
" Kita tidak sedang dikampus buk, jadi bisakah kita berkencan?"
GLEKKK....
Kejutan apa lagi ini Tuhan, mahasiswa bimbinganku mengajakku berkencan? Apa aku tidak salah dengar? otaknya yang konslet atau pendengaranku yang terganggu?
Akhirnya Lira menatap orang yang duduk disampingnya itu.
" Bisakah kamu jelaskan pada saya definisi berkencan seperti apa?"
" Hahahaah, maksud ibuk apa? apa ibuk belum pernah berkencan sebelumnya?"
Lira berfikir sejenak, memang iya, ia belum pernah berkencan sebelumnya. Satu- satunya pria yang dekat dengannya hanyalah Azka, itupun mereka hanya bersahabat, tidak bisa juga disebut kencan.
Melihat Lira tampak berfikir, akhirnya Dio angkat bicara, sedikit geli ia melihat wanita disampingnya itu, jika bicara pelajaran mata kuliah bukan main hebatnya, tapi kalau bicara masalah sebuah hubungan, kencan saja dia masih bingung.
" Kencan itu aktivitas yang dilakukan oleh laki- laki dan perempuan, seperti nonton bioskop bareng, makan bareng, hang out seperti itu buk." Dio tampak bicara pelan- pelan.
" Saya tau kalau itu. Maksud saya apakah mesti ada perasaan saling suka kan ketika seseorang berkencan?" Tanya Lira bodoh.
" Ibuk menghabiskan masa remaja dulu di zaman apa sih buk ? Menurut saya sih kencan tidak harus didahului oleh perasaan suka, perasaan bisa timbul sambil jalan." Ungkap Dio.
" Yah, saya hidup dizaman batu waktu remaja." Jawab Lira sarkas, kentara sekali kalau ia sedang tersinggung.
Dio tersenyum kecil dan memandang lurus kedepan.
" Jadi mari kita berkencan hari ini, kita harus mulai dari mana? ah iya, sebaiknya kita nonton bioskop saja, saya belum pernah nonton bioskop bersama pria berdua." Kata Lira.
Dio sedikit kaget melihat sikap Lira yang tiba - tiba berubah. Tapi yang bisa Dio tangkap dari raut wajah Lira adalah bahwa wanita ini sedang dalam kondisi yang tidak baik- baik saja. Ada luka menganga yang tak kasat mata disana. Tapi Dio tidak tahu luka apa. Dan wanita ini butuh semacam pengalihan.
__ADS_1
" Oke, baiklah Let's Go !!" Dio berdiri diikuti Lira yang juga berdiri dari duduknya.
Menjadi gila sekali- kali tak apalah, dari dulu Lira sangat menjaga lingkaran hidupnya, tidak pernah ada yang mampu memasuki benteng pertahanannya, kecuali Azka, hidupnya terlalu kaku selama ini.
Mereka sudah memasuki gedung bioskop yang berada di sebelah timur pusat perbelanjaan. Dio sudah membeli popcorn dan minuman dingin, mereka memilih duduk di bangku belakang paling pinggir. Film bergenre action romance itu sudah diputar.
Sama sekali tidak ada yang special, mereka masing- masing menonton dengan serius sampai film selesai diputar. Sesekali Dio melirik ke Lira. Apa sebenarnya permasalahan dosen manisnya ini, wajahnya tampak begitu sendu, terkadang tampak begitu tertekan, Dio tahu bahwa tadi dosennya ini baru saja selesai menangis ketika ia sampai.
...
Sementara itu di Tempat Lain
Azka sama sekali tidak fokus dengan pembicaraan yang terjadi diantara tante Ica dan Citra. Azka hanya mengangguk sesekali tanda bahwa ia menyetujui konsep pernikahan yang dipilih oleh Citra.
Obrolan pun akhirnya selesai, Azka dan Citra pulang masing- masing karena mereka sama- sama membawa kendaraan. Pikiran Azka masih melayang pada pertemuannya tadi dengan Lira. Gadis itu masih sama seperti dulu, bahkan tampak lebih manis, dulu ia tidak pernah memoleskan make up dimukanya, tadi ia tampak jauh lebih cantik dengan make up tipis menempel sempurna diwajahnya.
Saking syoknya tadi, bahkan aku tidak menanyakan kabarnya, benak Azka.
Rasa yang hampir beberapa tahun ini berusaha untuk ia kubur tiba- tiba muncul kembali disaat yang tidak tepat. Yah, semenjak kelulusannya kuliah di keperawatan dulu, ia sudah menyerah dengan Lira, terakhir kali ia menanyakan bagaimana perasaan gadis itu padanya waktu mereka masih magang di Rumah Sakit Jiwa, namun tidak ada jawaban sama sekali dari gadis itu. Mungkin Lira hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat saja, tidak pernah lebih.
Dan hari ini tiba- tiba saja ia muncul dihadapanku, dengan mata bulatnya yang indah, membuat hatiku tidak bisa berpaling, sementara disisi lain, aku sudah berjanji pada Citra untuk memulai hubungan kami. Sungguh ini membuatku frustasi.
...
Lira dan Dio masih sibuk membicarakan film yang mereka tonton barusan sambil berjalan keluar dari gedung bioskop. Mereka sama sekali tidak tampak seperti mahasiswa dan dosen.
Melihat Lira yang masih berpakaian formal sementara Dio memakai pakaian casual membuat mereka tampak seperti kakak adik, tapi jika Lira memakai pakaian casual mungkin mereka baru mirip seperti sepasang kekasih.
" Kencan selanjutnya apa lagi? bagaimana kalau kita makan." Ujar Lira bersemangat.
__ADS_1
Dio mengangguk tersenyum sambil melirik Lira, sekilas wanita ini seperti mengidap penyakit bipolar disorder, sejenis kepribadian ganda, tadi saja dia bicara ketus, masih menjaga gengsinya sebagai dosen, sekarang malah dia yang sangat bersemangat untuk membuat list kencannya.
Lira dan Dio memilih sebuah cafe ala ala korea yang menyajikan berbagai menu korean food, masih di area pusat perbelanjaan. Mereka memilih bangku agak kedalam, sambil duduk berhadapan, mereka menunggu makanan pesanan dihidangkan. Tiba- tiba wajah Lira mendadak pucat pasi.
Dengan sigap Lira langsung menutupkan buku menu ke wajahnya.
" Ada apa buk?" Dio tampak keheranan melihat tingkah Lira.
" Jangan menoleh ke belakang, ada Syifa dan teman- temannya disana." Lira berbisik pada Dio.
Keringat dingin mulai mengalir dari pelipisnya, bagaimana tidak, Syifa dan geng nya itu adalah lambeh turah nya kampus, yang hobi menggosip. Apa jadinya ketika mereka tau dosennya yang sangat menjaga wibawa itu sedang kencan bersama teman kampus mereka.
Lira langsung turun dari kursinya dan bersembunyi di bawah meja. Sungguh apes hidupnya hari ini, bisa- bisanya ia menyetujui untuk berkencan dengan Dio, hasilnya jadi seperti ini. Lira tidak bisa membayangkan tatapan mahasiswanya ketika tau ia sedang makan bersama Dio.
Lira memejamkan matanya, jantungnya berdegup kencang, tiba- tiba wajah Dio muncul dari balik meja.
" Keluarlah buk, mereka sudah pergi." Ucap Dio.
Lira menyembulkan kepalanya sedikit, melihat sekeliling dan memastikan bahwa Syifa dan teman- temannya sudah pergi.
"Hufffhhh." Lira kembali duduk dikursinya. Wajahnya memerah menahan malu dihadapan Dio. Mereka menghabiskan makan dalam diam. Setelah makan Dio mengantar Lira pulang.
" Terimakasih buk untuk hari ini." Ucap Dio tulus.
"Terimakasih juga." Lira turun dari motor Dio.
" Kejadian hari ini cukup kita berdua yang tahu dan satu lagi ini adalah kencan pertama dan yang terakhir." Lira berkata sambil mengembalikan helm Dio.
" Jika ibuk perlu sandaran ketika lelah, saya akan selalu siap untuk ibuk kapanpun dan dimanapun." Dio tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Whoaaa melelehhh...
Kemudian Dio menghidupkan mesin motornya dan berlalu dari pandangan.