu! Aku sudah begadang 3 hari memainkan game itu hingga tertidur dan bermimpi aneh!" gumamnya.
Tapi setelah mengatakan itu di hatinya ia merasakan sesuatu yang aneh.
Apa benar itu hanya mimpi? Apa karena aku terlalu stress saat melihat kakekku meninggal hingga membuatku bermimpi pindah ke dunia lain?
Plak!
Satoru menghela nafasnya saat keluar dari pintu rumah. "Huft~ semangatlah! Kakek pasti tak mau melihatku bersedih seperti ini!" teriak Satoru untuk menyemangati dirinya.
Sesampainya disekolah semua teman sekelasnya menyambut Satoru dengan berbagai macam pertanyaan. Wajah mereka tampak kawatir karena Satoru sudah tidak masuk selama satu minggu semenjak ia keluar dari kelas di hari kakeknya meninggal.
"Aku tak apa-apa, maaf karena membuat kalian kawatir," ujar Satoru dengan senyum kecil di wajahnya.
Pelajaran di sekolah berjalan seperti biasa tanpa adanya hal yang spesial, kecuali ketika seorang guru olahraga memanggil Satoru ke ruangan guru untuk mendiskusikan soal turnamen kendo. Satoru menolak tawaran itu dengan alasan jika hatinya saat ini masih belum bisa tenang dan masih tak bisa menahan rasa sedih di lubuk hatinya.
Di jam istirahat Satoru pergi ke atap sekolah untuk bersantai sembari membaca novel ringan kesukaannya. Sebuah novel yang menceritakan soal perjalanan seseorang yang berkeliling dunia untuk mencegah kehancuran dunia. Namun, ketika membaca novel itu ia teringat tentang mempunya di pagi hari sebelumnya.
Huft~ mimpi semalam benar-benar kerasa nyata, yah. Bahkan aku bisa merasakan rasa sakit saat terkena tusukan itu.
Satoru memegang dadanya dan membuka kancing bajunya untuk mengecek dadanya. Tapi, tak ada satupun bekas luka di dada kirinya.
"Hahaha... apa yang kupikirkan? Itu hanya mimpi, kan? Mana mungkin luka di dalam mimpi bisa muncul di dunia nyata," gumam Satoru sembari mengancingkan kembali bajunya.
__ADS_1
"Satoru, selamat siang," sapa seseorang.
"Ah, selamat siang. Ada perlu apa, Ren?" saut Satoru.
Iwatani Ren, ia merupakan teman Satoru namun berbeda kelas. Ia sudah berteman dengan Satoru semenjak bangku SMP dan sama-sama berlatih di dojo milik kakeknya Satoru.
"Akhirnya kau sekolah juga, aku benar-benar khawatir loh," ungkap Ren dengan senyum bahagia di wajahnya saat melihat sahabatnya kembali datang kesekolah.
"Ahahaha, maaf, dan terima kasih karena sudah khawatir padaku," ucap Satoru.
"Hei, apa kau mau mampir ke game center sepulang sekolah nanti?" ajak Ren.
"Hmm... boleh. Sekalian aku juga mau membeli novel baru untuk dibaca dan volume lanjutan dari novel yang kutunggu," jawab Satoru.
Waktupun berjalan dengan cepat hingga bell pulang berbunyi, Ren sudah menunggu di pintu gerbang sekolah. Satoru yang melihatnya langsung menghampiri Ren sembari berlari kecil. Mereka mengobrol sepanjang perjalanan menuju ke tempat game center yang berada di dalam sebuah mall. Namun, ketika melewati sebuah kafe Satoru terdiam sejenak ketika melihat sosok seorang wanita yang tengah duduk sembari menghirup secangkir kopi.
"Ada apa Satoru?" tanya Ren heran ketika melihat Satoru yang berhenti secara tiba-tiba.
Satoru tak menjawab pertanyaan itu hingga membuat Ren melirik ke arah yang dilihat oleh Satoru.
"Ah, dia Akatsuki Sena. Dia satu angkatan dengan kita, dia berada di kelas 2-A," ucap Ren.
"Hah? Siapa?" tanya Satoru dengan wajah kebingungan.
"Eh? Tentu saja gadis berambut hitam yang tengah duduk sendirian di kafe itu, bukan?" jawab Ren dengan heran.
"Tidak, aku melihat gadis berambut pi-, eh? Kemana dia?" saat melihat kembali gadis itu sudah hilang.
Apa mungkin itu hanya halusinasiku saja, yah?
"Pi? Ada apa?" tanya Ren.
"Ah, tidak. Ayo, kita mau ke game center bukan?" jawab Satoru.
Mereka berdua pergi menuju ke game center untuk bersenang-senang.
__ADS_1