
Azka tidak habis pikir, hanya lewat satu pernyataan yang tidak lebih dari empat kata sudah membuat ia dan sahabatnya itu menjadi dua orang yang terlihat tidak saling mengenal.
Azka berniat menelpon Lira, namun ia urungkan niatnya itu. Ia mulai mengetik pesan kemudian menghapusnya lagi, mengetik lagi lalu menghapusnya. Entah sudah berapa menit ia melakukan itu.
Aghhhhh......
Akhirnya ia mendengus kesal sambil melempar ponselnya di atas kasur. Tak lama ponselnya berdering, tanda ada panggilan disana. Ia raih ponselnya dengan malas.
Tertera nama Ronald di layar hp.
Azka mengangkatnya.
" Assalamualaikum." Sapa seorang cowok dari seberang sana.
" Waalaikumsalam, hei Ron apa kabar? " Jawab Azka antusias.
" Alhamdulillah baik ka, kamu apa kabar?" Tanya Ronald.
" Alhamdulillah sehat, tumben nelpon. Kamu lagi pulang kampung ya?" Tanya Azka.
" Kebetulan aku lagi libur semester jadi pulang kampung, ada dirumah ka?" Tanya Ronald lagi.
" Aku baru pulang dari magang di Rumah Sakit, sekarang lagi dirumah." Jawab Azka.
" Aku main kesana ya?" Tanya Ronald.
" Siaap, aku tunggu ya." Balas Azka.
Ronald adalah teman sepermainan Azka sejak kecil. Dulu ia satu TK, SD sampai SMP bersama. Waktu SMA mereka terpisah, dikarenakan Ronald memilih melanjutkan pendidikan di sebuah sekolah ikatan dinas di pulau Jawa.
Tidak butuh waktu lama bagi Ronald untuk sampai ke rumah Azka, karena memang rumah mereka hanya berjarak kurang dari 1 km.
Cuaca sedikit mendung, ketika kedua sahabat itu bertemu, mereka saling melepas rindu.
" Kamar mu gak berubah ya ka," Ronald melihat kamar Azka yang di desain minimalis, rapi dan tidak terlalu banyak aksesoris.
Azka hanya cengengesan sambil mengacak rambut belakangnya.
"Lama liburnya ya Ron?" Tanya Azka.
"lumayan, 2 bulan." Jawab Ronald sambil melihat pajangan buku yang berjejer rapi di rak.
" Wow, enak banget libur nyampe 2 bulan." Kata Azka takjub.
" Kami gak pake libur Ron, udah UAS langsung magang." Sambung Azka.
" Oh ya. Kasihan dong." Balas Ronald mengejek.
__ADS_1
" Lira apa kabar?" Tanya Ronald lagi.
Deggg...
Sesuatu terasa seperti ada benda yang terjun bebas dari tenggorokan Azka, melaju cepat melewati jantung dan brukkk sampai ke dasar perut.
" Hellooo... Ka, kamu kenapa?" Tanya Ronald sambil melambai- lambaikan tangannya di hadapan Azka.
" Hahh, nggak ada, nggak." Jawab Azka kelagapan.
Hmmmm....
Ronald menatapnya curiga.
" Ada apa sama Lira?"
" Kamu nembak dia?" Pertanyaan Ronald sungguh tepat sasaran.
Melihat reaksi Azka, Ronald tahu kalau tebakannya benar.
Azka hanya mengedikkan bahunya, ia tidak yakin kalau insiden waktu itu termasuk kategori penembakan atau bukan.
" Terus gimana?" Tanya Ron penasaran.
" Entahlah, dia sengaja menjauhiku." Kata Azka terlihat pasrah.
" Sabar bro."
" Kamu tahu gak sama Julaebib?" Tanya Ron.
" Siapa Julaebib? Tetangga kamu?" Azka balik bertanya.
" Husss, bukaaan."
" Julaebib itu salah satu sahabat Rasulullah." Bantah Ron.
" Terus, hubungan Julaebib sama aku apa?" Azka sedikit memicingkan matanya.
" Julaebib itu sahabat Rasulullah yang punya tampang pas- pas an banget, saking pas- pas an nya, gak ada yang mau sama dia." Ron mulai bercerita.
"Terus? maksud kamu aku tampang nya sama kayak Julaebib?" Azka menimpali.
" Haaaaaaa."
"Bukaaan tampang, tapi nasib nya aja yang mirip, sama- sama ditolak cewek." Ron mengejek sambil tertawa.
" Lira gak nolak Ron, mungkin dia butuh waktu untuk mengerti perasaaannya sendiri." Timpal Azka dengan ekspresi sok bijak.
__ADS_1
" Terus ada apa sama Julaebib tadi?" Tanya Azka.
" Sudah banyak ia nembak cewek, mau dijadikan istri. Tapi satu pun gak ada yang mau. Akhirnya ia pasrah, ia datang ke masjid. Dia duduk aja di dalam masjid. Sampe Rasulullah datang. Rasulullah bertanya sama Julaebib." Ron berhenti sejenak.
" Rasul nanya apa ke Julaebib?" Azka mulai penasaran dengan cerita Ron.
Ron melanjutkan ceritanya setelah mengambil nafas pendek.
[ "Wahai Julaebib, kenapa kamu murung?" Tanya Rasulullah.
" Ya Rasulullah, saya udah banyak nembak cewek mau dijadikan istri tapi satu pun gak ada yang berminat jadi istri saya, bahkan seorang budak pun nolak. Kira- kira kalau saya tidak dapat di dunia, di akhirat nanti dapat gak ya Rasulullah." Julaebib bertanya pada Rasulullah.
Rasulullah tersenyum. Kemudian menjawab.
" Kamu akan dapat jodoh di dunia dan di akhirat wahai Julaebib."]
" Hahaaaaaaa ."
"Julaebib putus asa tuh." Potong Azka tiba- tiba.
" Bener ka, ciri- ciri kalau udah mulai putus asa tuh, doanya kalau gak dapat di dunia tolong di akhirat ya Allah." Kata Ron menimpali.
" Terus..." Azka meminta Ron melanjutkan ceritanya.
[ " Akhirnya Rasulullah membuatkan surat lamaran untuk Julaebib yang ditujukan kepada putri dari seorang pemuka yang terkenal kaya raya dan terhormat di kota Mekkah.
Karena merasa setiap perintah Rasul adalah perintah Allah yang harus dilaksanakan, maka cewek itu pun mau menerima lamaran Julaebib yang notabebe punya tampang seadanya, miskin pula. Berbeda 180 derajat sama si cewek yang cantik dan kaya raya.
Pernikahan pun akan segera dilangsungkan. Ketika Julaebib tengah mempersiapkan pernikahannya. Datanglah kabar perintah untuk berjihad di medan perang. Tentu saja Julaebib memilih untuk ikut berperang, padahal kalau bisa memilih ia bisa memilih untuk tidak ikut berperang dan terus melaksanakan pernikahannya.
Akan tetapi cintanya kepada Allah dan agamanya melebihi segalanya. Julaebib ikut berperang di barisan terdepan. Dan ia syahid di medan pertempuran. Dia memilih syahid ketimbang harus menghabiskan malam bersama istri cantik yang seharusnya sudah ia nikahi hari itu.
Ketika Rasulullah mendekati jasad Julaebib, Rasulullah melihat bidadari berada disamping Julaebib. Bidadari itu menjemput Julaebib untuk dijadikan suaminya di akhirat.]
" Masyaa Allah Julaebib." Azka berdecak kagum.
" Jadi ka, kamu itu jangan PDKT ke Liranya." Timpal Ron sok menasehati.
" Terus aku mesti PDKT sama siapa ? sama emaknya gitu?" Tanya Azka cengengesan.
" Haaaaaa...."
"Ya bukan lah"
" Kalau mau PDKT tuh ke yang punya hatinya. Allah yang punya hati Lira. Dia maha membolak- balikkan hati, sangat mudah bagi Allah bikin Lira jadi jatuh cinta ke kamu, kalau Lira emang jodohmu nanti." Kata Ron menasehati.
Azka terdiam.
__ADS_1
Perkataan Ron benar. Temannya yang satu ini sungguh bijak dalam hal apapun.