Ketika Senja Berlalu

Ketika Senja Berlalu
Menggugurkan sendiri...


__ADS_3

Anna mondar- mandir di dalam kamar kost nya, ia tidak tau harus berbuat apa, sambil memegang test peck yang menunjukkan garis dua disana, ia mulai menangis sesegukan, memukul- mukul badannya sendiri, menjambak rambutnya. Ia sudah kehilangan kendali, ia sangat depresi ketika mengetahui bahwa ia tengah berbadan dua, dan bodohnya ia sampai tidak menyadari bahwa kehamilannya sudah mencapai usia 15 minggu, bagaimana ini.


Ia sudah menemui pacarnya, namun apa yang ia dapat, ia hanya mendapatkan hinaan bertubi- tubi, bahkan pacarnya tidak mau mengakui bahwa itu adalah anaknya. Anna makin frustasi, disaat seperti ini, ia sangat menyesal karena telah bergaul bebas tanpa batas. Syetan telah membisikinya untuk segera melenyapkan janin yang tengah tumbuh dalam rahimnya itu.


Ia menelpon seseorang, membuat perjanjian dengan orang tersebut. Entah siapa itu. Ternyata ia bermaksud membeli sejenis obat penggugur kandungan dalam dosis tinggi.


...


Alin mencegat Lira ketika gadis itu melangkah keluar dari kampus.


" Ada apa Lin?"


" Kamu tidak penasaran dengan apa yang aku bicarakan tadi?" Bisik Alin.


" Anna?" Lira mengeryitkan dahinya.


Alin mengangguk antusias sambil tetap menahan tangan Lira.


" Bagaimanapun, ia adalah teman kita, masih sekampung denganku dan tetangga kostku Ra." Alin menunduk sedih.


" Tapi kan belum ada bukti akurat Lin, siapa tau dia memang sakit." Lira berusaha menampik.


" Tapi perutnya membesar loh Ra, walaupun ia tutupi, tapi aku yakin ada yang aneh."


" Mungkin saja itu kista?" Lira tampak berfikir.


" Aku harus menyelidikinya." Ucap Alin.


...


Azzel baru sampai dirumahnya, ketika ponselnya berbunyi, ia lihat ternyata panggilan dari Anna. Dari beberapa anggota geng mereka, hanya Azzel yang tahu perihal kehamilan Anna. Cepat- cepat gadis itu mengangkat telpon dari sahabatnya.


" Ada apa Na ?"


"Aku sudah mantap Zel, malam ini aku akan menggugurkan nya!" Ucap Anna serius dari balik telpon.

__ADS_1


Azzel terperanjat, tiba- tiba badannya kaku, keringat keluar dari pelipisnya, mulutnya berubah kelu.


" Kamu serius Na?" Ucapnya kemudian.


"Ya, kamu ke kosan aku ya, nginap disini." Pinta Anna kemudian.


Azzel tampak ragu, bagaimanapun ini bukanlah tindakan yang benar, aborsi adalah tindakan kriminal, suatu tindakan yang diluar batas kemanusiaan, mereka bisa dikenakan pasal mengenai aborsi, dituntut dan dijebloskan ke penjara, Azzel bergidik ngeri memikirkannya.


" Jangan coba melakukan apa- apa Na sampai aku kesana, tunggu !" Titah Azzel.


Kemudian Azzel masuk kerumahnya, membersihkan diri dengan cepat dan berganti pakaian, ia mengenakan jeans biru dengan atasan kaos hitam, serta jaket, rambutnya ia kuncir tinggi. Setelah siap, ia berpamitan pada mamanya untuk menginap di kosan Anna, mau bikin tugas. Ia sengaja berbohong pada mamanya.


Sementara itu, Alin berusaha membujuk Lira untuk menginap di kosannya, dengan dalih mau curhat dan membahas masalah Anna.


" Untungnya apa buat kita Lin? Gak usah ngepoin masalah pribadi orang, mending kita mikirin proposal karya tulis kita." Ucap Lira santai.


" Ya ampun Ra, bukannya gitu. Refreshing dikit napa, yah?? lagian besok kan minggu, libur juga." Alin sambil mengedip- ngedipkan matanya dibuat seimut mungkin. Lira menghembuskan nafasnya. Sambil tersenyum, ia mengangguk ke arah Alin.


" Nah gitu dooong." Alin menepuk bahu Lira.


...


Azzel tiba di kosan Anna, kosan itu terkunci rapat. Ia berusaha mengetuk pintu sambil memanggil nama Anna, yang keluar malah si Alin, tentu saja dari dalam kosannya sendiri, kosan mereka terdiri dari beberapa pintu, Anna dan Alin menempati kamar yang letaknya persis bersebelahan.


Sebenarnya Anna dan Alin berasal dari daerah yang sama dan merantau untuk kuliah di kota kecil ini, namun karena perbedaan gaya hidup, membuat mereka tidak akrab satu sama lain, Anna yang tergabung dalam geng selebritis kampus sedangkan Alin yang biasa- biasa saja bahkan terkesan sedikit aneh dengan penampilannya menambah jarak diantara keduanya.


" Cari Anna?" Tanya Alin ketus.


Azzel mengangguk. "Dimana Anna?"


" Tadi barusan pergi." Jawab Alin sambil masuk lagi kedalam kamarnya.


Azzel merogoh tas kecilnya, mengambil ponsel dan mencari kontak Anna didalamnya.


" Hallo." Terdengar suara Anna dari seberang telpon.

__ADS_1


" Hallo, kamu dimana Na ?"


" Aku keluar, bentar lagi balik Zel. Tunggu ya."


" Iya, hati- hati ya." Azzel menutup telponnya. Ia kemudian duduk di bangku yang ada di teras kosan.


Ternyata Anna keluar untuk mengambil pesanan obatnya tadi, dengan ragu- ragu dicampur rasa khawatir, ia memasukkan obat tersebut kedalam tasnya. Kemudian berlalu pulang.


Lira telah sampai di kosan Alin, setelah membayar ongkos ojek, ia melangkah masuk ke halaman kosan, tak sengaja ia melihat Azzel sedang duduk di teras, mata keduanya bertemu. Lira tersenyum, namun senyumnya tidak dibalas sama sekali, Azzel menatapnya dingin, ada raut kebencian disana.


Entah mengapa sejak diputuskan Azka, Azzel berubah menjadi dingin kepada Lira. Sampai sekarang Azzel meyakini bahwa Lira lah penyebab Azka memutuskannya, Lira lah gadis yang disukai Azka. Kalau seandainya belum ada gadis yang mengisi hati seorang Azka, mungkin Azka akan berusaha untuk menyukai Azzel dan tidak memutuskannya secepat itu.


Azzel membuang muka seolah-olah tidak melihat siapa- siapa disana, membuat Lira menelan salivanya sendiri, Lira cepat- cepat masuk kedalam kamar kosan Alin yang memang sudah terbuka sedikit. Sudut mata Azzel mengekori punggung Lira yang sudah masuk kedalam, apa sih yang disukai Azka dari sosok Lira, penampilannya biasa- biasa saja, gak ada modisnya sama sekali, jauh cantikan aku kemana- mana, benak Azzel.


Azzel berdiri ketika ia melihat sosok Anna dengan motor maticnya mengarah ke parkiran kosan.


" Kamu dari mana aja dih Na?" Tanya Azzel.


" Gak ada, beli makanan aja." Jawab Anna berbohong sambil menampakkan bungkusan plastik berisi makanan yang sengaja ia beli tadi di minimarket. Keduanya langsung masuk kedalam kosan Anna.


Ketika sampai didalam, Anna langsung memeluk Azzel, sambil menangis, ia menumpahkan segala isi hatinya kepada sahabatnya itu. Azzel menepuk bahu Anna pelan, berusaha menenangkannya. Namun kemudian Anna melepaskan pelukannya dan berjalan kearah meja rias, mengambil bungkusan kecil yang ada disana, lalu membukanyanya dan menelan isinya yang berupa butiran pil, mirip seperti pil kb. Azzel dengan cepat berusaha menggapai tangan Anna, namun terlambat, obat itu sudah terlanjur masuk kedalam lambung Anna.


" Obat apa tadi Na?" Azzel tampak sangat cemas, wajahnya sedikit pucat, antara takut dan khawatir bercampur jadi satu.


Anna menggeleng perlahan, kemudian ia berbaring dikasurnya, memejamkan matanya, tampak jelas disana ada tangis yang tertahan, mulutnya bergumam tak jelas, satu kata yang bisa ditangkap oleh Azzel, Anna menyebutkan kata menyesal. Azzel sangat prihatin melihat kondisi sahabatnya, tak terasa cairan bening ikut keluar dari sudut matanya.


Satu jam telah berlalu, Azzel masih setia menunggu Anna, duduk disamping sahabatnya sambil sesekali mengelus punggung Anna, namun kemudian Anna mengerang kesakitan, ia memegang perutnya, persis seperti wanita yang tengah kram saat datang bulan.


Agggrrhhhhhh... Tolooong..


Teriaknya menahan sakit, wajahnya pucat, keringat dingin mengucur deras dari setiap pori- pori ditubuhnya. Azzel panik melihat sahabatnya, ia sama sekali tidak tau harus berbuat apa.


" Bantu aku kekamar mandi Zel." Lirih Anna dengan sisa- sisa tenaga yang ia miliki. Kemudian Azzel memapah sahabatnya itu ke dalam kamar mandi.


" Tunggu aku diluar ya." Pinta Anna sambil mengunci kamar mandi dari dalam. Azzel sebenarnya sangat khawatir, tapi Anna sudah mengunci pintunya, ia hanya bisa berdiri cemas di depan kamar mandi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2