
****AZKA****
5 tahun telah berlalu sejak aku memutuskan untuk pergi, meraih mimpiku dan meninggalkan kota kesayanganku. Dan tentu saja meninggalkan Liraku juga. Sempat berfikir untuk menemuinya sebelum aku pergi, sekedar mengucapkan salam perpisahan waktu itu.
Namun aku takut, aku tidak sanggup menatap mata bulatnya, ditambah lagi Lira sudah menjauhiku. Bertahun- tahun aku menunggunya, menunggu untuk mendengarkan perasaannya seperti apa padaku, tapi sepertinya itu hanya sia- sia saja, Lira tidak pernah menganggapku ada, selamanya ia akan menganggapku hanya sebagai sahabatnya.
Akhirnya aku putuskan untuk tidak menemuinya disaat terakhir kami bersama, sempat tergoda untuk mendatanginya ketika melihat ia asyik berfoto di acara wisuda kami, namun karena aku dan abangku dikejar penerbangan keberangkatan kami waktu itu, akhirnya aku hanya berlalu.
Maafkan aku, aku menyerah, Ron sahabatku bilang aku terlalu pengecut, yah memang aku pengecut, aku terlalu mudah menyerah, atau mungkin sebenarnya aku sudah lelah. Aku malu untuk terus- terusan mengejarmu yang tak pernah bergeming Lira.
5 tahun benar- benar tidak pernah melihatmu lagi, terkadang ada rasa rindu di bilik hati yang terdalam tapi cepat- cepat ku tepis. Aku mencoba melupakanmu, benar aku sudah mencobanya.
4 bulan terakhir, aku sudah bertunangan dengan adik sepupu dari kakak iparku, Citra orang yang baik, aku berjanji akan mencoba memulai dengannya, meski diawal aku sudah berterus terang padanya bahwa perasaan cintaku sama sekali belum ada. Tapi aku akan berusaha memulai bersamanya.
Namun tiba- tiba saja Liraku datang lagi, hatiku bergetar hebat melihatnya untuk pertama kali setelah 5 tahun berlalu. Lira masih tetap sama, tetap manis seperti dulu. Rasa itu, entah dari mana bergejolak sangat hebat. Aku merindukannya, benar- benar merindukannya.
...
" Ka, Azka , kamu gak kerja hari ini?" Ibu membangunkanku sambil membuka gorden jendela kamar.
"Lagi free buk." Jawabku malas sambil membuka selimut.
" Kalau gitu bantuin ibuk beres- beres di gudang hari ini. Sebentar lagi kamu mau nikah jadi barang- barang yang gak kepake disusun aja digudang." Ucap ibu sambil berlalu dari kamar.
Aku mengikuti ibu berjalan ke gudang, mengangkat beberapa kardus yang berisi buku- buku tua dan ku susun di pojok gudang, ketika mencoba menyusun beberapa buku dan album yang tercecer, aku menemukan sebuah buku yang dibungkus dengan kertas kado, sepertinya belum pernah di buka, dilihat dari bentuknya, sampul kertas kadonya masih rapi walaupun sudah banyak debu dan sedikit usang.
Aku membuka kertas kado yang membungkus buku itu, kulihat didalamnya terdapat sebuah buku berwarna pink dengan judul La Tahzan. Aku masih ingat betul buku ini adalah buku yang aku hadiahkan sebagai kado ulang tahun untuk Lira waktu kami masih duduk dibangku SMA.
Tapi mengapa buku ini ada disini, kubuka buku itu halaman demi halaman, ada sebuah kertas terlipat rapi ditengah halamannya. Perlahan ku buka kertas itu.
Degg...
*To Ariza Dwi Azka Adyatma,
Hai sahabatku,
Aku sengaja menulis ini, karena aku berharap suatu hari nanti kamu bisa membacanya.
Sebenarnya aku bingung harus memulainya dari mana. Kau tau, aku memikirkan bagaimana caranya untuk berbicara padamu, aku memikirkannya berhari- hari, akhirnya kuputuskan akan menemuimu setelah acara wisuda. Aku mencarimu setelah acara selesai, tapi aku tidak menemukanmu, aku terus mencari sampai kakiku lecet. Kau tau?? Aku menangis, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu, mengapa begitu susah. Yah, aku ingin mengakuinya, aku menyukaimu, aku mencintaimu. Entah sejak kapan, aku tidak tahu.
__ADS_1
Maafkan aku karena terlalu lama meyakinkan diriku sendiri bahwa rasa persahabatan ini telah berubah menjadi cinta.
Lira Khasanah Putri*.
Liraku, Lira menulis ini untukku?? aku tidak percaya, kubaca berkali- kali surat itu, mataku berembun menahan haru. Aku segera mengambil kertas kado pembungkus buku tersebut dan berlari keluar mencari ibu. Kulihat ibu sedang menyusun pernak- pernik yang sudah rongsok kedalam kardus.
" Buk, ibuk ingat apakah ada orang yang memberikan ini dulu ?" Aku menampakkan buku dan kertas kado tersebut kepada Ibuku. Agak lama ibuku mencoba mengingatnya, kemudian ia menepuk jidadnya sendiri.
" Ya ampun iyaaa, ini dari Lira. Itu loh sahabat kamu pas kuliah dulu. Ibuk lupa, astaghfirullah."
Aku terlemas, ternyata Lira mencintaiku, ia mencariku waktu kami wisuda. Bodoh sekali.
" Waktu itu Lira datang kerumah, dia tidak tahu kalau kamu sudah pergi. Dia menitipkan ini pada ibuk. Ibuk lupa ngasih kekamu Ka. Ya ampunn, maaf ya Ka." Lanjut ibu sambil menepuk pundakku.
Aku hanya mengangguk lemas sambil terus memegang kertas dari Lira itu. Dengan gontai aku berjalan ke kamar, mengunci pintu dan berbaring sambil memejamkan mata.
Jadi selama ini Lira juga menyukaiku, aku bodoh terlalu cepat mengambil keputusan untuk menyerah. Bahkan aku telah membuatnya menangis, seharusnya aku menemuinya waktu kami wisuda dulu.
Aaaagrrrhhhh...
Aku menjambak rambutku frustasi, aku pikir hanya aku yang sakit, ternyata Lira jauh lebih sakit. Dan dia tau aku sebentar lagi akan menikahi sahabatnya. Aku benar- benar jahat.
Aku meraih ponselku dan menekan kontak Citra disana. Tak lama telpon tersambung.
Azka : "Waalaikumsalam."
Citra : " Ada apa kak?"
Azka: " Cit, bisa tolong kirimkan nomor Lira."
Citra : " Mbak Lira?"
Azka : " Iya Lira."
Citra : " Ada apa kak sama mbak Lira?"
Azka: "Ada perlu sedikit."
Citra: " Oh iya, nanti Citra kirim nomornya."
__ADS_1
Azka : "Makasih Cit, assalamualaikum."
Citra: " Waalaikumsalam."
Kemudian panggilan terputus, tak lama Citra mengirimkan pesan berisi nomor ponsel Lira. Aku langsung menghubungi nomor tersebut. Beberapa kali aku mencoba menghubunginya, nomornya aktif tapi tidak pernah diangkat.
...
Hari minggu merupakan hari dimana saatnya Lira beres- beres setelah seminggu berkutat dengan pekerjaannya dikampus, mulai dari mencuci pakaian, menjemurnya, menyapu, sampai mengelap kaca kamar kosannya sendiri.
Peluhnya mengalir, setelah menjemur pakaian dan mengobrol sebentar dengan tentangga kosannya, Lira masuk ke kamar, ia mengambil ponselnya. Betapa terkejutnya ia melihat 15 panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal.
Lira langsung menelpon balik nomor tersebut, pikirannya kemana- mana, ia takut itu telpon dari kampung halamannya, mengabarkan suatu berita yang tidak baik. Maklumlah hidup diperantauan, jauh dari sanak saudara membuat Lira selalu memikirkan keadaan keluarga disana.
Telpon tersambung, terdengar suara seorang pria diujung sana.
" Assalamualaikum." Suara Azka terdengar serak dan berat.
" Waalaikumsalam, maaf dengan siapa saya bicara?" Tanya Lira sopan.
" Ra, ini aku Azka."
Degg...
Degg...
Degg...
Jantung Lira rasanya seperti ingin berhenti berdetak, setelah 5 tahun tidak mendengar suara itu, sekarang tiba- tiba ia terdengar kembali. Sempat terdiam sejenak, kemudian Lira bisa menguasai diri.
" Ada perlu apa?" Tanya Lira dingin.
" Bisa kita bertemu? ada yang ingin aku bicarakan Ra." Azka sedikit memohon.
" Bicara apa Ka, tiba- tiba ingin bertemu?bukankah selama ini kamu tidak pernah berusaha untuk menemuiku apalagi sampai bicara padaku?" Ucapan Lira langsung menyudutkan Azka membuat pria itu diam seribu bahasa.
" Tidak ada yang perlu dibicarakan Ka, kalaupun mau bertemu, ajaklah Citra calon istrimu. Aku tidak ingin ada pertemuan dibelakang Citra." Ucap Lira datar.
Kemudian Lira memutus telponnya secara sepihak. Air matanya mengalir lagi. Setelah sekian lama, mengapa baru sekarang Azka. Mengapa?
__ADS_1
Bersambung
mohon teman teman yang udah baca sumbangkan like dan komentar kalian yaaa