Ketika Senja Berlalu

Ketika Senja Berlalu
Panggil Nama Saja


__ADS_3

"Terima kasih buk." Dio pamit keluar ruangan, namun sebelum Dio keluar, ia meletakkan sebuah bungkusan kecil diatas meja Lira.


" Tunggu apa ini?" Pertanyaan Lira menghentikan langkah Dio, pemuda itu berbalik lagi.


" Kata orang itu bisa merilekskan pikiran, coba saja." Dio menyunggingkan senyum khasnya kemudian berlalu. Lira membuka bungkusan kecil itu, ia tersenyum ketika melihat apa isinya.


Coklat berbentuk hati, manis sekali.


Lira menggigitnya sedikit, mencoba merasakannya, sambil tersenyum sendiri ia terus melahap coklat itu sampai habis tak bersisa.


...


Sementara di kediaman Citra, gadis itu tengah berbaring di ranjangnya. Ia masih membayangkan kejadian di cafe tadi. Apa mungkin kak Azka sebenarnya menyukai mbak Lira. Didalam hati yang terdalam sungguh Citra ingin menampik semua itu.


Tapi sikap kak Azka sungguh kentara sekali, Azka yang selama ini selalu bersikap dingin, tiba- tiba saja sejak bertemu mbak Lira berubah 180 derajat. Aku harus menyelidikinya, benak Citra.


Akhirnya mulailah Citra dengan penyelidikannya, bak intel profesional ia mulai menyusun rencana. Mula- mula ia mendatangi kediaman Azka. Citra tahu persis jadwal Azka pulang jam berapa, sehingga ia bisa leluasa ke rumah Azka tanpa harus bertemu dengan pria itu.


Kedatangan Citra disambut hangat oleh calon ibu mertuanya. Setelah berbasa- basi sedikit, Citra akhirnya bisa menerobos masuk ke dalam kamar Azka. Jantungnya berdegup kencang, persis seperti seorang maling yang ingin mencuri, ia mulai menyusuri setiap sudut kamar Azka.


Citra membuka laci- laci yang ada di kamar itu, namun ia tidak menemukan apa- apa. Ia mulai frustasi. Pandangannya beralih pada sebuah buku berwarna pink yang tergeletak di atas nakas. Ia meraih buku itu, ketika ia mulai membukanya, sebuah kertas terjatuh dari dalam buku.


Cepat- cepat Citra mengambil kertas itu dan membukanya.


Gleekkk...


Betapa terkejutnya Citra ketika membaca isi dari kertas tersebut. Itu surat cinta dari mbak Lira untuk kak Azka. Seperti tersengat ribuan lebah, tubuh Citra bergetar hebat , ia menutup mulut dengan telapak tangannya, matanya mulai berembun menahan tangis.


Cepat- cepat ia meraih ponselnya dan mengambil beberapa foto dari surat tersebut, kemudian dengan hati- hati ia mengembalikan surat tersebut ke dalam buku dan meletakkannya kembali ke tempat semula.


Citra keluar dari kamar Azka dengan wajah yang terlihat biasa- biasa saja, seperti tidak terjadi apa- apa. Ibu Azka sedang menyeduh teh di dapur ketika Citra keluar.


" Ibuk, jangan repot- repot. Citra mau pulang kok buk." Ucap Citra kepada calon ibu mertuanya itu.


"Alah cuma bikin teh doang kok Cit. Apa kamu gak mau nungguin Azka pulang dulu ?" Tanya ibu Azka.


" Citra masih ada urusan buk, oh iya gak usah bilang sama kak Azka, Citra kesini ya buk." Pinta Citra.


Ibu hanya mengangguk, setelah mengobrol sedikit sambil minum teh, Citra berpamitan.


...


Hati Citra bergemuruh, tubuhnya bergetar lagi ketika mengingat surat tadi. Perasaannya campur aduk tak karuan, ia ingin marah, ia kesal, tapi ia tidak tahu harus marah pada siapa.


Hubungan Lira dan Azka sudah terbentuk jauh sebelum Azka bertemu Citra, keduanya bahkan saling Mancintai bertahun- tahun lamanya. Mereka membangun istana cinta mereka yang kokoh walau hanya saling diam.

__ADS_1


Haruskah aku datang tiba- tiba dan menawarkan diri untuk jadi ratu di istana yang disediakan kak Azka hanya untuk mbak Lira itu ? Seharusnya mbak Lira yang jadi ratunya bukan aku, Citra sudah tidak bisa mengontrol dirinya lagi.


Sesampainya dirumah, ia masuk ke kamar dan menguncinya. Ia menangis sejadi- jadinya sampai ia lelah sendiri dan tertidur. Hari sudah menjelang sore ketika Citra bangun dari tidurnya.


...


Sementara ditempat lain. Lira sedang menyusun berkas- berkasnya. Yah, setelah bergelut lama dengan pikirannya sendiri, akhirnya Lira memutuskan untuk mengajukan pindah tugas. Ia akan mengajukan pindah kerja ke kota kelahirannya.


Lira memang masih mencintai Azka, tapi rasa sayangnya pada Citra melebihi segalanya, ia tidak akan merusak kebahagiaan adik angkatnya itu, walau bagaimanapun juga. Dan jalan terbaik adalah dengan pergi jauh dari kehidupan mereka.


Lira menghentikan aktivitasnya ketika mendengar perutnya berbunyi minta diisi. Wajar saja hari sudah menjelang malam, adzan magrib sudah berkumandang dari musholla dekat kosan dan sedari siang Lira hanya makan sedikit waktu di cafe.


Setelah sholat magrib, Lira berencana keluar untuk cari makan, dengan menggunakan motor matic nya ia keluar dari area kosan. Baru saja ia keluar dari gang, suara klakson motor lain menghentikannya.


" Dio !!" Lira terkejut melihat motor Dio sudah memepet motornya.


" Ibuk mau kemana?"


" Mau cari makan. Kamu ngapain disini? Jangan- jangan jamu nguntit saya ya." Ucap Lira penuh selidik.


" Hahaaaaahh ibuk ke ge- er an, siapa juga yang nguntit ibuk, rumah sepupu aku diujung gang itu." Dio menunjuk gang yang bersebelahan dengan gang kosan Lira.


"Ayo barengan aja buk, pake motor aku. Motor ibu balikin aja ke kosan lagi." Dio sedikit membujuk.


" Makasih coklat nya tadi." Ucap Lira sambil mulai memakan makanannya.


" Hmmmm, saya buat sendiri itu dengan penuh perasaan, enak kan?" Dio bertanya.


" Oh ya? bagaimana cara bikinnya?" Lira antusias.


Dio mengeryitkan dahinya, benar- benar gadis ini tidak tau apa- apa, batinnya gemas.


" Beli coklat batangan, dilelehkan sebentar, terus di cetak." Dio menjawab santai.


"Whoaaa rajin sekali kamu ya." Lira berdecak kagum. Zaman sekarang biasanya anak muda maunya cari yang instan. Nah ini sempat- sempatnya mencetak coklat.


" Mama kamu gak nanya ketika melihat kamu mencetak coklat?" Tanya Lira lagi.


" Ya nanya lah, aku bilang ini untuk pacar aku." Dio menjawab santai tanpa melihat ekspresi Lira yang mulai memerah.


" Saya kan bukan pacar kamu." Jawab Lira pelan.


" Sebentar lagi jadi pacar." Tatap Dio menggoda.


" Kamu masih muda Dio, carilah yang seumuran denganmu atau kalau bisa yang lebih muda darimu. Saya sudah 27 tahun, saya mau cari suami bukan pacar." Ucap Lira.

__ADS_1


" Kalau begitu kita menikah saja." Dio menjawab santai, membicarakan sebuah pernikahan seperti membicarakan harga pecel lele yang sedang mereka makan.


" Cih, sejak kapan kamu mulai berani seperti ini ya?" Gertak Lira.


" Kalau dikampus saya mahasiswanya ibuk, tapi kalau di luar kita berteman. Bukannya kita sudah berkencan kemarin." Ucap Dio santai.


" Hahahaaah, berteman??"


" Boleh juga, tapi jangan panggil saya ibuk kalau diluar." Lira sambil memainkan pipet minumnya.


" Mau dipanggil apa? bagaimana kalau sayang." Goda Dio.


Lira langsung melebarkan matanya.


" Panggil nama saja." Lira berkata pelan.


Setelah menghabiskan makannya, Dio mengantar Lira pulang ke kosannya.


" Kok jalannya lambat, kayak siput kapan nyampenya." Lira memprotes Dio yang mengendarai motornya hanya dengan kecepatan 30 km/ jam.


"Biar lama di jalan." Jawab Dio sambil terkekeh.


" Akunya pegel nahan badan, ini motormu jok nya kayak roller coaster, badanku merosot terus." Ucap Lira sambil menahan tangannya agar tubuhnya tidak menempel maksimal dengan punggung Dio.


" Jangan ditahan, duduk santai aja pasti nyaman." Dio sekilas menoleh ke belakang.


" Hah, yang benar saja. Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan!" Hardik Lira.


Dio yang mendengar itu tertawa terbahak- bahak, sehingga Lira memukul- mukul bahunya.


Tapi mereka tidak tahu kalau sejak tadi kebersamaan mereka diperhatikan oleh seseorang.


Azka melihat sosok Lira bersama seorang pria tengah menyantap makannya ditenda pecel lele tepat dipinggir jalan. Ia menepikan mobilnya, sambil terus memperhatikan Lira.


Lira sedang asyik mengobrol, sesekali tertawa, tak lama mereka keluar dari tenda dan berboncengan. Pria itu mengendarai motornya dengan sangat lambat, membuat Azka kesal setengah mati.


Azka menatap tajam pada dua orang itu. Dilihatnya pria itu tertawa lepas dan Lira. Lira memukul- mukul bahunya, yang benar saja. Apa dia pacarnya Lira yang kemarin sempat diucapkan Lira waktu di cafe.


Azka menggertakkan giginya, sambil terus membuntuti motor itu, tak lama motor itu berbelok di sebuah gang yang tidak terlalu besar. Azka berhenti disimpang gang, baru saja ia mau turun. Dilihatnya motor itu sudah datang lagi dan berlalu di keramaian jalan raya.


"Oh, disini tempat tinggal Lira." Benak Azka.


Bersambung...


Likenya doong

__ADS_1


__ADS_2