
" Baiklah, sekarang saya ingin bertanya pada pengantin wanita. Sudah siap dan bersedia untuk menjadi istri pada hari ini ?" Pak penghulu bertanya hangat pada Citra.
Hening sejenak.
Hening...
Hening...
" Pengantin wanita mendengar saya ?" Ulang pak penghulu.
"Saya tidak bersedia pak." Jawab Citra.
Semuanya terdiam dan kompak menoleh ke Citra.
" Saya tidak bersedia, saya tidak ingin menikah denganya." Ulang Citra sambil memejamkan mata.
Untuk sesaat semua yang ada diruangan itu terpaku dengan pikiran masing- masing, mencoba mencerna ucapan Citra. Azka langsung menoleh ke arah Citra dengan tatapan yang tidak dimengerti.
" Maafkan aku kak, aku sudah tau semuanya." Ucap Citra kepada Azka.
"Aku akan menjadi wanita yang egois jika tetap melangsungkan pernikahan ini. Aku tau kamu tidak mencintaiku kak, wanita yang kamu cintai adalah mbak Lira bukan aku."
DUARRRR...
Jantung Lira serasa ingin melompat keluar ketika mendengar namanya disebut, ingin rasanya ia pergi saat itu juga dari tempat itu.
" Cit, kamu apa- apaan hah. Ayolah jangan seperti ini." Lira mendesis memohon kepada Citra. Matanya mulai berkaca- kaca, ia sama sekali tidak berniat merusak acara ini.
" Tidak mbak, yang akan menikah hari ini adalah mbak Lira bukan aku." Citra menatap Lira.
Tubuh Lira gemetar, saking gugupnya, ia sudah tidak bisa berkata- kata lagi. Lira sungguh tidak mengerti jalan pikiran Citra saat ini. Lira menoleh ke Azka, berharap pria itu bisa mengatasi masalah ini secepatnya.
Citra melihat raut kecemasan dan kegugupan di wajah Lira, ia mengambil tangan Lira dan menggenggamnya erat. Sambil tersenyum menenangkan
" Aku ingin menikah dengan orang yang mencintaiku mbak, aku tidak ingin menikah dengan orang yang menyukai wanita lain, apalagi wanita itu adalah mbak Lira. Aku tidak ingin mengambil apa yang seharusnya jadi milik mbak. Aku akan terlihat jahat sekali jika tetap menikah dengan kak Azka hari ini."
" Maafkan aku Cit, seharusnya aku jujur padamu dan menjelaskan semuanya dari awal." Azka angkat bicara.
Lira melotot ke arah Azka ketika mendengar kalimat yang keluar dari mulut pria itu.
Azka, kamu apa- apaan
__ADS_1
Ini sama sekali diluar rencana
Kita sudah saling mengikhlaskan bukan?
Citra tersenyum ke arah Azka.
" Tidak apa- apa kak, maafkan aku karena sudah masuk ke kamar kakak diam- diam dan menemukan surat dari mbak Lira, aku sudah tahu semuanya. Dan jujur saja aku tidak apa- apa. Justru aku bahagia karena mengetahui ini jauh lebih cepat, coba kalau aku mengetahuinya ketika kita sudah menikah, ini tentu akan menyakiti perasaan kita bertiga." Ucap Citra.
Azka mengangguk dan menggenggam tangan Citra tanda berterima kasih atas kebesaran hati gadis itu.
Lira, apa kabar kau disana??
Lira sudah seperti patung manekin yang dipajang di etalase sebuah toko, tubuhnya mendadak kaku. Ia sangat syok ketika mendengar pengakuan Citra. Ia sama sekali tidak menyangka, semua diluar dugaan.
Semuanya menampakkan ekspresi yang biasa, jangan- jangan hanya aku yang tidak tahu apa- apa disini, pikir Lira.
Tak lama kemudian, papa Citra tampak berbisik ke bapak, bapak mengangguk dan mengambil posisi duduk tepat berseberangan dengan Azka. Sementara mama Citra menghampiri Lira.
" Ayo nak." Ujarnya berusaha menuntun Lira untuk mengganti posisi Citra.
Lira menggeleng pelan.
" Tidak, bukan ini yang aku mau. Tidak seperti ini tante." Lira sudah tidak kuat lagi, air matanya tumpah. Sungguh bukan ini yang ia harapkan, ia tidak berniat sama sekali untuk merusak acara Citra.
" Ayo nak, Citra sudah menceritakan semuanya. Ibu juga minta maaf karena lupa memberikan surat itu pada Azka. Kejadiannya tidak seperti ini jika surat itu sampai tepat pada waktunya."
Flash Back...
Citra menghela nafasnya, ia menutup pintu kamar Azka. Membiarkan pria itu istirahat dikamarnya. Yah, hari ini Azka sudah diperbolehkan pulang setelah enam hari dirawat di Rumah Sakit.
Citra ikut duduk bersama ibu Azka di sofa ruang keluarga. Setelah berfikir agak lama, akhirnya ia mengambil keputusan. Ia tidak bisa selamanya berpura- pura tidak tahu dengan apa yang telah terjadi antara kak Azka dan mbak Lira.
Citra bisa melihat bahkan ikut merasakan betapa kak Azka sangat mencintai mbak Lira, cinta itu sudah tumbuh dan berkembang sejak dulu, hanya saja keduanya sama- sama pengecut sehingga perlu bantuan orang ketiga untuk bisa menyatukan mereka.
Citra mulai menceritakan panjang lebar kisah Azka dan Lira pada calon ibu mertuanya, mulai dari surat sampai kejadian didalam mobil yang dilihat Citra. Ibu Azka sangat terkejut mendengarnya, dan ia ikut mem b aca surat yang dulu pernah dititipkan Lira padanya untuk disampaikan ke Azka.
Citra juga menyuarakan idenya untuk membuat Azka dan Lira bersatu.
" Tapi kamu tidak apa- apa nak?" Kata ibu Azka lembut.
" Aku tidak apa- apa buk, justru aku ikut bahagia jika mereka bersama. Aku akan menyiksa diriku sendiri jika tetap bertahan dan menikah tanpa rasa cinta." Ungkap Citra tulus.
__ADS_1
Ibu Azka menatap dalam ke netra Citra, tapi ia tidak menemukan kebohongan disana, yang ada hanya tatapan mata yang benar- benar tulus dari hati yang terdalam. Kemudian wanita tua itu mengangguk sambil tersenyum penuh arti.
Citra juga menceritakan hal yang sama pada kedua orang tuanya. Orang tua Citra merupakan sosok orang tua yang demokratis, mereka selalu terbuka terhadap pendapat anak semata wayangnya itu. Orang tua mana yang rela memberikan anak tercinta mereka untuk laki- laki yang sama sekali tidak mencintai anaknya.
Mama Citra turut andil dalam upaya untuk mempersatukan Lira dan Azka.
" Kenapa tidak kamu ungkapkan sekarang saja Cit, kamu jelaskan pada Lira dan Azka. Jadi tidak repot- repot mengatur pernikahan." Ucap mama Citra.
" Kalau aku jelaskan sekarang, mbak Lira pasti kaget, yang ada dia akan kabur. Mana tega dia mengambil apa yang sebentar lagi jadi milikku ma, aku tau dia akan mengalah untukku.Jadi biarkan ini berjalan sesuai rencana. Kalau dia sudah duduk diruangan yang sama nanti, mbak Lira tidak akan bisa berkutik lagi." Ujar Citra diikuti anggukan mamanya.
...
Semuanya terdiam menunggu keputusan Lira. Lira masih tak bergeming, pikirannya kacau benar- benar kacau, bagaimana bisa jadinya seperti ini. Citra memeluk Lira erat.
" Ayolah mbak, aku tidak apa- apa, serius. Ini sudah kami rencanakan sejak awal." Bisik Citra ditelinga Lira. Kemudian gadis itu melepaskan pelukannya pelan.
Azka menghampiri Lira, matanya mendamba penuh cinta. Diraihnya tangan Lira lembut kemudian ia menuntun Lira untuk duduk di sebelahnya. Seperti terhipnotis, Lira mengikuti arahan Azka.
Pak penghulu masih dalam mode bengong, menyaksikan live adegan langka yang terjadi di depannya. Namun cepat- cepat ia menguasai keadaan ketika Azka sudah duduk lagi di depannya.
Prosesi akad nikah berjalan dengan lancar, hanya dengan satu tarikan nafas Azka mengucapkan ijab qabul dengan sukses.
"SAH ??" Pak penghulu bertanya kepada para saksi.
"SAH, SAH !" Mereka serentak mengucapkannya dan bersholawat nabi. Suasana haru kian tercipta. Lira menangis sesegukan. masih tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi.
Emak, mama Citra, ibu Azka dan Citra bergantian memeluknya. Lira mencium tangan Azka yang sudah berstatus menjadi suaminya itu.
Takdir Allah benar- benar tidak bisa di tebak, jodoh, rezeki , maut setiap manusia sudah ditetapkan jauh sebelum manusia itu sendiri terbentuk.
Begitu pun dengan cinta, jika Allah berkehendak, ia bisa menyatukan dua hati dengan sangat mudah tentu melalui caraNya yang terkadang bagi kita sangat mustahil.
Hari ini akan menjadi hari paling bersejarah bagi Azka dan Lira. Kisah cinta mereka mungkin hampir sama dengan kisah cinta kebanyakan orang, tapi tidak dengan rasanya. Hanya mereka yang tau bagaimana kembang kempisnya dada mengukir setiap butir cinta yang terbentuk.
***The End...
Terima kasih teman- teman, akhirnya aku bisa menamatkan novel pertamaku ini. Nanti akan ada exra part satu episode sebagai epilognya.
sekalian aku mau promo untuk novel kedua ku yah yang berjudul " Asiyah Takdirku".
Terina kasih semuanya sudah mau membaca karyaku sampai episode terakhir, aku doakan yang membaca mendapat rezeki yang berlimpah aminnn..
__ADS_1
Oh iya, jika tidak keberatan bisa ketik komentar yang berisi saran dan kritik untuk novelku yah, dari alur cerita atau gaya penulisan dan lainnya sebagai bahan pembelajaran untukku.
sekali lagi terima kasih banyak ya, salam dari author receh yang baru belajar***