
Lira berani bersumpah, ini adalah akal- akalan Anna dan Azzel.
Semua hening, menunggu jawaban Azzel.
"AZKA."
" Aku menyukai Azka." Jawab Azzel penuh percaya diri.
Lira menelan salivanya, ia benar- benar tidak percaya, Azzel senekat dan seberani itu, bahkan keberaniannya melebihi ukuran tubuhnya sendiri yang mungil.
Di detik berikutnya, semua bersorak, geng Azzel menyuarakan.
"TEMBAK...TEMBAK."
Suasana berubah menjadi riuh seketika, ada yang bersorak, ada yang membunyikan siul kencang- kencang, dan ada pula yang bertepuk tangan. Untuk sementara mereka lupa kalau mereka ada di atas gunung tempat jin bertapa dan tentu saja tidak menyukai kebisingan.
Beberapa kakak tingkat tampak menarik Azka untuk maju kedepan, Lira sekilas melirik cowok itu, Azka tampak malu luar biasa, ia memasang wajah sedingin mungkin. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk membuat Azka berdiri di tengah lingkaran.
Beberapa orang sudah mengabadikan momen langka ini, memvideokannya dan membuat sejenis live streaming di akun media sosial mereka.
Azzel menghembuskan nafas dalam, lalu tanpa rasa malu ia mengutarakan isi hatinya dan secara terang- terangan meminta Azka untuk jadi pacarnya. Persis seperti acara Katakan Cinta yang sering Lira tonton di televisi.
"Dia benar- benar sudah tidak waras."
" Lihat si Azka, udah kayak badut konyol di depan sana, prihatin akuh tuh." Desis Alin ditelinga Lira.
Sampai detik ini Lira masih tampak sangat syok, Azzel dimana kamu letakkan rasa malu mu, ini di depan banyak orang, puluhan pasang mata menyaksikan tingkah norak mu itu. Lira hanya bisa menggeleng- gelengkan kepala.
Sementara yang lain berteriak.
"TERIMA.. TERIMA.. AYO KA TERIMA...!!"
" Ya ampun,, sumpah si Azzel kok bisa sekampungan kayak begitu ya?" Bisik Alin sambil berpura- pura ikut bertepuk tangan.
...
Bukan..ini bukan bagaikan petir di siang hari, melainkan guntur dimalam hari, sungguh rasanya Lira jadi mengecil jadi seukuran semut kemudian jatuh ke jurang yang dalam, dalam, dalaaaaam sampai tidak menemukan dasarnya ketika ia melihat Azka menganggukkan kepalanya menerima pernyataan cinta dari Azzel.
__ADS_1
Semua bersorak gembira, kecuali Lira yang merana sendiri, ada tatapan kecewa di balik matanya, ingin rasanya ia berlari dari sana dan menangis kencang- kencang.
Sebegitu kuatkah pesona Azzel hingga membuat seorang Azka tidak bisa menolaknya. Lira mencoba menyembunyikan rasa sakit hatinya sebaik mungkin, bersama Alin ia ikut bertepuk tangan dan tertawa bersama.
...
****Azka****
Apa- apaan nih...
Kenapa bawa- bawa namaku segala.
Gila nih cewek, dimana urat malu mu neng. Aku terpaksa mengikuti skenario sial ini. Setelah berbagai cara penolakanku akhirnya kubiarkan tubuhku di tarik oleh beberapa kakak tingkat.
Dan sekarang aku sudah berdiri di tengah lingkaran, ada puluhan pasang mata melihatku, membuatku jadi seperti boneka pajangan yang sinting, tentu saja bersama cewek yang tak kalah sintingnya yang lagi berdiri di depanku.
Aku syok tak terkira ketika mendengar pernyataan cintanya yang sangat murahan itu. Beberapa ponsel telah mengabadikan momen konyol ini, bahkan ada yang membuat live streamingnya.. Hahahaaaa sungguh gila.
Kulirik wajah wanita yang ada di depanku. ku akui memang dia cantik, tapi kelakuannya tidak secantik orangnya. Ia sudah menghapus rasa malu dalam dirinya yang seharusnya harus dijaga sebagai seorang wanita.
Logika dan perasaanku berjalan, ingin rasanya aku menolak mentah- mentah adegan konyol ini. Tapi aku sungguh tak tega, wanita ini tentu akan menanggung malu seumur hidupnya jika aku berbuat demikian. Ia akan dijadikan bulan- bulanan dan bahan ejekan jika aku sampai menolaknya secara langsung disini.
Aku membuang pandanganku sebentar dan menganggukkan kepala, semua bersorak dengan keputusanku. Nantilah kupikirkan lagi bagaimana cara menolak Azzel tanpa harus membuatnya mati karena malu. Untuk saat ini mungkin menggangguk adalah keputusan yang terbaik.
...
Acara telah usai, beberapa peserta ada yang masuk ke tenda masing- masing, ada pula yang masih betah mengobrol sambil bermain gitar di dekat api unggun yang sudah mengecil. Lira, Alin, Tari dan Meta berada di tenda yang sama. Mereka memilih untuk kembali ke tenda dan beristirahat.
Lira masih tampak merana, belum genap sebulan Azka bilang suka. Masih segar diingatannya kejadian di sebuah kedai seafood waktu itu, tapi hari ini ia seperti dilempar ke dasar kawah yang sore tadi ia lihat.
Tanpa Lira sadari, bola- bola kristal cair jatuh dari kelopak matanya, Lira tidak bisa memejamkan matanya barang sedetikpun.
"Cukup, aku tidak boleh seperti ini." Benak Lira.
Ia mendudukkan tubuhnya, mengambil ponsel yang berada di ranselnya. Lira menghapus kontak Azka dari sana, memblokir segala akses di jejaring sosialnya untuk Azka.
" Lihat saja, aku tidak akan pernah mengenalmu lagi." Kutuk Lira sambil memainkan ponselnya, kemudian ia tertidur.
__ADS_1
...
Lira terbangun mendengar notifikasi adzan subuh dari ponselnya, bersama teman- temannya Lira menunaikan sholat subuh di lembah terbuka itu. Suasana masih sangat pagi, Ron menghampiri Lira.
Mungkin hanya Ron satu- satunya yang mengerti perasaan Lira saat ini.
" Mau jalan- jalan?"
"Ayo, kita lihat matahari terbit dari atas bukit sana." Bujuk Ron.
Lira tersenyum sambil memakai sepatu kets nya. kemudian berlari kecil menyusul Ron yang lebih dulu berjalan.
Angin fajar berhembus kencang, membuat keduanya menyedekapkan tangan di dada masing- masing.
" Kamu gak papa kan Ra?" Tanya Ron sambil melirik wanita yang tengah berjalan disampingnya.
" Hahhh, maksudnya ?"
"Maksudku kamu jangan terprovokasi dengan kejadian semalam. Aku yakin Azka melakukan itu hanya semata- mata demi menjaga harga diri tuh cewek." Jelas Ron.
"Cihh, apa urusannya dengan ku." Desis Lira tampak egois.
" Azka sukanya ke kamu Ra. Aku sangat tau itu." Kata Ron pelan.
" Dia tidak akan mengangguk bodoh malam tadi kalau dia benar- benar menyukaiku. Dia tertarik sama Azzel. Wajar saja, mana ada cowok yang tidak terpikat oleh cewek secantik Azzel." Mata Lira berkaca- kaca menahan emosinya.
" Kan udah aku bilang tadi, kemungkinan ia cuma merasa gak enak hati aja Ra." Ron berusaha menenangkan Lira.
Lira menghembuskan nafas dan melempar pandangannya kesamping. Mereka sudah tiba di atas bukit batu dan duduk mengarah ke ufuk timur.
Tampak cahaya kemerahan menyembul dari sana, membuat berkas berkas cahaya yang sangat indah. Mereka diam seribu bahasa. Ron membiarkan Lira menyelam dengan pikirannya sendiri.
Jika orang lain melihat, mereka pasti menerka Ron dan Lira adalah sepasang kekasih. Tanpa mereka sadari sosok Azka sudah berdiri di belakang mereka.
"Ehhhmmm." Azka berdehem membuat Ron dan Lira serentak menoleh ke belakang.
Suasana tampak begitu kaku, Lira langsung membalikkan pandangannya lagi.
__ADS_1
Ngapain sih Azka disini.
Bersambung