Ketika Senja Berlalu

Ketika Senja Berlalu
Anna telah pergi...


__ADS_3

"Tunggu aku diluar ya." Pinta Anna sambil mengunci kamar mandi dari dalam. Azzel sebenarnya sangat khawatir, tapi Anna sudah mengunci pintunya, ia hanya bisa berdiri cemas di depan kamar mandi.


Setengah jam sudah berlalu, tapi belum ada tanda- tanda bahwa Anna akan keluar dari kamar mandi, Azzel bertambah cemas, ia mengetuk kamar mandi berulang- ulang sambil memanggil nama Anna. Tidak ada jawaban, Azzel menempelkan telinganya di daun pintu kamar mandi, dari dalam terdengar rintihan Anna, sesekali Anna mengerang kesakitan.


" Na, buka pintunya..!" Azzel kembali menggedor kamar mandi.


Dengan sekuat tenaga yang tersisa, Anna berusaha berdiri dan membuka pintu kamar mandi, betapa terkejutnya Azzel melihat kondisi sahabatnya, wajahnya pucat ,dan..


Aaagrhhhhhh...


Itu darah, ada darah mengalir dari kedua betis Anna, darah yang mengucur dengan derasnya keluar dari **** ********** gadis itu. Bukan itu saja, Azzel lebih dikagetkan lagi dengan keberadaan seonggok daging yang bernama janin di bawah kaki Anna. janin yang tak berdosa itu bahkan sudah memiliki jari tangan yang panjang - panjang.


Azzel membukam mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangannya, sesaat ia begitu syok dengan apa yang terpampang dihadapannya, setelah mengumpulkan kembali seluruh kekuatannya, ia berusaha membopong Anna ke tempat tidur.


Kondisi Anna begitu memprihatinkan, wajahnya sudah seperti patung manekin, ekstremitas atasnya sedingin es, ia menutup matanya dan tidak sadarkan diri. Azzel gelagapan, ia bingung harus berbuat apa, kemudian ia berlari keluar meminta bantuan Alin. Azzel langsung menghambur kedalam kosan Alin yang memang belum dikuncinya. Serentak Alin dan Lira menoleh ke arah Azzel, kemudian kompak membulatkan mata mereka ketika melihat darah di tangan Azzel.

__ADS_1


" Tooloong aku, Anna sekarat !" Suara Azzel tercekat namun cukup melengking. Kemudian ketiga gadis itu berlari cepat menemui Anna yang sudah tidak berdaya. Lira terperangah melihat kondisi Anna, darah terus mengalir tampak dari kakinya. Badan Lira bergetar hebat, keringat dingin mulai menjalari tubuhnya.


" ANNA...ANNA !" Alin mengguncang bahu Anna. Namun tidak ada reaksi sama sekali dari Anna, tubuhnya tidak bergerak dan matanya telah menutup sempurna.


" Kita harus beri tahu ibu kos secepatnya." Alin sedikit berteriak.


"Ja- ngan." Azzel tergagap.


" Apa kamu sudah gila hah, Anna perdarahan !!" Alin menatap tajam ke arah Azzel kemudian dengan cepat berlari kerumah ibu kos yang jaraknya hanya satu kamar dari sana. Sementara Lira masih syok dengan situasi itu, ia masih mematung.


Tak lama seorang wanita setengah baya dengan memakai daster rumahan, berlari tergopoh- gopoh ke kamar Anna, ia memekik tajam ketika melihat kondisi Anna yang menggenaskan, detik berikutnya ia segera berlari lagi mengambil mobil dari garasinya. Dikarenakan hari itu merupakan hari sabtu malam minggu, banyak kosan yang kosong ditinggal penghuninya. Akhirnya hanya mereka berempat yang menggotong tubuh Anna masuk ke dalam mobil.


Anna mengalami syok hipovolemik akibat terlalu banyak kehilangan darah, ini adalah transfusi darah kantong ke sepuluh untuk Anna, beruntung sekali stok darah di Rumah Sakit mencukupi, walaupun Lira ikut mendonorkan darahnya juga tadi.


Namun takdir berkata lain, Anna menghembuskan nafas terakhirnya tepat pukul 23.00 dini hari. Ibu kost langsung mengabari keluarga Anna via telpon sambil menangis sesegukan, sementara Azzel berteriak histeris, ia memeluk tubuh sahabatnya yang sudah tidak bernyawa.

__ADS_1


Tubuh itu kini telah diam, tidak ada lagi senyum disana, matanya terpejam, bibirnya pucat. Anna telah pergi, pergi untuk selama - lamanya, ia pergi di usia yang masih sangat belia, usianya bahkan belum menyentuh angka 21 tahun. Begitu banyak impian yang ia tinggalkan, termasuk impian memakai toga di hari wisudanya kelak.


Lira menangis dalam diam, bak mata air mengalir deras terus keluar dari kedua sudut matanya, ia dan Anna memang tidak dekat, namun keceriaan Anna ketika belajar di kelas, betapa hebohnya ia ketika mendaki gunung tempo hari sudah cukup memenuhi memori Lira. Ia memegang ujung jari tangan Anna, jari tangan itu bahkan kini tidak mampu menggenggam lagi.


Anna adalah korban dari sekian banyak hubungan tanpa status yang berakhir tragis, pacaran? yah, itu adalah istilah untuk hubungan tanpa status yang dibuat- buat sendiri, tidak terikat hukum apalagi agama. Komitmen antara laki- laki dan perempuan yang hanya mereka berdua yang mengikrarkannya, untuk kemudian menjadi dalih agar bisa bermesraan dalam naungan yang bernama pacaran tadi.


Kejadian Anna menambah daftar panjang kasus aborsi akibat pergaulan bebas di negeri ini. Wanita tentu saja akan selalu mengalami dampak terparah dari setiap peristiwa itu, mulai dari kehilangan keperawanan sebagai mahkota tertinggi dari seorang wanita, kejadian hamil diluar nikah, bayi yang dibuang sia- sia, sampai yang paling mengerikan seperti yang dialami Anna, tewas dalam usahanya melakukan aborsi.


Azzel masih meratap menangisi sahabatnya, Anna adalah sahabat terbaiknya, Anna adalah satu- satunya orang yang paling dekat dengan Azzel dalam geng nya. Memiliki wajah cantik membuat Anna selalu dikelilingi pria- pria yang ingin mendapatkannya, Anna hanya salah melangkah, ia terlalu terbuai dengan bujuk rayu pria yang memujanya.


Azzel memejamkan matanya, dadanya terasa sakit, ia benar- benar tidak menyangka jika Anna akan pergi secepat ini, Anna bahkan belum menceritakan kepadanya siapa yang telah menghamilinya, Azzel pun bingung, pasalnya ada beberapa pria yang tampak sedang menjalin hubungan dengan Anna saat ini. Andai saja ia bergerak lebih cepat mengambil obat terkutuk itu dari tangan Anna, mungkin kejadiannya tidak seperti ini.


Sambil menunggu keluarga Anna sampai, perawat telah membersihkan jenazah Anna, membersihkan setiap darah yang melekat di tubuh cantik itu. Alin menangis dalam pelukan ibu kost sambil membenamkan wajahnya. Butuh waktu dua jam perjalanan darat dari kampung halaman Anna ke tempat tujuan.


Setelah keluarga Anna sampai, kejadian pilu terpampang lagi tepat dihadapan Lira. Kedua orang tua Anna berteriak histeris mendapati anak mereka sudah kaku tak bernyawa. Pupus sudah harapan mereka, harapan yang mereka gantung setinggi mungkin untuk anak perempuan mereka, wajah mereka menampakkan kesedihan dan kekecewaan yang sangat mendalam.

__ADS_1


Wajah itu mengingatkan Lira kepada wajah emak dan bapak, Lira ikut menangis dalam. Inilah yang ia takutkan dalam hidupnya, ia tak ingin melihat wajah emak nya sedih seperti wajah kedua orang tua Anna saat ini. Itulah mengapa Lira selalu memegang teguh prinsipnya dan selalu memasang lingkaran tak terlihat dalam dirinya.


Bersambung...


__ADS_2