
Sebelum memasuki area hutan, mereka dibagi dalam kelompok- kelompok kecil yang terdiri dari beberapa orang. Sialnya nya Lira dan Azzel berada di kelompok yang sama, ada Ron dan Azka, serta Alin dan seorang kakak tingkat.
Azzel langsung cepat- cepat berdiri di samping Azka, sementara Lira berdiri di belakang kakak tingkat dan disebelahnya ada Alin yang sedari tadi sibuk sendiri dengan tas ranselnya.
Awal pendakian, mereka disuguhi pemandangan yang begitu indah, sedikit melewati tanah dengan tekstur menurun, kemudian menyeberangi sungai yang dangkal, sungainya terasa dingin dan begitu jernih. Ingin sekali Lira bisa berlama- lama disana.
Perjalanan terasa menyenangkan, mereka berjalan sambil bersenda gurau, Alin tentu saja yang paling lucu dalam kelompok itu. Mereka berhenti sebentar ketika menemukan spesies flora yang aneh, atau melihat berbagai jenis burung yang berbulu indah.
Setengah jam telah berlalu, mereka makin masuk ke dalam hutan yang lebat, suasananya sudah berbeda, pohon- pohon tinggi menjulang seperti raksasa dengan daun lebar dan rimbun menutupi cahaya matahari sehingga yang masuk ke dalam hanyalah berkas- berkas cahayanya saja.
Lira berpegangan tangan dengan Alin, mereka berdua saling menguatkan. Perlahan jalan mulai menyempit, mereka menunduk melewati jalan dimana itu sebenarnya daerah aliran air hujan, dengan tangan meraba dinding tanah yang dibentuk oleh air mereka menyusuri rute itu dengan hati- hati.
Lira menyeka keringat di pelipisnya, nafas nya mulai tak berarturan. Kakak tingkat yang berada tepat di depannya, mengulurkan tangan membantu Lira menaiki tebing tanah setinggi 2 meter itu.
" Kita istirahat dulu kak." Cicit Azzel yang berada di belakang.
Mereka istirahat di bawah sebuah pohon raksasa yang entah pohon apa namanya. Lira menyandarkan tubuhnya disalah satu akar pohon yang berukuran dua kali lipat dari tubuhnya, sedikit memejamkan mata.
Ketika ia membuka matanya perlahan, pemandangan yang sungguh tidak mengenakkan tengah disuguhkan dihadapannya.
Azzel bersandar dibahu Azka !!
Yang benar saja...
Lira sedikit mual melihatnya, ia mengambil minum dari ranselnya, meneguknya cepat- cepat hingga ia tersedak. Air itu masuk ke hidung, rasanya sakit sekali. Lira menutup hidung dan mulutnya sambil memejamkan mata.
" Ra, kamu gak papa?" Tanya Alin.
Semuanya serentak berdiri mendekati Lira, sedangkan Alin sudah menepuk- nepuk punggung Lira.
__ADS_1
"Ya ampun Ra, kamu kok bodoh banget sih." Umpat Lira dalam hati.
"Aku gak papa." Ujar Lira setelah berhasil mengendalikan diri.
"Serius gak papa Ra? " Tanya Azka tampak cemas.
Lira menggeleng sambil sedikit tersenyum, senyum sinis yang ia buat khusus untuk Azka.
...
Perjalanan kemudian dilanjutkan, area yang mereka lalui makin menanjak, sama sekali tidak ada tanah yang datar, terkadang mereka memegang akar- akar pohon sebagai tumpuan untuk menaiki tebing.
" Masih jauh ya kak?" Tanya Azzel kepada kakak tingkat yang bernama Arif itu.
" Sebentar lagi." Jawab kak Arif.
" Sebentar lagi, sebentar lagi tapi gak nyampe- nyampe kak?" Keluh Azzel yang sudah nampak pucat.
Lira hanya tersenyum getir, mulut nya terasa sangat pahit, ia sudah tidak mampu berkata- kata lagi. Ron memberinya sebuah tongkat kayu, yang digunakannya sebagai tumpuan untuk berjalan.
" Kita hampir sampai di pos pendakian." Kata kak Arif.
Benar saja, kontur tanahnya mulai berubah, pohon- pohon besar sudah mulai jarang, Lira melihat banyak tanaman aneh yang belum pernah ia jumpai.
Semakin mendaki, mereka mulai merasakan hembusan angin yang kencang dan cahaya matahari, tanah di bawahpun mulai berubah menjadi kerikil kerikil yang sedikit berpasir. Lira bersemangat, hingga ia berjalan cepat mendahului kak Arif, namun tiba- tiba...
Aaargghhhhh...
"Tolooong !!!"
__ADS_1
Kakinya terjerembab di sebuah jurang landai, Lira terperosok dan memegang batang tanaman perdu yang ada disisinya.
" Li - Ra !!"
Azka segera berlari menggapai tangan Lira, menariknya sekuat tenaga dengan dibantu kak Arif dan Ron, mereka semua tampak cemas.
Wajah Lira memucat, Azka memberinya minum dan membantunya duduk dipinggir batu. Tangannya tampak gemetar. Azka ingin sekali menggenggam tangan itu, namun alih- alih menggenggamnya, ia malah berdiri.
Azka mengulurkan tangannya ke arah Lira.
"Ayo Ra, kita sebentar lagi sampai." Katanya.
Lira meraih tangan berjari panjang itu, tangan Azka terasa hangat, sehangat orangnya.
Cepat- cepat Lira melepaskan tangannya setelah ia berdiri. Ia tidak mau menghidupkan perasaan aneh yang mulai tumbuh dihatinya.
Azka menoleh ke arah Lira.
" Berjanjilah padaku untuk tidak membuatku selalu mencemaskanmu." Lirih Azka setengah berbisik sehingga hanya mereka berdua yang mendengar.
" Kamu pikir tampangku seperti seseorang yang tampak mengkhawatirkan?" Ucap Lira sedikit tersinggung.
" Sepertinya begitu, setelah tadi tersedak air minum, lalu hampir jatuh dijurang." Suara Azka bergetar menahan tawa.
" Oh yaaa !!!"
"Minggir !!"
Lira menghentakkan bahu Azka, ia benar- benar kesal. Ia melangkah lebar menyusul teman- temannya yang lebih dulu berjalan di depan.
__ADS_1
Azka tersenyum, gadis itu benar- benar menggemaskan. Matanya membulat sempurna kalau sedang marah.
bersambung...