Ketika Senja Berlalu

Ketika Senja Berlalu
Lomba Lari


__ADS_3

" Aku gabung ya." Ucap Azka memecah keheningan. Diikuti oleh anggukan Ron.


Azka duduk disamping Lira. Wajah gadis itu terlihat datar tanpa ekspresi, detik berikutnya ia berdiri sehingga membuat cowok yang ada dikiri kanannya mendongak ke arah Lira.


Sambil sedikit menyunggingkan senyum di bibirnya, dan menghembuskan nafas dalam, lalu berkata.


" Siapa yang mau lomba lari bersamaku."


Ron ikut berdiri, sambil meregangkan tubuhnya.


" Boleh." Timpalnya sambil menggerakkan kaki dan tangannnya persis seperti atlet yang sedang ingin ikut kompetensi.


"Azka, kamu gak mau ikut?"


Kata Lira bersemangat seolah- olah tidak ada yang terjadi diantara mereka.


Sesaat Azka hanya melongo, ada sedikit rasa sakit hati melihat reaksi Lira yang seperti itu. Dari malam tadi, ia perhatikan Lira tampak tidak terganggu dengan kondisi yang ia alami, bahkan ia ikut tertawa bersama yang lain. Sebegitukah perasaannya terhadapku, sehingga tidak ada rasa cemburu sedikitpun yang ia tampakkan, benak Azka. Kemudian Azka ikut berdiri.


"okeee." Jawabnya.


Mereka bertiga menuruni bukit batu dan berdiri di lembah yang ditumbuhi sejenis tanaman alang- alang liar. Terdapat genangan air dilekukan tanahnya sehingga membentuk danau kecil jika dilihat dari atas bukit.


" Siap !! " Lira memasang kuda- kuda.


" Satu... Dua... "


Belum genap hitungan ketiga Lira sudah berlari duluan sambil tertawa lepas.


" Woiiii, curang." Teriak Ron yang berlari menyusul Lira.


Mereka berlari menyusuri lembah, melewati genangan air dan melintasi rumpun- rumpun tanaman gunung. Ron dan Azka berhasil menyusul Lira dan terus berlari di depan Lira. Jarak mereka sudah cukup jauh. Lira menyadari bahwa ia tak akan menang melawan dua cowok itu. Akhirnya ide licik terlintas di benaknya.


" Woi....Toolooong."


" Ada ulaaaarr." Lira berteriak histeris.


Sontak saja Ron dan Azka menghentikan langkah mereka dan berbalik, dengan cepat mereka berlari ke arah Lira yang berpura- pura ketakutan. Ketika jarak mereka sudah dekat, Lira mendorong keduanya hingga terhuyung ke belakang.


" HAHAHAH."


" Sorry." Teriak Lira sambil berlari cepat ke depan.


Alhasil Lira duluan yang sampai di ujung lembah, dengan nafas yang masih ngos- ngosan ia duduk dengan kaki diselonjorkan ke kedepan. Azka dan Ron baru saja sampai, mereka duduk di sebelah Lira.

__ADS_1


" Curang kamu Ra." Kata Ron dengan suara terputus-putus.


" Hahaaaaahhh." Lira tertawa lepas.


Ron memandang Lira, gadis ini sedikit aneh. Pikirannya sulit ditebak, baru beberapa waktu yang lalu, matanya berkaca- kaca menampakkan betapa terganggu sekali hatinya karena Azka, tapi di depan Azka ia seolah- olah tidak peduli. Begitu besar rasa gengsinya sehingga mengalahkan rasa cemburu yang bersemayam di hati gadis berhijab itu.


" Kenapa ?" Tanya Lira memergoki Ron yang tengah memandangnya.


" Jangan memandangku seperti itu, nanti kamu naksir." Ucap Lira sembarang.


Ron membuang pandangannya sambil tertawa sarkas, membuat muka Azka merah padam.


" Kita pulang jam berapa?" Tanya Ron ke Azka.


" Belum tau, sebentar lagi mungkin." Kata Azka sambil berdiri.


"Yuk balik ke tenda, kita siap- siap pulang." Kata Ron kemudian.


Terlihat kelompok pendaki sedang berkumpul. mereka tengah makan popmie ketika Lira, Ron dan Azka sampai.


" Hei, ini yang kalian udah aku seduh tadi."


Kata Alin sambil menunjuk dua cup popmie di atas batu.


" Cieee, cieee enaknya yang punya pacal balluuu." Goda kak Arif yang sengaja mengubah konsonan R menjadi L sehinga bahasanya tampak cadel.


Mereka semua tertawa, dan benar saja dari balik tenda tampak Azzel sedang kesusahan memegang 2 cup popmie yang masih panas menuju ke arah Azka. Sebenarnya Azka sudah sangat muak dengan semua ini, ditambah lagi sepertinya Azzel sangat menikmati lelucon yang ia buat.


Azka mengambil popmie yang disodorkan Azzel.


" Makasih." Ucapnya dingin.


Kakak ketua kelompok pendakian mendekati mereka.


"Setelah ini kita akan turun gunung, kalian boleh milih, mau turun lewat jalan aspal atau lewat hutan. Nanti kita berkumpul lagi di rumah mbah sukiran, okee." Kata kakak ketua.


Kebanyakan pendaki cewek memilih untuk turun lewat jalan aspal, tapi Alin dan Lira memilih jalur hutan, bukan apa- apa, Lira hanya tak ingin satu jalur dengan Azzel dan geng nya.


Azzel mendekati Azka, mereka sedikit menjauh dari yang lain, dan tampak berdebat, entah apa yang mereka perdebatkan. Kemudian Azzel berjalan mendekati geng nya dan Azka mendekati kelompok Lira dan teman- teman yang lain.


Setelah berkemas- kemas, Alin dan Lira berjalan duluan, mereka terlihat kompak dengan saling berpegangan tangan. Lira sengaja menjauhi Azka yang sedari tadi tampak ingin mendekatinya.


Perjalanan turun dari gunung tidak begitu seekstrim ketika mendaki, selain mereka telah sedikit banyak mengenal medannya, area yang ditempuh juga hanya berupa turunan.Butuh waktu 1 jam untuk mereka sampai ke rumah mbah Sukiran.

__ADS_1


Mereka istirahat sambil duduk- duduk di halaman rumah mbah Sukiran yang teduh karena banyak pepohonan disekitar rumah itu.


" Ron, Aku numpang di motor kamu nanti ya pas pulang?" Pinta Lira.


Belum sempat Ron menjawab. Azka sudah memotong duluan.


" Kamu pulang barengan sama aku." Kata Azka sambil menoleh ke Lira.


" Nggak, aku bareng Ron aja gak enak nanti sama Azzel."


" Aku bilang sama aku, aku yang jemput kamu dari rumah dan minta izin ke emak, kalau kamu lupa." Jelas Azka dengan penuh penekanan disetiap katanya.


" Gak usah nge gas klo ngomong ka, emak juga kenal kok sama Ron. Gak ada masalah." Timpal Lira dingin.


Alin yang mendengar perseteruan mereka mengernyitkan dahinya heran. Sedangkan Ron yang tau bakalan ada perang dingin diantara keduanya hanya bisa diam. Mau bagaimana lagi, masalah mereka begitu rumit lebih rumit dari rumus kimianya benzena dengan beberapa rangkaian carbon.


" Tetap aja, aku yang jemput, aku juga yang ngantar sampe depan rumah kamu Ra." Kata Azka tegas.


Lira hanya diam, ia tak mau berdebat dengan Azka lebih lama lagi, disamping Alin yang mulai curiga, juga ada beberapa kakak tingkat yang mendekat ke arah mereka.


Azka memanaskan motornya di pinggir jalan setapak bersama Ron. Lira masih berdiri mematung, dikejauhan tampak Azzel bersama geng nya menuju halaman rumah mbah Sukiran.


" Waduhh, gimana nih." Benak Lira.


Lira mendekati Azka. Berniat mengambil helm nya yang tergantung di motor Azka.


" Ka, aku nebeng sama Ron aja ya, please." Lira memohon sambil merendahkan suaranya.


Azka menatap Lira sebentar kemudian mengambil helm Lira dan memakaikannya dikepala gadis itu. Baik Ron maupun Lira sama- sama terkejut dengan ulah Azka.


"Ayo naik !" Azka memerintahkan Lira untuk naik di motornya.


Lira gelagapan langsung duduk di jok belakang motor Azka.


" Ron, kami duluan ya." Kata Azka sambil melajukan motornya meninggalkan Ron yang masih melongo.


Bukan hanya Ron, beberapa teman dan kakak tingkatpun ikut melongo melihat kepergian mereka yang terkesan aneh dan mendadak.


" Ibuknya Lira sakit kak, jadi harus cepat pulang." Kata Ron ketika kakak ketua kelompok melirik Ron meminta penjelasan.


"Maaf Ra, jadi bawa- bawa ibukmu. Sumpah, aku gak ada alasan lain nih."


Sementara itu, Azzel dan beberapa teman geng nya hanya terpaku sambil berbisik- bisik.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2