
Satoru yang baru terbangun dari pingsannya berjalan keluar dari kamar dengan sempoyongan. Berbeda dari biasanya, pada saat ini tubuhnya terbangun dengan begitu lemah, bahkan untuk berjalan sekalipun terasa berat.
Saat membuka pintu tak ada satu orang pun diluar kamarnya, Satoru pergi kearah dapur untuk mengambil air minum dan mencuci mukanya.
Awh... Rasanya tubuhku mau remuk... Apa-apaan rasa sakit ini? Aku tak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya...
Setelah mengambil air minum, Satoru duduk di sofa sembari melemaskan tubuhnya. Kepalanya masih merasakan pusing dan masih mengingat mimpi aneh yang ia alami sebelumnya. Dimana semua tempat hancur, lautan api ada dimana-mana, suara teriakan kesakitan dan saat dimana jantungnya terasa ditusuk membuat Satoru mengalami perasaan yang begitu aneh didalam hatinya.
Sebenarnya itu apa!? Mimpi? Tapi itu terasa begitu nyata...
Ia terus termenung diam di sofa dengan pikiran yang kacau, rasa sakit disekujur tubuhnya sangat membuat dirinya melemah. Saat itu ada seseorang yang membuka pintu rumahnya secara perlahan.
"Satoru!? Kau sudah sadar!?" Ujar seseorang yang masuk dengan rasa kaget sekaligus lega.
"Master...? Maaf karena membuatmu khawatir..." Balas Satoru dengan begitu lemah.
"Tak apa, jadi sebenarnya apa yang terjadi? Apa kau memaksakan untuk membuat sebuah pedang?"
"Tidak... Aku sudah menunggu waktunya... Tapi entah kenapa..." Saat itu kepala Satoru merasakan sengatan yang menyakitkan hingga tak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Aarrggghhh!!!!" Ia menggerang kesakitan sembari memegang kepalanya.
Sang master yang melihat hal itu terkejut dan menjadi sedikit panik, ia tak tau apa yang harus dilakukan mengingat Satoru tak bisa disembuhkan melalui sihir.
Saat itu langit-langit mulai menjadi gelap gulita, hingga sinar mentari tak bisa menyinari karena tertutup awan hitam yang tebal. Kejadian ini hampir sama saat terjadinya gerhana matahari yang terjadi secara mendadak 2 hari yang lalu.
Begitu pula dengan ke-12 artifak, mereka bersinar kembali dengan begitu terang hingga aura yang mencekam dari mereka mulai menyelimuti dunia kembali.
Elf Yukino dan Beastfolk Viana yang tengah membawa salah satu dari artifak, mulai mempercepat perjalanan mereka selagi artifak itu memberikan reaksi tempat dimana tuan mereka berada.
Satoru kembali pingsan setelah merasakan rasa sakit yang begitu luar biasa.
Di dalam alam bawa sadarnya
Ini dimana?
Satoru terbangun disebuah padang rumput yang begitu luas, angin yang berhembus pelan membuat suasana menjadi sejuk. Sinar mentari yang menyinarinya terasa begitu hangat, suara kicauan burung yang merdu membuat suasana hati menjadi tenang.
Di sana ia melihat seorang anak kecil yang tengah bermain kejar-kejaran dengan dua orang dewasa. Satoru berfikir kalau mereka adalah satu keluarga.
__ADS_1
Saat itu, anak kecil yang tengah berlari mendekatinya dengan senyum yang lebar "Hei, onii-chan ayo main bareng" Ujarnya.
Satoru membalas senyumannya dan mengikuti anak itu, entah kenapa hatinya merasa begitu tenang pada saat itu. Rasa sakit yang ia alami sebelumnya terasa layaknya mimpi belaka. Saat itu ada hal yang menarik perhatiannya, yakni 12 anak kecil yang tengah bermain di sebuah taman.
Tanpa ia sadari tempat yang awalnya padang rumput berubah menjadi sebuah desa yang damai.
Eh? Bukannya tadi aku ada di padang rumput?
Tapi bukan hal itu yang membuatnya terkejut, melainkan ke-12 anak kecil itu memanggilnya dengan sebutan ayah.
"Ayah! Ayo main bareng!" Teriak 12 anak itu dengan senyum lebar dan terlihat begitu gembira.
Ayah?!
Satoru melihat ke kiri dan ke kanan, tapi tak ada satupun orang lain disana selain dirinya sendiri. Pada saat itu dua orang anak menarik tangannya menuju ke taman tempat mereka bermain bersama.
Entah kenapa saat itu hati Satoru juga merasakan kebahagiaan dan terasa begitu hangat.
Ada apa ini? Kenapa rasanya hatiku begitu tenang saat bermain dengan mereka? Aku tak kenal dengan mereka, namun rasanya aku memiliki hubungan yang begitu dekat dengan mereka layaknya keluarga...
Tanpa disadari lagi tempatnya kembali berubah, kini menjadi sebuah mansion yang begitu megah. Satoru mulai berjalan menelusuri mansion itu, saat itu ia melihat dua orang tengah berlari dan berhenti didepannya.
"Maaf ayah, kami akan segera membersihkan nya" Ucap mereka dengan begitu panik.
Ia mengangkat kedua tangannya, kedua anak itu terlihat begitu ketakutan seolah berfikir mereka akan dipukul. Namun, Satoru mengelus kepala mereka dengan lembut sembari tersenyum.
"Ada apa? Kenapa kalian terlihat begitu panik?" Ujar Satoru dengan heran.
Kedua anak itu terlihat begitu kebingungan melihat sosok ayah mereka berubah. Kenapa ayah yang begitu kejam dan suka melakukan kekerasan pada mereka saat melakukan kesalahan, malah membelai mereka dengan begitu lembut.
"I- Itu karena kami memecahkan vas kesukaan ayah..." Jawab salah satu dari mereka dengan gemetaran.
"Vas? Tak apa, lagi pula kita bisa menggantinya" Ucap Satoru dengan lembut.
Mereka berdua saling menatap satu sama lain dengan heran.
"A- Apa ayah tidak marah...?"
"Nggak kok, ayo kita ke ruang makan, panggilkan yang lainnya. Ayah akan memasakkan makanan yang lezat" Ujar Satoru dengan senyuman tulus di wajahnya.
__ADS_1
Kedua anak itu mengangguk dan berlari memanggil saudara mereka yang lain. Sedangkan Satoru berjalan menuju ke arah dapur, entah kenapa ia merasa tau jalannya dan merasa begitu familiar dengan mansion itu.
Saat tengah memasak dua anak yang sebelumnya masuk kedalam dapur.
"Apa ada yang bisa Sabine dan Madosi bantu ayah?" Ucap salah satu dari mereka.
Sabine? Madosi? Apa itu nama mereka berdua?
Sabine adalah anak perempuan tertua dari ke-12 saudara itu, ia memiliki rambut pirang yang bergelombang dan panjangnya sampai pinggang. Memiliki keterampilan dalam berpedang dan menjadi kakak yang bisa melindungi adik-adiknya.
Sedangkan Madosi merupakan putra laki-laki kedua yang memiliki kemampuan sihir yang baik dalam elemen kegelapan. Mampu menggunakan sihir berupa kutukan dan membuat musuhnya merasakan ketakutan yang hebat. Memiliki rambut berwarna hitam serta mata berwarna ungu gelap.
"Boleh kok, Sabine potong-potong sayuran disana dan Madosi tolong aduk adonan yang ada didalam mangkuk itu" Ujar Satoru menunjukkan mereka berdua apa yang bisa mereka lakukan untuk membantunya memasak.
Kedua anak itu mulai berbisik.
"Hei, apa ada yang salah dengan ayah? Kenapa dia begitu baik sekarang?"
"Aku tak tau kak, tapi ayah kembali seperti dulu lagi. Dimana dia begitu baik dan penuh kasih sayang"
"Tapi bukannya itu aneh? Memang benar kakak senang karena ayah menjadi seperti dulu, tapi bukannya ini sangat mendadak?"
"Aku juga tak tau kak, tapi saat ini Madosi senang karena ayah kembali seperti dulu"
Satoru yang melihat kedua anak itu berbisik merasa penasaran.
"Apa yang kalian bisikan?" Ujarnya dengan senyum simpul sembari memiringkan kepalanya.
"Eh! Ah, bukan apa-apa ayah" Mereka berdua tampak panik saat Satoru berbicara pada mereka secara tiba-tiba.
"Hmm? Yasudah, ayo bawa makannya. Kita akan makan malam bersama" Ujar Satoru dengan lembut.
Saat berada diruang makan, terlihat meja yang begitu besar dan sudah ada 10 anak yang duduk di kursi mereka masing-masing. Entah kenapa ekspresi mereka terlihat begitu tegang dan ketakutan layaknya akan dihukum.
Satoru duduk di kursinya "Ada apa? Kenapa kalian terlihat begitu tegang dan ketakutan?" Ujarnya dengan heran.
"Ah, tidak ayah!" Mereka semua secara bersamaan menjawab pertanyaan itu.
Saat hendak memakan makanan itu, pandangan Satoru mulai buram dan ia pun terbangun kembali dari pingsannya. Ia terlihat begitu panik saat terbangun di kamarnya.
__ADS_1
Mimpi? Tidak, aku rasa itu bukan hanya sebuah mimpi! Perasaan yang kurasakan tak mungkin bisa seperti ini hanya karena mimpi belaka!
Satoru yang terbangun tak terima jika hal yang dilalui nya merupakan sebuah mimpi biasa. Perasaan yang tertinggal dari mimpi itu masih membuat hatinya terasa hangat dan tubuhnya yang sakit sebelumnya juga sudah terasa baikan.