Ketika Senja Berlalu

Ketika Senja Berlalu
Ikhlas


__ADS_3

Citra menatap bayangannya di cermin, dengan mengenakan kebaya berwarna putih tulang yang sangat pas membalut tubuhnya yang langsing, riasan make up natural melapisi wajahnya serta sanggul moderen dikepala membuat ia seperti putri keraton yang anggun.


Yah, tepat hari ini pernikahan Citra akan dilangsungkan. Pernikahan yang mulanya direncanakan dengan menggelar resepsi besar- besaran. Atas permintaan Citra, pernikahan dilangsungkan dengan sangat sederhana, tidak ada Wedding organizer yang mengatur, karena memang Citra sudah mengcancel acara dari tante Ica, dan tante Ica memaklumi.


Tidak ada meja prasmanan yang menyuguhkan berbagai macam makanan mewah, tidak ada riasan dekorasi indah. Yang ada hanya ruang tamu yang disulap jadi ruangan dilapisi karpet berbulu tebal dengan bunga mawar putih menghiasi sudut- sudut ruangan, yang menandakan bahwa sebentar lagi akan dilangsungkan sebuah janji suci di hadapan Tuhan di ruangan itu.


Citra sudah meminta kepada keluarganya, agar pernikahannya dilangsungkan dengan sesederhana mungkin, yang hanya dihadiri oleh keluarga inti saja. Dan baik keluarga Citra maupun keluarga Azka menerimanya tanpa banyak komentar.


...


Pagi- pagi sekali Lira sudah tampak sibuk di kosannya, menyiapkan segala keperluan emak dan bapaknya di ruangan yang tidak lebih dari 3x4 meter itu. Lira cukup kaget dengan kedatangan emak dan bapaknya untuk ikut menghadiri acara pernikahan Citra.


Pasalnya Lira tidak pernah menceritakan pernikahan adik angkatnya itu kepada kedua orang tuanya, tiba- tiba saja keduanya sudah tiba dikota tempat ia meniti karier ini. Usut punya usut ternyata Citra yang menghubungi mereka.


" Pernikahan Citra ini cuma dihadiri oleh keluarga inti Mak, gak pake rame- rame." Celetuk Lira.


" Iya, kemaren itu Citra sendiri yang nelpon Mak nyuruh datang kesini, mama nya Citra juga ikut ngomong, malahan tiket emak sama bapak udah dipesan sama Citra. Kan gak enak kalau sampai kami gak datang."


" Tapi kenapa gak ngabari dulu kalau mau datang, Lira kan bisa siap- siap."


"Alah mau nyiapin apa, lagian kata Citra biar jadi supres apa sepres apa ya, istilah untuk kejutan itu loh Ra."


" Suprise mak." Lira menahan tawa.


" Nah itu makud mak."


Lira sudah siap berangkat ke kediaman Citra, dengan mengenakan gamis satin dipadu borkat bewarna biru laut, ia masih berdiri di depan cermin, sedikit merapikan hijabnya.


*Inilah saatnya aku melepaskanmu Azka

__ADS_1


Aku tidak yakin akan merasa kuat ketika melihatmu berikrar dihadapan Tuhan untuk gadis lain nanti, tapi aku akan mencobanya.


Aku akan mencoba menguatkan hati ini, mencoba tetap tegar dan tersenyum, aku sudah mengikhlaskanmu. Berbahagialah, karena Citra adalah gadis yang tepat untukmu.


Biarlah waktu nanti yang akan mengikis perasaan ini, seperti ombak yang terus menerus menghantam batu karang sehingga akhirnya batu karang itu pun luluh dan pecah meninggalkan puing- puing yang akan terbawa arus ke tengah lautan.


Biarlah semesta nanti yang bekerja, ia lebih tahu semuanya. Ada saatnya nanti ketika aku melihatmu, jantung ini akan berdetak seperti biasa, hati ini akan memandangmu biasa- biasa saja. Dan kita akan kembali seperti teman yang tidak memiliki rasa satu sama lain.


Azka, terima kasih untuk semua hal baik yang pernah kamu lakukan untukku, terima kasih untuk cintamu yang begitu dalam dan tulus untukku, aku benar- benar tidak pantas mendapatkannya, terima kasih*.


Lira menghembuskan nafas dalam, sebelum berangkat keluar. Emak dan bapak sudah menunggu di luar. Dengan menggunakan jasa taxi online, mereka pergi ke kediaman Citra.


Sesampainya disana, Lira langsung menghambur ke kamar Citra, sedangkan emak dan bapak berbincang- bincang dengan orang tua Citra di luar.


" MasyaAllah Cit, kamu cantik sekali." Lira memandang Citra kagum sambil duduk di ranjang. Citra yang dipuji hanya senyum- senyum malu.


Sambil menunggu pengantin pria sampai, mereka sibuk bersenda gurau di kamar.


...


Dengan mengenakan jas setelan berwarna putih susu sewarna dengan kebaya Citra, Azka terlihat tampan dan gagah. Setelah semua anggota telah berkumpul, Azka menghentikan aktivitasnya bermain game dan ikut bergabung dengan anggota keluarga yang lain.


Mobil mereka iring- irangan menuju ke kediaman calon pengantin wanita. Azka lebih banyak diam dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Sementara ibu menggenggam tangannya erat seolah- olah memberi ketenangan.


Enam hari ia dirawat di Rumah Sakit, Citra selalu menemaninya. Di hari terakhir sebelum ia dijadwalkan pulang, Citra mengucapkan sesuatu yang menurut Azka sangat aneh, namun saat itu Azka berpura- pura tidur sehingga tidak bisa merespon ucapan Citra.


...


"Nak, ayo keluar, pengantin pria nya sudah datang." Mama Citra menyembul dari balik pintu ketika Citra dan Lira masih cekikikan dengan obrolan mereka.

__ADS_1


Keduanya lansung diam, wajah Citra seketika tampak gugup dan menegang. Citra memegang tangan Lira erat dan memberi kode untuk menuntunnya keluar.


Jantung Lira sudah tidak tahu berada dimana, kemungkinan besar si jantung sudah tidak berada di rongga dada lagi saking kuatnya ia berdetak. Keringatnya mulai mengalir, nafasnya seperti tercekal.


Ayo Lira, kuat kuat kuat


Kamu sudah berjanji harus ikhlas dan kuat tadi.


Lira melirik sekilas ke Azka yang sudah duduk di depan pak penghulu. Sepertinya sang mata mulai ingin berkhianat pada hati, lihatlah mata Lira mulai sedikit berair menahan tangis.


Citra dan Azka sudah didudukkan berdampingan, Citra melirik sebentar ke calon suaminya yang sedingin es itu. Duduk disamping Azka membuat Citra rasanya ingin ikut membeku.


Pak penghulu tersenyum kepada kedua mempelai.


" Sebelum memulai prosesi akad, saya ingin bertanya dulu pada kedua mempelai. Pengantin pria sudah siap dan bersedia untuk menikah hari ini?"


Azka mengangguk mantab tapi masih dengan mode dinginnya.


" Baiklah, sekarang saya ingin bertanya pada pengantin wanita. Sudah siap dan bersedia untuk menjadi istri pada hari ini ?" Pak penghulu bertanya hangat pada Citra.


Hening sejenak.


Hening...


Hening...


" Pengantin wanita mendengar saya ?" Ulang pak penghulu.


"Saya tidak bersedia pak." Jawab Citra.

__ADS_1


Bersambung...


Mohon like dan komentarnya yaaa


__ADS_2