
Ujian akhir semester telah berlalu menyisakan drama drama ala mahasiswa perawat, dan untuk pertama kalinya mereka akan melaksanakan praktek magang di Rumah Sakit Umum milik Pemerintah Daerah setempat.
Rumah sakit yang terletak dijantung kota kecil tersebut merupakan sekumpulan gedung gedung satu lantai yang dihubungkan oleh koridor panjang, berwarna putih pucat, dengan pohon beringin besar yang menjulang di kiri kanan gerbangnya,tampak seperti manusia pohon di film the lord of the rings yang siap menerkam setiap goblin jahat yang lewat.
Ada patung seukuran manusia berbentuk ibu yang sedang menyusui anaknya di depan Rumah Sakit, patung itu seolah-olah bisa hidup jika malam tiba.
Pak Bagus selaku dosen penanggung jawab praktik lapangan telah membagi mahasiswa menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 10 orang akan bertugas diruangan yang berbeda. Lira ada dibarisan kelompok nomor dua bersama Azka, ia terpisah dari Yunia yang berada di kelompok satu.
Hari ini mereka belum mendapatkan jadwal dinas, hanya orientasi lokasi praktik dan berkenalan dengan perawat jaga yang ada. Baru kali ini Lira berkeliling Rumah Sakit dikota nya, sebelumnya ia hanya pernah melihat ruang IGD tempat temannya SMA dulu dijahit dan ruang melati tempat tetangga yang dulu pernah dijenguknya bersama emak.
Berjalan dikoridor Rumah Sakit ini mengingatkan Lira pada film film bergenre horor dengan tokoh utama perawat berlatar Rumah Sakit, sebut saja seperti film suster ngesot, atau film bangsal 13. Lira bergidik jika mengingatnya.
Lira berbisik kepada Azka yang berjalan tepat disampingnya.
" Ka, kamu berani gak kalau dinas malam terus disuruh dorong brankar lewat dikoridor ini?" tanya Lira.
" Ya berani lah, ngapain takut." Ketus Azka.
" Tapi kalau tiba-tiba diujung koridor, kamu ngeliat ada suster ngesot gimana? atau ada kursi roda yang jalan sendiri?" kata Lira lagi.
"Ya ampun Ra, kamu itu kebanyakan nonton film,korban film nih, mana ada kursi roda jalan sendiri kalau gak didorong." celoteh Azka sambil mengetuk kening Lira dengan telunjuk panjangnya.
"hahaahaaaa."
Mereka akhirnya tertawa bersama.
Di minggu pertama Lira dan teman temannya yang berada di kelompok dua mendapat tugas dinas di ruang IGD, selanjutnya setiap minggu mereka akan rolling ke seluruh ruangan ruangan yang ada di Rumah Sakit, kecuali ruang ICU, karena di ruang ICU pasien harus dirawat intensif sehingga tidak diperbolehkan mahasiswa magang untuk berada didalamnya.
__ADS_1
Jadwal dinas terdiri dari tiga sift, sift pagi dimulai dari jam 8 pagi sampai jam 2 siang, sift sore dari jam 2 siang sampai jam 8 malam dan sift malam dari jam 8 malam sampai jam 8 pagi esoknya.
Hari pertama Lira mendapat jadwal sift malam, ia satu sift bersama Azka.
Drrt....drrttt....
tampak pesan masuk di hp Azka.
Cowok itu membukanya dengan malas sambil tiduran dikamarnya, Azka tidur siang itu karena mempersiapkan untuk dinas malam perdananya malam nanti.
" Ka,lagi ngapain? malam nanti berangkat bareng ya, jemput aku." Azka membaca pesan dari sahabatnya Lira.
Entah mengapa setelah membaca pesan itu semangatnya jadi bertambah 3 kali lipat dari sebelumnya. Dengan jari panjangnya ia mengetik pesan.
" Gak mau, naik ojek aja sendiri, biasanya kan kamu gak pernah mau diajak boncengan week," canda Azka sambil tersenyum sendiri.
Drrt..drttt pesan masuk.
" Ya ampun ka, masa gitu ke teman sendiri, malam malam gadis cantik gak boleh naik ojek lho, ntar aku diculik gimana?" Azka tersenyum geli melihat pesan Lira.
Gadis ini benar benar menggemaskan.
"hahaaaaa...gadis cantik dari mana? dilihat dari ujung pipet tetep aja jelek." Ledek Azka.
"Ya udah kalau gak mau, besok besok aku mau cari pacar ahhh, biar gak minta tolong sama badut jelek kayak kamu." Azka yang membaca pesan Lira tiba tiba merasakan sensasi aneh didadanya.
"Hhhhh,,, mau cari pacar?" benak Azka sambil menggeleng gelengkan kepalanya, mana mungkin, karena ia tahu persis bahwa gadis itu tidak akan melanggar prinsip yang ia buat sendiri, Lira adalah gadis yang memiliki prinsip yang kuat, ia tak akan punya pacar sebelum ia menamatkan kuliahnya dan mendapatkan pekerjaan.
__ADS_1
Tak heran jika Lira membuat sebuah Lingkaran tak terlihat untuk dirinya sendiri, lingkaran yang membatasinya sehingga tak seorangpun bisa masuk kesana.
"Aku jemput jam setengah 8 nanti malam." balas Azka kemudian.
" siipp, siaap bosque." Balas Lira.
Azka tersenyum tipis membacanya lalu melempar hp nya sembarang diatas bantal dan tidur lagi.
Azka terbangun saat adzan ashar berkumandang dari sebuah masjid yang letaknya sekitar 1 blok dari rumahnya, cepat cepat ia bangun, mengambil air wudhu dan berlari kecil menuju masjid.
Hari telah menunjukkan pukul 19.20 ketika Lira duduk menunggu sahabatnya diteras rumah, memakai seragam atasan putih dan celana dasar putih dipadankan dengan jilbab putih senada dan sepatu pantofel putih membuat gadis itu tampak anggun, cuaca terlihat mendung, gerimis kecil mulai menari diudara, sesekali terdengar deritan klakson kendaraan yang lalu lalang di perempatan jalan dekat dengan rumah Lira.
Lira sudah mulai tampak gusar karena yang ditunggu belum juga muncul. Ia mengambil hp nya dan menekan nama Azka yang tertera dilayar ponsel.
Azka sedang menghidupkan mesin motor ketika terdengar bunyi ponsel dari balik saku celananya. Terlihat panggilan dari Lira di layarnya.
" Ka, dimana?" Lira langsung nyerocos tanpa mengucapkan Assalamualaikum.
"Tunggu bentar ra, aku lagi dijalan." kata Azka di dalam telpon.
"Iya, cepat ya, mau hujan nih." Balas Lira.
Azka mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan sedang, jalanan masih tampak ramai walaupun gerimis kecil sudah sedikit berubah menjadi gerimis lebat, Azka menam ah kecepatannya, dan tiba di depan rumah Lira.
Gadis itu berdiri di pinggir pagar, sudah memakai mantel lengkap yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali muka dan kaki. Di depan pintu rumah berdiri wanita separuh baya yang merupakan emaknya Lira.
"mak, Lira berangkat ya." Kata Lira berpamitan dengan emaknya kemudian langsung duduk di jok belakang motor Azka.
__ADS_1
Azka mengklakson tanda pamitan dan ibu Lira pun mengangguk sambil berkata, "Hati-hati ya."