
Azzel tengah memperhatikan keduanya dari depan pintu kelas, kecurigaan nya makin menemukan titik terang ketika ia memergoki Azka dan Lira saling menatap dan tersenyum penuh makna. Ia makin yakin kalau Azka memiliki perasaan yang berbeda terhadap Lira. Selama ini ia telah salah, banyak bertanya pada Lira.
Waktu berlalu begitu cepat, ketika mata kuliah Keperawatan Medical Bedah berakhir siang itu, Azzel langsung menghampiri Azka.
" Ka, pulang bareng ya."
" Bukannya kamu bawa motor sendiri ?" Tanya Azka.
" Hari ini aku gak bawa motor, dan selama dua minggu ke depan aku tidak akan bawa motor." Ucap Azzel santai.
Azka memicingkan matanya.
" Maksud kamu apa? minta aku ngantar jemput kamu gitu?"
" Yups... Cuma itu kok permintaan aku selama 2 minggu jadi pacar kamu." Kata Azzel sambil tersenyum yang dibuat semanja mungkin, bukannya malah tertarik Azka justru tampak mual melihatnya.
" Baiklah, hanya selama dua minggu, setelah itu hubungan kita berakhir, okee!!" Jawab Azka ketus.
Azzel sedikit tersentak, namun cepat- cepat ia meraih tas nya dan berlari kecil mengimbangi langkah kaki Azka yang lebih dulu berjalan ke arah parkiran motor mahasiswa.
Lira tengah berdiri di pinggir pagar kampus sambil menunggu ojek, ia sibuk memainkam kerikil yang ada dibawah kakinya ketika motor Azka melewatinya, cowok itu membonceng Azzel, pacarnya tentu saja. Azka sengaja menutup kaca helm dan melaju begitu saja, Lira menatap mereka, dadanya terasa sesak, mengapa jadi sesakit ini. Matanya masih mengekori motor Azka yang sudah menghilang diujung jalan. Lira baru menyadari bahwa sekarang ia mulai menyukai Azka.
Azka melihat siluet tubuh gadis yang ia sukai sedang berdiri di dekat pagar, pasti ia sedang menunggu ojek untuk pulang. Azka menutup kaca helmnya dan berlalu melewatinya, hatinya tak sanggup melihat wajah itu, wajah yang tidak pernah bisa ia tebak isi hatinya.
Ia sudah mengantar Azzel sampai dirumahnya, dan tanpa basa- basi Azka langsung berlalu dari situ, ia pikir, ia harus menyelesaikan masalahnya dengan Lira, ia tidak mau Lira salah paham, bahwa ia benar- benar berhubungan dengan Azzel. Ia mengarahkan motornya langsung ke rumah Lira.
Setelah turun dan membayar ongkos ojek, Lira kaget melihat motor Azka sudah terparkir didepan rumahnya, Lira mengernyitkan dahinya, dan benar saja, Azka sudah duduk manis di bangku teras rumahnya, pintu sudah terbuka, berarti emak sudah tau keberadaan Azka.
" Ngapain disini?" Celetuk Lira.
__ADS_1
" Ada yang mau aku omongin Ra."
" Mau ngomong apa lagi sih Ka? besok- besok aja deh, aku capek."
"Sebentar aja Ra, aku coba nelpon kamu berkali- kali, nomor aku udah kamu diblokir."
Lira melempar pandangannya kesamping, masih berdiri di depan teras. Azka kemudian menggeser tubuhnya kesamping, memberi ruang agar Lira bisa duduk disampingnya. Lira melepas tas nya kemudian duduk disamping Azka.
" Mau ngomong apa?" Tanya Lira ketus.
Azka melirik sebentar gadis yang berada disampingnya, lalu.
" Waktu Azzel nembak aku digunung itu, sebenarnya aku mau nolak, tapi aku gak enak hati Ra, dia pasti malu tujuh turunan kalo aku sampe nolak dia di depan banyak orang."
" Terus hubungannya sama aku apa? itu urusan kamu, terserah kamu lah." Potong Lira.
Glekkk...
" Aku ng- ngak cemburu, siapa bilang !"
Muka Lira langsung berubah pias seketika. Kemudian Azka melanjutnya pembicaraannya.
" Jadi pas pulang dari gunung, aku berinisiatif menjelaskan semuanya ke Azzel di cafe, dianya malah nangis waktu itu. Katanya malu kalau harus putus secepat itu, jadi dia minta waktu 2 minggu, setelah 2 minggu kami bakalan pisah." Jelas Azka.
Lira pura- pura tidak tertarik mendengarkannya. " Itu urusan kamu, aku gak mau ikut campur." Katanya kemudian.
" Jadi aku mau tanya, apa maksud kamu ngeblokir nomor aku?" Tanya Azka penuh penekanan.
" Terserah aku dong, mau blokir nomor siapa aja." Jawab Lira asal- asalan.
__ADS_1
" Aku udah jelasin semuanya ke kamu, jadi aku minta kita temenan lagi Ra."
"Emangnya kita sekarang ngapain kalo bukan temenan?"
" Yah, temenan sih cuma, jangan pake acara blokir- blokir nomor aku lah."
Azka cukup paham bahwa gadis yang ada disampingnya ini sedang cemburu, tapi ia terlalu gengsi untuk mengungkapkannya, biarlah kami akan menjadi teman saja sampai tiba waktunya nanti ketika ia siap untuk kulamar. Azka tersenyum sendiri memikirkannya.
" Kenapa?" Lira mengernyitkan dahinya melihat Azka tersenyum sendiri.
" Nggak ada." Jawab Azka cepat- cepat.
"Kalo nggak ada lagi yang mau dibahas, pulang gih. Aku mau istirahat."
" Buka dulu blokirannya, baru aku pulang."
" Iya, nanti aku buka."
" Aku mau lihat kamu buka sekarang." Jawab Azka ngeyel.
Lira mendengus kesal, sambil mengambil ponsel dari dalam tasnya ia membuka blokiran kontak Azka, lalu menampakkannya tepat di depan hidung Azka, sampai layar ponselnya menyentuh hidung mancung cowok itu.
" Nih udah ku buka, puas kan !" Ucap Lira.
" Siip, makasih. Jadi deal kita temenan lagi ya." Ucap Azka diikuti oleh anggukan sekenanya oleh Lira.
Azka tersenyum sebentar kemudian berpamitan pulang, tak lupa sebelum pulang, ia menjelaskan ke Lira kalau selama dua minggu, ia akan mengantarkan Azzel pulang, ia takut Lira salah paham padanya. Beginilah ceritanya kalau teman rasa pacar heheheeeee...
Bersambung...
__ADS_1