Ketika Senja Berlalu

Ketika Senja Berlalu
Biarkan Semesta yang Bekerja


__ADS_3

Azka menatap tajam pada dua orang itu. Dilihatnya pria itu tertawa lepas dan Lira. Lira memukul- mukul bahunya, yang benar saja. Apa dia pacarnya Lira yang kemarin sempat diucapkan Lira waktu di cafe.


Azka menggertakkan giginya, sambil terus membuntuti motor itu, tak lama motor itu berbelok di sebuah gang yang tidak terlalu besar. Azka berhenti disimpang gang, baru saja ia mau turun. Dilihatnya motor itu sudah datang lagi dan berlalu di keramaian jalan raya.


"Oh, disini tempat tinggal Lira." Benak Azka.


...


Baru saja Lira berniat untuk memarkirkan motornya ke tempat parkiran motor kosan, ia melihat siluet Azka mendekat.


Lira tidak yakin itu Azka, bagaimana mungkin Azka tahu alamat kosannya. Dengan cuek Lira terus memajukan motornya.


"Ra, Lira !!"


Degg...


Degg...


Sepertinya dia memang Azka, jantung Lira berdegup sangat kencang, tangannya mulai berkeringat, Lira menghentikan langkahnya dan berbalik.


Lira mematung ketika melihat sosok Azka yang berdiri tepat di depan matanya. Yah, sosok yang hampir sempurna sejak dulu.


" Mari kita bicara !" Tanpa aba- aba, Azka menarik tangan Lira dan membawanya ke mobil, entah karena terhipnotis oleh pesona Azka yang muncul tiba- tiba atau karena memang mereka perlu untuk bicara membuat Lira seperti kerbau yang ditusuk hidungnya, hanya mengikuti kemana Azka membawanya.


Mereka sudah berada di dalam mobil, ketika Azka ingin menghidupkan mobilnya, seperti tersadar dari sebuah hipnotis, Lira mencekal tangan Azka.


" Bicara disini saja." Pinta Lira.

__ADS_1


Azka menghembuskan nafas pelan. Kemudian beralih menatap Lira. Lama mereka hanya saling diam.


"Apa yang perlu kita bicarakan?" Lira memulai percakapan.


Azka mengambil sebuah buku berwarna pink dari dalam saku jok belakang mobil dan memberikannya pada Lira. Seketika wajah Lira memerah menahan malu, untung saja penerangan di dalam mobil tidak begitu baik sehingga wajahnya sedikit tersamarkan.


Lira membuka buku itu dan menemukan sebuah kertas yang sangat ia kenal, kertas bertuliskan isi hatinya dulu.


" Maaf Ra, aku sama sekali tidak tahu kalau kamu menyukaiku juga. Aku pikir dulu kamu tidak memiliki perasaan apapun padaku. Aku pikir kamu hanya akan menganggapku sebagai sahabatmu selamanya."


" Karena itu kamu tidak menemuiku sebelum pergi walaupun hanya mengucapkan selamat tinggal !!" Lira memotong pembicaraan Azka.


" Yang kamu lakukan itu jahaat Azka !! Kamu tahu ? aku seperti orang gila mencarimu waktu kita wisuda, aku menangis. Aku terus menunggumu berhari- hari setelah kita wisuda. Ponselku tidak pernah terlepas dari tangan ini, aku menunggu telpon dari mu, atau sekedar pesan. Aku takut ketika aku meninggalkan ponselku, tiba- tiba kau menghubungiku." Lira menatap Azka secara intens.


" Tapi itu hanya harapanku saja, nyatanya kamu tidak pernah sekalipun menghubungiku." Lira menggeleng- gelengkan kepalanya.


Azka hanya terdiam, yang Lira bicarakan memang benar, Lira benar. Ia memang terlalu pengecut.


" Jadi sekarang, mari kita kembali pada posisi dimana seharusnya kita berada. Mari kita permudah semuanya Ka. Bukankah kamu sudah berjanji akan memulainya dengan Citra?" Lira mulai melunak.


Lira membuka kertas yang dulu pernah ia tulis itu kemudian merobeknya hingga menjadi serpihan kertas kecil yang tak berharga.


Azka melihat itu, rahangnya mengeras, matanya sedikit berkilat menahan emosi pada dirinya sendiri.


" Aku pernah menanyakan perasaanku padamu, aku selalu menunggumu waktu itu, menunggumu, tapi kamu tidak pernah menjawabku. Aku pikir kamu marah lantaran aku mencoba untuk menciummu waktu di wisma, aku terlalu malu untuk bertemu denganmu dan kamu terlihat selalu menjauhiku." Azka menatap lurus kedepan.


" Waktu wisuda, aku sedikit takut untuk menemuimu. Ditambah lagi kami dikejar penerbangan. Aku membatalkan niatku untuk menemuimu, maafkan aku. Entah mengapa ponselku ku hilang waktu dibandara." Azka menghembuskan nafas pelan.

__ADS_1


" Maafkan aku Ra, tolong maafkan aku." Azka menoleh kearah Lira, dan menangkap manik mata Lira yang bulat.


Lira melihat ada ketulusan yang sangat besar di mata Azka, mata tajam yang mulai sendu dan berair. Lira memberanikan diri untuk menggenggam tangan Azka.


" Mari kita sudahi perasaan ini Ka, kalaupun kita saling mencintai, kita mau apa? pernikahanmu hanya tinggal beberapa minggu lagi. Aku sangat menyayangi Citra, Citra adalah adikku, aku tidak ingin melihat air matanya jatuh." Lira menjeda kalimatnya.


" Ada banyak yang terluka jika kita tetap bertahan pada perasaan ini. Pikirkan bagaimana terlukanya hati Citra ketika tahu hubungan kita seperti apa, bagaimana perasaan kedua orang tuanya, perasaan ibumu Ka, perasaan abangmu. Semuanya itu harus dijaga." Lira berusaha sekuat mungkin agar tidak menjatuhkan air matanya.


" Kita tidak bisa hidup hanya dengan bermodalkan perasaan, itu terlalu egois. Anggap saja Tuhan memang tidak berkehendak untuk kita bersama. Aku sudah ikhlas dan kamu pun harus seperti itu. Mari kita kembali pada rencana awal. Fokuslah pada pernikahanmu, bukankah kata orang sebelum medekati pernikahan akan banyak ujian dan rintangan. Anggaplah aku hanya sebagai ujian bagimu sebelum kamu melangkah ke pelaminan." Suara Lira bergetar.


Biarkanlah semesta yang bekerja dengan caranya sendiri. Ada masanya nanti ketika aku melihamu, dan kita akan biasa- biasa saja. Rasa itu akan hilang sendirinya ditelan waktu.


Semuanya diam, baik Azka maupun Lira hanyut dalam pikiran masing- masing.


" Sudah malam, pulanglah." Lira meraih pintu mobil untuk membukanya. Namun belum sempat ia membuka pintu, tangan Azka meraihnya, membalikkan badan Lira dan dengan cepat mendekapnya kuat.


" Biarkan seperti ini dulu, aku mohon." Lirih Azka sambil menahan tubuh Lira yang mulai memberontak.


Keduanya saling berpelukan, ini untuk pertama kalinya Lira berada pada jarak yang paling dekat dengan Azka, entah mengapa tubuhnya jadi melemah, otot- ototnya seperti tidak berfungsi, otaknya lumpuh seketika. Ia merasa seperti kapas yang rapuh di dalam dekapan Azka.


Lira bisa merasakan nafas Azka yang hangat menyapu bagian belakang telinganya yang tertutup hijab. Azka mendekap Lira makin kuat. Dan setan tersenyum menang karena telah membuat Lira melupakan batasannya, ia membiarkan pria yang belum halal baginya berada hampir tidak berjarak padanya.


Lama keduanya menikmati itu dalam diam. Memangkas jarak diantara mereka. Azka menghirup aroma tubuh Lira dalam- dalam seolah- olah tak ingin lagi melepaskannya. Namun kemudian kesadaran Lira kembali. Ia langsung mendorong pelan tubuh Azka.


Jantungnya berdegup kencang tak beraturan, dengan sisa- sisa kesadaran yang ia miliki, Lira membuka pintu mobil dan berlari menembus kegelapan malam. Azka melihat siluet tubuh Lira yang mulai menjauh. Ia mengacak- acak rambutnya frustasi, mata nya berair menahan pedih di dada. Kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Bersambung..

__ADS_1


bantu likee nyaa yaaa


__ADS_2