
Keesokan harinya, mereka tidak berhenti tertawa jika mengingat kisah konyol malam itu, ditambah lagi Alin mulai sibuk bercerita ke teman- teman tentang kisah mereka yang sengaja diberi judul "Sosok Suzanna di Bangsal 13."
Lira hanya tertawa sesekali ketika tak sengaja mendengar pembicaraan Alin bersama teman yang lain, bukan karena ceritanya tapi lebih ke ekspresi Alin yang menurut Lira sudah sangat cocok untuk menjadi peserta stand up comedy.
Akhirnya mereka mengalihkan topik pembicaraan ketika Alin menyudahi ceritanya.
" Eh iya, denger- denger kita libur 1 minggu kan ya setelah magang ini." Kata Aldo.
" Enaknya ngapain ya? aku butuh refreshing nih." Celetuk Tari sambil sibuk melipat kasa diatas kursi.
" Gimana kalau camping, ndaki gunung." Lira yang mulai tertarik dengan pembicaraan mereka memberi usul.
" Aku belum pernah mendaki gunung, sepertinya seru." Tambah Lira.
" Aku mauu ikut." Celoteh Tari bersemangat.
" Ya, aku juga mau ikut berpetualang mendaki gunung." Pekik Alin bersemangat.
Alin benar- benar gadis yang Overacting. Lira heran mengapa ia terdampar di dunia keperawatan bukan nya di dunia seni peran. Seharusnya ia mengambil kuliah di jurusan seni. Tapi alih- alih memikirkan Alin, Lira justru memikirkan nasibnya yang juga harus terjun ke dunia medis, sama sekali bukan impiannya.
"Oke, sepertinya camping digunung seru, aku akan list nama teman- teman yang ikut, nanti jadwalnya kita koordinasikan lagi." Ucap Aldo bersemangat.
Akhirnya dinas hari itu di isi dengan obrolan tentang rencana kepergian mereka mendaki gunung.
...
Siang itu, cuaca cukup terik, sama sekali tidak nampak awan hitam yang menggantung, entah sudah hijrah kemana mereka. Lira melirik arloji di tangan kirinya. Sudah waktunya pulang, ia mengemasi barangnya dan mulai keluar dari ruang penyakit dalam.
Lira berjalan santai sambil sesekali melempar senyum pada pengunjung Rumah Sakit yang dilewatinya. Tiba- tiba dari arah samping, ada yang berteriak memanggil namanya.
" Ra, Li- Ra !!!"
Lira menoleh ke asal suara.
"Azzel !!"
Gadis itu menghampiri Lira sambil melambaikan tangan.
" Kamu mau pulang?" Tanya Azzel basa- basi.
__ADS_1
Lira mengangguk sambil tersenyum.
Azzel adalah teman kampus yang mungkin bisa dibilang paling cantik diantara teman- teman seangkatannya, ia mempunyai postur tubuh yang mungil, rambut ikal, mata agak sipit, punya lesung pipi di pipi kanannya plus penampilan yang selalu modis.
Berjalan disamping Azzel membuat Lira seolah-olah seperti seorang asisten artis, dan tentu saja Azzel yang jadi artisnya.
" Kamu ada waktu?" Tanya Azzel membuka perbincangan.
" Ada yang mau aku obrolin ke kamu Ra." Tambahnya sedikit berbisik.
" Tentang apa ?" Tanya Lira sambil melirik wajah cantik disampingnya.
" Hmmmm, kita ngobrol di warung bakso mang Midi yuk."
" Aku yang traktir." cepat- cepat ia menambahkan.
" Aku udah makan tadi." Kata Lira.
" Ya udah, nanti kamu pesan minum aja." Jawab Azzel.
Keduanya melaju ke warung bakso mang Midi yang lokasinya hanya 500 meter dari Rumah Sakit. Mereka sengaja memilih kursi yang berhadapan dan mengarah ke jalan raya.
Azzel menatap Lira secara intens, membuat Lira jadi tambah penasaran.
" Sebelumnya aku mau tanya dulu, hubungan kamu sama Azka seperti apa?" Azzel balik bertanya.
" Maksud kamu?"
" Maksud aku, kamu nggak pacaran sama Azka kan?" Tanya Azzel penuh penekanan disetiap katanya.
Lira terdiam sejenak, kemudian menghembuskan nafas pendek.
" Aku cuma temenan sama Azka."
" Kenapa kamu tanya itu? kamu suka sama Azka?" Tanya Lira penuh selidik.
Gadis yang berada di depannya seketika gelagapan, pipinya bersemu merah, membuat ia terlihat seperti kepiting rebus.
Tebakan Lira benar, Azzel menyukai Azka. Ada sesuatu yang aneh, yang muncul tiba- tiba, tepat menghujam di hati Lira, rasanya sakit. Mengetahui bahwa yang menyukai Azka adalah seorang gadis secantik Azzel, membuat Lira jadi seperti butiran debu.
__ADS_1
" Azka belum punya pacar kan Ra?" Tanya Azzel kemudian.
" Hah..."
"Belum, be- lum punya seingatku." Kata Lira terbata- bata.
Azzel mengangguk- angguk sambil memainkan pipet jus nya.
"Tipe cewek yang disukai Azka seperti apa Ra? kamu kan dekat sama Azka, mungkin dia pernah cerita ke kamu?" Selidik Azzel.
" Aduh sorry, aku gak tau kalau masalah itu." Kata Lira berkilah.
"Masa??"
Dahi Azzel berkerut menatap Lira.
"Beneran, Azka gak pernah bahas soal itu."
" Aku juga gak pernah tanya, kami selama ini berteman palingan bahas masalah mata kuliah aja." Kata Lira berbohong.
Masa iya, Lira cerita ke Azzel kalau Azka belum lama ini bilang suka ke dia, bahwa tipe cewek yang disukai seorang Azka yang cool dan tampan adalah gadis seperti dirinya. Memikirkannya saja Lira jadi malu.
Karena tidak puas dengan jawaban Lira, Azzel hanya mengaduk- aduk kuah baksonya tanpa berniat untuk memakannya lagi.
"Kalau udah ngobrolnya, aku pulang duluan ya Zel." Pinta Lira.
" Nanti aku coba cari tau tentang Azka." Tambah nya sengaja berbohong.
" Oh iya, makasih ya Ra."
Azzel ikut berdiri mengikuti Lira.
Lira tersenyum namun entah mengapa hatinya terasa sangat sakit ketika melihat wajah cantik Azzel.
Jika dipikir- pikir, Azka dan Azzel jika berdampingan sungguh sangat serasi, tampan dan cantik.
" Ah... Tidak- tidak."
Lira menggeleng- gelengkan kepalanya, membuat bayangan imajinasinya tadi menjadi pecah dan buyar.
__ADS_1
...