
" Pasti, aku pasti akan bahagia." Lira meyakinkan dirinya.
Tak lama Alin menghampiri mereka. Wajahnya lelah namun tampak begitu bahagia. Setelah duduk sebentar, Lira berpamitan karena besok ia akan pulang ke Malang. Perpisahan itu diwarnai dengan drama peluk- pelukan dan isakan tangis kedua sahabat itu.
" Ditunggu kabar bahagianya Ra." Ucap Ron dan Alin sambil melambaikan tangan pada Lira.
...
Keesokan harinya Lira berpamitan pada emak dan bapak, ia berangkat mengambil penerbangan pagi menuju tempatnya meniti karir.
Yah, dia harus memulai hidupnya kembali, menata hatinya yang sudah hancur. Satu- satunya jalan adalah dengan mengikhlaskannya. Hidup akan terus berjalan, dengan mengikhlaskan segalanya mungkin akan terasa lebih mudah.
Lira merebahkan tubuhnya ketika ia sampai di kosan nya. Setelah mengabari Citra via telpon bahwa ia sudah sampai, Lira langsung menutup matanya dan tertidur.
...
" Hallo, Assalamualaikum." Citra mengangkat telpon dari Lira.
" Waalaikunsalam, Cit mbak udah sampe kosan, mau istirahat dulu. Besok mbak udah masuk kerja." Terdengar suara Lira diujung telpon.
" Siap mbak sayang, met istirahat ya. See u tomorrow." Citra menutup telponnya.
" Siapa?" Azka bertanya pada gadis yang akan dinikahinya bulan depan itu.
" Teman kerja, tapi udah Citra anggap sebagai mbak sendiri kak." Ucap Citra sambil memandang Azka yang fokus menyetir.
"Hmmmm..." Azka hanya berdehem. Tidak ada pembicaraan lagi sampai mereka tiba dikediaman Citra.
Begitulah sosok Azka dimata Citra, pria itu persis seperti fenomena gunus es, irit bicara, berbicara hanya yang penting- penting saja dan hampir 4 bulan bersama, bisa dihitung dengan jari ia melihat Azka tersenyum. Apa mungkin karena profesinya sebagai perwira TNI Angkatan Udara membentuk wataknya jadi seperti itu. Entahlah Citra tidak yakin.
Perkenalan mereka terjadi sudah lama sebenarnya, istri dari abang Azka yang tertua adalah sepupu Citra. Bisa dibilang mereka dijodohkan, selama 4 bulan terakhir mereka telah bertunangan, Azka berjanji ia akan berusaha untuk menumbuhkan benih- benih cinta diantara mereka.
Citra yang memang sejak dulu sudah kepincut melihat penampilan Azka, langsung mengiyakan ketika akan dijodohkan dengan pria itu. Wanita mana yang menolak pesona Azka yang hampir sempurna, Bertubuh tinggi tegap, badan atletis,hidung mancung, alis tebal, matanya tajam bak elang dan cool.
...
Sudah lewat dari tengah hari ketika Lira terbangun dari tidurnya, perutnya berbunyi tanda ingin segera diisi. Lira keluar dari kosannya dengan berjalan kaki menuju kedai soto yang ada di pinggir jalan raya.
Sebenarnya dekat jika ia mengendarai motor, tapi Lira memilih jalan kaki, sehingga ia harus berjalan keluar gang, lalu menyeberang ke jalan raya yang mempunyai dua jalur. Kedai sotonya ada di jalur yang berbeda.
Lira sengaja makan berlama- lama sambil menikmati kendaraan yang lalu lalang di depan kedai. Puas dengan lamunannya, Lira pulang lagi ke kosannya. Ketika ingin menyeberang jalan sebuah mobil hampir saja menyerempetnya, Lira terhuyung kebelakang dan kehilangan keseimbangan sehingga terjatuh dengan bokong duluan.
__ADS_1
Masih dengan posisi terduduk, seseorang membungkuk dihadapannya, membantu Lira berdiri.
" Ibuk, ibuk tidak apa- apa?" Wajahnya tampak cemas.
Lira menengadahkan wajahnya, melihat orang yang membantunya berdiri.
" Dio." Lirihnya.
Dio mahasiswa bimbingannya membantu Lira untuk berdiri.
" Ibuk tidak apa- apa kan?" Tanyanya lagi.
" Tidak apa- apa, cuma lecet dikit." Lira menampakkan telapak tangannya yang lecet karena menahan bobot badannya ketika jatuh tadi.
" Ayo saya antar buk." Dio memapah Lira menuju ke motornya. Lira hanya pasrah, karena tidak mungkin ia berjalan ke kosannya dengan kondisi seperti itu.
"Ini gimana cara naiknya." Lira mengeryitkan dahinya ketika melihat motor ninja Dio dengan desain tinggi dan jok belakang yang menurun.
Dio tersenyum lalu membantu dosen manisnya itu untuk naik. Mereka melaju menuju kosan Lira. Tangan Lira yang lecet terasa perih menahan tubuhnya sendiri dari punggung Dio. Jok belakang yang didesain menurun itu membuat orang yang duduk dibelakang pasti akan merosot dan menempel pada pengemudi yang ada didepannya.
Mereka sampai dikosan Lira. Melihat tangan Lira yang memerah, Dio segera turun dari motornya dan mengeluarkan kotak kecil alat P3K dari dalam ranselnya.
Lira kaget dan gelagapan ketika Dio menarik tangannya dan mulai mengobatinya.
" Apa kamu selalu membawa alat P3k di tasmu?" Tanya Lira sambil memperhatikan Dio.
" Hmmm." Dio fokus pada tangan Lira.
Jarak mereka sangat dekat, Lira bisa melihat alis mata Dio yang tebal dan tersusun rapi, mengingatkannya pada alis mata Azka. Lira terus memperhatikan Dio tanpa berkedip, lama tidak diperlakukan sedemian rupa oleh laki- laki membuat hati Lira sedikit menghangat.
Tiba- tiba saja Dio menoleh kearah Lira, mata keduanya bertemu, membuat Lira malu bukan kepalang, Lira langsung membuang pandangannya kesamping.
" Jangan melihat saya seperti itu buk, nanti ibuk naksir." Goda Dio sambil tersenyum.
Lira langsung menarik tangannya dan berdiri.
" Jaga ucapan kamu Dio, saya ini dosen kamu." Jawab Lira ketus.
" Maaf buk, saya cuma bercanda." Jawab Dio hormat. Setelah itu ia berlalu pergi dengan motornya.
" Ayolah Lira, apa yang kamu pikirkan, dia itu mahasiswamu, dan kamu dosennya, umur kalian saja sudah jauh berbeda, kamu lebih pantas jadi tantenya." Benak Lira.
__ADS_1
Lira hanya menggeleng- gelengkan kepalanya sambil tersenyum sarkas, ia memang sudah tidak waras.
...
Pagi- pagi sekali Lira sudah siap untuk berangkat ke kampus, ini adalah hari pertamanya bekerja setelah cuti hampir seminggu. Lira belum bisa mengendarai motor sendiri mengingat telapak tangannya masih perih. Ia menggunakan jasa ojek online untuk kekampus.
" Mbak Liraaaaaaaa." Citra langsung menyambutnya antusias sambil memeluk Lira.
Lira balas memeluk sahabat sekaligus adik angkatnya itu dengan hangat. kemudian mengeluarkan paper bag berisi oleh- oleh untuk Citra. Baik Citra maupun Lira tidak ada jam mengajar pagi ini. Lira sibuk membereskan tugasnya yang telah ditinggal selama seminggu, kemudian Citra menarik kursi dan duduk mendekatinya.
" Mbak Lira sibuk ya?" Tanya Citra pelan.
" Nggak juga, ada apa Cit?" Lira sambil mengetik.
" Aku belum cerita ya ke mbak kalau aku mau menikah bulan depan."
Lira langsung menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke Citra, ia melihat manik mata Citra mencari kebohongan disana, tapi ia tidak menemukannya.
" Are u seriously?" Tanya Lira diikuti oleh anggukan pelan oleh Citra.
"MasyaAllah, Allahuakbar, Barakallah ya sayang." Lira memeluk Citra, ia benar- benar terharu, senang sekali rasanya mendengar adik angkatnya sudah dilamar orang.
" Sebenarnya kami tunangan sudah dari 4 bulan yang lalu mbak." Citra berbicara sambil melepaskan pelukannya.
" Loh kok mbak gak dikasih tau?" Lira mengeryitkan dahinya.
" Waktu itu aku belum benar- benar yakin mbak, kami dijodohkan." Jawab Citra pelan.
" Tapi kamu menyukainya kan?" Lira bertanya diikuti anggukan antusias dari Citra.
" Waktu itu aku belum yakin dengan perasaannya padaku mbak, tapi dia sudah berjanji akan memulainya denganku." Ucap Citra.
" Dia sudah berjanji akan memulainya, berarti dia sudah punya komitmen Cit, jangan ragu lagi, jalani saja." Lira menepuk bahu Citra memberi semangat.
" Mungkin aku bakalan sibuk mbak, karena dia menyerahkan segala kepengurusan resepsi padaku, nanti mbak tolong bantuin aku ya." Ucap Citra.
"Siaap, mbak selalu ada untukmu sayang." Jawabku.
"Terima kasih mbak, kapan- kapan aku perkenalkan sama calon suamiku ya." Citra berdiri dari duduknya karena ia akan segera mengajar.
" Oke." Lira mengacungkan jempolnya kemudian melanjutkan pekerjaannya kembali.
__ADS_1
Bersambung...
Mohon dukungannya dengan like, komentar yaaa