Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia

Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia
Chapter 52 : Elf Ini Istriku?


__ADS_3

Yukino dan Yuna akhirnya sampai di depan gerbang ibu kota. Mereka melihat ada beberapa kesatria yang sedang membereskan mayat iblis.


"Permisi, apa saya boleh masuk kedalam kota?" tanya Yukino pada seorang kesatria.


"Hmmm? Elf dan anaknya? Boleh, masuk saja," jawab kesatria itu.


"Haha, terima kasih," ungkap Yukino sembari tertawa terpaksa.


Sepertinya Aku benar-benar menjadi ibu dari anak ini. Huft~


Setelah melewati gerbang dan memasuki kota, suasananya begitu berbeda dengan yang ada diluar. Di kota tampak lebih hidup, semua orang tertawa dan terlihat bahagia menikmati festival yang tengah diadakan.


"Benar-benar kota yang ramai," gumam Yukino melihat sekitarnya.


"Mama, Yuna mau itu!" tunjuk Yuna ke sebuah kedai permen.


"Baiklah," jawab Yukino yang tampak pasrah.


Mereka datang dan membeli permen kapas di kedai itu.


"Ouh, jarang sekali ada elf yang datang kesini," ucap penjual permen.


"Haha, saya pesan satu permennya Pak," ucap Yukino.


"Oke, ini untuk anakmu?"


"I-iya ... ."


Sebenarnya Dia bukan anakku sih.


"Makasih Paman, ayo Mama, kita harus bertemu dengan papa," ujar Yuna.


"Wah, jadi kalian sedang liburan keluarga kesini yah," ucap penjual. "Hei, siapa nama papamu?" tanya penjual itu.


"Satoru!" jawab Yuna, berbeda saat ia memberi tahu Yukino. Saat ini Yuna sudah mendapat pesan dari Sabine jika nama papa mereka yang baru adalah Satoru.


"Eh? Eeee!? Ja-jadi Nona ini istrinya Satoru?" ujar penjual itu dengan kaget.


"Eh? A-ah, bi-bisa dibilang begitu ... ," jawab Yukino dengan canggung.


"Kalian bisa ikuti jalan ini dan belok kanan di simpang 3 didepan, disana ada sebuah koloseum. Seharusnya Satoru ada disana bersama dengan 2 anak kalian," ujar penjual itu memberitahu tempat Satoru.


"Itu pasti Sabine dan Madosi," ucap Yuna dengan semangat.


Setelah berterima kasih, Yukino dan Yuna pergi menuju koloseum tempat dimana turnamen pedang sihir sedang berlangsung.


"Hei, Yuna. Siapa Sabine dan Madosi?" tanya Yukino karena penasaran.


"Mereka anak-anaknya Mama, Sabine itu putri pertama, sedangkan Madosi putra ke-3 dan Yuna putri ke-4," jawab Yuna.

__ADS_1


"Eh? Yuna putri ke-4? Jadi siapa putri ke 2 dan 3?"


"Yang ke-3 sedang dalam perjalanan kesini juga, kalau yang ke-2 Yuna tak tau dia ada dimana," jawab Yuna.


Bentar, sebenarnya mereka ada berapa? Kalau tak salah artifak itu ada 12 jenis dan tersebar. Apa mungkin 2 anak itu juga artifak?


Mereka berdua terus berjalan menuju ke arah koloseum, saat sampai disana ada seorang pria yang menggandeng dua orang anak berjalan ke arah yang berlawanan. Mata mereka berdua saling bertemu dan sekita berhenti berjalan karena ditarik oleh anak-anak yang tangannya digandeng.


"Papa!"


"Mama!"


3 anak itu saling memanggil orang yang menggandeng tangan mereka.


"Eh?! Apa yang kalian katakan?" tanya Satoru dengan kaget.


"Iya, apa yang kamu katakan Yuna?" tanya Yukino dengan panik.


Anak-anak itu menunjuk mereka berdua sembari berkata. "Papa Satoru dan Mama Yukino."


Mendengar hal itu Satoru melirik kearah anak berambut silver yang dibawa oleh elf. "Apa mungkin kamu Yuna?" tanya Satoru dengan lembut.


Yuna mengangguk dan tersenyum lebar, lalu berlari memeluk Satoru dengan erat. "Yuna rindu sama Papa!"


Satoru membalas pelukan itu dan mengelus rambut Yuna dengan lembut. "Papa juga rindu sama Yuna."


"Apa kau yang namanya Satoru?" tanya Yukino.


"Ah, i-itu ... ."


"Tak apa-apa, aku tahu kalau itu tak ada kaitannya, mereka hanya secara sepihak memanggilmu Mama, kan?"


"I-iya, jadi apa benar kamu Ayah mereka?"


"Yah, bisa dibilang begitu. Aku memiliki hubungan dengan mereka dan 9 anak yang lain," ujar Satoru.


Yukino yang mendengar itu sontak terdiam sejenak. "Ma-maksudmu 9 artifak yang lain?" tanya Yukino dengan ragu.


"Artifak? Begitu, jadi kamu sudah tau yah," ucap Satoru.


Satoru mengajak Yukino datang kerumahnya untuk makan siang bersama, melihat Yuna yang juga terlihat lapar. "Yuna mau makan apa?" tanya Satoru lembut.


"Yuna mau makan sup sayuran!"


"Tidak!! Sabine gak mau makan itu!" tolak Sabine dengan berteriak.


"Haha, nanti Papa kasih beberapa potong daging ayam didalam sup. Tak apa-apa, kan?" ucap Satoru.


"Kalau begitu Sabine gak keberatan," ucapnya dengan senyuman.

__ADS_1


"Iya, iya, sepertinya cuma Madosi yang gak pilih-pilih makanan yah," ujar Satoru.


Mendengar hal itu membuat Sabine menunjukkan wajah yang cemberut sembari mengembungkan pipinya. "Ta-tapikan emang lebih enak makan daging ketimbang sayuran," gumamnya pelan.


Saat sampai dirumah Yukino memperkenalkan dirinya kepada Satoru. "Maaf karena terlambat memperkenalkan diri, namaku Yukino. Seperti yang kamu liat, Aku seorang elf. Aku datang kesini dengan tujuan untuk membawamu, orang yang dipilih oleh artifak ke desa tempat tinggalku."


"Shin Satoru, itu namaku. Salam kenal Yukino, Aku akan pergi ke desamu nanti. Tapi Aku tak bisa menetap disana," ujar Satoru.


"A-a-aku akan menjadi istrimu! Kalau begitu apa kamu mau pergi kedesa?" ujar Yukino dengan wajah merah merona.


Satoru masih bersikap tenang dan mendekati Yukino, lalu mengusap kepala Yukino dengan lembut. "Tak perlu memaksakan dirimu. Aku akan kedesamu nanti, tapi Aku tak bisa menetap disana. Kalau kau memang ingin menjadi istriku, maka Aku akan menerimanya. Lagipula sepertinya Sabine dan yang lainnya menyukaimu."


"A-a-apa yang kau lakukan ... ," ucap Yukino terbata-bata dengan wajahnya yang sangat merah.


"Ah, maaf. Aku akan pergi ke dapur untuk memasak makan siang. Yukini-san bisa menunggu bersama anak-anak di ruang tamu," ujar Satoru sembari berjalan menuju ke arah dapur.


Di ruang tamu Sabine, Madosi dan Yuna saling berbisik satu sama lain seperti sedang merencanakan sesuatu.


"Hei, sepertinya Papa gak keberatan sama Mama Yukino,"


"Hu'um sepertinya Mama juga gak keberatan,"


"Hehe, gimana? Yuna sangat hebat dalam menemukan Mama, bukan?" ucap Yuna dengan tampang sombongnya.


"Ya, Aku akui itu tapi, Nari juga bersama dengan seorang wanita bergerak menuju ke arah sini. Namun, sepertinya dia tak terlalu suka dengan wanita dan kerajaan tempat dia tinggal," ungkap Sabine.


"Hmmm, kalau tak salah itu kerajaan para beastfolk tinggal, kan?" sambung Madosi.


"Iya, sepertinya Nari diperlakukan layaknya benda dan pusaka yang sangat berarti disana. Berbeda dengan Yuna yang diperlakukan layaknya pelindung dan selalu dirawat dengan baik, bahkan diberikan persembahan," jawab Sabine.


"Hehe, Yuna gituloh," ungkap Yuna dengan sombong.


"Hmmm, tapi Sabine lah yang pertama kali bertemu dengan papa," ujar Sabine dengan senyum angkuhnya.


"I-itukan karena Kamu yang ikut pergi ke dunia lain!" ujar Yuna tak terima.


"Sudah, sudah, lagipula kita semua sudah bertemu dengan ayah. Setelah ini ayah juga berniat untuk pergi mencari saudara-saudari kita yang lain," ujar Madosi mencoba menenangkan mereka berdua.


Yukino yang sembari tadi duduk diam disofa sembari memerhatikan ketiga anak itu berbisik mulai penasaran. "Kalian sedang membicarakan apa?" tanyanya mendekati ketiga anak itu.


"Bu-bukan apa-apa!" gelagap ketiga anak itu menjawab pertanyaan Yukino.


"Ah, benar juga! Sepertinya papa sudah selesai memasak," ungkap Sabine menunjuk kearah dapur.


Yuna dan Madosi juga mengangguk dan berjalan menuju ke ruang makan. Di ruangan itu sudah ada Satoru yang tengah menata makanan di atas meja.


"Apa kalian sudah lapar?" ucapnya saat melihat mereka datang ke dapur.


"Iya, Papa!"

__ADS_1


"Begitu yah, ayo kita makan," ujar Satoru sembari duduk di kursi.


Di siang hari itu mereka makan dengan penuh senyuman layaknya keluarga.


__ADS_2