
Pagi ini Lira menghabiskan sarapannya dengan cepat, sarapan yang sudah disediakan di dalam omprengan bulat itu terdiri dari nasi kuning, telur dan sambal tempe. Setelah meneguk minumnya untuk yang ketiga kali, Lira bergegas ke ruangan dimana kelompok mereka ditugaskan.
Hari ini ia akan bertemu lagi dengan Asiyah, berbeda dengan pertemuan pertama mereka, kali ini Lira cukup takut jika harus bertemu Asiyah sendirian, selain karena insiden kemarin, ditambah lagi setelah mendengar cerita dari nenek Asiyah bahwa gadis itu pernah melenyapkan nyawa bocah berumur 5 tahun, membuat Lira bergidik ngeri, bagaimana jika tiba- tiba ia mencekik leherku.
Hiissttt...
Lira cepat- cepat membuang pikiran kotornya. Yunia yang berbadan gendut agak kesusahan mengikuti langkah Lira.
" Udah sampe mana pengkajian nya Ra?" Suara Yunia terlihat ngos- ngosan.
" Baru perkenalan kemaren Yun, pasienku ngamuk."
" Pasienku malahan gak ada respon, dapat kasus menarik diri, ia bahkan gak mau ketemu sama aku." Ucap Yunia dengan raut wajah sedih.
" Nanti kalau mau ketemu pasien, jangan sendirian." Entah sejak kapan Azka berjalan dibelakang mereka.
Sesampainya diruangan, Lira meletakkan tasnya di loker kemudian berjalan perlahan dikoridor. Azka ikut berjalan disampingnya. Sedangkan Yunia pergi menemui keluarga pasiennya yang kebetulan sedang melakukan kunjungan.
" Kita barengan aja Ra, kamu ngikutin aku ketemu sama pasienku, setelah itu aku akan ngantar kamu ketemu sama pasienmu." Azka menyuarakan idenya yang diikuti oleh anggukan setuju dari Lira.
Kemudian keduanya berjalan beriringan menuju sebuah taman di tengah bangunan, di kursi yang mengarah ke sebuah pohon beringin duduklah seorang pria muda, ia memejamkan matanya sambil bergumam tak jelas. Tampak sesekali ia melafadzkan dzikir disela gumamannya.
" Dia waham agama." Bisik Azka berusaha membaca pikiran Lira yang penasaran dengan pria itu.
Tak lama keduanya sudah berdiri tepat disamping pria itu. Azka segera mengambil posisi duduk disebelah pasiennya, mengeluarkan lembar pengkajian dan sebuah pulpen. Ia mulai mewawancarai pria tersebut. Pasien Azka tampak kooperatif, sehingga tak butuh waktu lama untuk membuat sebuah kesepakatan terapi pada pasien. Setelah membuat janji temu berikutnya, Azka dan Lira meninggalkan pria tersebut.
__ADS_1
" Kalau seandainya bisa tukaran pasien, aku mau tukaran sama kamu Ka, kok pasienmu kooperatif banget ya." Ucap Lira.
" Pasien kamu suka ngamuk ya ?" Tanya Azka.
" Bukan cuma ngamuk- ngamuk, bahkan ia udah ngebunuh orang." Lira membesarkan matanya yang memang sudah besar, membuat Azka menelan salivanya karena kelewat terpesona dengan gaya Lira, dari sekian banyak yang ia suka dari Lira, entah mengapa ia paling suka melihat mata itu.
Akhirnya mereka sudah sampai di kamar Asiyah. Asiyah sedang memainkan rambutnya di pinggir bed. Melihat kedatangan Lira, ia langsung berlari kearah Lira. Tampaknya mood baik sedang menghampirinya hari ini, ia tersenyum dan tatapannya mengarah ke Azka.
" Oppa Hyun bin?" Tanya nya mendekati Azka.
Azka terlihat kebingungan, ia menautkan kedua alisnya namun cepat- cepat memberikan senyum paling indah yang pernah ada. Baik Lira maupun Asiyah sama- sama terpukau oleh pesona Azka saat ini.
"Mengapa dia menyebutku Hyun bin? Siapa Hyun bin?" Bisik Azka penasaran pada Lira.
Haahahh... Cowok ini benar- benar tidak paham artis korea. Mana mungkin seorang Hyun bin yang tampannya diatas rata- rata bisa disamakan dengan Tukul Arwana.
Azka mendengus kesal ketika wajah tampannya disamakan dengan Tukul Arwana oleh gadis gila didepannya. Dan ia sungguh percaya dengan kata- kata Lira.
Berkat bantuan Azka, pengkajian bersama Asiyah terasa sangat mudah. Asiyah begitu tertarik pada Azka, sehingga Lira tidak terlalu susah melakukan pengkajian, Asiyah mulai membuka diri, ia memberitahu pada saat kapan ia mulai mendengar suara- suara aneh dan menjelaskan suara- suara seperti apa yang biasa ia dengar.
Percakapan pun diakhiri dengan janji untuk bertemu lagi besok, namun ketika Lira dan Azka akan beranjak dari sana, Asiyah mencegat Azka, memohon kepada Azka untuk tidak pergi. Asiyah mulai meronta- ronta membuat Lira dan Azka gelagapan.
" Asiyah, Asiyah sekarang istirahat dulu ya, sebentar lagi jadwalnya untuk makan." Kata Lira lembut.
" Aku mau makan disuapin sama oppa hyun bin." Asiyah melotot ke arah Lira.
__ADS_1
" ****** aku." Benak Azka.
" Tidak bisa Asih, kalau kamu seperti ini, aku tidak akan mau bertemu lagi." Ancam Azka.
Hah..Asih ??
Bahkan Azka sudah ada panggilan sendiri untuk pasienku.
" Ti- dak, ti- dak, jangan." Jawab Asiyah cepat.
" Okey, kalau begitu, kami pergi dulu. Kita ketemu lagi besok, aku janji." Ucap Azka tegas.
"Janji kelingking?" Asiyah menyodorkan jari kelingkingnya tepat di depan wajah Azka.
Azka langsung menautkan jari kelingkingnya ke kelingking Asiyah yang sontak tanpa sadar membuat Lira berdehem menahan tawa. Asiyah menyorot tajam ke arah Lira, tak mau membuat Asiyah mengamuk lagi, Lira cepat- cepat memasang tampang wajah semanis mungkin. Akhirnya mereka berdua lolos dari Asiyah.
...
Tugas mereka sudah selesai hari itu, tinggal menunggu jadwal pergantian shif dinas yang hanya tersisa beberapa menit lagi. Azka masih penasaran dengan sosok hyun bin yang dibicarakan pasien Lira tadi, ia mencari di penelusuran google dan ia tersenyum sendiri ketika melihat sosok hyun bin di layar ponselnya.
Sekilas dia melirik kearah Lira yang sedang asyik mengobrol dengan Yunia, berani- beraninya dia mengerjaiku, awas saja akan aku beri pelajaran pada gadis itu, batin Azka.
Bersambung...
mohon like nya ya sayang
__ADS_1