Ketika Senja Berlalu

Ketika Senja Berlalu
Hanya Aku Yang Tetap Sama


__ADS_3

Lira terbangun ketika suara Adzan subuh berkumandang, kepalanya sedikit pusing, karena keasyikan mengobrol bersama emak dan bapak, mereka tidak menyadari kalau waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam.


Setelah sholat subuh, Lira segera kedapur membantu emak menyiapkan sarapan. Emak sedang mengulek cabe ketika Lira muncul di dapur. Lira segera mengambil posisi duduk dikursi sambil mengupas bawang.


"Rika, anaknya bude sebelah mau nikah Ra bulan depan, waktu kamu kuliah dia masih SMP ehh sekarang udah mau jadi istri orang." Emak membuka obrolan sambil mengulek cabe.


" Hmmmm terus ?" Jawab Lira sekenanya.


" Loh kok terus? yang kamunya kapan, itu teman- teman kamu udah pada nikah semua." Emak mengoceh.


"Yah, mau gimana lagi jodohnya belum sampai mak." Lira cengengesan.


"Jodoh itu dijemput Ra, jangan ditunggu. Kalau begini terus bisa- bisa jadi perawan tua kamu nya." Sindir emak.


"Astaghfirullah mak, kok ngomong gitu." Lira membelalakkan matanya.


Emak hanya diam saja, dari raut wajahnya bisa dilihat besar sekali harapannya untuk melihat putri tertuanya menjadi seorang pengantin.


Setelah itu tidak ada percakapan lagi antara ibu dan anak tersebut sampai mereka menyelesaikan pekerjaan mereka membuat sarapan.


LIRA


Perawan tua.


Perawan tua.


Perawan tua???????????


Aaaaarrgghhhhh...


Yang benar saja, umurku baru 27 tahun, belum bisa dikategorikan sebagai perawan tua. Aku menghempaskan tubuhku diatas kasur. Mood ku tiba- tiba saja menguap setelah percakapan bersama emak di dapur tadi.


Drrrt..drtttt


Ponselku bergetar, kulihat ada panggilan Alin tertera dilayar. Aku mengangkatnya.


" Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Ra.. Jadi pulang kan?" Tanya Alin.


" Jadi Lin, aku nyampe tadi malam. Rencana besok mau kesana. Hari ini istirahat dulu." Ucapku di telpon.


" Alhamdulillah, siaaap aku tunggu yaa, oh iya ada salam dari calon suamiku." Goda Alin.


" Hahaaaaa, siapa sih calon suamimu ?"


" Siap- siap aja jantungan pas lihat calonku nanti wkkkkk. Ya udah, istirahat gih, besok aku tunggu dirumah. Assalamualaikum." Alin memutuskan telponnya.


" Waalaikumsalam." Jawabku pelan karena aku tahu sambungan telpon telah terputus.


Aku masih berbaring dikasur dengan wajah menghadap ke langit- langit kamar, Aku memikirkan perkataan Alin tadi, siap- siap jantungan melihat calon suaminya? emang siapa sih calon suami Alin, kalau aku jantungan berarti orang itu pasti adalah orang yang aku kenal, tapi siapa??

__ADS_1


Lama aku berfikir, tapi tidak bisa menjawab rasa penasaranku, pasalnya tidak ada list pria yang pernah dekat dengan Alin setauku. Baiklah, tunggu saja sampai besok, aku juga bakalan tahu, benakku.


Kemudian aku bangkit untuk membersihkan diri, rencananya hari ini aku mau keluar sebentar mengajak adikku dan adik sepupuku berendam di kolam air panas yang ada dikotaku. Berhubung emak dan bapak tidak mau diajak, akhirnya kami pergi berempat dengan mengendarai dua motor.


Perjalanan kesana hanya memakan waktu 10 menitan, setelah memarkirkan motor kami membeli tiket untuk bisa masuk kedalam, disana tersedia beberapa kolam air panas khusus anak dan dewasa. Aku dan adik adikku berjalan menuju ke kolam dewasa. Baru beberapa langkah, aku memicingkan mataku, aku menangkap sosok yang tidak asing.


"Azzel..."


Aku berdiri mematung, tak lama sosok Azzel mendekatiku. Ada yang lain dari Azzel, tubuhnya tampak lebih berisi dan montok dan pandanganku berhenti di perutnya, perutnya tampak besar, Azzel hamil.


" Haii..." Sapa Azzel.


" Hai, apa kabar?" Aku tampak kikuk.


" Baik alhamdulillah, kamu?" Azzel balik bertanya.


" Baik." Jawabku.


Tak lama seorang pria mendekati Azzel.


" Dia suamiku." Ucap Azzel seolah menjawab rasa penasaranku, aku hanya mengangguk.


" Mas, aku ngobrol sama temanku dulu ya." Azzel berbicara pada suaminya, diikuti oleh anggukan oleh pria itu kemudian ia tersenyum ramah padaku, aku membalas senyumannya. Setelah suami Azzel pergi, ia mengajakku duduk di bangku tak jauh dari tempat kami berdiri saat ini.


" Kamu udah nikah Ra?" Tanya Azzel.


Aku menggeleng pelan sambil sedikit tersenyum, mengingat hubunganku yang tidak begitu baik dengan Azzel sebelumnya membuatku agak kurang nyaman duduk bersamanya.


"Sudah berapa bulan?" aku mengarahkan pandanganku ke perut Azzel.


" Oh iya, aku minta maaf Ra, dulu pernah jahat ke kamu." Azzel menggenggam tanganku, aku melihat manik matanya, tampak ketulusan disana.


" Aku juga minta maaf." Ungkapku tulus.


" Pada akhirnya kita sama- sama tidak bisa mendapatkan Azka." Lanjutku sambil tersenyum.


"Hahahaaaaaa." Kami tertawa bersama.


" Ku pikir kamu akan jadian sama Azka, dimana anak itu sekarang?" Azzel bertanya.


" Entahlah, mungkin diculik Alien, atau kesasar di luar angkasa." Jawabku Asal.


Kami kembali tertawa, hal itu sukses memangkas kekakuan diantara kami sebelumnya. Setelah berbincang- bincang sebentar, Azzel izin untuk bergabung bersama suaminya. Aku menatap punggung Azzel yang mulai menjauh.


Semuanya sudah berubah, hanya aku yang tetap sama, yah aku masih seperti ini, masih betah hidup dalam bayang- bayang masa lalu, aku menghembuskan nafas dalam kemudian berdiri dan ikut bergabung bersama adik- adikku.


...


Aku tertidur cukup lama, setelah pulang dari berendam air panas selama dua jam, aku merasa lelah sekali. Tubuhku seperti kerupuk yang mudah hancur hanya dengan sekali remasan.


Menjelang sore barulah aku terbangun, aku menguap lebar sampai rahangku sakit dan menggeliatkan tubuhku.

__ADS_1


Drrtt...drrrt...


Ponselku berbunyi, kulihat ada panggilan Citra. Aku teringat, sejak aku pulang baru satu kali aku menghubunginya, itupun dalam bentuk pesan mengabarkan bahwa aku telah sampai.


" Hallo Assalamualaikum." Sapaku.


" Waalaikumsalam, mbak Lira sombong apa kabar? semenjak pulang gak pernah nelpon aku." Suara Citra terdengar nyaring ditelingaku.


" Maaf Cit hehehehe."Aku cengengesan sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


" Kapan pulang mbak? kangen nih." Celetuk Citra manja.


" Baru aja nyampe, udah nanya kapan pulang, sesuai perjanjian kita kemarin, insyaAllah tanggal 3 mbk pulang." Jawabku.


Setelah ngobrol via telpon yang cukup lama bersama Citra, akhirnya Aku menutup telponku.


...


Keesokan harinya, aku bersiap- siap ke rumah Alin. Dengan meminjam motor adikku, aku pergi ke sana. Alin sudah menunggu di depan pintu rumahnya. Ketika melihatku memarkirkan motor dihalaman rumahnya, ia langsung berlari menghampiriku.


Kami berpelukan erat saling melepaskan rindu, setelah pelukan terlepas Alin langsung mengajakku ke kamarnya.


" Wahh, selamat ya Lin, sebentar lagi mau jadi penganten, gak nyangka aku ternyata aku dilangkahi." Godaku pada Alin.


Alin hanya tersenyum malu.


" Jadi siapa sih calon penganten prianya?" Tanyaku penasaran.


" Bentar lagi juga datang kok, tadi aku minta jemput, buat ngantarin kita ke salon. Temani aku nyalon dulu ya, kita cream bath, luluran sama facial." Celoteh Alin.


Aku mengangguk antusias, hitung- hitung sambil refreshing juga, benakku.


" Siapa tau dengan nganterin calon pengantin, nanti ketularan juga Ra." Imbuh Alin.


" Amin amin ya Allah." Teriakku lantang seolah- olah ingin pergi berperang. Kamipun akhirnya tertawa lepas.


Setelah mengganti pakaian, Alin tampak menelpon seseorang yang kemungkinan besar adalah calon suaminya, benakku.


Benar saja, tak lama tampak sebuah mobil honda jazz berwarna hitam terparkir di pinggir halaman rumah Alin.


"Itu dia calonku, yuuk kita kesana." Alin menarik lenganku keluar dari kamar.


"Taraaaaaa Jeng Jeng Jeng..." Teriak Alin.


Alin mendekatkanku pada pria itu.


Glekkk...


Aku menatap pria yang sedang berdiri didepanku, mata kami saling bertemu.


Pria itu tampak sedikit kaget dan langsung tersenyum kikuk padaku

__ADS_1


Bersambung...


Tolong likenyaaaaa tenan teman sayang


__ADS_2