
5 TAHUN KEMUDIAN...
Lira memandang wajahnya di cermin, setelah memoles lipstik matte berwarna nude di bibirnya ia berdiri. 5 tahun telah berlalu membawa perubahan yang sangat besar pada diri Lira, ia telah menjelma menjadi sosok wanita dewasa, berprofesi sebagai seorang dosen di sebuah Poltekkes di kota Malang.
Yah, setelah hampir 6 bulan terpuruk menyesali kisah asmaranya bersama Azka, Lira bangkit dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya dan mengambil profesi NERS, kemudian ia melanjutkan lagi S2 nya di jurusan keperawatan medical bedah. Ia ikut tes pegawai negeri dari Kemenkes dan alhamdulillah ia lulus dan sekarang ditugaskan di Malang.
Tentang Azka?? Lira sudah melupakannya, cowok itu tak pernah sekalipun menghubunginya sejak perpisahan mereka, ia bagaikan ditelan bumi, dulu pernah Lira mencoba menghubunginya berkali- kali tapi nomornya sudah tidak aktif lagi. Sejak itu Lira memutuskan untuk menyerah, ia tidak mencari tahu dan juga tidak mau tahu lagi.
Kariernya begitu terarah tapi itu sangat berbanding terbalik dengan kisah cintanya, sampai saat ini ia belum juga memiliki kekasih padahal usianya sudah hampir mencapai angka 27 tahun. Lira setiap hari hanya disibukkan dengan pekerjaannya, mengajar, bimbingan mahasiswa, praktik klinik dan lain lain.
Lira sedang memeriksa hasil UAS mahasiswanya ketika ponselnya berbunyi, ia melihat nama Alin tertera dilayar. Lira menggeser tombol hijau dan terdengar suara Alin dari seberang.
" Assalamualaikum Liraaaa apa kabar?"
"Waalaikumsalam Aliiin I miss u dear." Lira berteriak girang ketika mendengar suara Alin.
" Ra, bulan depan balik ya, aku mau kawin." Celetuk Alin.
" Whattttt ??? kawin sama siapa?" Lira terkejut, selama ini Alin tidak pernah cerita tentang kisah cintanya, tiba- tiba saja dengar kabar langsung mau nikah.
" Ada dech, kamu pasti kaget kalau lihat calon suami aku hahahaaaa, aku tidak sabar mau lihat reaksi kamu nanti seperti apa?" Alin tertawa dari balik ponsel.
" Whoaaa siapa ya???? penasaran aku jadinya." Lira mencoba menerka- nerka calon suami Alin tapi tidak ada yang cocok dibayangannya.
" Pulangnya jangan mau deket- deket acara ya Ra, seminggu lagi sebelum hari H kamu udah disini pokoknya." Alin merengek.
__ADS_1
"Bentar aku lihat jadwal dulu ya sayang, tanggal berapa acaramu Lin?" Lira meraih kalender diatas meja kerjanya.
" Awal bulan Ra, tanggal 2 akad nikahnya terus langsung resepsi."
Lira melirik kalendernya, sepertinya minggu itu jadwalnya tidak terlalu padat, hanya ada jam mengajar sedikit, itu bisa ia alihkan ke Citra, rekan kerjanya sekaligus sudah jadi adik angkatnya.
" Ocee siaap sayang, seminggu sebelum hari H aku balik." Kata Lira kemudian.
Akhirnya setelah saling melepas rindu dan diselingi guyonan Lira menutup telponnya. Ia meregangkan kaki dan tangannya ketika sebuah kepala muncul dari balik pintu.
" Udah selesai belum mbak?? pulang yuk." Citra masuk ke ruangan Lira.
" Udah yuk." Lira membereskan pekerjaannya kemudian meraih tas dan keluar bersama Citra.
Citra adalah sahabat sekaligus sudah Lira anggap seperti adik sendiri, jarak usia mereka hanya terpaut satu tahun. Sejak ditugaskan di Malang, Citra adalah satu- satunya orang yang sangat berjasa pada Lira, ia memberi tumpangan rumah pada Lira pada waktu Lira pertama kali datang. Dan sampai saat ini persahabatan mereka makin erat.
" Berapa lama mbak?" Citra menoleh pada Lira.
" Sekitaran seminggu lah, bisa kan?" Tanya Lira.
" Siaaap mbak cantik, apa sih yang nggak buat mbakku sayang." Citra menggandeng lengan Lira dengan manja.
...
Hari berikutnya dilalui Lira seperti biasa, mengajar, mengajar dan mengajar, hidupnya terlalu datar. Terkadang Lira merasa sepi sendiri. Temannya satu persatu sudah menikah, ada yang sudah hamil, ada yang sudah punya baby, bahkan ada yang tahun ini anak mereka sudah masuk PAUD. Sedangkan Lira masih betah menjomblo, sungguh miris sekali.
__ADS_1
Lira membaringkan tubuhnya di ranjang, beginilah hidupnya sehari- hari, hatinya masih kosong, terkadang terasa sangat hampa, tak terasa kristal kristal bening mengalir dari sudut matanya. Tak ingin berlama- lama meratapi nasibnya, Lira segera bangkit dari duduknya, ia mengambil handuk dan mulai membersihkan diri.
Ia sengaja berlama- lama di dalam kamar mandi, sambil bersenandung, kadang bernyanyi juga, karena tempat paling nyaman untuk mengeluarkan suara emas sebenarnya bukan diatas panggung melainkan didalam kamar mandi hahahaaa.
Usai membersihkan diri dan memakai baju, Lira membuka laptopnya, ia ingin menonton drama korea yang diperankan oleh Hyun Bin. Hyun Bin?? ia jadi teringat oleh sosok itu lagi, entah apa kabarnya sekarang, mungkinkah ia sudah menikah? Kisah itu telah lama berlalu tapi Lira masih teringat jelas bagaimana cara sosok itu tersenyum, tiba- tiba ia jadi rindu. Sekuat apapun ia melupakan sosok Azka, tetap saja cowok itu menempati ruang tersendiri dihati seorang Lira.
...
Banyaknya pekerjaan membuat Lira tidak menyadari jika sudah hampir akhir bulan, ia sudah berjanji pada Alin untuk pulang seminggu sebelum hari H. Setelah membuat surat izin, ia pulang kerumah dan mengepak sedikit pakaian untuk dibawa, tak lupa ia membeli beberapa cemilan untuk oleh- oleh.
Lira tiba di bandara pukul 5 sore, jarak dari bandara ke kota kelahirannya sekitar 2 jam perjalanan darat, setelah memesan travel yang akan menjemputnya setelah magrib nanti, Lira memesan ojol dan pergi ke pantai.
Lira paling suka melihat matahari terbenam di pantai, warna warni kemerahan di garis laut, seperti fatamorgana, sekilas tampak begitu dekat padahal jauuuh sekali. Senja itu indah, sungguh indah. Ia memiliki pesona tersendiri, dimana ketika matahari terkadang tampak tak rela untuk pergi.
Walaupun indahnya hanya sesaat, sebelum berganti menjadi pekatnya malam, setidaknya senja memberikan kehangatan sebelum ia pergi dan berlalu, tidak seperti seorang Azka, yang pergi begitu saja. Aaahhhh mengapa jadi membandingkan Senja dengan pria itu yang bahkan sampai saat ini tidak tau rimbanya.
Ketika senja berlalu, seperti inikah rasanya?? Lira berdiri dari duduknya, sayup- sayup terdengar suara adzan dari sebuah masjid tak jauh dari sana, Lira berjalan menuju masjid, barang- barangnya tadi sudah ia titipkan pada kedai yang berada di pinggir jalan tempat ia mengisi perutnya tadi sebelum melihat senja.
Selepas sholat magrib, travel jemputan yang akan mengantarnya ke rumah sudah menunggu, dengan dibantu oleh bapak pemilik kedai Lira memasukkan barangnya ke dalam mobil, setelah berpamitan mobilpun melaju kencang menerobos hari yang sudah mulai malam.
Lira sampai dirumahnya tepat pukul 9 malam. Emak sudah menunggu di bibir pintu, bapak segera mengangkat barang-barang yang Lira bawa, ia memasukkannya ke dalam rumah. Setelah membayar ongkos travel, Lira masuk ke dalam rumah sambil berpelukan dengan emak.
Diciuminya punggung tangan kedua orang tuanya dengan lembut. Setelah itu mereka duduk di sofa sambil melepas rindu. Bercerita panjang tentang kisahnya di perantauan.
Bersambung...
__ADS_1
mohon like n komentarnya ua teman teman tersayang