
" Tidak ada yang perlu dibicarakan Ka, kalaupun mau bertemu, ajaklah Citra calon istrimu. Aku tidak ingin ada pertemuan dibelakang Citra." Ucap Lira datar.
Kemudian Lira memutus telponnya secara sepihak. Air matanya mengalir lagi. Setelah sekian lama, mengapa baru sekarang Azka. Mengapa?
Azka menghembuskan nafasnya kasar, ucapan Lira benar- benar telah menohok hatinya. Bagaimana caranya bisa bicara berdua dengan Lira, tidak mungkin ia mengajak Citra seperti permintaan Lira.
...
Seperti biasa, Senin telah tiba. Lira kembali disibukkan dengan segudang aktivitas. Jadwal mengajar full sampai tengah hari. Menjelang waktu makan siang, Lira masuk ke kantornya dengan wajah kusut dan meneguk minum dari botol yang ia bawa sendiri dari kosan.
" Mbak, kita makan diluar yuk." Citra menghampiri Lira.
" Makan dimana Cit?"
" Ada cafe baru, kita cobain yuk." Bujuk Citra sambil menggandeng lengan Lira. Lira yang diperlakukan seperti itu akhirnya ikut saja.
Mereka sudah sampai disebuah cafe yang tidak begitu jauh dari kampus. Sambil menunggu pesanan datang, Citra membuka obrolan.
" Kemarin kak Azka minta nomor ponsel mbak Lira, terus aku kasih. Ada apa mbak?"
Lira sedikit tersentak mendengar pertanyaan Citra, oh jadi Azka dapat nomor aku dari Citra. Benak Lira.
" Ohh itu, Azka , anu mau tanya perihal sahabatnya yang nikah kemarin, iya itu mau tanya itu." Lira bingung mencari alasan, sambil menggigit bibir bawahnya ia memperhatikan Citra yang memasang ekspresi curiga padanya. Kemudian Citra tersenyum.
" Ohh." Citra mengangguk paham.
Setelah itu tidak ada pertanyaan lagi dari Citra, Lira menghembuskan nafas pelan. Ketika ia memandang ke arah luar cafe, ia menangkap sosok Azka sedang berjalan memasuki cafe, masih memakai seragam dinasnya, seragam TNI Angkatan Udara, Azka benar- benar tampak begitu gagah dan tampan maksimal.
Beberapa pengunjung wanita tampak secara terang- terangan menatap kagum pada sosok Azka yang sedang melewati meja mereka. Citra yang melihat Azka langsung melambai ke arah Azka, dan Azka pun berjalan kearah mereka.
" Aku ngajakin kak Azka, gak papa kan mbak?" Citra menoleh ke Lira.
Lira mengalihkan pandangannya dari Azka.
" Iya gak papa." Jawab Lira pasrah.
Seharusnya Citra tidak perlu mengajakku kalau dia mau makan siang bersama calon suaminya. Benak Lira sambil menunduk.
Azka sudah mengambil posisi duduk di sebelah Citra.
" Kakak mau pesan apa? tadi Citra sama mbak Lira sudah pesan duluan." Citra berbicara pada Azka.
" Hmmm samakan saja dengan kalian." Jawab Azka.
__ADS_1
" Oke, tunggu Citra pesankan dulu." Citra segera beranjak dari kursinya dan berjalan kearah meja pelayan.
Duduk berdua saja dengan Azka membuat Lira gelisah, ia sama sekali tidak ingin melihat orang yang duduk didepannya, mata Lira fokus pada punggung Citra yang mulai menjauh.
Azka berdehem, membuat Lira melirik ke arahnya.
" Maafkan aku Ra." Tutur Azka lembut.
" Minta maaf untuk apa? kamu tidak punya salah padaku." Ketus Lira sambil mengalihkan pandangannya dari Azka.
" Aku baru tau kamu mengirimiku surat waktu itu, aku baru membacanya. Ibu lupa memberikannya padaku." Azka mulai memberi penjelasan.
Lira terdiam sebentar, entah apa yang ia pikirkan.
" Lupakan, jangan bahas itu lagi, itu semua masa lalu." Ucap Lira dingin.
Tiba- tiba saja Azka menggenggam tangan Lira diatas meja, sontak saja membuat Lira gelagapan. Ia sangat khawatir Citra akan melihat adegan ini. Sungguh tidak lucu jika Citra memergoki calon suaminya menggenggam erat tangan sahabatnya sendiri.
"Azka!! kamu sudah tidak waras !" Lira mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Azka.
" Aku masih mencintaimu Ra, maafkan aku." Lirih Azka dengan nada terendah namun Lira masih bisa mendengarnya.
Tampak dari jauh Citra berjalan mendekati meja mereka, Azka cepat- cepat melepaskan genggaman tangannya. Citra tersenyum mendekat dan duduk lagi dikursinya.
"Ohh." Azka dan Lira menyahut hampir bersamaan.
Makanan yang disajikan benar- benar enak, mereka bertiga tampak sangat menikmatinya.
" Lira, kamu sudah menikah?" Azka mulai membuka obrolan.
Cihh, pertanyaan macam apa itu, dasar! Lira membatin.
" Mbak Lira masih single kak." Citra menyahuti pertanyaan Azka sambil menyuap makanannya.
" Oohh, sudah punya pacar?" Azka bertanya lagi.
Hahh, dia memang benar- benar sudah tidak waras, apa maksudnya menanyakan itu padaku didepan orang yang sebulan lagi jadi istrinya. Lira mulai berteriak dalam hati.
" Sudah." Jawab Lira mantap.
Citra hampir tersedak mendengar ucapan Lira. Ia cepat- cepat meneguk air putih didepannya.
" Mbak Lira sudah punya pacar? kok gak cerita ke aku." Cetus Citra penasaran.
__ADS_1
"Iya Cit, baru jadian." Jawab Lira berbohong sambil membayangkan Dio, cuma Dio yang terlintas dibenaknya untuk dijadikan kandidat pacar bohongannya demi menjauhi Azka itu.
" Whoaaaaa Alhamdulillah, siapa orangnya mbak?" Tanya Citra penuh semangat.
" Nantilah mbak kenalkan, oh iya Cit Sepertinya mbak duluan ya, nanti Citra pulang barengan Azka aja, mbak ada urusan sedikit." Ucap Lira sambil mengambil kunci motor diatas meja dan berlalu pergi.
" Ada apa dengan mbak Lira ?" Tanya Citra kepada Azka.
Azka hanya mengedikkan bahunya sambil terus menyantap makan siangnya.
...
Selesai menyantap makan siang mereka, Citra dan Azka keluar dari cafe, Citra tidak kembali lagi ke kampus, ia meminta Azka mengantarnya pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, Azka fokus menyetir.
Pikiran Citra melayang kemana- mana, sebentar- sebentar ia melirik Azka yang masih fokus dengan kemudinya. Ada hubungan apa sebenarnya antara kak Azka dan mbak Lira. Sepertinya mereka tidak hanya sekedar sahabat, aku benar- benar melihat tadi kak Azka menggenggam tangan mbak Lira, tidak mungkin aku salah lihat, Citra membatin.
Ditambah lagi tatapan kak Azka yang tampak berbeda saat melihat mbak Lira, kak Azka bahkan tidak pernah menatapku seperti itu. Kak Azka juga jarang mau diajak makan siang bersama, tapi ketika mendengar aku mengajak mbak Lira, ia sangat bersemangat bahkan sampai rela meninggalkan jam dinasnya. Citra terus membatin sambil melihat ke arah luar jendela.
...
Lira sudah berada dikampus lagi, pikirannya kalut. Azka benar- benar keterlaluan, bagaimana kalau sampai Citra curiga. Citra adalah sahabatnya, sudah ia anggap seperti adik sendiri. Hati Citra pasti akan tersakiti jika sampai tahu seperti apa hubungan calon suaminya denganku, batin Lira.
Lira juga tidak menampik kalau sampai saat ini perasaannya pada Azka sama sekali tidak berubah, tidak berkurang sedikitpun. Tapi ia harus membuang perasaannya jauh- jauh mengingat Azka sekarang berstatus calon suami Citra. Lebih baik ia mati daripada harus menyakiti Citra. Lira mengutuk dirinya sendiri sambil membenamkan kepalanya diatas meja kerjanya.
" Buk, ibuk tidak apa- apa?" Suara seseorang memecah lamunan Lira. Lira mendongakkan kepalanya, ternyata Dio sudah berdiri diseberang mejanya.
Cepat- cepat Lira membenarkan posisi duduknya.
" Ada perlu apa Dio?" Tanya Lira sambil melihat mahasiswanya itu.
" Mau minta tanda tangan laporan kasus buk." Jawab Dio sopan.
Lira mengangguk dan mengambil laporan yang Dio berikan, tanpa memeriksanya lagi, Lira langsung membubuhkan tanda tangannya di kertas yang sudah tertera namanya disana. Kemudian menyerahkannya kembali kepada Dio.
"Terima kasih buk." Dio pamit keluar ruangan, namun sebelum Dio keluar, ia meletakkan sebuah bungkusan kecil diatas meja Lira.
" Tunggu apa ini?" Pertanyaan Lira menghentikan langkah Dio, pemuda itu berbalik lagi.
" Kata orang itu bisa merilekskan pikiran, coba saja." Dio menyunggingkan senyum khasnya kemudian berlalu. Lira membuka bungkusan kecil itu, ia tersenyum ketika melihat apa isinya.
Coklat berbentuk hati, manis sekali.
Bersambung
__ADS_1
Mohon like nya ya temanku tersayang