
Hari ini hari terakhir Lira dan teman- temannya dinas di UGD, setelah seminggu mereka berada disana.
Shif di sore hari lebih menyenangkan dibanding shif pagi atau malam, selain suasananya lebih tenang, perawat seniornya juga lebih sedikit, terkadang mereka hanya bertiga.
Pasien sepi di hari terakhir mereka dinas, hanya ada 2 orang pasien, pertama siswi SMP datang dengan keluhan sesak nafas setelah dimarahi oleh ibunya karena tidak sengaja menjatuhkan Hp sehingga layarnya pecah.
Cukup diposisikan semi fowler/ setengah duduk, pasang oksigen dengan nasal kasul aliran 2 liter/menit dan observasi, kemudian dokter jaga memberitahukan kepada sang ibu bahwa anak nya tidak perlu dirawat. Si ibu menggangguk perlahan.
" Kau yakin dia benar- benar sesak?" Bisik Alin di telinga Lira.
Lira mengeryitkan dahinya ke arah Alin, teman paling lucu sedunia yang pernah ia temui.
Alin memiliki postur tubuh tinggi, kurus, rambut pendek dibawah telinga sedikit melengkung keluar, mengingatkan Lira pada karakter kartun bernama olive, pacarnya popeye si pelaut.
" Maksudnya ?" Lira balik bertanya.
" Maksudku, bisa saja dia berpura- pura sesak untuk mencuri perhatian, terutama ibunya." Bisik Alin sambil memicingkan mata, tampak seolah- olah menyelidik.
Ingin rasanya Lira tertawa terbahak- bahak melihat ekspresi Alin yang sudah seperti detektif serlock holmes itu, alih- alih tertawa Lira malah ikut memicingkan mata melihat si pasien.
" Pernafasan bisa dimanipulasi Ra, tadi aku periksa nadinya teratur." Ketus Alin masih dengan nada lucunya.
" Biasanya kalau sesak pasti sedikit cemas sehingga membuat nadinya tidak teratur." Tambah Alin.
Benar juga, pernafasan diatur oleh otak di medulla oblongata, namun pergerakannya dibantu oleh otot diafragma yang bekerja secara sadar, berbeda dengan otot jantung dan otot polos di bagian usus yang bekerja secara tidak sadar.
Itulah mengapa, ketika memeriksa pernafasan pasien, perawat tidak dianjurkan untuk menginformasikannya kepada pasien.
Karena pernafasan bisa diatur, bisa saja pura- pura sesak dengan menghirup serta mengeluarkan udara secara cepat.
Alin mendekati pasien.
Pasien itu terbaring sendiri tanpa ditemani ibunya, karena sang ibu sedang mengambil resep di apotik.
" Bagaimana dek? Apakah sudah lebih baikan ?" Kata Alin ramah.
" iya kak." Jawab anak itu sambil menunduk.
" Tadi dokter bilang, kamu gak perlu dirawat, cukup observasi beberapa saat, lalu boleh pulang." Kata Alin lagi, bertindak seolah- olah ia adalah seorang kepala ruangan disitu.
__ADS_1
Lira berjalan mendekati mereka berdua, sambil tersenyum ramah.
Tiba- tiba dari arah luar terdengar keributan, ternyata ada pasien baru datang. Lira dan Alin langsung melangkah cepat ke arah luar, meninggalkan anak tersebut.
Pasien datang dengan kasus minum racun, seorang wanita yang masih sangat muda, berumur 21 tahun. Bertubuh mungil, rambut ikal yang sepertinya sengaja dicat berwarna coklat glow, kulitnya putih, cantik seperti barbie.
Ada sisa- sisa hena di kuku tangan dan kakinya, jika melihat sekilas, orang sudah tahu kalau wanita itu adalah pengantin baru.
"Tapi mengapa wanita secantik ini mau bunuh diri," pikir Lira.
Pasien masih sadar namun keadaan umum nya menurun. Wajahnya pucat, bibir dan mulutnya sedikit menghitam.
"Kapan minum racun nya buk?" Kata dokter kepada keluarga pasien.
" Pagi tadi dok, sekitar jam 7 pagi." Jawab ibu tersebut yang sepertinya orang tua pasien.
" Racun apa?" Tanya dokter lagi.
" baygon cair dok." Aku sang ibu.
hmmm... dokter memeriksa pasien lagi. Kemudian melirik jam yang ada ditangannya.
" Sepertinya racunnya sudah menyebar buk, sudah lebih dari 6 jam." Kata dokter kepada ibuk tersebut.
Lira mendapat tugas memasang infus, tidak terbayang betapa senangnya hati gadis itu, karena praktek dengan real pasien.
Selagi mengatur tetesan infus, datanglah seorang bapak- bapak menghampiri pasien. Semula Lira menebak itu Ayahnya pasien, tapi ternyata itu suaminya.
Gleeekk...
Lira dan Alin saling melempar pandangan.
" Wajar saja wanita itu mau bunuh diri." Bisik Alin ke telinga Lira.
" Aku pun akan melakukan hal yang sama jika punya suami seperti itu." Kata Alin secara dramatis.
Lira menahan tawa, Alin benar- benar keterlaluan.
Setelah pasien diantar ke ruang rawat. Tidak ada lagi pasien yang datang, sehingga Lira berinisiatif untuk membereskan peralatan di meja alat medis.
__ADS_1
Botol alkohol hampir habis.
" Kak, alkoholnya sudah habis." Lira menampakkan botol yang hampir kosong kepada perawat senior.
" Bisa tolong isi ulang ya, alkoholnya ada diruang sterilisasi alat, di bawah meja." Kata perawat senior.
Lira dan Alin pergi ke ruang tersebut.
Mata kedua gadis itu mencari- cari alkoholnya.
Kemudian Alin nyeletuk.
" Mungkin ini?" Kata Alin sambil menganggat dirigen ukuran 2 liter.
"Tapi bau nya agak aneh." Katanya kemudian.
" oh ya?" Lira berkata sambil mendekat.
" Ayo, kita coba dulu." Kata Alin
Dengan bodohnya kedua gadis itu menumpahkan cairan tersebut ke telapak tangan mereka. Apa yang terjadi kemudian...
Aaaaaagghhhhh...!!!!!!
Keduanya berteriak histeris. Membuat perawat senior yang ada diruang perawat berlari ke ruangan tempat Lira dan Alin.
" Ada apa?" Tanya perawat tersebut terlihat panik.
" Ini cairan apa kak?" Tanya Lira tak kalah paniknya."
" Kalian apakan cairan itu? itu FORMALIN." Kata perawat senior tersebut.
" Cepat cuci tangan kalian!!" Perintahnya.
Lira dan Alin langsung berlari menuju keran cuci tangan dikoridor, kedua tangan mereka sekarang tak ubahnya seperti tangan nenek- nenek.
Alih- alih terlihat panik, Alin malah tertawa.
" Hahaaaaa, tangan yang keren." Katanya sambil mengibas- ngibaskan tangan nya ke udara.
__ADS_1
" Dia benar- benar gila." Lira mendengus sambil berbicara sendiri.
Sama gilanya seperti Luna Loovegood di novel Harry Potter.