
Namaku Yukino, rasku adalah elf. Saat ini Aku sedang dalam perjalanan mencari tuan dari artifak yang kubawa dari desa. Namun, entah kenapa saat bangun di pagi hari ada seorang anak kecil yang memanggilku dengan sebutan "Mama".
Satu hari sebelumnya ...
Seorang elf berambut silver sedang dalam perjalanan menuju ke ibu kota kerajaan Earshied, karena mengikuti energi yang dipancarkan oleh artifak yang dibawanya. Dia melakukan perjalanan seorang diri, walau begitu kemampuan bertarung miliknya tergolong cukup tinggi.
Yukino seorang elf berambut silver, memiliki keahlian dalam panahan dan sihir. Ia menguasai 3 elemen sihir yakni, air, tanah, dan angin. Bukan hanya itu, karena menguasai 3 elemen dasar, Yukino bisa menggunakan sihir campuran seperti wood magic, frost magic dan mud magic.
Saat melewati hutan hari sudah mulai gelap sehingga Yukino menghentikan perjalanannya. Membangun sebuah tenda dan menghidupkan api unggun.
"Baiklah, tenda dan api sudah selesai, sekarang ... ."
"Wahai angin, berputarlah dengan kencang sehingga membentuk sebuah dinding yang bisa menyayat siapapun, wind magic : wind shield!"
Yukino merapalkan sebuah sihir angin yang berfungsi sebagai penghalang. Setelah merapalkam mantra itu sebuah bola angin berukuran tangan muncul dan secara perlahan bergerak naik ke atas. Bola itu berputar dengan begitu cepat dan melebar membentuk sebuah pusaran angin yang terlihat seperti dinding.
Karena sihir inilah Yukino bisa cukup tenang untuk beristirahat dimalam hari tanpa perlu kawatir adanya serangan. Setelah selesai makan malam ia masuk kedalam tenda, duduk santai sembari memandangi artifak yang terbalut oleh sebuah kain berwarna putih.
Siapa sebenarnya orang yang dipilih oleh artifak ini? Apa mungkin seorang pahlawan yang ada di kerajaan Earshied?
Saat itu Yukino menggelengkan kepalanya lalu merebahkan tubuhnya untuk tidur. Malam pun berlalu dan matahari mulai menyinari dunia kembali. Tetapi, saat terbangun Yukino merasakan lengan kanannya cukup keram.
"Hoam~ kenapa rasanya tangan kananku sakit?" gumamnya ketika bangun.
Yukino bangun duduk dan melihat sekitarnya, pada saat itu ia terkejut melihat seorang anak kecil dengan rambut silver tengah tidur di dekatnya.
Eh? Anak siapa ini? Bagaimana caranya dia bisa masuk kesini?
Bingung karena melihat seorang anak kecil yang entah dari mana datangnya, Yukino menjadi lebih panik saat menyadari kalau artifak yang ia bawa tidak ada didalam tenda.
"Aaaaa!! B-bagaima itu bisa hilang?!" teriak Yukino dengan panik.
Mendengar teriakan itu, anak kecil berambut silver itu terbangun dari tidurnya. "Hoam~ Apa sudah pagi, Mama?" ucapnya saat terbangun.
"Eh? Mama?" gumam Yukino dengan kebingungan.
"Mama, kita akan sarapan apa?" tanya anak itu.
"Mama ... ? Maksudnya aku?" tanya Yukino dengan sedikit syok.
Anak itu mengangguk pelan dengan wajah polosnya, lalu memiringkan kepalanya dan menatap Yukino dengan heran.
__ADS_1
Tidak, tidak, tidak, mana mungkin aku punya seorang anak! Ni-nikah aja belum! Lagian anak ini sama sekali tidak ...
Yukino memerhatikan sekujur tubuh anak itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Mirip banget denganku! Apa benar Dia anakku? Tidak! Itu jelas mustahil!
Sedari tadi Yukino selalu berdebat dengan dirinya sendiri hingga anak itu menatapnya dengan aneh. "Mama?" ucapnya dengan heran.
Walaupun tetap merasa syok dan penuh akan kebingungan, Yukino mencoba untuk menenangkan dirinya. Sembari menghela nafas panjang ia keluar dari tenda dan memasak sarapan. Sebuah sup hangat yang cukup enak untuk disantap di pagi hari.
"Enak! Masakan Mama benar-benar enak!" puji anak itu dengan senyum manis.
"I-iya, terima kasih," sahut Yukino dengan sedikit canggung.
Setelah selesai sarapan, Yukino mencoba untuk mengorek informasi.
"Hei, siapa namamu?"
"Yuna!" jawab anak itu dengan ceria.
"Begitu yah, namamu Yuna. Siapa nama prang tuamu?"
Mendengar hal itu membuat Yukino menjadi tambah kebingungan. "Apa tadi? Siapa nama papamu?"
"Nama papa #*#*##."
Apa yang Dia katakan? Saat menyebutkan nama papanya Aku tak bisa mendengarnya dengan jelas.
"Huft~ ya sudahlah. Tapi, Aku bukanlah mamamu loh," ucap Yukino dengan pelan.
"Tidak! Mama adalah Mama!" tolak anak itu.
"Haha ... ." Yukino hanya bisa tertawa canggung dan menghela nafasnya. "Huft~ Yuna, apa kamu melihat busur yang dibalut dengan kain berwarna putih didalam tenda?" tanya Yukino dengan lembut.
Yuna melihat Yukino dengan heran saat mendengar pertanyaan itu. "Yuna dari tadi bersama Mama, loh."
"I-iya, tapi dimana busurnya?"
Yuna menunjuk dirinya sendiri saat Yukino menanyakan hal itu. "Disini, Yuna dari tadi ada didepan Mama."
Saat itu Yukino memerhatikan syal yang digunakan oleh Yuna. "Syal yang kamu pakai itu, kain yang digunakan untuk membalut busurnya, kan?"
__ADS_1
"Iya! Syalnya benar-benar hangat dan lembut. Terima kasih Mama!" jawab Yuna dengan ceria.
"A-apa mungkin Yuna itu, artifak busur yang kubawa?" tanya Yukino dengan ragu.
Yuna mengangguk dan tersenyum manis.
"Eh? Eeee!!!" Yukino berteriak karena kaget, ia tak pernah tau kalau artifak yang selalu ada di desanya bisa berubah bentuk menjadi seorang gadia kecil.
"Ba-bagaimana Yuna bisa berubah menjadi manusia?" tanya Yukino penasaran.
"Itu karena energi papa sudah dekat," jawab Yuna.
"Karena energi papa yah ... ."
Serius dah! Sejak kapan Aku punya anak dan seorang suami?! Lagian anak ini terlihat sudah berumur sekitar 10 tahun.
"Haft~ ya, sudahlah. Sebaiknya Aku membereskan tempat ini dan melanjutkan perjalanan," gumam Yukino mencoba untuk tak memikirkannya.
Setelah selesai membereskan kemahnya, Yukino melanjutkan perjalanannya bersama dengan Yuna. Dalam perjalanan Yukino selalu berhasil mengalahkan monster yang hendak menyerang seraya melindungi Yuna.
Saat tinggal beberapa jam lagi sampai di ibu kota, Yuna menarik baju Yukino. "Mama, jangan pergi kesana dulu," ujarnya dengan gemetaran.
"Kenapa? Papamu ada disana, kan?" tanya Yukino dengan heran.
Yuna mengangguk pelan. "Iya. Tapi, sekarang jangan pergi kesana dulu, karena ada paman ... ," jawab Yuna dengan ketakutan.
Melihat Yuna yang ketakutan sampai gemetaran, Yukino memeluknya dengan lembut seraya berbisik, "Jika itu maunya Yuna. Kita akan beristirahat dulu disini."
Mereka bedua beristirahat di bawah pohon, Yukino duduk memangku Yuna yang tertidur. "Sepertinya Kamu kelelahan yah," gumam Yukino sembari mengelus lembut kepala Yuna.
Saat melihat ke arah ibu kota, Yukino tampak syok. Melihat sebuah awan hitam dan merasakan energi sihir yang sangat besar, serta hawa keberadaan monster yang begitu banyak.
"Apa yang ... ," gumamnya dengan panik saat merasakan hal itu.
Ia melirik kearah Yuna. "Apa Dia tau soal ini? Makanya Dia tak menyuruhku melanjutkan perjalanan."
Waktu terus berjalan dan pada akhirnya awan hitam serta hawa kehadiran semua monster tiba-tiba lenyap. Yuna terbangun dari tidurnya. "Fuah~ Mama, ayo lanjutin perjalanannya."
"I-iya, apa sekarang tak apa?" tanyanya dengan ragu.
Yuna mengangguk pelan.
__ADS_1