Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia

Kembalinya Sang Pahlawan Penentu Nasib Dunia
Chapter 49 : Serangan Iblis


__ADS_3

Di pagi hari yang cerah Satoru tengah memasak sarapan untuk Sabine dan Madosi yang kini tinggal bersama dengannya. Satoru sudah menjadi seorang ayah yang penyayang hanya dalam waktu sekejap. Walaupun tak tau asal-usul dari anak-anak itu, Satoru tetap merasakan adanya hubungan keluarga antara mereka.


Sabine dan Madosi turun dan menuju ruang makan sembari melihat Ayah mereka memasak sarapan. "Kira-kira Ayah masak apa yah?" gumam mereka berdua sembari memerhatikan Satoru yang tengah memotong sayuran.


Satoru menoleh dan menyapa mereka berdua dengan senyum hangat. "Selamat pagi, apa tidur kalian nyenyak?"


Mereka berdua mengangguk dan tersenyum lebar. "Iya!"


Satoru melanjutkan masaknya, Ia membuat sebuah sup sayuran dan roti isi. Berjalan secara perlahan sembari membawa masakan yang sudah matang, Satoru meletakkannya di atas meja makan.


"Hati-hati supnya masih panas," ucap Satoru mengingatkan anak-anaknya dengan lembut.


Mereka bertiga sarapan bersama di pagi hari yang cerah bertepatan dengan mulainya festival perayaan hari ulang tahun kerajaan Earshied.


Setelah selesai sarapan mereka bertiga bersiap untuk pergi keluar mengikuti perayaan festival tersebut. Satoru menggandeng kedua anak itu sembari memerhatikan sekitarnya. Walaupun ia tengah menikmati festival bersama kedua anaknya, Satoru tetap melakukan misinya yakni, menjaga keamanan festival.


"Ayah, Sabine mau makan itu!" tunjuk Sabine ke sebuah toko yang menjual permen kapas.


Satoru tersenyum. "Boleh, ayo kita kesana."


Penjual permen itu kenal dengan Satoru dan melihat kedua anak itu dengan heran. "Apa dia adik-adikmu Satoru?"


"Ah, bukan. Bisa dibilang mereka anak-anakku," jawab Satoru sembari melihat kearah dua anak yang memegang tangannya.


Penjual permen itu sontak terdiam saat mendengar hal itu. Ia tak pernah tau jika Satoru sudah menikah ataupun mempunyai anak.


"Be-begitu yah," ucap Penjual itu sembari mengangguk pelan.


Setelah membeli permen kapas, mereka melanjutkan berkeliling festival itu. Memasuki koloseum untuk melihat pertandingan yang akan diadakan. Sebuah turnamen kesatria sihir yang diikuti oleh banyak petualang dan murid-murid terbaik dari berbagai akademi.


Mereka bertiga menonton pertandingan yang tengah berlangsung hingga tengah hari. Matahari mulai menyengat membuat kedua anak itu kepanasan serta haus. "Ayah, kami berdua haus," ucap Sabine.


Satoru mengangguk. "Ayo kita pulang kerumah dulu untuk makan siang."


Mereka bertiga berjalan keluar dari koloseum itu namun, Satoru merasakan sebuah firasat yang buruk. Ia menoleh kearah gerbang kota, terlihat sebuah awan hitam bergumpal bergerak mendekati kota.

__ADS_1


Apa itu?


Karena merasa akan terjadi hal yang buruk Satoru menyuruh Sabine dan Madosi untuk pergi ke tempat yang aman. Namun, mereka berdua menolak.


"Kami akan ikut dengan Ayah!" ujar mereka dengan serius.


"Ini akan berbahaya, kalian tak boleh ikut!" larang Satoru.


"Tapi selama ini kami selalu ikut bertarung bersama dengan Ayah," ucap Madosi.


Mendengar hal itu Satoru menjadi kebingungan.


Kapan aku pernah bertarung bersama mereka?


Kedua anak itu saling menatap satu sama lain lalu mengangguk pelan. Tubuh mereka mulai bercahaya dan berubah menjadi sesuatu yang cukup familiar. Sebuah pedang kecil tanpa bilah dan sebuah gulungan kertas berwarna hitam.


"Ka-kalian berdua?" melihat hal itu tentu saja membuat Satoru terkejut.


Kedua anak yang selama ini bersamanya merupakan 2 artifak yang berada di dalam tubuhnya. Mereka memanggil Satoru dengan sebutan seorang ayah bukan tanpa sebab yang tak jelas namun, mereka memang memiliki hubungan semacam itu dengannya. Saat ini Satoru masih belum mengingat hal itu, dikarenakan ingatannya masih belum pulih sepenuhnya.


Satoru masih cukup terkejut melihat hal itu namun, ia mencoba untuk tak memikirkannya dan langsung bergerak menuju gerbang kota.


Satoru memanggil sebuah undead bertipe kuda dan menungganginya agar lebih cepat mencapai gerbang kota. Selagi bergerak kesana banyak sekali orang yang berlarian berlawanan arah dengan Satoru. Mereka terlihat begitu panik seakan bisa mati jika tak segera melarikan diri.


Sebenarnya apa yang ada disana? Sampai membuat semua orang berlari ketakutan.


Wush!


Sebuah serangan sihir melesat dengan cepat mengarah pada Satoru.


"Metsuma No Tsurugi!" Satoru mengeluarkan pedang penetral sihir untuk menghalau serangan itu.


Sihir ini! Iblis!?


Satoru bergerak lebih cepat lagi dan akhirnya sampai di gerbang kota. Di atas langit terlihat sekitar 15 iblis yang tengah terbang. Salah satu dari mereka terlihat begitu familiar. "Yang satu itu," gumam Satoru.

__ADS_1


Salah satu dari iblis itu turun kebawah saat melihat Satoru yang berdiri di depan gerbang kota seorang diri dengan sebuah kuda undead di sampingnya.


"Wah, wah, tak kusangka kita akan bertemu secepat ini," ujar iblis itu sembari turun ke permukaan.


"Heee~ Aku juga tak menyangkanya," sahut Satoru saat melihat sosok iblis yang dikenalnya.


Iblis itu merupakan iblis pedang yang pernah ditemui oleh Satoru saat dalam perjalanan menuju kota dungeon. Iblis yang membantai satu desa dengan kejam, bahkan membunuh semua teman-teman Charlotte. Namun, Satoru berhasil melawan iblis itu dan membuat semua pedang yang bisa menghidupkan orang yang mati.


"Kekeke! Seperti yang diharapkan dari pahlawan, kau benar-benar datang saat terjadi sebuah masalah," ujar iblis itu sembari tertawa kecil.


Satoru tampak kebingungan mendengar perkataan Iblis itu, "Pahlawan? Siapa?"


"Huh? Tentu saja itu kau manusia," jawab iblis itu dengan heran.


Satoru mengangkat tangan kanannya dan menggelengkan kepalanya sembari menggerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan. "Aku bukan seorang pahlawan," ujar Satoru.


Suasana menjadi hening kedua orang yang tengah berhadapan sama-sama kebingungan.


"Tu-tunggu sebentar! Kau bukan seorang pahlawan?!" tanya Iblis itu.


"Iya, aku hanya seorang petualang biasa. Jika kau mencari para pahlawan, mereka ada di bagian dalam kota. Tepatnya di koloseum itu," tunjuk Satoru ke sebuah bangunan di dalam kota.


"Eh? Kenapa kau memberi tahuku soal itu?" tanya Iblis itu dengan heran.


Satoru menunjukkan wajah yang kebingungan dan memiringkan kepalanya ke kanan. "Memangnya kenapa?" ucapnya dengan heran.


Iblis itu tak habis pikir melihat seorang manusia dengan santainya berbicara dan memberi tahu dirinya lokasi dari sang pahlawan yang merupakan pelindung umat manusia.


"Apa kau tak kawatir jika pahlawan mati disini?" tanya Iblis itu.


"Aku tak peduli mau dia hidup atau mati, lagi pula aku tak berteman dengannya," jawab Satoru sembari menggerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan.


"...."


Iblis itu menghela nafasnya dan terbang keatas meninggalkan Satoru. "Baiklah jika kau bilang begitu, kami akan memulai penyerangan kami! Semua mengamuklah sesuka hati kalian!" teriak Iblis itu memerintahkan semua bawahannya.

__ADS_1


Saat ada bawahan Iblis itu bergerak melewati dinding benteng tiba-tiba kepalanya terpenggal dalam sekejap.


"Siapa yang bilang kalian boleh masuk kesini?" ujar Satoru dengan tatapan dingin sembari mengarahkan pedangnya ke segerombolan Iblis yang tengah terbang di langit.


__ADS_2