Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia

Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia
Chapter 36 : Apa Benar Itu Penyakit?


__ADS_3

Liburan berakhir dan semua siswa kembali masuk ke akademi untuk belajar. Di kelas Satoru kembali keseharian biasanya, ia selalu pergi menuju perpustakaan untuk mencari buku yang memiliki informasi mengenai Skill Granting Artifact. Namun, tak ada satupun buku yang memiliki informasi mengenai hal itu.


"Hah, sudah kuduga. Sepulang sekolah nanti aku akan pergi menuju perpustakaan ibu kota saja, mungkin disana aku bisa mendapatkan beberapa petunjuk" Gumam Satoru setelah menutup buku yang ia baca.


"Satoru-san" Sapa seorang dengan lembut.


"Oh, Haruna-san lama tak bertemu" Ucap Satoru dengan senyum hangat.


"Apa aku boleh duduk di samping mu?" Tanya Haruna.


"Tentu saja" Jawab Satoru. "Oh yah, terima kasih karena telah merawat para kelinci, jika kau ingin sesuatu katakan saja. Aku akan melakukannya sebagai ucapan terima kasih, dalam catatan jika aku sanggup melakukannya" Ujar Satoru.


"Benarkah!?" Haruna tampak terkejut mendengar hal itu. Ia ingin mengatakan dan meminta sesuatu kepada Satoru, namun hatinya berkata lain. Ia merasa tak enak karena selalu mengandalkan Satoru.


"Tentu, katakan saja apa yang kau inginkan" Ujar Satoru dengan senyuman.


Pada saat itu air mata menetes di wajah gadis itu, melihat hal itu Satoru terkejut. "Ada apa!? apa aku melakukan sesuatu yang membuatmu sedih!?" Ujar Satoru dengan panik.


"Ti- tidak~" Haruna mengelap air mata yang keluar dari matanya. "Satoru-san tau kan, alasan kenapa aku datang ke ibukota dan masuk ke akademi?"


"Membuat obat yang bisa menyembuhkan penyakit ibumu?" Ujar Satoru.


"Iya~ Dua hari sebelumnya aku mendapatkan surat dari penduduk desa kalau penyakit ibuku makin parah. Ta- tapi aku masih belum bisa membuat obatnya... A- aku sangat sedih karena hal itu..." Air mata milik Haruna kembali menetes.


Satoru menggerakkan tangannya dan mengusap air mata yang keluar dengan lembut. Ia menatap mata Haruna "Aku akan membantumu, katakan saja bahan obatnya. Aku akan mendapatkan nya untuk mu" Ujar nya dengan lembut.


"Ta- tapi... Bahkan Airi-chan saja tak bisa menemukan bahan obat yang ku cari..."


Bahkan perusahaan besar seperti Star Santuary tak bisa mencarinya?


Tanaman macam apa yang dicari oleh Haruna?


"Hei, Haruna-san. Apa aku bisa melihat bentuk dari tanaman itu?" Tanya Satoru.


"Eh? Itu bukan tanaman Satoru-san... Yang ku perlu kan itu air mata dewi" Ujar Haruna dengan muka murung.


"Ah... Begitu yah, air mata dewi ya" Satoru tampak kebingungan.


Air mata dewi? Lagi pula bagaimana aku bisa mendapatkan hal semacam itu?


Apa aku perlu menceritakan cerita sedih pada seorang dewi agar dia menangis?


Haft... Apa yang kupikirkan.


Aku memiliki Tenseiga, kan? Aku bisa menyembuhkannya hanya dengan sekali tebasan.


Tapi, aku tak ingin mengkhianati kerja keras dari Haruna-san yang sudah berjuang keras dalam membuat obat.


"Ada apa Satoru-san?" Haruna tampak heran karena melihat Satoru melamun setelah mendengar air mata dewi. "Tentu saja itu mustahil kan? Bagaimanapun aku tak tau bagaimana cara mendapatkannya..." Ujarnya dengan murung.

__ADS_1


"Haruna-san, kurasa aku bisa menyembuhkan ibumu" Ujar Satoru.


"Eh!? Benarkah!?" Haruna langsung menatap Satoru dengan serius karena ucapannya barusan.


"Yah, tapi apa kau tak keberatan? Kau sudah berjuang dengan keras untuk membuat obat yang bisa menyembuhkan ibumu" Ujar Satoru dengan tak enak.


"Aku tak keberatan! Saat ini prioritas ku hanyalah kesembuhan ibuku! Jika Satoru-san bisa melakukannya, aku mohon padamu. Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan, aku akan melakukan apapun jika ibuku bisa disembuhkan" Ujar Haruna dengan serius.


"Baiklah, jadi berhentilah menundukkan kepalamu. Kau tak perlu melakukan apapun, aku hanya ingin kau tetap menjadi dirimu yang biasanya dan terus mengembangkan bakat mu dalam pembuatan potion" Ujar Satoru dengan senyum hangat.


Setelah itu Satoru pergi menghampiri ruang kepala sekolah untuk meminta izin agar bisa pergi beberapa hari.


"Baiklah, lagi pula tak ada yang bisa kau pelajari lagi disini. Kau bebas mau kemana pun" Ujar kepala sekolah.


"Terima kasih"


Satoru keluar dari ruangan dan berbicara dengan Haruna yang sedari tadi menunggu di dekat pintu ruangan. "Aku mendapatkan izin, kita bisa pergi ke desa mu besok nanti" Ujar Satoru.


"Benarkah!? Terima kasih..." Terlihat senyum kecil di wajah Haruna yang tampak lega.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya mereka berangkat menuju desa tempat dimana Haruna berasal. Perjalanan menuju desa itu memakan waktu 5 hari, itu merupakan perjalanan yang cukup jauh.


Satoru dan Haruna akhirnya sampai disebuah desa yang bernama Ricpion. Semua warga desa berbondong-bondong menuju gerbang desa menyambut seorang gadis yang turun dari kereta.


"Oh, itu Haruna-chan!"


Para warga menyambut kedatangan gadis itu dengan hangat.


"Aku kembali semuanya!" Haruna menyapa semua warga desa yang menyambutnya.


Kala itu semua warga penasaran dengan laki-laki yang turun bersama dengan Haruna. Mereka berbisik bertanya soal laki-laki itu.


"Hei, hei Haruna-chan, siapa laki-laki yang datang bersama denganmu?"


"Apa mungkin dia pacarmu?" Usil salah seorang warga desa bertanya.


Wajah Haruna memerah "B- b- bukan... ka- kami tak punya hubungan semacam itu" Ia membantah ucapan salah seorang warga desa dengan gelagapan.


"Hohoho, sekarang Haruna sudah tumbuh menjadi gadis yang luar biasa" Ujar seorang pak tua, yang tak lain merupakan kepala desa tersebut.


"Kakek, bagaimana kabar ibu ku?" Tana Haruna dengan kawatir.


"Keadaanya tetap sama, dia masih terbaring di kasur nya" Ujar kepala desa dengan berat hati.


Haruna langsung pergi menuju rumahnya sembari memanggil Satoru "Satoru-san!!"


Satoru langsung berjalan mengikuti Haruna dan masuk kedalam rumah tempat ibunya tinggal. Di dalam sebuah kamar terlihat seorang wanita dengan rambut coklat terbaring lemah di atas kasur. Wajahnya begitu pucat dan terlihat ada kulit yang mulai berubah menjadi ungu di bagian leher.

__ADS_1


Apa benar itu sebuah penyakit!?


Saat melihat hal itu, Satoru tak yakin kalau hal yang di derita oleh ibu Haruna merupakan sebuah penyakit. Tubuh yang pucat dengan kulit yang berubah menjadi warna keunguan, serta ada garis-garis hitam yang muncul di bagian kaki hingga tangan.


"Hei, Haruna... Apa benar ibumu menderita sebuah penyakit?" Tanya Satoru memastikan hal itu.


"Aku tak tahu... Aku sudah mencari dari semua buku, tak ada satupun penyakit yang menjelaskan apa yang dialami oleh ibuku..." Jawab Haruna dengan raut muka sedih.


"Aku mengerti, apa kau bisa keluar sebentar? Aku akan mencoba untuk menyembuhkan ibumu" Ujar Satoru meminta agar Haruna keluar dari kamar.


"Ta- tapi... Bukannya Satoru-san tak bisa menggunakan sihir ataupun meracik obat?" Ujar Haruna.


"Aku ingin kau mempercayai ku, aku berjanji akan menyembuhkan ibumu" Ujar Satoru dengan serius.


Haruna pun mengangguk dan keluar dari ruangan, sembari menunggu ia begitu gelisah dan hendak masuk kembali kedalam kamar, namun pintu kamar dikunci oleh Satoru dari dalam.


"Aku tak yakin kalau ini sebuah penyakit, ini sudah seperti sebuah kutukan" Gumam Satoru melihat kondisi tubuh dari ibu Haruna yang mengprihatinkan.


"Tenseiga" Satoru memanggil salah satu pedangnya, menarik pedang itu keluar dari sarung dan menebas ibunya Haruna.


Sebuah aura hitam keluar dan terserap masuk kedalam pedang itu. Kulit yang berwarna ungu dan garis-garis mulai menghilang dan kulit pucatnya mulai kembali cerah.


"Syukurlah ini sesuai dengan apa yang kupikirkan" Gumam Satoru.


Ia berjalan menuju pintu dan hendak membukanya. Saat itu ibunya Haruna terbangun dan memanggil sosok laki-laki yang mencoba keluar dari ruangan kamar.


"Ehmm? Kamu siapa?" Ucapnya lemah.


"Ah, anda sudah bangun yah" Satoru membuka pintu itu, Haruna yang sedari tadi menyandar di pintu tiba-tiba terjatuh ke dada Satoru.


"Eh? a~ aaa~ Maaf`" Gelagapnya dengan wajah memerah.


"Saya temannya Haruna" Ujar Satoru tersenyum sembari mengusap lembut rambut Haruna yang saat ini sedang menempel di dadanya.


"I- ibu!!!" Haruna langsung berlari dan memeluk ibunya dengan air mata yang mengalir.


Satoru langsung keluar dari rumah itu dan melihat-lihat desa tempat dimana Haruna lahir.


Di dalam kamar Haruna masih memeluk ibunya dengan begitu bahagia saat tahu ia sudah terbangun dan terlihat begitu sehat.


Sang ibu membelai lembut rambut Haruna "Maaf karena telah membuat mu kawatir Haruna..." Ucapnya pelan.


Haruna menggelengkan kepalanya pelan "Engg... Ibu tak perlu minta maaf, aku sangat senang melihat ibu sudah membuka mata kembali" Ujar Haruna dengan senyuman yang begitu lega.


"Hei, Haruna siapa laki-laki tadi?" Tanya sang ibu.


"Dia temanku dari akademi di ibu kota, namanya Satoru" Ujar Haruna menjawab pertanyaan ibunya.


"Begitu yah, kau mendapatkan teman yang hebat Haruna. Tapi saat melihatmu ada di pelukannya barusan, apa mungkin dia itu pacarmu?" Ujar sang ibu usil bertanya.

__ADS_1


"Bu- bukan! A- aku dan Satoru-san tak punya hu- hubungan semacam itu" Gelagap Haruna dengan pipi yang merona.


Sang ibu tertawa kecil melihat tingkah anaknya itu.


__ADS_2