Ketika Senja Berlalu

Ketika Senja Berlalu
Dimana malaikat izroil ?


__ADS_3

Hujan mengguyur sangat derasnya ketika Lira dan Azka memarkirkan motor di parkiran. Dengan berhati-hati mereka melewati pinggiran gedung Rumah Sakit menuju ruang IGD.


Beberapa teman satu sift sudah berkumpul di ruang perawat. Semua menampakkan mimik wajah yang sedikit tegang.


Seorang perawat laki-laki yang berbadan tegap berdiri didepan mereka, ia adalah perawat penanggung jawab dinas malam itu, sambil memperhatikan setiap mahasiswa magang satu per satu ia memberikan pengarahan kepada mereka.


Ada 4 orang perawat jaga untuk sift malam di UGD, satu orang dokter jaga, dan satu orang bagian administrasi.


Lira memasukkan tasnya di dalam loker perawat setelah pengarahan selesai, mengambil buku saku yang berada di dalam tas kemudian mulai berkeliling ruang UGD dengan didampingi oleh salah satu suster berbadan tinggi semampai, berkulit putih,dan bermata sipit, ia lebih cocok jadi pramugari ketimbang jadi perawat, pikir Lira.


Unit Gawat Darurat terdiri dari beberapa ruangan, paling depan terdapat ruang triase tempat pasien pertama kali datang, lalu disebelahnya ada ruang tindakan, kemudian ada ruang observasi, setiap ruangan memiliki ukuran yang hampir sama. Ruang perawat terletak berhadapan dengan ruang observasi, disebelahnya ada ruang sterilisasi dan paling ujung ada gudang.


Malam itu tampak langgeng, belum ada tanda tanda akan kedatangan pasien. Hujan mulai sedikit reda, meninggalkan genangan air di setiap tanah yang tidak datar, Lira mulai menguap, tanda bahwa ia seharusnya sudah melaju ke pulau kasur, tapi apalah daya, ini dinas malam perdananya, mana boleh perawat jaga tidur, akhirnya ia memutuskan untuk memejamkan matanya dengan badan bersender di kursi perawat.


Azka memperhatikan sahabatnya itu yang tengah tertidur, Lira manis jika sedang tidur, ia punya bulu mata yang panjang walaupun tidak lentik, mata bulat dan besar, lucu sekali.


"Astagfirullah, apa apan aku ini." Benak Azka sambil membuang pandangannya ke luar pintu.


"Bulu mata??


Yang benar saja,,,


Ada apa denganku." pikir Azka sambil menghembuskan nafas dalam.


Kemudian ia berdiri di luar pintu UGD. Namun tiba-tiba suara keributan mulai terdengar, sebuah mobil avanza berwarna hitam dengan cepat berhenti tepat didepan pintu ruang UGD, sang sopir keluar sambil berteriak.


"Suster tolooong, ada pasien kecelakaan!!!!"

__ADS_1


Azka terkejut kemudian memanggil seluruh perawat yang ada.


"ADA PASIEN !!"


Azka sedikit berteriak kedalam ruangan.


Dengan sigap seluruh perawat langsung kedepan, mengambil brankar dan memindahkan pasien ke ruang tindakan.


Pasien itu laki laki berumur sekitar 35 tahun. Baru saja mengalami kecelakaan tunggal di persimpangan jalan, ia tampak tidak sadarkan diri, darah segar keluar dari hidung dan telinganya.


Inilah resiko menjadi perawat UGD, pasien bisa datang tiba- tiba tanpa ada kode terlebih dulu, setiap perawat sudah mengenakan alat pelindung diri masing masing, dengan cekatan mendatangi pasien tadi.


" oke, pak! pak, bisa dengar saya!" kata salah satu perawat jaga kepada pasien.


Tidak ada respon dari pasien, perawat memposisikan kepala pasien dengan chin lift, head tilt. Memeriksa jika ada sumbatan jalan nafas, tiba- tiba pasien mengalami henti jantung.


" RJP !!! perintah perawat senior kepada salah satu perawat yang menangani pasien, dengan cekatan perawat tadi melakukan kompresi dada, memberi nafas buatan lewat ambu bag.


RJP dihentikan ketika dokter jaga menyatakan pasien telah meninggal pukul 23.45 malam, kemudian perawat mencatatnya di catatan anamnesa pasien. Mahasiswa magang dengan didampingi satu perawat senior membersihkan pasien, mengikatkan kain kasa panjang dikedua tangan jenazah dengan posisi seperti sholat, mengikat kedua jempol kakinya dan tak lupa dibagian kepala.


Lira menelan salivanya, tampak sedikit basah di kedua ujung kelopak matanya, "beginikah akhirnya hidup?" benak Lira.


Sambil memperhatikan jenazah yang masih hangat, Lira membatin, lelaki ini mungkin saja masih tertawa riang satu jam yang lalu, ia masih sangat muda, mungkin saja tidak pernah terlintas difikirannya untuk mati malam ini.


Ia tak tau sama sekali bahwa langkahnya sudah diintai malaikat izroil, tapi sungguh jarak hidup dan mati itu sangatlah dekat, lebih dekat dari jeda antara adzan dan iqomat.


Lira berfikir, andai malaikat izroil bisa terlihat, profesi perawatlah yang paling dekat dengannya. Setiap hari berjibaku berusaha menyelamatkan jiwa, melihat detik-detik perpisahan manusia dengan dunianya, hanya saja perawat tidak pernah tau dari mana izroil mencabut nyawa setiap insan.

__ADS_1


Sungguh satu hal yang bisa memutuskan kita dari nikmat dunia hanyalah dengan mengingat kematian.


Polisi telah datang, ia mengambil ponsel jenazah tersebut dan menghubungi keluarga jenazah. Kemudian meminta data dari beberapa orang yang mengantar pasien tadi, mereka tampak berbincang-bincang di luar UGD sambil menunggu keluarga pasien datang.


Di dalam ruang tindakan, suasana hening tercipta, Lira berdiri disebelah Azka dan beberapa temannya.


15 menit berlalu, terdengarlah dari depan suara seorang wanita muda yang tengah hamil tua berteriak menangis, berlari cepat menghampiri jenazah pria yang terbaring diatas bed, memeluknya dengan erat.


" tidak mungkin ! bagaimana ini bisa terjadi!!" ratap wanita itu sambil menangis.


"sayang, kau tidak mungkin pergi kan, tidak secepat ini sayang, aku bagaimana? anak kita,..anak kita sebentar lagi lahir." Ratap nya lagi.


Kemudian ia membenamkan wajahnya ke samping bed sambil memegang erat tangan suaminya yang telah meninggal. Ia menangis dalam, teringat memori bersama suaminya beberapa jam yang lalu. Ia sempat bertengkar hebat dengan suaminya.


...


Sore itu pukul 17.00 WIB.


" Kamu jahaaat!" pekiknya sambil membanting pintu kamar.


"oke,sayang, ada apa? " Bujuk sang suami bingung melihat tingkah istrinya yang tiba- tiba marah.


" Aku capek, baru pulang dari kantor, kok tiba- tiba marah gini?" Bujuk sang suami lgi sambil mencoba membuka pintu kamar yang ternyata sudah dikunci dari dalam oleh sang istri.


" Buka dulu pintunya. Mari kita bicara baik- baik." Kata si suami masih bingung dengan perubahan prilaku istrinya.


Si istri masih kekeuh tidak mau membukakan pintu.

__ADS_1


" Ya udah, kalau gak mau buka." Akhirnya si suami menyerah, kemudian ia duduk di sofa ruang keluarga sambil mengambil remot TV dan menyalakannya.


Ia meregangkan tangannya ke atas. Seharian bekerja di depan layar komputer membuat badannya pegal. Lelaki itu sudah hampir setahun ini bekerja di kantor perpajakan cabang di daerah, sebelumnya ia ditempatkan di kantor pusat. Pasangan itu baru menikah, dan saat ini si istri tengah hamil 7 bulan, ia memboyong si istri untuk ikut bersamanya.


__ADS_2