Ketika Senja Berlalu

Ketika Senja Berlalu
Pernyataan Cinta Yang Tiba- tiba


__ADS_3

Libur 2 hari terasa begitu cepat bagi seorang Lira. Hari ini ia akan mulai dinas di ruang kebidanan. Mungkin diruangan ini ia akan banyak berinteraksi dengan darah.


Lira menghembuskan nafas dalam kemudian melangkah keluar rumah dengan sepatu manis menghiasi langkahnya.


Benar saja, baru pertama kali dinas diruangan itu, jumlah pasien partus membludak, kasihan jika melihat pihak BKKBN berkoar- koar untuk mengajak masyarakat membatasi jumlah anak, tidak menikah muda dan lain- lain kalau pada kenyataannya, masyarakat masih beranggapan punya anak 2 itu terlalu sedikit.


Hari ini, bahkan Lira dan teman- temannya tidak bisa duduk santai sama sekali.


Waktu rasanya berputar begitu cepat, Lira mendekati seorang pasien yang baru diantar ke ruangan.


Seorang wanita muda berbaring di bed, terlihat panik dan kesakitan, keringat tampak mengalir dari pelipisnya, disebelahnya seorang laki- laki tengah menggenggam tangannya dengan erat, pasti suaminya, pikir Lira.


Seorang perawat senior memerintahkan Lira untuk mengecek detak jantung janin si ibu, Lira mengambil usg doppler yang ada diatas meja dan mulai memeriksa, terdengar bunyi jantung yang berdetak, bunyi itu sangat nyaring.


Amazing, mendengar ada kehidupan didalam perut itu. Lira tersenyum ketika mata sang ibu bertatapan dengan matanya,


" Ibu, semangaat ya, sebentar lagi dedek bayinya keluar, ibu dengar kan detak jantungnya tadi." Lira berkata lembut pada sang ibu sambil memegang punggung tangannya.


Lira memahami bahwa diagnosa keperawatan yang utama untuk si ibu adalah mengatasi kecemasan.


Ibu ini tengah mengalami fase aktif dalam proses persalinan, fase dimana pembukaan belum lengkap, kontraksi masih hilang timbul, dan peningkatan denyut nadi sehingga kondisi psikologis si ibu menjadi sedikit terganggu.


Tugas perawat dalam kondisi seperti ini adalah mendampingi ibu dan memberi dukungan kepada si ibu. Sehingga si ibu siap menuju gerbang persalinan.


Bidan senior melakukan pemeriksaan dalam pada si ibu, pembukaan hampir lengkap, petugas yang telah memakai APD mendekati si ibu yang tampak panik, berbagai macam alat partus sudah berada di meja troli.


Jantung Lira berdegup kencang, ini pengalaman pertamanya mendampingi persalinan.


Allah itu benar- benar maha adil, meletakkan surga dibawah telapak kaki ibu, lihatlah perjuangannya, keringat mengalir deras, darah tertumpah demi mengantarkan seorang anak untuk bisa melihat dunia.


Fase 2 persalinan berakhir dengan lahirnya seorang bayi laki- laki yang imut, sungguh lega rasanya.


Lira mencuci tangan dan bersiap untuk pulang karena jam dinas sudah berakhir. Hari ini banyak pengalaman yang diperoleh gadis itu.


Sambil menunggu ojek, Lira berdiri di trotoar. Sesekali memainkan kerikil dengan ujung sepatu barunya.


Lira tersenyum melihat sepatunya, mengingat Azka benar- benar baik.


Kemudian...

__ADS_1


Tiiit Tiittt...


Bunyi klakson motor membuyarkan lamunannya. Ternyata yang dipikirkan sudah ada didepannya.


"Azka??" Ngapain disini? Kamu bukannya libur hari ini?" Cecar Lira.


" Aku libur, kebetulan lewat sini, ngeliat kamu." Balas Azka.


"Yuk pulang." Ajaknya.


" Boleh". Jawab Lira sambil mendekati motor Azka.


Motor Azka melaju dengan kecepatan sedang menuju jalanan yang tidak terlalu ramai.


" Kita makan dulu yuk?" Azka memulai obrolan.


"Tenang, aku yang traktir." Lanjutnya kemudian.


Lira tampak berfikir kemudian,


" okelah." Jawabnya.


"Terserah yang traktir aja." Jawab Lira sekenanya.


" Ada kedai seafood baru, dengar- dengar sih menunya enak. Mau coba?" Kata Azka.


"Boleh." Jawab Lira.


Kedai nya bagus, dengan nuansa alam, bangunannya dari kayu yang di cat berwarna coklat, ada kolam ditengahnya dengan pancuran yang di desain unik.


Azka dan Lira memilih bangku pojok yang mengarah ke jalan raya.


Terdengar musik mengalun merdu di kedai itu.


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa

__ADS_1


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Yang ku punya hanyalah hati yang setia, tulus padamu.


Sesekali Lira menirukan lirik lagu tersebut, sambil mengetukkan buku jarinya diatas meja mengikuti alunan lagu.


...


AZKA


Sambil menunggu makanan yang sudah ku pesan, sesekali ku lirik wajah sahabat yang ada di depanku.


Yah, dia adalah sahabatku sejak SMP, gadis periang yang entah sejak kapan telah mencuri hatiku. Dia mencuri pikiranku, membuatku jadi tidak khusyu dalam sholat dan terkadang membuat aku jadi seperti orang ****.


Seperti Hari ini, sengaja aku menunggunya keluar dari gedung Rumah Sakit hanya untuk menjemputnya pulang. Sungguh lucu sekali, aku harus mengatakannya hari ini, apapun yang terjadi. Entah mengapa ide gila tersebut datang secara tiba- tiba.


Lira melahap makanannya dengan cepat , berdalih bahwa seorang perawat tidak boleh lamban, terlambat 1 menit, nyawa pasien melayang. Katanya penuh percaya diri sambil menyeruput jus mangga yang ada di depannya.


" Ra, aku boleh ngomong sesuatu?" Kata Azka sambil meletakkan sendok dan garpunya secara menyilang diatas piring.


" Tumben ngomong pake minta izin?" Gurau Lira.


Azka menghembuskan nafas dalam, sepertinya terlihat berat untuk melanjutkan perkataannya.


Lira mengernyitkan dahinya.


" Mau ngomong apa sih ka?" Tanya Lira.


"Sepertinya aku suka kamu." Kata Azka cepat. Jantungnya seperti ingin keluar dari dada, berdetak dengan kecepatan tinggi, ia memegang gelas minumnya dengan kuat menunggu respon dari gadis yang ada di depannya.


Lira terkejut sampai hampir tersedak oleh minumannya sendiri.


" Apa?" Tanya Lira lagi memastikan perkataan yang baru diucapkan oleh sahabatnya itu. Penuh harapan bahwa ia salah dengar.


" a_ku suka kamu Ra." Kata Azka lagi, mencoba memberanikan diri untuk menatap Lira secara intens.


Dilihatnya wajah gadis itu memerah, jelas sekali bahwa ia sedang syok.

__ADS_1


__ADS_2