
Di dalam kamar, Reina masih berbicara dengan Satoru. Ia menanyai Satoru dengan berbagai macam pertanyaan.
"Apa benar kau cucunya Shin Ryuha? Saat aku membaca buku, tak ada satupun yang menyebutkan kalau Shin Ryuha memiliki seorang istri ataupun anak"
"Hmm~ ntahlah, aku juga tak ingat apa-apa. Aku tak memiliki ingatan masa kecil, saat itu aku hanya tau kalau aku cucunya kakek. Baik nama ataupun wajah orang tuaku, aku benar-benar tak tau" Jawab Satoru.
Mendengar jawaban itu Reina menjadi merasa tak enak, ia tak tau apapun soal masa lalu dan terlalu terbawa oleh rasa penasarannya tanpa memikirkan perasaan Satoru.
"M- Maaf, aku tak bermaksud..."
"Tak apa, aku tau kalau kau sulit untuk mempercayai jika Sage yang pernah menyelamatkan dunia ini dari raja iblis punya seorang cucu, setelah lewat 100 tahun" Ujar Satoru.
"Apa itu saja? Aku mau pergi ke guild petualangan" Ujar Satoru beranjak dari kursi.
"T- Tunggu!"
"Hmm?"
"Etto... I- ini soal pertunangan yang dibicarakan oleh kakek... A- apa kau mau menerimanya?" Ucap Reina dengan pipi yang merona.
"Sepertinya mustahil, memang benar kalau aku selalu bersikap baik dan ramah terhadap wanita. Namun, sikapku itu memanglah kebiasaan, itu tidak ada hubungannya dengan cinta ataupun rasa sayang. Kalau disuruh bertunangan atau berpacaran sepertinya itu sedikit mustahil bagiku" Jelas Satoru.
"K- kalau begitu aku akan mengajarimu soal cinta dan kasih sayang!"
Satoru tampak terkejut saat mendengar hal itu, ia tersenyum kecil "Terima kasih, kalau begitu aku pergi dulu" Ucapnya keluar dari ruangan.
Reina bangun berdiri, ia ingin menghantarkan Satoru ke gerbang istana. Namun, saat mereka melewati lapangan latihan para kesatria. Satoru terhenti sejenak melihat Charlotte sedang bertarung melawan empat orang.
"Hei, siapa lawannya Charlotte-san?" Tanya Satoru sembari menunjuk ke arah lapangan.
Rein melihat ke arah yang ditunjuk oleh Satoru "Owh, itu para pahlawan" Jawabnya. "Charlotte-chan hebat! Dia bisa seimbang melawan empat pahlawan sekaligus" Reina tampak kagum melihat pertarungan itu.
Satoru berjalan kepinggir lapangan untuk menonton pertarungan itu lebih dekat ditemani oleh Reina. Awalnya pertarungan itu diungguli oleh Charlotte, hingga saat Touya berdiam diri dibelakang bersama Sarah. Sedangkan Sena dan Akari maju berdua melawan Charlotte.
__ADS_1
"Sena! Akari! Menyingkirlah!" Teriak Touya memberi tahu kedua rekannya jika serangannya akan ditembakkan.
Sebuah serangan tingkat tinggi berupa tembakan cahaya, merasa kalau serangan itu sangat berbahaya, Satoru langsung berlari masuk kedalam lapangan.
"Metsuma No Tsurugi!
Satoru menahan serangan itu dengan sebuah pedang yang bisa menetralkan sihir, namun serangan itu tak menghilang atau berhasil dinetralkan.
B- Berat! Kenapa tak hilang?!
Satoru yang heran tentang serangan itu tak bisa dinetralkan oleh pedangnya, menyadari kalau energi dari serangan itu bukan hanya mengandung kekuatan sihir, melainkan ada kekuatan lain yang bercampur di dalamnya.
Apa mungkin kekuatan suci!?
Wush~
Angin berhembus pelan meniup debu yang berterbangan setelah serangan itu berakhir. Terlihat sosok bayangan yang berdiri dibalik debu-debu itu dengan sebilah pedang di tangannya. Ia berdiri di tengah-tengah lantai lapangan yang rusak parah akibat serangan itu.
"Woi! Apa yang kau pikirkan!? Menggunakan serangan tingkat tinggi seperti ini dalam latih tanding?!" Teriak Satoru dengan lantang.
Mendengar hal itu Touya tampak menyesali perbuatannya "A- A- Aku..." Melihat lapangan yang rusak parah di depannya, Touya tak bisa mengatakan apapun.
Satoru menghela nafasnya dan berbalik menghadap Charlotte "Apa kau baik-baik saja?" Tanyanya dengan kawatir.
"I- iya, aku baik-baik saja..."
"Syukurlah kalau begitu" Ujar Satoru yang tersenyum lega sembari mengusap lembut kepala Charlotte.
"Eh! Ah, ehm... S- Satoru-san..." Wajah Charlotte tampak begitu merah saat melihat Satoru mengusap kepalanya dengan lembut.
"Kenapa mukamu merah begitu? Apa kau terkena demam?" Satoru mendekatkan wajahnya dan memeriksa panas tubuh Charlotte dengan tangannya.
"A- aku tak a- apa, Sa- Satoru-san b- bakaaaa!!!" Charlotte langsung berlari meninggalkan lapangan dengan wajah yang begitu merah.
__ADS_1
Dari kejauhan Reina menatap Satoru dengan aneh "Ouh, jadi begitu... Apa dia selalu melakukan hal itu pada setiap wanita yang dia temui?" Gumamanya.
Satoru yang merasa lega karena Charlotte baik-baik saja berbalik dan menatap tajam para pahlawan.
"Apa kau menyadari masalah yang kau buat? Jika aku tak menahan serangan itu Charlotte pasti akan mengalami luka yang serius atau mungkin bisa kehilangan nyawanya"
"A- aku benar-benar menyesal soal itu..." Ujar Touya dengan wajah yang begitu menyesal.
"Huft~ Kau itu seorang pahlawan, kalian dikaruniai oleh kekuatan yang besar. Sebaiknya kau berfikir dulu sebelum menggunakannya, apa yang akan terjadi? Apa akibatnya jika aku melakukan hal ini? Lagian, kau juga tau, kan? Ini hanyalah sebuah latih tanding, bukan ajang bunuh-bunuhan sampai harus menggunakan kekuatan sebesar itu!"
Ke empat pahlawan itu tampak begitu menyesali perbuatannya.
"Yah, aku bukannya mau menceramahi kalian atau apa. Namun, sebaiknya kalian berlatih lebih giat lagi. Bukan hanya bergantung pada skill dan sihir, kalian juga perlu pengalaman dari pertarungan yang nyata. Lagian... Kalian berempat tak pernah melawan seekor iblis, bukan?"
Saat mendengar ucapan itu, semua orang terkejut. Karena informasi itu hanya diketahui oleh para kesatria, keluarga kerajaan dan ketua guild petualang. Mereka berprasangka jika ketua guild itulah yang membocorkan informasi tersebut.
"Ah, jangan salah paham. Aku tak diberitahu oleh siapapun. Lagian jika dilihat dari pergerakan mereka, semuanya sudah jelas terlihat. Mereka masihlah seorang pemula yang tak memiliki pengalaman yang banyak" Ujar Satoru.
Mendengar hal itu Touya tak terima jika dirinya dianggap sebagai pemula "Ka- Kami pernah mengalahkan monster rank-B!"
"Rank-B huh? Jika hanya itu, aku bisa mengalahkannya dalam satu tebasan" Ujar Satoru dengan angkuh.
"Jangan berbohong! Kami berempat saja sudah kesulitan dalam mengalahkannya. Satu tebasan kau bilang? Jangan bercanda!" Touya membantah ucapan Satoru yang dikira tak masuk akal.
Wush~
Satoru bergerak dengan begitu cepat, ia sudah ada tepat dihadapan Touya. Mengarahkan katananya tepat di leher, ujung dari pedang itu menyentuh sedikit kulit dari Touya.
"Aku tau kau memiliki harga diri sebagai pahlawan. Namun, saat ini kau harus menyadari kalau dirimu itu lemah, kau tak akan bisa mengalahkan satupun iblis saat ini" Ujar Satoru dengan tatapan dingin disertai oleh hawa membunuh yang mencekam.
Menyarungkan kembali pedangnya serta menarik semua aura membunuhnya. Satoru berjalan pergi meninggalkan mereka.
"S- Siapa dia sebenarnya? A- Apa benar dia seorang manusia?" Gumam Touya yang masih merasa syok.
__ADS_1