Ketika Senja Berlalu

Ketika Senja Berlalu
Dia Sendiri...


__ADS_3

Niat Azka untuk menjauhi Lira ternyata bukan hanya isapan jempol, terbukti dinas sore hari ini, Azka benar- benar menundukkan pandangan nya terhadap gadis itu. Sengaja menghindar jika terpaksa harus berada diruangan yang sama.


Hal ini sungguh menguntungkan sebenarnya bagi Lira, karena ia tak perlu repot- repot lagi menghindar dari Azka.


Tetapi, alih- alih merasa beruntung. Lira malah merasa ada sesuatu yang aneh di hatinya, ada semacam sesuatu yang hilang. Tapi ia tak tahu apa itu.


...


Malam mulai mencekam ketika Azka menghidupkan mesin motornya di parkiran. Dengan perlahan ia keluar dari gerbang Rumah Sakit. Sekilas ia melihat siluet tubuh yang sangat ia kenali, tengah berdiri di pangkalan tukang ojek yang sepi.


Hati Azka mencelos, ingin sekali ia mendekati gadis itu. Tapi...


"Tak apa, biarkan saja."


" Bukankah aku sudah berjanji untuk menjauhinya."


" Aku harus komitmen dengan janjiku sendiri."


Motor Azka makin melaju di tengah jalan raya.


Hatinya yang lain mulai berbisik.


"Tidak, jangan tinggalkan dia."


"Dia sendirian disana."


"Dia pasti sedang cemas."


"Ayo kembali."


Tanpa pikir panjang, Azka berputar arah, berbalik lagi ke pangkalan ojek tadi. Ia membiarkan tubuhnya mengikuti hati yang lain yang sedang berbisik padanya.


...


Lira mulai tampak cemas, sudah beberapa menit ia berdiri disana, belum ada satupun ojek yang lewat. Ia hampir menangis, diremasnya ujung baju putihnya dengan gusar.


Lira mencoba untuk berjalan di sisi trotoar, berharap ada ojek yang lewat dan matanya sekarang mulai berair.


Andai saja hubungannya dengan Azka baik- baik saja, tentu sekarang ia sudah duduk manis di jok belakang motor Azka.


"Azkaaaaa...."


"Kamu dimana..."


Hmmmm...


Ternyata selama ini tanpa ia sadari, ia sudah sangat bergantung pada sosok laki- laki itu.

__ADS_1


Gerimis kecil mulai menari- nari di udara, membuat biasan cahaya yang indah ketika terkena sinar lampu jalan.


Lira terus melangkahkan kaki nya dengan cepat menembus gerimis yang bak anah panah menghujam tubuhnya. Kemudian,


Tiiit...tittt...tiit..


Suara klakson motor menghentikan langkah Lira, dilihatnya motor yang sudah berhenti tepat disampingnya itu.


A-zkaa !!!!!


" Ayo naik."


Lira tampak berfikir sejenak,


" Jangan banyak mikir Ra."


" Kamu mau naik apa?? gak ada ojek disini, bentar lagi hujan."


Azka sepertinya tau jalan pikiran Lira. Kemudian entah perasaan aneh apa yang menyelimuti hati Lira, ada rasa rindu yang tertahan ketika melihat wajah orang yang berada diatas motor itu. Wajah yang sudah hampir seminggu ini ia hindari.


Lira akhirnya memilih untuk ikut duduk di jok belakang motor itu ketimbang harus berdiri di trotoar.


Motor Azka melaju menembus jalanan yang sedikit lenggang. Dan benar saja tak butuh waktu lama untuk langit mengubah mode gerimis menjadi mode hujan yang cukup lebat.


Akhirnya, Azka memutuskan untuk menepikan motornya dan berhenti di pelataran toko kelontong yang telah ditutup pemiliknya.


Suasana hening tercipta, keduanya tampak kikuk, Lira hanya menatap kedepan, melihat tetesan air jatuh dari atap yang membuat cipratan air dibawahnya. Di saat seperti ini, ia menyesal tidak pernah mau membawa jaket.


" Kamu aja yang pake." Katanya sambil menyerahkan bungkusan mantel ke arah Lira.


" Tidak, biar kamu aja."


" Aku gak papa, ayo dipake."


"Kamu aja." Lira masih ngotot nolak.


" Kamu tau kalau baju putih kena hujan jadi apa?" Kata Azka dengan nada penuh penekanan pada gadis itu.


Transparan...


Oh tidaakk !!!


Cepat- cepat ia mengambil mantel tersebut dari tangan Azka, memakaikan mantel baju di tubuhnya.


"Yang celana biar kamu yang pake." Kata gadis itu kemudian.


Azka menarik ujung bibirnya sehingga membentuk sebuah senyuman tipis yang tidak disadari oleh gadis itu.

__ADS_1


Hujan turun makin deras, menumpahkan berkubik kubik air ke bumi, beberapa ruas jalan sudah berbentuk seperti aliran anak sungai. Azka dan Lira akhirnya nekat untuk menembus hujan karena tidak bisa diprediksi hujan akan berhenti kapan.


Lira melihat tubuh Azka sudah basah kuyup diterpa hujan, ada rasa bersalah yang tercipta dari hati Lira. Ia tahu cowok ini berbalik lagi hanya untuk menjemput dirinya, karena Lira melihat sekilas motor Azka melewatinya tadi ketika ia tengah berdiri di pangkalan ojek.


Motor berhenti tepat di depan rumah Lira.


"Ka, masuk dulu yuk." Kata Lira ketika sudah turun dari motor Azka.


" Aku langsung aja Ra. Udah malam nih."


"Turun dulu, baju kamu udah basah kuyup kayak gitu." Pinta Lira.


Akhirnya Azka turun, dengan sedikit berlari kecil mereka menuju teras rumah Lira.


Pintu rumah sudah terbuka lebar. tampak emak nya Lira tergopoh- gopoh kedepan.


" Ya ampuunn, basah semua kalian ya, tunggu emak ambil handuk." Katanya kemudian.


Lira membuka mantelnya, tak lama emak sudah berada lagi di teras membawa handuk.


" Kamu tunggu disini ya ka." Lira masuk kekamarnya kemudian keluar lagi membawa jaket.


" Buka baju kamu, pake ini aja. Baju kamu udah basah tuh." Kata Lira lembut.


Lira masuk lagi kedalam, membiarkan Azka mengganti baju atasnya dengan jaket Lira. Tak lama Lira muncul lagi dengan membawa kantong plastik tempat baju basah Azka.


"Aku langsung balik ya Ra, udah malam." Kata Azka sambil mengancingkan mantel bajunya.


Lira mengangguk.


" Makasih ya ka." Katanya tulus.


"Pinjam dulu jaketnya." Kata Azka sambil berusaha menghindari tatapan Lira yang sendu.


Gadis itu mengangguk sambil tersenyum.


"Mana emak tadi, aku mau pamitan." Kata Azka.


Lira memanggil emaknya, tak lama wanita paruh baya itu sudah berdiri di depan teras.


"Mak, Azka pulang dulu ya."


"Iya ka, hati- hati ya."


Azka memencet klason motornya, kemudian melaju ditengah hujan yang sekarang sudah berubah lagi menjadi mode gerimis sedang.


Bersambung...

__ADS_1


Mohon like nyaa...


Kalau berkenan boleh kasih kritik dan saran yang membangun ya teman- teman tercintaa


__ADS_2