Ketika Senja Berlalu

Ketika Senja Berlalu
Mencurigakan...


__ADS_3

Azzel melangkahkan kakinya dengan gontai keluar dari cafe, sementara Azka sudah dari tadi pergi dari tempat itu. Dengan mata yang terlihat sembab ia menunggu jemputan adik perempuannya di pinggir trotoar. Ia masih sangat syok dengan kisah percintaannya yang menggenaskan, ia sangat malu, bulir kristal bening mengalir lagi dari sudut matanya, cepat- cepat ia menghapusnya dengan punggung tangannya ketika ia melihat motor sang adik sudah menepi.


" Kamu kenapa kak?" Tanya si adik yang curiga melihat wajah kakak perempuannya.


" Gak papa, yuk balik." Azzel langsung duduk di jok belakang motor.


" Abang Azka nya mana? katanya tadi mau kencan?"


" Gak jadi, dicancel. Azka lagi ada kerjaan." Jawab Azzel berbohong.


Sang adik tau kalau ada yang tidak beres, tapi ia cukup paham untuk tidak terlalu banyak bertanya, kecuali jika kakak nya mau bercerita duluan. Mereka pun melaju meninggalkan cafe.


...


Beberapa jam yang lalu, Azzel keluar dari rumahnya dengan penuh semangat. Bagaimana tidak, setelah dua hari mereka jadian, hari ini Azka menghubunginya dan meminta untuk bertemu di sebuah cafe. Tentu saja ini dianggap Azzel sebagai kencan pertamanya bersama Azka.


Bahkan ia sempat mengunggah beberapa foto selfienya di beberapa akun media sosial miliknya, dengan caption Prepare to my first date. Tentu saja menuai banyak komentar dari warga net, komentar mereka macam- macam, ada yang mengatakan semangat, selamat dan sebagainya. Unggahan itupun tak luput dari penglihatan Lira. Lira hanya tersenyum getir melihat unggahan Azzel.


Dengan memakai dress pink dibawah lutut, dibalut cardigan berwarna cream lembut serta sepatu ballet senada, ia masuk ke dalam sebuah cafe, rambut ikalnya ia biarkan terurai indah begitu saja. Ketika melihat sosok Azka sudah menunggunya disudut ruangan, Azzel melambaikan tangannya ke arah Azka. Ia tersenyum sumringah pada cowok yang tengah duduk dihadapannya, cowok itu terlihat sangat tampan, walaupun hanya dengan memakai kaos rumahan serta celana pendek, penampilannya sangat casual.


" Udah lama nunggu aku Ka?" Tanya Azzel.


Yang ditanya hanya menggeleng dingin, kemudian keduanya memesan minuman cappucino hangat. Azka berdehem sebentar, sebenarnya tujuannya mengajak Azzel bertemu hanya ingin menyampaikan ke Azzel bahwa kejadian digunung itu adalah sebuah kesalahan yang seharusnya tidak pernah terjadi, dan ia sama sekali tidak menginginkannya. Azka bermaksud meluruskan semuanya.


Ditatapnya sebentar wajah Azzel, kemudian ia menghembuskan nafas pelan.


"Zel, sebenarnya aku ngajakin kamu kesini karena ada yang ingin aku sampaikan." Ucap Azka perlahan.


Azzel menautkan kedua alisnya, menunggu Azka berbicara lagi.


" Aku ingin kita putus." Kata Azka mantap.


Seketika mata Azzel membulat, ia hanya diam, namun ia menampakkan ekspresi bahwa ia butuh penjelasan lebih dari Azka.


" Kejadian digunung waktu itu seharusnya tidak pernah terjadi, aku mengangguk dan mengiyakan perasaan kamu itu murni hanya karena ingin menolongmu dari rasa malu didepan semua orang."


Sontak saja ketika mendengar pengakuan Azka yang sangat menyakitkan itu membuat air mata Azzel tumpah tak terkendali.


" Jangan nangis Zel, aku paling tidak tahan melihat wanita menangis." Ucap Azka sedikit melunak.


" Tapi ini baru dua hari kita jadian Ka ?? Apa kata temen- temenku nanti kalau aku diputusin ? " Ratap Azzel, ia menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Azka hanya diam, wajah dinginnya sudah tidak tahan melihat ini. Detik betikutnya ia berdiri.


" Masalah itu kamu pikirkan sendiri. Urusan kita sudah selesai, aku pulang duluan."


Belum sempat Azka berlalu, Azzel menahan lengannya. Membuat Azka menatap gadis itu.


" Beri aku waktu sebulan." Azzel memohon.


" Setelah sebulan, kita akan putus. Dan aku tidak akan terlalu malu." Tambah Azzel kemudian.


" Aku tidak bisa Zel, jangan paksa aku."

__ADS_1


" Kalau begitu dua minggu ? Ayolah Ka, aku mohonn." Azzel tawar- menawar dengan Azka, diikuti oleh anggukan pelan oleh Azka. 2 minggu bukanlah waktu uang lama pikir cowok itu.


" Kalau sudah, lepaskan tanganku, aku ingin pergi." Ucap Azka dengan ekspresi datar dan dingin. Azzel melepaskan tangan Azka dan membiarkan cowok itu pergi. Kemudian ia menangis lagi.


...


Ron membuka pintu rumahnya, ketika dilihatnya Azka sudah berdiri didepan pintu.


" Tumben gak pake ngabari dulu mau main sini ?" Tanya Ron.


" Suntuk dirumah." Jawab Azka sekenanya.


Mereka berdua masuk ke kamar Ron. Azka langsung merebahkan tubuhnya di kasur tanpa dipan itu.


" Kenapa kok kusut gitu." Ron penasaran melihat tingkah Azka.


" Aku barusan mutusin Azzel."


" HAAaaahhh.!! Teruss? "


"Dia nangis di cafe."


" Ya ampunn, kejam lo Ndro." Ron berkata sambil meninju bahu Azka.


" Dia gak mau diputusin, jadi sekarang dia minta waktu 2 minggu." Celoteh Azka sambil memijit keningnya.


" Tragis emang yah kisah cintamu." Ron mengejek Azka.


"Jalani aja kan cuma 2 minggu doang, gak lama kok." Lanjut Ron kemudian, berusaha menenangkan Azka.


" Hahaaaaaa... Salah sendiri punya tampang keren, kalau tampang kayak aku mah santai- santai wae." Seloroh Ron.


Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk main PS dikamar Ron, ketika adzan Ashar berkumandang barulah mereka menghentikan aktivitas mereka.


...


Lira sudah melahap 2 novel karya Andrea Hirata dalam waktu setengah hari, gadis itu benar- benar gila dalam hal membaca. Dulu pernah waktu SMA, ia membaca novel Harry Potter 6 karya JK Rowling yang setebal bantal itu dalam jangka waktu tidak kurang dari 4 hari, luar biasa.


Pernah ia bermimpi jikalau menjadi seorang petugas perpustakaan, alangkah senangnya, bisa membaca sepuasnya, tidur diantara tumpukan buku, dan mencium wangi buku baruuuu hmmmmmm. Tak heran jika Lira pernah dinobatkan menjadi pengunjung tersering yang datang ke perpustakaan.


Hari sudah menjelang magrib ketika Lira menutup novel terakhir yang ia baca. Ia mengambil ponselnya yang sedari tadi tergeletak di pinggir kasur. Melihat beberapa pesan, ia membuka pesan dari Azzel, ada apa lagi dengan gadis itu, pikirnya.


Azzel ingin bertemu??


Untuk apa lagi sih, Lira tidak ingin bertemu dengannya, ia membuat alasan sedang tidak enak badan, dan menolak secara halus ajakan Azzel. Lira benar- benar tidak ingin bertemu dengan dua sejoli itu, baik Azzel maupun Azka.


Namun keesokan harinya, Lira dikejutkan dengan kedatangan Azzel kerumahnya. Nekat banget sih mau ketemu aku, pikir Lira. Dengan mengembangkan senyumnya yang sedemikian rupa, Lira mempersilahkan Azzel masuk.


" Maaf ya Ra, jadi ganggu waktu istirahat kamu. Tadinya aku pikir via telponan aja, tapi lebih asyik kalau ketemu langsung. Ucap Azzel basa- basi.


" Nggak juga kok, emang mau ngobrolin apa sih Zel?" Tanya Lira.


Azzel membenarkan posisi duduknya, kemudian berdehem sebentar.

__ADS_1


" Mau tanya- tanya tentang Azka boleh ya Ra." Sambil tersenyum malu Azzel bertanya.


Lira membulatkan matanya, Ya ampuun, Azka lagi Azka lagi, pikirnya. Akhirnya Lira hanya mengangguk pasrah.


" Aku kan baru jadian sama Azka, aku baru tau kalau dia sedingin itu orangnya." Ucap Azzel.


" Maksud kamu?"


" Maksud aku yah itu, selama ini lihat dari jauh Azka orangnya cool, tapi sifatnya sungguh diluar ekspektasi aku."


" Azka belum pernah punya pacar setau aku, mungkin kamu adalah pacar pertamanya, jadi wajarlah mungkin dia belum tau cara memperlakukan cewek secantik kamu Zel." Ucap Lira.


" Tapi dia terlihat hangat kalo lagi sama kamu." Sontak pernyataan Azzel membuat Lira salah tingkah.


" Hangat bagaimana? aku gak ngerti. Mungkin karena kami teman udah lama jadi berasa seperti saudara sendiri." Lira berkilah.


" Aku ingin buat Azka jadi menghangat, dia sekarang dingin dan cuek, tapi aku benar- benar suka sama dia, aku gak mau kami pisah." Raut muka Azzel berubah sedih.


" Emang Azka ngomong apa ke kamu?" Selidik Lira.


" Nggak ada." Jawab Azzel berbohong, ia tidak mau menceritakan kejadian di cafe kemaren dimana Azka memutuskannya secara sepihak.


Lira hanya mengangguk- angguk, kemudian ia mencoba menenangkan Azzel.


" Kalian kan baru jadian beberapa hari, semuanya butuh waktu dan proses yang tidak instan, berusaha aja terus, pasti nanti Azka berubah." Kata Lira.


" oh iya,, tunggu bentar yah, aku kebelakang buatin minum dulu."


Azzel mengangguk sambil tersenyum tipis membiarkan Lira pergi menuju dapur. Dilihatnya rumah Lira, rumah yang sederhana namun sangat rapi, ada beberapa foto yang terpajang di dinding, Azzel menghembuskan nafas dan mulai memainkan ponselnya.


...


Ternyata Lira masih memblokir nomornya, berkali- kali Azka mencoba menghubungi gadis itu. namun hasilnya nihil. Sejak kejadian digunung, Azka sama sekali belum memiliki kesempatan untuk menjelaskan semuanya pada Lira. Aku langsung kerumahnya saja, pikir Azka.


Ia mengambil kunci motornya yang ada di atas meja kemudian melaju ke rumah Lira. pintu rumah Lira terbuka ketika Azka sampai disana, ia memarkirkan motornya di depan pagar kemudian berjalan menuju pintu. Ada sepasang sepatu cantik di teras rumahnya, mungkin Lira sedang ada tamu, pikir Azka.


Baru saja Azka mau mengucapkan Assalamualaikum, ia melihat sosok gadis yang ia hindari sedang duduk manis di kursi ruang tamu, mata keduanya bertemu, Azzel langsung berdiri salah tingkah.


" Ngapain kamu disini?" Dari sekian banyak kosa kata yang ada didunia, hanya kata- kata itu yang keluar dari mulut Azka.


" Aku main sama Lira." Jawab Azzel sambil menunduk.


Belum lagi Azka masuk, Lira sudah muncul dari dapur membawa baki dengan dua gelas teh hangat. Lira sangat terkejut dengan kedatangan Azka. Tapi cepat- cepat ia sembunyikan rasa kagetnya, sambil tersenyum yang dipaksakan ia mempersilahkan Azka masuk.


" Sepertinya kamu udah dijemput tuh Zel, ayo masuk Ka." Ucap Lira ramah.


Sontak saja kata-kata Lira tersebut memancing emosi Azka. Ia menatap tajam ke arah Lira sedangkan gadis itu hanya memasang wajah polos tak bersalah. Azzel meminum tehnya tanpa berani melirik cowok yang ada disebelahnya. Suasana berubah canggung seketika, sampai akhirnya Azka buka suara.


" Zel, yuk pulang."


Hah,, aku gak salah dengar kan? Azka ngajak aku??? Yesssss...


Tapi tunggu, sepertinya ada yang tidak beres, reaksi Azka dan Lira ??? kenapa Azka tiba- tiba seperti itu?, atau dia sengaja mau bikin Lira cemburu?

__ADS_1


Jangan- jangan mereka....


****Bersambung guys****...


__ADS_2