
Lira mempercepat langkahnya menyusul rombongan yang lain. Meninggalkan Azka dibelakangnya.
" Itu pos pendakiannya." Teriak Alin.
Semangat mereka terkumpul kembali ketika berada di area terbuka, tampak hamparan bukit yang indah berlapis- lapis, lembah yang sangat menakjubkan serta hembusan angin yang kencang membuat lelah mereka setelah berjalan lebih dari 2 jam terbayar lunas.
" Masya Allah." Tak henti- hentinya Lira berdecak kagum.
Maha benar Allah,sungguh nyata apa yang tertera dalam surat Al- Mulk yang dibacanya hampir tiap malam sebelum tidur itu, tidak akan ditemukan sesuatu yang tidak sempurna dalam ciptaan Allah.
Sambil berdiri di undakan tanah keras berbatu, Lira membiarkan hembusan angin membelai wajah lelahnya, pemandangan yang disuguhkan tepat di depan mata, benar- benar memanjakan pikirannya.
" AKHIRNYAAAA !!!"
Seperti biasa Alin berteriak histeris. Seolah- olah ia sedang syuting film, berimprovisasi sedemikian rupa.
" HAIII... GUNUNG KABA "
" AKU SUDAH MENAKLUKKANMU !!!!
" Belum neng..."
Tiba- tiba sebuah suara menghentikan aksi Alin. Alin menoleh ke asal suara.
"Kita masih di pos pendakian, kawahnya ada di seberang sana."
Kata kak Arif sambil menunjuk arah kawah yang dimaksud.
" Dan kita harus menuruni lembah ini, kemudian naik lagi ke bukit yang ada diseberang." Jelas kak Arif sambil menahan geli melihat ekspresi Alin di detik berikutnya.
...
Mereka memutuskan untuk beristirahat di pos pendakian sebelum memulai petualangan kembali.
Hari mulai menjelang siang ketika Lira dan teman- temannya selesai mendirikan tenda. Ada 4 tenda berjenis family tent yang telah ditegakkan di tengah lembah dipinggir sebuah bukit yang landai.
Beberapa dari mereka ada yang sudah berkeliling ke kawah mati, ada juga yang langsung menuju kawah yang masih aktif di sebelah utaranya. Mereka seakan- akan melupakan letihnya perjalanan di hutan tadi.
" Ra, mau ikut gak?"
__ADS_1
" Kami mau keliling." Ajak Ron.
" Aku ikut." Lira berlari kecil mendekati Ron.
" Aku juga." Teriak Alin menyusul.
Sekilas Lira melihat Ron melirik Alin, ada tatapan ketidaksukaan di matanya.
" Teman kamu yang satu ini kok pecicilan banget sih Ra." Bisiknya.
" Jangan gitu, ntar kamu jadi bucin lho." Goda Lira sambil tersenyum.
" Cihh, cewek aneh model gitu, gak akan tertarik aku." Ron bergumam.
Mereka menaiki bukit batu yang mengarah ke area kawah mati, angin kencang membuat mereka sedikit oleng dan harus berpegangan pada batu- batu disekitarnya.
Tanpa sengaja Alin memegang tangan Ron demi mempertahankan keseimbangannya.
" Wah, apaan sih kamu pegang- pegang, bukan muhrim tau !" Ron mengibaskan tangan Alin.
" Sorry gak sengaja, klo gak sengaja aku rasa gak dosa kan ya." Jawab Alin santai.
" Eh iya, siapa tadi nama kamu? aku lupa." Tanya Alin mengacuhkan ekspresi Ron.
"Eh iya Roy, maaf ya Roy." Celoteh Alin.
" RON , RONALD bukan Roy." Tegas Ron kesal.
" Woww, Ronald, Ronald Weasley."
" Kamu temannya Harry Potter ya?" Ucap Alin sengaja menggoda Ron yang sudah sangat kesal level 10.
Ron hanya diam saja dan mempercepat langkahnya. Kemudian ia berhenti dan berbalik.
" Woi, Alien kalau udah sampai di kawah jangan berisik ya, ntar dijemput ufo dari dalam."
" Nama aku Alin bukan Alien." Dahi Alin mengeryit ke arah Ron.
" Hahaaa, tapi lebih cocok di panggil Alien deh." Jawab Ron sarkas.
__ADS_1
Lira tertawa namun juga sangat terkejut melihat tingkah Ron yang kekanak- kanakan, biasanya ia selalu memasang mode jaim dan malu- malu.
Mereka melanjutkan perjalanan sampai dikawah yang sudah tidak aktif lagi, kawah itu seperti lubang batu yang dalam dan besar yang siap memangsa setiap pendaki yang terlalu dekat berdiri disana. Di sebelah kirinya ada tebing batu setinggi puluhan meter, sehingga membuat suara bergema ketika berteriak disana.
Lira dan Alin sibuk mengumpulkan batu dan menyusunnya sehingga terbentuklah nama mereka lalu mengabadikannya lewat ponsel mereka. Azka yang melihat ulah Lira hanya tersenyum dari jauh.
Ketika menjelang sore, mereka kembali ke tenda, mempersiapkan bekal makanan yang sudah dibawa dari rumah. Kakak tingkat selaku ketua kelompok mengintruksikan untuk berkumpul ba'da magrib, karena akan ada acara api unggun dan acara lainnya yang sudah disiapkan.
Hawa di gunung sangat dingin, Lira memakai sweater dibalut jaket tebal, jilbabnya ia lapis lagi dengan topi rajutan dan tak lupa kaos kaki. Mereka keluar dari tenda bersama yang lainnya setelah selesai sholat magrib.
Diluar, api unggun sudah dinyalakan. Mereka semua duduk bersila mengelilingi api. Lira melirik ke arah Azka, ia duduk di sebelah Aldo. Memakai syal dileher dan topi kupluk membuat tingkat ketampanannya bertambah berkali- kali lipat.
Kakak tingkat yang membuka acara malam itu. Setelah acara perkenalan dan sarasehan, Mereka mengadakan sebuah game, yaitu game jujur berani. Azzel dan geng nya tentu saja yang paling heboh dan menarik perhatian.
Yang mendapat undian pertama adalah Tari, ia berdiri di tengah, ditantang untuk memilih antara jujur atau berani. Tari memilih berani, kemudian ia disuruh untuk mengambil bendera diujung lembah yang berjarak sekitar 300 meter dari tempatnya berdiri.
Dengan langkah setengah takut, Tari berjalan kearah bendera, angin kencang membuat sosok Tari seolah-olah melambai dipekatnya malam. Namun tak lama ia sudah berlari kembali sambil memegang sebuah bendera kecil ditangan kanannya.
Setelah itu ada beberapa kakak tingkat dan beberapa anggota pendaki dari daerah lain yang mendapat undian. Semua mengikuti game dengan sportif.
" Ini adalah undian yang terakhir." Kata kakak tingkat.
Semua menatap cemas dan ternyata undian terakhir jatuh kepada Azzel. Gadis itu berdiri kemudian maju ke tengah lingkaran.
" Pilih berani atau jujur dek?" Tanya kakak tingkat.
"Jujur kak." Jawab Azzel mantab.
" Okee, Azzel pilih jujur. Ada yang ingin ditanyakan teman- teman?" Kata kakak tingkat sambil melempar pandangannya ke peserta yang lain.
Seperti sudah direncanakan, salah satu teman yang tergabung dalam geng Azzel bernama Anna mengangkat tangan.
" Saya kak." Ujarnya.
"Silahkan lempar pertanyaannya dan Azzel kamu harus jawab dengan jujur." Intruksi kakak tingkat. Diikuti oleh anggukan mengerti Azzel.
" Siapa cowok yang kamu taksir?" Tanya Anna.
Lira berani bersumpah bahwa ini adalah akal- akalan Anna bersama Azzel.
__ADS_1
Bersambung...