
"Ya ampun Ka, mau beli facial foam aja pake acara ngajakin aku, sendiri juga bisa." Dengus Lira ketika tau yang dibeli Azka cuma beberapa barang kebersihan diri.
" Sekalian jalan- jalan Ra, nanti kita pulang nya agak malam aja, kamu belum pernah kan lihat suasana malam disini." Azka sambil tertawa kecil.
Lira hanya diam, tidak menolak namun juga tidak mengiyakan, sebenarnya ia sangat ingin melihat suasana malam di kota besar seperti ini, tapi gengsinya terlalu tinggi untuk mengatakannya kepada Azka.
Akhirnya mereka berjalan kaki mengarah ke sebuah taman, tidak terlalu besar, namun banyak bangku bangku besi berjejer disetiap sudutnya. Ditengah taman berdiri sebuah monumen perjuangan, menampakkan sebuah patung pahlawan yang sedang memegang bambu runcing.
Lira memandang gerobak yang berjualan jajanan kaki lima di sudut taman, didepan gerobak tertempel tulisan Empek- Empek Panggang.
" Sebentar, aku kesana dulu." Lira berdiri dari duduknya, ketika ia ingin melangkah mengarah ke gerobak itu, tangan Azka menahannya.
" Biar aku saja." Kata Azka.
" Memangnya kamu tau aku mau apa?" Lira mendesis.
Azka berdiri dari duduknya kemudian pergi mendekati gerobak empek empek panggang, Lira tersenyum dari jauh. Tak lama cowok itu sudah membawa bungkusan di tangan kanannya, tentunya berisi empek- empek panggang makanan favorit Lira.
"Kamsa hamida oppa Hyun bin" Goda Lira sambil mengambil bungkusan dari tangan Azka.
...
Benar saja, suasana malam hari ternyata sangat indah disini. Beberapa lampu hias tampak berkedap- kedip mengelilingi taman sehingga membuat Lira berdecak kagum dibuatnya.
" Apa rencana kamu setelah lulus Ra? " Azka membuka obrolan.
" Entahlah, mungkin cari kerja dulu." Jawab Lira asal.
" Kalau kamu gimana ?"
" Aku, rencananya akan ikut abangku. Mau coba peruntungan jadi perwira PK di TNI AU." Kata Azka. Abang Azka yang tertua adalah seorang perwira TNI Angkatan Udara dan sekarang menetap di ibu kota.
" Ohh,, khusus bagian kesehatannya ya?" Tanya Lira diikuti anggukan kecil oleh Azka.
Azka melirik Lira sesekali, gadis manisnya sedang asyik memandang lampu hias yang bergantung ditaman.
" Ra, masih ingat apa yang pernah aku katakan dulu waktu di kedai sea food ?" Azka bertanya hati- hati.
Lira menoleh sebentar ke asal suara, tampak terkejut namun segera ia tutupi dengan sempurna.
Degg...
Ya ampun, ngapain bahas ini lagi sih Ka.
"Aku tau kamu masih ingat, waktu itu aku belum sempat bertanya ke kamu, bagaimana perasaan kamu ke aku Ra." Azka memandang Lira yang sudah tak nyaman dengan kondisi tersebut.
Azka, pleasee...
Jangan bahas itu dulu, aku belum siap
__ADS_1
Aku terlalu malu untuk mengakuinya
Mengapa sulit sekali mengaku cinta padahal ia terasa
Mengapa terlalu berat ungkapkan suka padahal ia ada
Ayoolah, mengapa aku seperti ini
Lira gelagapan, jantungnya sudah memompa dengan kecepatan maksimal. Ia sama sekali tidak memiliki nyali untuk mengakui perasaannya sendiri, entah itu gengsi, entah itu malu, Lira tidak tahu.
" Ka, kita pulang yuk, sudah malam." Alih- alih mengakui perasaannya, Lira malah mengajak Azka pulang.
Azka menghembuskan nafasnya, ia tahu Lira tidak ingin membahas ini. Tapi ia perlu pengakuan dari gadis itu, ia tidak punya indra keenam yang bisa menerka apa isi pikiran gadis yang ada disebelahnya. Terkadang Lira tampak seolah- olah menyukainya, terkadang bersikap dingin. Azka hanya ingin memastikan apakah ada rasa yang sama seperti yang ia rasakan terhadap Lira.
Akhirnya Azka mengiyakan ajakan Lira untuk pulang, sepanjang perjalanan mereka saling diam, tidak ada yang ingin memulai percakapan.
Mereka berjalan berdampingan, sesekali kedua punggung tangan mereka tak sengaja saling bergesekan. Azka melirik tangan Lira yang tergontai disisi tubuhnya.
Aku ingin menggandeng tangan itu
Apakah boleh?
Tidak, tidak, pasti ia tidak menyukainya
Dia akan menjauhiku seperti kemarin- kemarin
Tapi...
Mereka berjalan diatas trotoar, tampak bangunan Rumah Sakit sudah hampir dekat. Dengan serpihan keberanian yang ia punya, Azka menautkan satu buku jari dari kelingkingnya ke kelingking Lira. Perlu dicatat hanya menggandeng kelingking, bukan tangan hahaaahaaa.
Deggg....
Walaupun itu hanya kelingking yang saling bertautan, tapi sudah cukup membuat sesuatu seperti bergejolak di dada Lira, menjalar cepat ke seluruh tubuh sampai ke ubun- ubun. Tiba- tiba wajahnya pias menahan panas yang entah berasal dari mana..
Ya ampuunn
Ada apa denganku, mengapa jantungku seperti ingin melompat..
Please jantungku, mari kita bekerja sama
Azka tersenyum samar ketika melihat Lira yang merespon baik tautan kelingkingnya, gadis itu tidak melepaskannya. Cukup lama mereka seperti itu, menikmatinya dalam diam. Tanpa terasa mereka sudah berjalan di area Rumah Sakit menuju Mess dimana mereka tinggal.
Dari jauh beberapa mahasiswa sedang berkumpul sambil bersenda gurau, cepat- cepat Lira melepaskan jari kelingkingnya dari Azka.
"Ka, aku jalan duluan ya." Lira mempercepat langkahnya menjauhi Azka.
" Makasih Ra." Kata Azka diikuti anggukan kecil dari Lira.
Tak lama gadis itu sudah berbelok masuk ke dalam Mess wanita. Belum sempat Lira membuka pintu Mess, suara nyaring dari seseorang menghentikannya.
__ADS_1
" Dasar munafik !" Ketus Azzel.
Lira menoleh ke kiri dan ke kanan, tidak ada siapa- siapa.
" Kamu ngomongin aku ?" Tanya Lira memastikan bahwa Azzel sedang berbicara padanya.
" Sok- sok gak mau pacaran, tapi kelakuannya melebihi dari orang yang pacaran !" Azzel menatap tajam ke arah Lira dan sama sekali tidak mengubris pertanyaan Lira barusan kepadanya.
Sesaat Lira sedikit bingung dengan tingkah Azzel, kemudian seperti tersadar ia langsung memahami bahwa Azzel sedang berbicara padanya.
" Maksud kamu ?" Lira memandang Azzel secara intens.
" Kamu memang gak punya perasaan Ra, kamu udah tau kalau aku suka ke Azka, bahkan kami sempat jadian. Tapi tega- teganya kamu nikung dari belakang." Suara Azzel bergetar.
" Kami cuma temenan kok Zel." Lira berkilah.
" Cihh,, teman tapi mesra, mana ada teman yang berjalan sambil gandengan tangan." Azzel hampir memekik.
Bukan gandengan tangan Zel, tapi gandengan kelingking.
Lira terdiam. Ia ingin menyudahi perdebatannya dengan Azzel, ia menghembuskan nafas dalam dan meraih gagang pintu, belum sempat ia menarik hendle pintu, sesuatu yang sangat menyakitkan keluar dari mulut Azzel.
" Aku baru tau kalau kamu punya bakat jadi pelakor, sekarang aja udah berani nikung teman sendiri, besok- besok bisa ngambil laki orang." Ketus Azzel tanpa perasaan.
Sabar Lira, sabar.
Ingin sekali Lira mencabik mulut Azzel saat ini juga, tapi kewarasan agaknya masih menguasainy. Ia sama sekali tidak mengubris cacian Azzel, dengan sisa kesabarannya ia berlalu meninggalkan Azzel yang masih berdiri disamping pintu.
Dadanya terasa sesak, ingin sekali ia menjerit sekuatnya, Azzel benar- benar tidak rela cowok yang sudah bertahun- tahun ia sukai, tiba- tiba ia lihat sedang menggandeng seorang wanita, dan wanita itu adalah Lira.
*Flash Back
Suasana malam terasa cerah sekali hari ini. Setelah menyelesaikan laporan kasusnya, Azzel menggeliat. Tiba- tiba perutnya berbunyi, gadis itu baru ingat kalau jatah makan sorenya tadi sengaja tidak diambilnya.
Azzel bosan dengan menu omprengan mereka hari itu, ia mengajak teman- teman geng nya untuk makan bakso kaki lima yang ada di depan Rumah Sakit.
Setelah puas makan bakso sambil bersenda gurau, mereka berniat untuk pulang ke Mess, tapi baru saja mau berdiri dari duduknya, tiba tiba Azzel dikagetkan dengan pemandangan yang menyakitkan hati. Azka sedang berjalan bersama seorang perempuan.
" Itukan Lira." Kata salah satu anggota geng Azzel.
" Biasa aja, Azka dan Lira kan emang sahabatan dari dulu." Kata anggota geng yang satu nya lagi.
" Tapi kok mereka gandengan ??"
Azzel melihat Azka tersenyum sambil mencuri pandang ke arah Lira, dan tangan mereka bergandengan????
Ini sangat menyakitkan, wajah Azzel memanas, ia sudah ingin menangis. Azka bersikap dingin padanya, tapi begitu hangat ke Lira. Bahkan dengan tanpa perasaan Azka berusaha memutuskan hubungan mereka tepat di hari kedua setelah mereka jadian*.
Bersambung
__ADS_1
Mohon sedekah like dan komentarnya ya dears