
Di kedalam dungeon, tepatnya di ruangan bos. Satoru sedang berbicara dengan sebuah tengkorak raksasa yang merupakan bos dari dungeon tersebut.
"Ini adalah salah satu Skill Granting Artifact : Messenger of Death"
Melihat gulungan hitam di depannya Satoru merasakan suasana yang cukup familiar, mirip saat dimana dia baru pertama memegang swordbirth. Satoru memegang gulungan itu hingga sebuah cahaya terang bersinar, gulungan itu menghilang dan terasa ada lonjakan hebat yang masuk kedalam tubuhnya.
"A~ apa ini...? Rasanya ada kekuatan besar yang mengalir masuk kedalam tubuhku" Gumam Satoru.
"Seperti yang kuduga, tubuhmu benar-benar cocok dengan artifact itu. Aku akan menjelaskan kemampuan dari Messenger of Death padamu" Ujar bos dungeon.
Messenger of Death
Salah satu artefak yang memberikan skill kepada pemilik. Skill yang di berikan oleh artifak ini berupa pemanggilan makhluk dari ranah kematian. Selain itu pengguna juga bisa menciptakan tulang belulang semaunya. Undead yang dipanggil akan memenuhi semua perintah tanpa menentangnya. Selain itu pemilik artifak juga mendapatkan bonus efek regenerasi.
Kemampuannya mirip dengan tenseiga, hanya saja sedikit berbeda.
Jika tenseiga bisa menghidupkan orang yang mati, kemampuan dari artifact ini hanya membuat sebuah undead dan mengendalikannya.
Selain itu masih 10 artifact lagi yang bisa memberikan skill pada pengguna. Setiap artifat memiliki skill yang berbeda-beda dan sangat sedikit orang yang bisa menggunakan artifact tersebut.
Setelah menjelaskan kemampuan dari artifak itu, kerangka raksasa itu meminta agar dirinya dibunuh segera, karena merasa jika dia tak bisa mengendalikan dirinya lagi. "Cepatlah bunuh aku!! Aku sudah merasa kehilangan akal ku lagi"
"Baiklah... terima kasih atas artifak ini..." Satoru mengeluarkan Aeria Spada dan menghancurkan kepala kerangka itu sehingga terlihat sebuah bola kristal berwarna ungu kehitaman. Satoru menghancurkan bola itu dan kerangka tulang itu mulai hancur berhamburan.
Saat itu Satoru kehilangan kesadarannya setelah menghancurkan bola kristal tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sebuah kerajaan terdapat seorang anak desa yang dijual oleh orang tua mereka karena memiliki kecocokan terhadap sebuah artifak langka. Anak itu terus dilatih dengan keras, bertarung dan selalu bertarung sebagai necromancer.
Waktu berlangsung begitu lama hingga pada akhirnya kerajaan itu hancur. Dan saat itu, dia baru menyadari kalau dirinya sudah menjadi makhluk yang tak bisa mati.
"Aku hanya menginginkan hidup yang tenang, menginginkan perdamaian" Itulah keinginan dari sosok itu.
Saat ia berjalan dan menemukan sebuah area tambang yang sudah terbengkalai. Ada 5 orang, 1 wanita dewasa dan 4 anak kecil yang terduduk dan terlihat kelaparan. Sosok itu memberikan beberapa makanan kepada mereka tanpa diketahui. Ia langsung bersembunyi di balik dinding lain area tambang sembari mengintip anak-anak itu makan.
__ADS_1
Tak apa meski palsu..
Tak apa meski pura-pura...
Aku hanya ingin ingatan samar...
Dan menjalani hidup yang tenang...
Aku menginginkan kedamaian...
Di kala itu ia akhirnya bertemu dan menunjukkan wujudnya kepada 5 orang sebelumnya. Tidak ada yang takut dan mereka tersenyum dengan tulus menerima sosok itu apa adanya.
Sosok itu tak memiliki kulit dan daging, ia hanyalah kerangka manusia yang masih memiliki akal.
Ketika bahan makanan mulai menipis mereka bertani, memasak dan hingga akhirnya gadis itu jatuh cinta kepada sosok yang menolong mereka.
Selang beberapa waktu ada kelompok yang membawa bendera datang ketempat mereka.
"Kita harus suci kan jiwanya!"
"Jangan sampai jiwa mereka jatuh ke tangan necromancer!!"
"Penyelamatan... penyelamatan..." Itulah yang mereka katakan dengan senyum sinis dan kegirangan saat menyiksa seseorang.
"Anak-anak yang telah rusak harus diselamatkan"
Yang tersisa hanyalah sosok necromancer yang menggendong wanita yang sudah tak bernyawa. Kelompok itu mengarahkan semua tombaknya.
Kedamaian yang ia dambakan kini semakin jauh dari tangannya, kian didambakan kian jauh dari jangkauan.
Saat itu juga, ia membalaskan dendamnya. Semua pasukan itu ditusuk oleh tulang belulang yang tajam hingga menembus tubuh. Sosok itu juga melakukan hal yang sama, ia membakar pasukan itu ketika masih hidup.
"Aakkkh!!!"
"Gyaaa!!!"
__ADS_1
"Kami mohon ampunan! Beri kami keselamatan!!"
"Tolong selamatkan jiwa kami yang menderita!!!"
Jeritan demi jeritan terdengar meminta agar nyawa mereka diampuni, namun semua itu sudah terlambat. Necromancer itu tetap tinggal menyendiri di tambang tersebut, selama berpuluh-puluh tahun hingga seratus tahun. Tanpa ia sadari tambang tempatnya tinggal kini melebar luas menjadi sebuah dungeon.
Ia masih menginginkan kedamaian dan ketenangan, itu sebabnya dia menunggu dalam waktu yang lama di dalam tambang tersebut. Menunggu orang yang bisa membunuhnya, karena ia tak mampu membunuh dirinya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ughh...?" Satoru terbangun sembari memegang kepalanya yang sedikit pusing.
"Yang barusan, apa itu ingatannya?" Gumamnya sembari melihat sekitar.
Tempat bos dungeon itu berubah menjadi tambang kristal sihir yang begitu luas. Karena core dungeonya tidak dihancurkan, dungeon itu tidak akan menghilang. Kini seseorang bisa menjadi dungeon master untuk mengatur dungeon tersebut.
"Ada banyak kristal sihir, sayang kalau ke tinggalkan begitu saja... Tapi, akan memakan waktu lama untuk menambangnya..." Satoru berfikir sebentar dan saat itu juga sebuah informasi masuk kedalam kepalanya.
"Messenger of Death : Skeleton Army!!" Ketika Satoru mengatakan hal itu muncul pasukan tulang belulang yang keluar dari dalam tanah.
Eh? beneran nih!?
Mereka tak akan menyerang ku kan?
Satoru mendekati para skeleton itu dan melihat-lihatnya. Tak ada dari mereka yang mencoba menyerang dirinya, saat Satoru menunjuk dan mencoba meminta mereka mengumpulkan kristal sihir. Para skeleton itu langsung bergerak dan menambang kristal sihir dengan tangan kosong. Alhasil semua tangan mereka terlepas.
Plakk!!
Satoru menampar mukanya sendiri karena tak sadar kalau dengan tangan kosong terlebih lagi tengkorak biasa, tak mungkin bisa menambang kristal sihir yang cukup keras.
"Ah, benar juga!" Saat itu Satoru mencoba menggunakan salah satu skill tulang belulang.
Ia menciptakan sebuah tangan besar mirip dengan yang dilakukan oleh bos dungeon sebelumnya. Dengan tangan itu ia memukul keras dan menghancurkan kristal sihir itu. Para skeleton bertugas untuk mengumpulkan kristal sihir yang berhamburan di lantai.
"Kurasa ini sudah cukup" Gumam Satoru saat melihat tiga gunung kristal sihir yang sudah ditambang.
__ADS_1
Memasukkan nya kedalam kantung dimensi, Satoru mengembalikan semua skeleton itu. Tak ada efek samping yang dirasakan oleh Satoru saat menggunakan kemampuan dari Messenger of Death.
Karena baru mengetahui jika swordbirth juga merupakan salah satu artifak, Satoru ingin mencari sebuah buku yang memiliki informasi tentang Skill Granting Artifact.