Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia

Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia
Chapter 28 : Aku Salah Apa?


__ADS_3

Di pagi hari di dekat gerbang, Satoru merasakan tatapan kebencian yang begitu kuat dari kesatria berambut pirang sebelumnya. Mencoba untuk mengabaikan hak itu, ia membantu mengangkat barang dagangan masuk kedalam kereta.


"Apa sudah semuanya paman?" Tanya Satoru pada para pedagang.


"Iya, terima kasih nak" Ujar para pedagang.


Mereka mulai berangkat menuju ke kota dungeon, Satoru berada di kereta paling belakang sendirian, sedangkan para wanita itu di bagi dua menjadi penjaga paling depan dan tengah.


"Huft, sepertinya aku dibenci tanpa sebab disini..." Keluh Satoru di kereta.


"Ahahah, santai saja nak! wanita seperti itu memang ada dimana-mana. Mereka memiliki harga diri yang tinggi, sehingga sulit untuk menerima orang lain" Ujar kusir kuda yang mendengar keluhan Satoru.


"Yah aku tau, tapi tetap saja rasanya cukup aneh..."


Lagi pula aku tak pernah di benci oleh seorang wanita tanpa sebab seperti ini...


Mereka melewati hutan dan beristirahat di dekat sungai karena hari sudah mulai gelap. Selama perjalanan tak ada sebuah kejadian dan itu cukup menenangkan.


"Kuharap sepanjang perjalanan nanti tak ada hal yang buruk terjadi" Gumam Satoru menatap langit malam sambil tiduran di atas atap kereta.


Walaupun dirinya memang suka bertarung, tapi jika itu menyangkut keselamatan orang lain, Satoru lebih memilih perjalanan yang aman, karena ia tak ingin melibatkan seseorang dalam bahaya.


"Nak! turunlah, kita akan makan malam" Ujar kusir kuda yang berada di samping Satoru di perjalanan.


"Iya!"


Satoru ikut makan bersama para pedagang dengan senyuman lebar di wajahnya, dimalam itu mereka saling bercerita dengan wajah yang bahagia. Tapi saat seorang pedangan menceritakan soal iblis, suasana berubah menjadi hening.


"Apa itu benar?" Ujar pedangan 1.

__ADS_1


"Yah, tapi sudah ada pahlawan yang akan mengatasinya" Ujar pencerita.


Satoru hanya diam saja dan menyimak cerita pedagang itu sembari waspada akan sekitarnya. Karena tak bisa merasakan dan menggunakan sihir deteksi, Satoru hanya bisa mengandalkan indra pendengarannya. Hari sudah mulai larut dan para pedagang kembali ke tenda mereka masing-masing untuk beristirahat.


"Aku yang akan berjaga malam ini, kalian istirahat saja" Ucap Satoru kepada para kesatria wanita.


"Huh? apa kau pikir aku akan memercayakan penjagaan malam ini padamu seorang diri? lagian aku juga tak merasakan adanya energi sihir dari mu" Ujar gadis berambut pirang itu dengan sinis.


"Sudahlah tak apa, walaupun begini aku cukup kuat loh. Karena itulah, kalian istirahat saja dan biarkan aku yang berjaga" Ujar Satoru dengan lembut.


Gadis itu tak mendengarkan ucapan Satoru "Baiklah, aku yang akan berjaga malam ini, kalian semua istirahat lah. Aku tak bisa memercayakan penjagaannya pada laki-laki tanpa sihir sepertimu" Ujar kesatria wanita itu.


Kesatria yang lain masuk kedalam tenda mereka dan beristirahat. Sedangkan Satoru dan gadis berambut pirang itulah yang berjaga malam.


Memegang sebuah ranting kecil, Satoru mendorong-dorong arang di api unggun untuk menstabilkan apinya. "Hei, siapa namamu?" Tanya Satoru dengan lembut pada gadis itu.


Gadis itu tak menjawab pertanyaan Satoru dan tetap diam. Sesekali gadis itu melihat ke arah hutan dengan cukup waspada, ia juga sesekali melirik laki-laki yang berjaga bersamanya dengan lebih waspada.


"Apa kau masih belum kenyang? sebaiknya kau tak terlalu banyak makan agar tak mengantuk" Gadis itu menatap Satoru dengan sinis saat melihat laki-laki itu memasak begitu banyak makanan.


"Iya, iya. Kalau begitu apa kau mau menemaniku makan? kau belum makan sama sekali kan?" Ujar Satoru dengan tersenyum memberikan sebuah ikan panggang.


"Hmph! aku tak butuh itu" Gadis itu menolak mentah-mentah pemberian Satoru.


Growl~ growl~


Terdengar suara perut yang keroncongan di suasana hening itu. Wajah gadis itu terlihat memerah dan memalingkan wajahnya. "Ja~ jangan salah paham! a~ aku tak lapar sama sekali"


"Ahaha... yah, kalau kau mau ambil saja. Ikannya sudah masak dan ubinya juga" Ujar Satoru tertawa kecil melihat tingkah gadis itu.

__ADS_1


"Aku mau berpatroli sebentar" Satoru bangun berdiri dan berjalan pergi meninggalkan gadis itu dengan beberapa ikan dan ubi bakar.


Di depan api unggun, gadis itu menelan ludahnya dan tampak memerhatikan ikan dan ubi bakar yang ada di depan matanya. Perut nya yang keroncongan mulai berbunyi lagi, tangannya secara gemetaran bergerak perlahan ingin mengambil ikan bakar tersebut.


"T~ tidak... mana mungkin aku makan, makanan pemberian seorang laki-laki sepertinya!" Tangan nya yang lain menghentikan tangan yang hendak mengambil ikan itu.


Namun tetap saja, karena belum makan ia tak bisa menahan bau harum yang tepat berada di depan nya. Gadis itu pun memakan ikan dan ubi yang sudah di masak oleh Satoru dengan lahap.


Saat kembali dari patroli, Satoru melihat gadis itu tertidur dalam posisi duduk. "Hmm, pada akhirnya dia memakan nya juga. Huft, kau bisa masuk angin kalau tidur begitu saja" Satoru menyelimuti gadis itu.


Ia kembali duduk di samping gadis itu sembari menjaga api unggun agar terus menyala. Saat itu sesuatu yang hangat jatuh di bahu sebelah kanan Satoru. Di saat ia menoleh, tampak wajah gadis itu begitu dekat dengannya.


*A~ aaaa...


Te~ tenanglah Satoru, kau tak boleh membangunkannya*!


Satoru mengatur pernapasannya dan menenangkan dirinya agar tak membangunkan gadis itu. Sepanjang malam, Satoru berjaga sendirian dan menjadi sandaran gadis yang tidur di sampingnya.


Di pagi hari secara perlahan mata gadis itu mulai terbuka, saat sadar kalau dia tidur di bahu laki-laki, dia dengan cepatnya menampar wajah Satoru dengan keras. "Tidakkk!!!! a~ apa yang kau lakukan padaku!?" Teriak gadis itu dengan panik.


"Ad~ aduh duh... apa yang kau lakukan!?" Satoru tampak kesal karena di tampar secara tiba-tiba.


"A~ apa yang lakukan selama aku tidur!!?"


Satoru tampak kebingungan "Hah? aku tak melakukan apapun, padahal kau sendiri yang menyandar dibahuku!" Ujar Satoru sembari memegang pipinya yang terkena tamparan.


Mendengar hal itu wajah gadis itu tampak memerah "Ma~ mana mungkin aku melakukan hal itu!! a~ ahah be~ benar juga, kau pasti memasukkan obat di dalam makanan itu..." Gadis itu tampak hendak mencabut pedangnya keluar namun di hentikan oleh teman-teman nya.


"Carlotte-sama tenang kan diri anda" Kesatria wanita yang lain mencoba menenangkan gadis pirang itu dan membawanya ke kereta paling depan.

__ADS_1


"Maaf atas sikap ketua kami, walaupun begitu sebenarnya dia orang yang baik" Ujar salah seorang kesatria wanita meminta maaf pada Satoru.


__ADS_2