
Siang itu sangat terik, Lira dan Yunia memutuskan untuk duduk di bawah pohon kedondong yang sudah sepuh, Pohonnya tinggi menjulang, mempunyai akar yang merambat kesegala arah, sehingga tak jarang membuat mahasiswa jatuh tersandung disana.
Entah sudah berapa lama pohon itu berdiri tegak menyebarkan ranting dan daunnya yang rimbun, terkadang tampak seperti siluet yang mengerikan, mungkin sebelum Lira muncul di dunia, pohon itu sudah ada.
Jika tiba musim berbuah, mahasiswa yang bosan dengan aktivitas mereka, sibuk melempari buahnya, menjepitnya di pintu lalu makan seperti monyet rakus hahaaaa.
Yunia sibuk membolak balik kertas yang dipegangnya,membaca dan sesekali mengangguk angguk sendiri. Ujian semester kurang dari seminggu lagi, semua mahasiswa sibuk masing masing, karena setelah ujian semester tidak ada istilah libur bagi mahasiswa keperawatan, mereka akan menjalani praktek magang di Rumah Sakit, the real bertemu dengan pasien, merawat mereka dan melaksanakan asuhan keperawatan sendiri.
Biasanya seminggu sebelum ujian, lira membuat daftar materi yang harus ia hapal dan pelajari, mencatatnya di buku kecil sejenis buku nota dan mencentangnya jika materi tersebut telah selesai ia pahami.
Begitulah lira, disetiap semester ia tidak boleh berleha- leha, ia harus mendapatkan beasiswa yang diperuntukkan untuk mahasiswa yang masuk 40 besar.
Beasiswa yang berupa pemotongan uang semester sebesar 50%. Dan Alhamdulillah Lira dan Yunia selalu beriringan menempati posisi atas di daftar mahasiswa.
Mata kuliah selanjutnya dimulai jam 3 sore, masih ada waktu 2 jam lagi, teman-teman yang lain sudah banyak yang meninggalkan kampus, ada yang pulang kerumah, nongkrong di kosan, atau bala bala entah kemana, Lira dan Yunia tidak punya motor seperti yang lain, akhirnya mereka berdua pun tidur-tiduran di dalam mushola kampus.
Terkadang jika sudah bosan mereka pergi ke kosan Meta yang jaraknya sekitar 300 meter dari kampus, Namun semenjak Meta pacaran dengan Kakak tingkat, mereka jarang ke kosan Meta lagi. Karena sudah beberapa kali Yunia dan Lira memergoki Meta yang tengah berduaan di dalam kosan.
Sambil tidur-tiduran dipojok mushola, Lira membuka hpnya, ternyata sudah ada pesan dari Azka.
__ADS_1
" Ra, dimana?" tanya Azka.
Lira mengetik pesan balasan untuk Azka.
" lagi di mushola, ada apa Ka?" tanya Lira.
" Mau barengan pulang gak? kan masuk lagi masih lama, klo mau bareng aku tunggu di depan." jawab Azka.
" Aku tiduran di disini aja deh, ada Yunia juga."
Balas Lira sambil menguap.
Pesan Lira tidak dibalas lagi oleh Azka, ia tahu Lira jarang mau diajak boncengan, kalau nggak karena kepepet gadis itu gak punya ongkos ojek buat balik, cowok itupun segera menghidupkan mesin motornya dan melaju pergi meninggalkan kampus, sementara Lira dan Yunia tertidur di mushola.
...
Akhirnya Ujian Semesterpun tiba
Ada beberapa mata kuliah yang di ujiankan, membuat setiap mahasiswa terlihat seperti zombie hidup, ujian ini menentukan mereka bisa lanjut atau tidak untuk melaksanakan praktek magang di Rumah Sakit, sehingga jika ada satu saja mata kuliah yang tidak lulus, sudah cukup membuat mahasiswa frustasi.
__ADS_1
Disaat musim ujian seperti ini, koridor koridor penuh dengan mahasiswa, dibawah pohon-pohon mereka asyik dengan laptop dan buku masing- masing. Lira memilih untuk bertengger di pojokan perpustakaan, selain tempat nya nyaman, juga agak lebih jauh dari kebisingan.
Azka yang melihat Lira duduk sendirian di pojok perpus, langsung menghampiri gadis itu.
Azka mengambil posisi duduk disamping Lira, sesekali melirik gadis itu yang tengah asyik dengan bukunya.
Tiba tiba Lira nyeletuk.
" Ada duit gak Ka?" tanya Lira sambil menutup bukunya.
" Berapa?" jawab Azka.
" 20 ribu aja, buat bayar fotokopian tadi ke om budi, insyaAllah pas bapak pulang dari kebun aku bayar" balas Lira.
Azka mengambil uang lembaran Dua puluh ribu dari dompetnya dan memberikannya ke Lira.
" Gak usah dibalikin, aku baru dapat transferan dari kakakku." ujar Azka sambil tersenyum.
" Jangan gitu, utang ya tetap utang, besok pas dikasih bapak,aku balikin ya." Kata Lira.
__ADS_1
Lira memang gak pernah malu kalau di depan Azka, semua tentang kehidupan Lira hampir diketahui oleh Azka.