
Setelah kejadian di istana, Satoru resmi bertunangan dengan putri Reina dari kerajaan Earshied. Kini Reina akan tinggal bersama dengan Satoru, begitu pula dengan Viana yang masih beluk menyerah untuk membawa Satoru ke kerajaan Meiske.
"Aku pulang... ," ujar Satoru dengan tak bersemangat saat memasuki rumahnya.
"Selamat datang, ada apa? Kenapa kamu terlihat begitu kelelahan?" tanya Yukino dengan heran.
"A-ah, itu karena...," jawab Satoru dengan ragu.
Saat itu Reina dan Viana masuk kedalam rumah. "Permisi," ujar mereka berdua.
"Siapa mereka?" tanya Yukino.
"Satoru-sama, siapa gadis ini?" tanya Reina dengan senyum dingin.
"Aku istrinya, terus kamu siapa?" sela Yukino menjawab pertanyaan Reina.
"Is-istri?! Satoru-sama sejak kapan kau sudah menikah?!" tanya Reina dengan terkejut.
Saat itu Viana memerhatikan gadis elf yang sedang berdiri di hadapannya. "Kamu, Yukino putri dari salah satu tetua di desa tersembunyi Elfheim, kan?" sela Viana.
Saat mendengar hal itu Yukino memalingkan pandangannya dan menatap mata gadis rubah yang berdiri di samping Reina. "Viana?!" ujar Yukino dengan kaget.
Mereka semua akhirnya duduk diruang tamu untuk berbicara mengenai masalah tunangan. Suasana menjadi cukup canggung dan Satoru hanya diam mengalihkan pandangannya ke segala arah. Ke tiga wanita yang duduk bersamanya di ruang tamu menatapi Satoru dengan tajam.
"A-aku akan membuatkan teh...," ujar Satoru berniat untuk pergi dari ruang tamu.
"Biarkan aku saja, kamu duduk saja disini," sela Yukino dengan senyuman menyeramkan.
__ADS_1
Yukino berjalan menuju ke arah dapur untuk membuat teh dan mengambil beberapa kue kering. Sedangkan diruang tamu Satoru tetap diam dengan keringat dingin yang membasahi sekujur tubuhnya.
Apa ini? Padahal aku selalu bisa tenang menghadapi musuh sekuat apapun, kenapa aku selalu lemah ketika berhadapan dengan para gadis ini?
"Satoru-sama?" panggil Reina dengan heran melihat Satoru yang terlihat pucat.
"I-iya!" saut Satoru dengan panik.
"Apa kamu sedang sakit? Wajahmu terlihat begitu pucat," ucap Reina dengan khawatir.
"Tidak, ak-aku hanya merasa-"
Saat itu Charlotte, Haruna, dan Airi datang kerumah Satoru. Mereka melihat Viana yang duduk disana dan secara tak langsung menatap Satoru dengan dingin. Satoru langsung diam membantu ketika melihat ketiga gadis itu datang kerumahnya.
Akh!? K-kenapa mereka juga datang kesini?
"Satoru-san, apa kamu bisa menolongku sebentar?" ujar Pricilia yang turun dari lantai dua.
"Hmm~ siapa lagi dia?" ujar semua gadis disana dengan senyuman menyeramkan.
Satoru hanya memalingkan wajahnya dan tak menjawab pertanyaan mereka.
"Huft~ padahal hanya tak dilihat selama satu hari. Sekarang kau sudah menambah 3 wanita baru lagi," ujar Airi sembari menghela nafasnya.
Karena melihat Satoru yang enggan berbicara dan terlihat begitu terpojok, para gadis berhenti menanyainya dan hanya bisa menerima apa yang sudah terjadi. Namun, mereka meminta satu hal kepada Satoru, yakni mereka semua harus menjalin hubungan yang sama semua, dengan kata lain bertunangan.
Satoru mencoba menolaknya dengan alasan jika ia akan pergi berkelana ke seluruh penjuru dunia untuk mencari semua artifak. Namun, para gadis itu bersikeras untuk ikut dengan Satoru. Sabine juga memperbolehkan mereka ikut.
__ADS_1
"Tak apa-apa Ayah, kita akan pergi ke tempat Clarisa terlebih dahulu. Jika kita sudah bertemu dengannya, masalah perjalanan akan lebih mudah," ujar Sabine.
Hmmm~ memang benar bagi kalian tak apa-apa, tapi bagiku ini sangat merepotkan. Bagaimana mungkin aku bisa mengurus semua gadis disini? Menjadikan mereka semua istriku? Aku bahkan tak pernah melihat mereka seperti itu...
Satoru menghela nafasnya dan beranjak dari sofa, lalu pergi menuju ke kamarnya yang ada di lantai 2. Para gadis yang melihat hal itu merasa heran dan merasa tidak enak. Mereka berfikir jika mereka sudah kelewatan memaksakan kehendak mereka pada Satoru.
"Tak perlu memikirkannya, ayah hanya tak mengerti soal perasaannya, dia tak paham soal cinta. Jadi kalian semua harus menyadarkannya jika tetap ingin berada di sisinya," ujar Sabine menyemangati para gadis itu.
Mereka semua mengangguk dan terlihat bersemangat, sedangkan Pricilia yang tak tau apa-apa hanya melihat mereka dengan tatapan heran. Kemudian kembali ke kamarnya untuk menyelesaikan gulungan sihir pengirim pesan. Pricilia mengirimkan pesan kepada raja iblis, jika dirinya akan pergi bersama dengan seorang manusia dan akan kembali ke kerajaan nantinya.
Karena akan melakukan perjalanan yang panjang Satoru keluar dari akademi setelah berbicara dengan kepala sekolah, begitu pula dengan Haruna, Charlotte, dan Reina. Mereka semua memutuskan untuk keluar dari akademi untuk ikut bersama dengan Satoru. Perjalanan mereka akan dihalau oleh berbagai macam bahaya dan rintangan.
Haruna yang memiliki kemampuan alkimia yang baik sangat membantu dalam pembuatan obat-obatan. Charlotte dengan kemampuan berpedangnya juga bisa membantu Satoru dalam pertarungan. Reina dengan kemampuan sihirnya juga bisa membantu di pertarungan. Airi yang merupakan seorang pedagang sekaligus putri dari sebuah perusahaan terkenal memiliki banyak koneksi yang bisa ia pakai di sepanjang perjalanan.
Di pagi hari mereka semua sudah bersiap di depan gerbang kota untuk melakukan perjalanannya. Karena Reina dan Viana merupakan seorang putri sebuah kerajaan, pada awalnya mereka diminta untuk membawa seorang pengawal. Namun, mereka berdua menolak mengingat sudah ada Satoru dan yang lainnya. Kelompok mereka sudah lebih dari cukup untuk melawan monster kelas atas.
Mereka berpergian dengan satu kereta kuda yang sering di pakai oleh para pedagang untuk membawa barangnya. Jadi kereta itu cukup besar untuk menampung 8 orang, karena para artifak beristirahat didalam tubuh Satoru. Hanya Sabine saja yang berubah ke wujud manusianya untuk menunjukkan arah tujuan mereka.
"Hei, Clarisa ada di mana?" tanya Satoru.
"Aku tak tau lokasi pastinya. Tapi, saat energi sihirnya terpancar, lokasinya yang paling dekat ketimbang yang lainnya. Arahnya berasal dari selatan sana," tunjuk Sabine.
"Di sebelah selatan kerajaan Earshied, itu memasuki kerajaan Buerne. Tepatnya di kota pelabuhan mereka," ujar Reina.
Kota pelabuhan yah, apa mungkin dia ada di dalam air?
Satoru menambah laju kereta kudanya sembari memikirkan lokasi artifak yang berada di kota pelabuhan wilayah kerajaan Buerne. Perjalanan menuju kota itu cukup jauh dan memakan waktu selama 7 hari, selama perjalanan ada banyak sekali halangan yang memperlambat perjalanan mereka. Seperti serangan bandit, monster, dan Yuki yang mabuk kendaraan.
__ADS_1
Hingga pada akhirnya mereka sampai di kota pelabuhan Seishi, kerajaan Buerne.