Ketika Senja Berlalu

Ketika Senja Berlalu
Akad


__ADS_3

"Itu dia calonku, yuuk kita kesana." Alin menarik lenganku keluar dari kamar.


"Taraaaaaa Jeng Jeng Jeng..." Teriak Alin.


Alin mendekatkanku pada pria itu.


Glekkk...


Aku menatap pria yang sedang berdiri didepanku, mata kami saling bertemu. Pria itu tampak sedikit kaget dan langsung tersenyum kikuk padaku. Sesaat aku masih syok dengan realita yang ada dihadapanku.


Bagaimana bisa????


Maksudku bagaimana ini bisa terjadi, pria ini dengan Alin? Otakku rasanya sulit untuk mencernanya. Aku masih mematung dengan mulut sedikit menganga. Namun detik berikutnya aku langsung tertawa.


" RONNN." Teriakku.


Ron tersenyum salah tingkah. Aku terus tertawa sambil memegang perutku. Ron yang kutahu adalah cowok yang cool, sangat jaim, mengapa bisa berjodoh dengan cacing kremi model Alin, aku tidak habis pikir, Tuhan begitu penuh dengan kejutan.


Puas tertawa akhirnya kami bertiga pergi menuju salon, Alin duduk di bangku depan, tentu saja disebelah calon suaminya dan aku duduk dibangku belakang sendirian.


" Bisa ceritakan bagaimana akhirnya kalian bisa bersama, yang kuingat dulu kamu sama sekali tidak menyukai cacing kremi yang ada disebelahmu ini Ron?" Tanyaku penasaran.


Ron hanya berdehem sambil terus menyetir, sedangkan Alin yang mendengar aku menyebutnya cacing kremi langsung mencebik ke arahku.


" Kamu tau Ra, itulah yang dinamakan sebagai kekuatan cinta." Seloroh Alin sambil memainkan mimik wajahnya bak seorang seniman yang sedang membacakan puisi.


" Aku bahkan memikirkan akan membuat sebuah novel tentang kisah cintaku ini." Imbuh Alin serius.


" Hahaaaa haaa judulnya love story of ALIEN." Pekikku geli.


" Bukankah waktu digunung dulu, kamu menyebutnya Alien, iya kan Ron?" Ejekku lagi.


Sontak saja itu membuat Ron tertawa, ia yang tadinya diam sekarang mulai ikut terbawa suasana namun masih dengan gaya khasnya yang cool.


Akhirnya kami bertiga sampai di depan sebuah salon kecantikan ternama yang ada dikotaku, Alin dan aku turun sedangkan Ron, ia hanya mengantar kami setelah itu ia pamit untuk pergi karena masih ada pekerjaan yang harus diurusnya.


Disela- sela perawatan, Alin menceritakan bagaimana pertemuannya dengan Ron. Setelah bertemu untuk pertama kali waktu mendaki gunung, Alin bertemu lagi ketika sedang merawat neneknya Ron.


Setelah lulus kuliah, Alin bekerja di RSUD dikotaku, sambil bekerja dia juga ikut pelatihan perawatan luka modern dan membuka bisnis home care khusus perawatan luka, kebetulan waktu itu neneknya Ron yang menderita ganggren merupakan salah satu pasien home carenya.

__ADS_1


Nah disanalah cikal bakal tumbuhnya cinta diantara mereka, persis novel sih dari benci jadi bucin, hahahaaa.


...


Sudah beberapa hari Lira membantu Alin menyiapkan pernikahannya, dari pernak pernik souvenir sampai pemilihan bra. Bra?? iya Bra, berhubung dada Alin sangat rata, jadi mereka memilih bra dengan busa yang super tebal. Kan tidak lucu kalau memakai kebaya dengan dada yang rata, hahahaaaa.


" Sungguh ini penipuan terhadap Ron." Gumamku sambil membereskan bra yang baru saja kami beli.


Alin yang mengerti arah pembicaraan Lira langsung tertawa terbahak- bahak.


" Aku tidak bisa membayangkan reaksi Ron ketika tahu yang menonjol itu cuma busanya saja hahaaaaaaa."


Lelah tertawa, akhirnya mereka berdua tertidur dikamar Alin. Hari- hari yang dinanti telah tiba. Setelah membantu Alin menyiapkan segala keperluannya, Lira membenahi make up nya sendiri, Lira memakai gamis satin berwarna salem dengan dibalut jilbab senada.


Tidak dipungkiri ada sedikit rasa khawatir dihati Lira akan bertemu Azka disini, pasalnya Ron dan Azka bersahabat dekat, tidak mungkin Ron tidak mengundang pria itu diacara pernikahannya.


Lira sudah mempersiapkan hatinya, jika nanti ia bertemu dengan Azka. Sebenarnya bisa saja ia menanyakan Azka pada Ron, tapi Lira terlalu malu untuk itu. Siapa tahu Azka sudah menikah, dengan menanyakannya pada Ron tentu akan membuat harga dirinya jatuh.


Prosesi akad berjalan dengan lancar, hanya dengan satu tarikan nafas, Ron dan Alin sudah resmi menjadi pasangan kekasih yang halal. Melihat pengantin baru ini, Lira jadi teringat pada pasangan artis Ayu Dewi dan suaminya. Yang wanitanya pecicilan dan yang prianya cool lagi diam. Lira tersenyum bahagia melihat mereka.


Setelah akad nikah, acara dilanjutkan dengan resepsi, banyak tamu berdatangan, sesekali Lira tampak was- was melihat ke arah tamu undangan, hatinya berharap bisa melihat Azka diantara para tamu. Ditengah acara, Ron dan Alin menyanyikan sebuah lagu dari Payung Teduh yang berjudul akad, mereka sangat romantis sekali, benak Lira.


Kuingin kau menjadi istriku


Berjalan bersama didalam terik dan hujan


Berlarian kesana kemari dan tertawa


Namun bila saat berpisah tlah tiba


Izinkan ku menjaga dirimu


Berdua menikmati pelukan diujung waktu


Sudilah kau temani diriku*


Hari sudah menjelang sore, para tamu undangan satu persatu mulai meninggalkan acara, Lira duduk diujung gedung sambil meneguk minumnya, sedikit melamun melihat orang yang lalu lalang dihadapannya.


Ada rasa kecewa dihatinya karena tidak melihat Azka hari ini, Azka kamu dimana? pernahkah kamu ingat aku, walaupun cuma sebentar. Aku ingin tau, kamu seperti apa jika sudah menjadi pria dewasa. Aku rindu senyummu, rindu semua tentangmu. Mata Lira mulai berkaca, ia menengadahkan wajahnya keatas agar cairan bening yang mulai menggenang di matanya tidak tumpah.

__ADS_1


Tanpa Lira sadari, Ron sudah duduk disampingnya.


"Ehhmmm." Ron berdehem, membuat Lira sedikit terkejut dan merasa malu karena kepergok melamun dengan mata berair.


"Alin mana?" Lira bertanya sambil menetralkan hatinya.


"Tuh disana." Ron menunjuk Alin yang sedang tertawa bersama rekan kerjanya.


" Kamu kenapa?" Ron memandang Lira.


"A- ku, kenapa aku?" Lira balik bertanya.


" Mukamu gak bisa bohong, kamu lagi sedih kan?" Ron berkata sambil berdiri.


" Azka tidak datang, dia lagi ada tugas negara dan satu lagi jangan pernah mencoba untuk menunggunya Ra, itu akan menyakitimu." Ron memandang wajah Lira secara intens, ada rasa prihatin di wajah Ron.


" kenapa?" kata- kata itu lolos saja dari mulut Lira yang sudang kering.


Ron menelan salivanya sebelum ia melanjutkan perkataannya.


" Karena Azka akan menikah bulan depan" Katanya pelan hampir berbisik tapi ditelinga Lira suara itu seperti memiliki kekuatan jutaan desibel.


DUARRRRRRRRRR...


Hati Lira sudah pecah seribu mendengar perkataan Ron, ia pecah, remuk, hancur berkeping- keping, tidak ini bukan berkeping- keping lagi, tapi ia sudah hancur berbentuk serpihan partikel sekecil atom bahkan lebih kecil lagi dari zarrah sekalipun.


Bukan Lira namanya jika tidak bisa menyembunyikan perasaannya sendiri, alih- alih menangis, Lira justru tertawa kecil. Sesaat Ron terpaku melihat reaksi Lira namun kemudian ia tersenyum.


" Aku sangat berharap kamu bahagia Ra, bahkan lebih bahagia dari siapapun." Ungkap Ron tulus.


" Pasti, aku pasti akan bahagia." Lira meyakinkan dirinya.


Tak lama Alin menghampiri mereka. Wajahnya lelah namun tampak begitu bahagia. Setelah duduk sebentar, Lira berpamitan karena besok ia akan pulang ke Malang. Perpisahan itu diwarnai dengan drama peluk- pelukan dan isakan tangis kedua sahabat itu.


" Ditunggu kabar bahagianya Ra." Ucap Ron dan Alin sambil melambaikan tangan pada Lira.


Bersambung...


Mohon like dan komentarnya yaaa

__ADS_1


__ADS_2